
Saat Zivana dalam perjalanan ke rumah sakit.
Daren dan mbak Fara telah menyadari bahwa Naya telah hilang.
Mereka segera panik dan mencari Naya di sekeliling rumah kosong.
"Hentikan..", seru Daren menghentikan langkah kaki istri nya.
"Kenapa yah...??, Naya anak kita hilang dan kamu seenak nya bilang hentikan..!", seru mbak Fara kesal.
"Aku mungkin tahu kemana Naya pergi, pasti menemui si biang masalah", ucap Daren.
"Gawat...!!, Naya bisa dalam bahaya", ucap mbak Fara segera berlari bersama sang suami menuju ke tempat yang mungkin di datangi Naya.
Saat sedang dalam perjalanan, mereka tak sengaja berpapasan dengan mobil bu Sukma dan diikuti sebuah ambulan di belakang nya.
"Jangan jangan...!!", seru Daren mempercepat lari nya hingga sampai ke rumah sakit.
"Naya anak ku..!!", ucap mbak Fara mencoba mengatur nafas nya yang tak beraturan.
Nampak para perawat dengan sigap membawa Sanum dan Naya masuk ke dalam ruang igd.
"Ini gak bisa di biarin..!", seru mbak Fara bergegas masuk, tetapi langkah nya di hentikan oleh sang suami.
"Kita tunggu situasi tenang dulu", ucap Daren memantau semua nya dari halaman rumah sakit.
Zivana dan yang lain nya sudah menunggu dengan perasaan cemas di depan ruang igd.
Termasuk Marsel yang masih nampak kebingungan dengan keadaan yang sedang terjadi.
Terlebih saat ia melihat di dalam ruangan ada dua Sanum yang terbaring pingsan di dalam ruangan.
"Sebenar nya ada apa ini...??, dan kenapa anak kita ada dua...?", tanya Marsel.
"Itu raga Nur sayang, anak kita", ucap Zivana menceritakan semua yang ia tahu tentang Naya dan raga Nur.
"Jadi maksud kamu, itu alasan Nur selama ini tetap bersama kita...??, gak mungkin...!, aku sendiri yang menyaksikan Nur di kubur di depan ku sayang ...!!, lalu sekarang kamu bilang itu raga Nur..!!, bisa gila aku kalau begini...!", seru Marsel tak percaya dengan semua cerita Zivana.
"Semua itu benar pak, saya sendiri saksinya, sebenarnya saya juga tidak percaya, tapi inilah yang terjadi, bahkan kerabat Naya sendiri sudah mengakui bahwa itu adalah raga Nur", ucap bu Sukma meyakinkan Marsel.
"Lalu, kenapa mereka bisa sampai tak sadarkan diri seperti itu...??", tanya Marsel penasaran.
"Kami juga tak tau, tiba tiba Sanum pingsan dan tak berselang lama Naya pun pingsan", ucap Zivana duduk lemas di kursi tunggu.
"Apa Naya sempat bicara sebelum pingsan...?", tanya Marsel mengintip kembali keadaan Sanum dan Naya dari kaca pintu igd.
"Dia ingin kembalikan raga Nur, dan dia juga bilang kalau Nur bisa hidup dengan raga itu jika Nur mau", ucap Zivana menatap Nur yang seakan berharap perkataan Naya bisa terjadi.
Marsel menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala nya.
"Jangan menyalahi takdir Allah sayang, berilah pengertian pada anak kita", ucap Marsel duduk di kursi tunggu menunggu kesadaran Sanum.
Mendengar itu, Nur seakan kehilangan senyum nya.
Ia lalu masuk ke ruang igd dan menemui saudara nya, hanya melihat Sanum ia bisa jauh lebih tenang.
Saat itu juga, Naya membuka mata nya dan waktu seakan berhenti.
Ia bangun dan mengejutkan Nur yang kebingungan dengan apa yang tengah terjadi.
"Waktu ku tak banyak Nur, apakah kamu bersedia hidup kembali di raga ini ....??", ucap Naya menawarkan kembali tawaran yang sempat ia sampaikan pada Nur.
"Aku memang ingin sekali hidup dan bermain dengan saudara ku", ucap Nur menatap Sanum yang sedang dalam keadaan kritis.
"Tidak mungkin, Sanum akan ikut bersama ku, raga nya sudah tak mampu lagi, sejak dia lahir pun keadaan nya sudah sangat rentan", ucap Naya membuat Nur langsung memeluk Sanum.
"Jika aku bisa, aku akan tukar kesempatan hidup ku untuk nya, kebahagiaan ayah dan bunda ku ada pada nya", ucap Nur tersedu sedu sembari mempererat pelukan nya terhadap Sanum.
Seketika itu juga, nampak Dokter terus berusaha menyelamatkan Sanum dan juga Naya.
Tapi tiba tiba salah satu monitor jantung menunjukkan bahwa salah satu dari mereka telah meninggal.
"Kenapa perasaan ku gak enak ya...?", ucap Zivana gelisah sembari mondar mandir di depan ruang igd.
Tiba tiba mereka mendengar tawa dari ujung lorong.
Membuat Lidia ketakutan dan segera merangkul bu Sukma.
"A, apa itu tadi...?", seru Marsel penasaran dengan sebuah bayangan yang melintas di samping nya.
Zivana mencoba memandang ke ujung lorong, dan samar samar ia melihat Nur sedang tersenyum dan melambai pada nya.
"Nur...?, kamu ngapain di situ..?", seru Zivana segera bergegas mendekati Nur diikuti oleh Marsel.
"Kita di sini aja ma.., aku takut..!", seru Lidia menghentikan bu Sukma yang ingin mengikuti Zivana.
"Nur...!, jangan bercanda...!", seru Zivana terus mengejar Nur.
Langkah mereka berhenti saat melihat Nur menggandeng seorang anak seusia nya.
"Siapa dia sayang...?", tanya Zivana tak mengenal sosok di samping Nur.
"Dia Naya bunda", ucap Nur terlihat bahagia bersama Naya.
"Jadi dia benar melepas raga mu sayang, syukurlah..", ucap Zivana merasa bahagia untuk Nur.
"Aku jauh lebih baik sekarang tante, terima kasih", ucap Naya tersenyum amat cantik nya.
"Ayah, jaga bunda dan kakak ya", ucap Nur menyeka air mata nya.
"Apa maksud mu sayang...?, kita akan sama sama seperti biasa nya", ucap Zivana heran mendengar ucapan Nur.
"Ayah.., ayah benar, tidak baik untuk kita merubah takdir Allah, kesempatan ku hidup lebih pantas untuk kak Sanum", ucap Nur membuat Marsel merasa bersalah.
"Bukan begitu sayang", ucap Marsel menyesal telah berucap seenak nya di hadapan Nur.
"Ini yang seharus nya ayah, aku cinta kalian, jangan pernah lupakan aku ya, maaf atas semua nya, atas ulah ku yang membuat kalian marah, percayalah.., aku hanya ingin perhatian kalian, titip salam untuk kakek, dikelahiran berikut nya aku ingin sekali tidur dipangkuan nya, bermain dengan nya dan mendengarkan dongeng dari mulut nya", ucap Nur sesenggukan.
"Ayah dan bunda sayang sama Nur", seru Zivana terisak isak mencoba mendekati Nur.
"Tolong, makam kan aku dipusaran ku yang lama, dan sering seringlah kunjungi aku bersama kak Sanum juga ya ayah, bunda, aku berharap terlahir menjadi anak kalian lagi", ucap Nur berangsur angsur hilang dari hadapan Marsel dan Zivana.
"Nur...!!", teriak Zivana bersimpuh dilantai sambil menangis sejadi jadi nya.
"Tenang Sayang, lepaskan Nur..!, dia anak yang luar biasa", ucap Marsel menangis sembari memeluk Zivana.
Sementara dokter dan suster bergegas datang saat mendengar isak tangis dari Zivana dan Marsel.
Bahkan saat itu, dokter yang menangani Naya dan Sanum pun keluar dari ruangan igd.
"Ada apa ini buk..??", tanya seorang dokter merasa heran dengan tingkah Zivana dan Marsel.
"Entahlah dok", ucap bu Sukma menyeka air mata nya, ia tak mungkin menceritakan hal mustahil itu kepada sang dokter.
"Aneh, padahal aku ingin memberi kabar bahwa Sanum anak mereka telah melewati masa kritis nya, bahkan tubuh nya berangsur angsur pulih dengan ajaib nya", ucap dokter memandang heran ke arah Zivana dan Marsel yang terduduk di sudut lorong rumah sakit.
"Lalu bagaimana dengan Naya dok..?", tanya Bu Sukma.
"Mohon maaf, Naya sudah tidak bisa kami tolong, obat obatan dan peralatan kami tidak mendapat respon di tubuh nya, kami sangat menyesal, kami akan secepatnya urus jenazah nya", ucap dokter berlalu meninggalkan bu Sukma yang terduduk lemas di kursi tunggu.
"Astaga ..!", ucap bu Sukma menepuk kedua pipi nya secara bergantian, seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi.