
Fitri dengan sekuat tenaganya yang tersisa mencoba menghampiri roh bu Rukmi.
Sedangkan bu Rukmi masih tertegun dan amat syok, terlebih orang orang mulai berdatangan saat melihat raga nya tergeletak di tanah.
"Ada mayat....!!", teriak seorang warga sembari tergopoh gopoh mencari bantuan.
"Tidak..!!, aku masih hidup...!!", seru bu Rukmi tak terima.
Segera Fitri memegang tangan bu Rukmi.
Seketika itu juga, ia menepis tangan Fitri yang mencoba memegang tangannya lagi.
"Orang aneh...!!, jauh jauh dari ku...!!", teriak bu Rukmi mencoba berjalan mendekati raga nya yang sudah di kerumuni oleh banyak orang.
"Ikutlah dengan ku...!!", ucap Fitri sembari menahan rasa sakit yang teramat hebat.
"Pergi kau..!!", seru bu Rukmi tetap di pegang paksa oleh Fitri dan tak berapa lama Fitri membawa bu Rukmi menghilang dari tempat itu.
Sesaat kemudian.
Mereka telah sampai di rumah sakit.
Saat muncul.
Fitri langsung terbatuk batuk dan terduduk di lantai rumah sakit.
Sanum dan Nur yang melihatnya pun segera bergegas mendekatinya.
"Kamu tak apa apa..??", seru Nur menopang Fitri yang semakin lemah.
Pandangan mereka seketika tertuju pada roh bu Rukmi yang seakan bingung dengan keadaannya saat itu.
"Sebenarnya ada apa ini...??, dan siapa lagi anak aneh di samping mu itu Sanum...??", seru bu Rukmi memandang aneh ke arah Nur.
Nur segera berdiri dan menatap sang nenek.
"Aku lah cucu yang telah kamu bunuh...!!, aku senang karna kali ini kamu bisa melihat ku", ucap Nur membuat bu Rukmi semakin syok.
"Sihir apa yang kalian mainkan...??", ucap bu Rukmi menepis fakta yang ada dihadapannya.
"Sihir...??, tak ada sihir dalam diri kami, kami ada karna memang itulah adanya", ucap Fitri memandang tajam ke arah bu Rukmi.
"Lebih baik kita masuk ke ruangan bunda, takut orang orang memandang kita dengan aneh", ucap Sanum memapah Fitri masuk ke dalam ruang rawat Zivana.
Pintu tertutup sebelum bu Rukmi dan Nur sempat masuk ke dalam.
Dengan wajah kesal, ia mencoba memegang gagang pintu untuk membukanya.
Tapi begitu terkejutnya ia karna tangannya tak bisa menyentuh gagang pintu di hadapannya.
Bahkan ia terus memaksanya berulang ulang kali.
"Mustahil...!!, sebenarnya apa yang terjadi padaku...???", ucap bu Rukmi keheranan, ia masih tak memahami bahwa dirinya adalah sebuah roh.
"Nenek mau tahu hal lain nya...??", ucap Nur mendorong bu Rukmi sehingga tubuhnya menembus pintu.
"A, a, aku tembus pintu....??", ucap bu Rukmi terbata bata setelah dirinya telah berada di dalam ruang rawat Zivana.
"Enak bukan menjadi roh" ucap Nur meninggalkan bu Rukmi lalu menghampiri Sanum dan Fitri.
Bu Rukmi hanya terdiam memikirkan perkataan dari Nur yang menyebutnya roh.
Sementara Marsel terheran heran melihat tingkah Sanum yang seakan kewalahan memapah sesuatu di tangannya.
"Kamu kenapa sayang...??", tanya Marsel heran.
"Aku lagi nolong Fitri yah, dia luka parah, dan...!!", ucap Sanum tak meneruskan ucapannya.
"Dan apa...??", seru Marsel makin penasaran.
"Ada nenek juga di sini", ucap Sanum mengejutkan Marsel.
"Mana...??, gak ada tuh...!!", seru Marsel clingukan mencari bu Rukmi.
"Kamu gak lihat mami nak..??", ucap bu Rukmi sembari mencoba memeluk sang anak.
"Sanum, boleh gak aku pegang ayah mu, aku ingin sampaikan sesuatu sama kalian", ucap Fitri semakin pucat.
Kemudian, Sanum mencoba memapah Fitri ke hadapan Marsel.
"Ada apa lagi ini...??, jangan bicara sesuatu yang semakin membuat ayah takut", ucap Marsel ketakutan.
"Fitri hanya ingin memegang ayah, boleh ya....??", ucap Sanum dengan nada memohon.
Marsel yang melihat keseriusan di mata Sanum hanya bisa menyetujui permintaan kecilnya itu.
Tanpa membuang buang waktu, Fitri segera mengusap kedua mata Marsel.
Tak lama kemudian.
Marsel sangat terkejut dan hampir terjatuh ke lantai karna syok dengan penglihatannya saat itu.
"Ma, ma, mami...??", seru Marsel syok.
"Iya sayang, ini mami..", ucap bu Rukmi sambil meneteskan air mata.
Baru kali ini ia merasa begitu bahagia di panggil oleh anak nya sendiri.
Lalu tatapan Marsel tertuju pada Nur.
Ia mencoba mendekatinya dan mengelusnya.
Rambut yang terkepang dua.
Kulit yang pucat.
Tatapan mata yang sayu tapi terlihat cantik seperti Zivana.
"Pasti kamu Nur kan...??, boleh ayah peluk kamu....??", ucap Marsel tak bisa membendung air matanya.
Mereka berpelukan dan menangis bersama dengan waktu yang cukup lama.
Pemandangan itu membuat hati bu Rukmi terketuk.
Meskipun aku mengelak seribu kali pun, aku tetap menjadi penyebab perpisahan mereka, kemalangan bagi Nur dan kekeruhan di hubungan Marsel dan Zivana, astaga...!!, kenapa aku baru menyadarinya sekarang...??, kenapa aku begitu berambisi dengan keinginanku sendiri..., gumam bu Rukmi mulai merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi.
Sayup sayup mata Zivana mulai terbuka, ia mulai sadar dari pingsannya saat mendengar tangisan dari Marsel dan Nur.
Ia mencoba memandang dengan jelas apa yang sedang terjadi di sana.
"Kamu cantik sayang, kenapa baru kali ini ayah bisa melihat bidadari ayah yang satu ini", ucap Marsel terus menciumi kening Nur.
Lalu pandangan Marsel teralihkan pada Fitri yang kembali terbatuk batuk.
"Dia...??", ucap Marsel.
"Dia Fitri yah, teman kami, dia yang selalu jaga kami", ucap Nur mengajak sang ayah mendekati Fitri.
"Sebelum waktu ku habis, aku hanya ingin meminta maaf pada kalian, terutama untuk mu bu Rukmi", ucap Fitri didengarkan dengan seksama oleh semuanya.
"Kenapa kamu harus minta maaf Fitri, saya seharusnya berterima kasih karna kamu bisa menjadi teman dari anak anak saya selama kami sebagai orang tuanya tak bisa menjadi figur teman dan orang tua yang layak bagi mereka", ucap Marsel mengusap kepala Fitri yang dingin.
"Demi memusnahkan mami aku harus menyerang bu Rukmi juga, karna seranganku, organ dalam raganya hancur dan aku pastikan ia tak lagi bisa di selamatkan, tolong maafkan aku..!!", seru Fitri bersujud sembari menangis dan meminta maaf pada semua yang ada di sana.
Semua yang ada di sana begitu syok mendengarnya.
Terlebih bu Rukmi, ia seakan lemas dan tak bisa menopang badannya sendiri dengan kedua kaki nya saat itu.
Ia menangis dalam diam mendengar kenyataan pahit itu.
Sementara Zivana dan Marsel hanya menangis tanpa kata mendengar pengakuan Fitri.
"Karna dosa yang ku perbuat, aku tak akan bisa menyebrang sampai aku mendapat maaf dari kalian, aku akan tertahan di sini sampai usia alam semesta ini berakhir", ucap Fitri tertunduk.
Sementara bu Rukmi langsung berjalan keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun.
Marsel segera mengejarnya, diikuti oleh Zivana yang mencoba bangkit dengan sekuat tenaganya.
"Bunda..!!", seru Sanum mencoba menolong sang bunda berjalan mengikuti Marsel dan bu Rukmi.
Sementara Nur mencoba menenangkan Fitri yang terus saja menangis.
"Aku sudah lakukan semampuku Nur, tolong maafkan aku..!!, aku siap menerima hukuman itu", ucap Fitri di sela sela tangisnya.
Sementara di luar ruangan.
Marsel berhasil menemukan bu Rukmi yang duduk termenung.
"Mi, maafkan kami ya..", ucap Marsel mencoba bersimpuh di kaki ibu kandungnya itu.
Diikuti oleh Zivana yang mencoba melakukan apa yang tengah dilakukan oleh suaminya.
"Bangunlah sayang, kalian tahu...!!, kali ini mami baru mengerti arti sebuah hubungan, hubungan yang tak bisa hanya diputus kan begitu saja, bahkan maut sekalipun kadang tak bisa memisahkan seseorang yang masih ditakdirkan untuk bersama, cinta kalian pada mami tak pernah mami lihat selama ini, bodohnya mami harus menyadari itu semua saat kondisi mami sudah seperti ini", ucap bu Rukmi meneteskan air mata.
Marsel dan Zivana segera memeluk bu Rukmi, tangisan mereka pecah saat itu juga.
"Sanum gak mau meluk nenek..??", ucap bu Rukmi membuat Sanum ikut menangis dan segera mendekat ke pelukan sang nenek.
Tak berselang lama.
Mereka kembali menemui Fitri yang hampir pergi dari ruangan itu.
"Fitri, tunggu...!!" ucap bu Rukmi mengelus kepala Fitri.
Fitri lalu mendongak ke atas dan berdiri di hadapan bu Rukmi.
"Aku tak marah padamu, jangan kamu hukum diri mu karna sesuatu yang memang sudah seharusnya", ucap bu Rukmi tersenyum.
Membuat Fitri pun ikut tersenyum di hadapannya.
Bu Rukmi kemudian menggenggam tangan Fitri erat erat.
"Kita pergi sama sama, aku tak mau pergi sendirian ke akhirat", ucap bu Rukmi dengan berlinang air mata.
"Dan untuk cucu ku Nur, mungkin ini balasan atas semua kesalahan nenek terutama padamu, tolong maafkan nenek ya, doakan nenek tenang di sana, nenek tak bisa merubah masa lalu, tapi izinkan nenek menebusnya kali ini", ucap bu Rukmi mengusap wajah Nur untuk pertama kali nya.
Membuat Nur merasa bersalah akan sikap kasarnya pada sang nenek selama ini.
"Maafkan Nur nek", ucap Nur menangis.
Seketika roh bu Rukmi dan Fitri memudar.
"Aku dan Rain menunggumu Nur", ucap Fitri tersenyum amat manisnya kepada Nur.
"Pasti", ucap Nur melambaikan tangan pada sahabatnya itu.
Tak berselang lama.
Tiba tiba dari luar ruangan.
Ada seseorang yang mengetuk pintu.
"Permisi, dengan keluarga pak Marsel", ucap seorang perawat.
"Iya sus" ucap Marsel mengusap air matanya sembari membukakan pintu untuk sang suster.
"Bisa tolong keluar sebentar", ucap suster.
Marsel pun menuruti permintaan suster itu.
"Ada apa sus..??", tanya Marsel sudah berada di luar ruangan.
"Apakah bapak kenal dengan wanita ini...??", tanya suster itu membuka penutup pada ranjang dorongnya.
Seketika tangisan Marsel kembali pecah.
"Jadi ini bukan mimpi mi", seru Marsel memeluk jenazah bu Rukmi yang tertutup kain di hadapannya.