Nur

Nur
Terbukanya kembali portal waktu.



Bu Rukmi langsung membuka pintu ketika mendengar suara Marsel di depan rumahnya.


Saat ia melihat Marsel datang bersama Zivana dan Sanum, ia nampak tak senang.


"Ada apa nih..??", tanya bu Rukmi, karna tak biasanya anak dan menantunya serta cucunya datang tiba tiba, apalagi sangat terlihat raut wajah mereka nampak penuh tanda tanya menatap bu Rukmi.


"Boleh kami masuk mi..??", seru Marsel.


"Yah...., silahkan...!!, lagian papi jarang di rumah, jadi mami selalu dan selalu sendiri, tanpa ada yang mau mengunjungi mami", ketus bu Rukmi.


"Jangan mulai lah mi..!!", ucap Marsel.


"Suka suka mami dong..!!, emang kenyataannya begitu kan..??", seru bu Rukmi.


"Nek, jika sikap nenek sayang padaku, pasti aku akan setiap hari kesini", ucap Sanum memegang tangan bu Rukmi.


Seketika tangan Sanum di tepis oleh sang nenek.


"Sudah aku bilang ya, aku tuh gak suka sama kamu dan ibumu, kenapa sih maksa banget..!!", timpal bu Rukmi tak suka.


"Mami sudah beruntung di kasih anugrah seorang menantu dan cucu, kurang apa lagi mi....??", tanya Marsel tak habis pikir dengan fikiran bu Rukmi bahkan setelah bertahun tahun lamanya.


"Jika kamu mau menuruti permintaan mami untuk menikah lagi, mami anggap itulah anugrah bagi mami..!!", seru bu Rukmi tak pernah memikirkan perasaan Zivana dan Sanum yang masih kecil.


Bahkan Zivana harus menutup telinga Sanum setiap bu Rukmi mulai berbicara jelek terhadap mereka berdua.


Tiba tiba...


Nur mendekati bu Rukmi dengan membawa kotak musik milik mami Morra.


Membuat bu Rukmi menjadi pucat pasi dan nampak ketakutan.


"I, iituuuu, kok melayang sih...??", seru bu Rukmi terbata bata.


"Itu hanya anak kami mi", seru Zivana mengusap air matanya, dan mengatakan apa yang mustahil di mata mertuanya.


Membuat bu Rukmi semakin ketakutan.


"Jangan ngaco...!!, dia kan udah lenyap dulu...!!", seru bu Rukmi semakin gelagapan ketika kotak musik itu telah berada tepat dihadapannya.


Seketika kotak musik itu bergetar, seakan ingin segera dibuka.


"Jujur aku sangat penasaran mi, kenapa kotak musik itu sangat ingin bertemu dengan mami..??, apa hubungan mami dengan janjinya ingin menolong Nur..??", ucap Zivana mulai berani berbicara di hadapan sang mertua yang selama ini tak menghargai dirinya.


"Me...,mennn, mencariku...!!", seru bu Rukmi semakin ketakutan.


"Apa mami pernah melakukan kesalahan...???", tanya Marsel penasaran.


"Mami tak pernah melakukan apapun..!!", timpal bu Rukmi masih terus memandangi kotak musik dihadapannya.


"Kalau begitu, bukalah kotak musik itu mi..!!, aku ingin tau, apa yang ingin ia tunjukkan pada kami", ucap Zivana memegang tangan bu Rukmi.


"Lepas..!!", seru bu Rukmi menepis tangan Zivana.


"Kalau begitu, aku yang akan paksa mami..!!" seru Marsel memegang tangan bu Rukmi dan memaksanya membuka kotak musik itu.


Ting......., tungg,......ting, ting, ting, ting, tung.....


Seketika suara kotak musik itu terdengar jelas ketika bu Rukmi membukanya.


Lalu dalam sekejap mata, dimensi mereka memudar, sekeliling mereka mulai nampak berubah.


Kini mereka telah kembali ke kediaman Marsel di waktu beberapa tahun yang lalu, dimana semua cerita dimulai.


"Ini rumah kita kan..??", ucap Nur heran.


Waktu menunjukkan, kehidupan bahagia Marsel dan Zivana menjadi pengantin baru dan kebaikan sikap Bu Rukmi pada Zivana.


Membuat bu Rukmi tak percaya dengan bayangan masa lalu yang ia lihat.


Masa berubah ketika Marsel dan Zivana tak kunjung memiliki seorang momongan.


Nur dan Sanum di tunjukkan sikap asli dan perubahan nyata dari bu Rukmi pada Zivana.


"Bunda...", ucap Sanum menatap sang bunda yang terpaku melihat kesedihan dirinya sendiri di masa lalu.


Marsel segera memegang tangan Zivana, ia seakan ikut merasakan sakit yang di berikan bu Rukmi pada istrinya.


Waktu pun berubah lagi, kotak musik itu menunjukkan betapa bahagianya semua orang mendengar kehamilan Zivana saat mengandung Nur dan Sanum.


Nur bahkan merasa hanyut dan bahagia saat dirinya tahu bahwa bundanya sangat menyayanginya bahkan masih di dalam kandungan.


Zivana hanya mengangguk dan sesekali mengusap air matanya.


Tiba saatnya, masa lalu menunjukkan detik detik kelahiran si kembar.


Nampak Zivana dengan perutnya yang amat besar, sudah tinggal menunggu hari untuknya bersiap melewati proses persalinan menyambut kedua buah hatinya.


Tiba tiba, malam tragedi itu muncul.


Yang mereka lihat hanya bu Rukmi yang berjalan ke arah dapur tepat di tengah malam tragedi itu terjadi.


"Mami keluar pada malam itu...??", seru Marsel teekejut mengetahui hal itu.


Bu Rukmi hanya terdiam menyaksikan masa lalu dihadapannya, tersihir bak melihat tanyangan bioskop menegangkan dihadapannya.


Jangan, jangan...!!, gak, itu gak mungkin..!! gumam bu Rukmi menerka nerka apa yang akan ia lihat.


Mata Zivana, Marsel dan bu Rukmi seketika membesar saat melihat air yang tumpah di dapur saat bu Rukmi mengambil air minum.


Membuat Zivana amat terkejut dan syok, ia seketika menangis membuat Sanum dan Nur ikut penasaran dengan apa yang akan terjadi.


Tatapan Marsel sudah penuh amarah memandang bu Rukmi.


Lalu, Nur dan Sanum pun ikut syok melihat apa yang masa lalu itu coba perlihatkan.


Zivana terjatuh karna genangan air akibat ulah dari bu Rukmi.


Yang membuat Zivana kontraksi hebat sampai mengalami pendarahan.


Yang mengakhibatkan Nur harus meregang nyawa saat dilahirkan.


"Kenapa nek...???", teriak Nur seketika membuat bu Rukmi terkejut dan jatuh terduduk di lantai saat mendengar suara Nur tanpa wujud.


Seketika, portal itu menutup, sekeliling mereka telah berubah kembali ke masa kini bersamaan dengan menutupnya kotak musik mami Morra.


Semua nampak masih syok melihat masa lalu itu.


Masa yang tak pernah mereka tahu, apa alasan dibalik tragedi itu.


Kini semua terjawab sudah.


Tinggal bu Rukmi kini harus menghadapi amarah dari semua orang.


"Apa salahku padamu nek...!!", teriak Nur marah sejadi jadinya, bahkan itu amarah terbesar yang pernah Nur keluarkan.


"A, akuuu, aku, tak tahu semua itu, ampun..!!", ucap bu Rukmi ketakutan sambil memandang kesegala arah karna dirinya hanya bisa mendengar suara Nur.


"Jadi alasanku berbeda dunia dengan saudaraku itu karna mu..!!", teriak Nur bersamaan dengan wujud Nur yang secara perlahan mulai muncul di pandangan bu Rukmi.


Membuat detak jantung bu Rukmi semakin cepat.


Ia amat ketakutan melihat wujud asli Nur, terlebih lagi saat itu wujud Nur dalam kondisi marah besar dan menakutkan.


Marsel dan Zivana, serta Nur masih tak percaya dengan apa yang terjadi di masa lalu, bahwa sebenarnya orang terdekat mereka lah yang harus bertanggung jawab atas semuanya.


"Aku benci kamu...!!", seru Nur menghempaskan badan bu Rukmi ke segala arah berulang kali.


"Ampun Nur..!!", seru bu Rukmi menangis sembari menahan rasa sakit tubuhnya.


Sedangkan Marsel dan Zivana seakan tak bisa berucap apa apa.


Mereka membiarkan Nur dengan kemarahannya.


"Kamu tak pantas berada di dunia ini nek..!!, apa kamu masih pantas ku panggil nenek..!!", teriak Nur sembari mengangkat tubuh bu Rukmi melayang di udara dan siap untuk melemparkannya.


Tapi saat itu juga.


Fitri datang menghentikannya.


"Jangan Nur...!!, kamu akan menyesal nantinya", ucap Fitri.


"Apa lagi yang akan ku sesalkan, aku tak akan pernah menyesal jika aku melenyapkan dia..!!", seru Nur masih dengan amarahnya.


Melihat Nur tak merespon peringatannya.


Fitri dengan sigap membuat bu Rukmi turun dengan menghadang kekuatan Nur.


Lalu ia merangkul dan membawa Nur pergi dari sana.


Sedangkan bu Rukmi pingsan di lantai setelah kejadian itu.