My Love My Pain

My Love My Pain
Berakhir



Airin sampai disebuah gedung yang terlihat tidak terpakai lagi. Mungkin sebuah apartemen yang ditinggalkan. Sebelum datang, sempat ada perdebatan antara Vino dan Airin. Alhasil, Airin tetap datang untuk Sela.


Ada rasa takut yang mendera. Hanya saja, Airin juga merasa ini tanggung jawabnya. Perlahan, Airin melangkahkan kakinya masuk. Sendiri, Airin betul-betul sendiri saat ini.


Bahkan, Airin terlonjak karena suara dering ponselnya. Dengan tangan gemetar, Airin mengangkat telfon itu.


"Baguslah jika kamu sudah sampai," kata wanita itu.


"Aku harus kemana lagi?" tanya Airin.


Wanita itu tertawa kecil, "Pergilah ke lantai 13."


Tut. Telfon itu dimatikan. Kembali Airin mengumpulkan semua keberaniannya. Dia maju dan masuk kearah tangga. Mana mungkin gedung tua itu memiliki lift yang bekerja.


***


Sementara itu, Vino dengan Arja masih saja berdebat. Mereka sama-sama cemas. Hanya cara mereka sangatlah unik. Tanpa disadari Airin, mereka mengikuti Airin. Tentunya agar Airin dan Sela sama-sama selamat.


"Jika salah satu dari mereka tidak selamat bagaimana?" tanya Arja.


Pertanyaan itu mengusik hati Vino, "Jangan harap Airin gagal. Aku tahu dia pasti bisa."


"Kita tidak tahu siapa yang dihadapi Airin kali ini."


Vino hanya diam. Dia hanya bisa menatap gedung tua itu dari jauh. Airin sudah mengatakan padanya jika jangan menelfon. Apapun yang terjadi.


"Lihatlah," ucap Vino sembari menunjuk ke lantai 13.


Arja langsung melihat. Dia tidak tahu cahaya apa itu. Hanya saja, dia tahu jika Airin dan Sela berada di lantai itu.


"Apa kita kesana sekarang?" tanya Vino.


Arja menggeleng, "Tidak. Ini belum waktunya."


"Lalu kapan? apa menunggu salah satu dari mereka mati?"


"Kamu tenang dulu. Kita akan selamatkan mereka," ucap Vino.


Vino masih bersikeras untuk pergi, namun Arja tetap menahannya. Dia tidak ingin terjadi kesalahan yang fatal dan membuat salah satu dari mereka kehilangan nyawa.


***


Sampai di lantai 13. Airin menengok ke kanan dan ke kiri. Dia tidak melihat apapun. Hanya sebuah ruangan yang terlihat cukup terang. Dengan keyakinan, Airin melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu.


Karena kaget, Airin langsung menutup mulutnya begitu melihat apa yang ada di ruangan itu.


"Se...sela," lirih Airin.


Sela terikat dengan banyak luka di tubuhnya. Entah apa saja yang sudah di lakukan oleh si penculik hingga Sela sampai seperti itu.


Airin berlari dan mendekat pada Sela. Dia membuka ikatan itu dan mencoba membangunkan Sela.


"Sela, bangun Sela. Ini aku," kata Airin sembari menggoyangkan tubuh Sela.


Perlahan Sela mengerjapkan matanya. Dia membuka mata dan melihat Airin sudah berada di sampingnya.


Airin meletakan tubuh Sela dengan perlahan. Lalu Airin mengambil sebuah botol minuman di atas meja. Mungkin milik si penculik.


"Minumlah."


Saat Airin selesai membantu Sela minum. Dia mendengar suara langkah kaki tepat di belakangnya. Mata Sela berubah takut, Airin memejamkan matanya dan langsung menoleh kebelakang.


Buk, sebatang kayu berhasil di tangkis dengan tangan Airin. Walau merasakan sakit, setidaknya Airin tidak pingsan karena pukulan itu.


"Hallo, kau sudah berani melawan ternyata," kata wanita itu.


Merasa tidak asing dengan suara itu. Airin buru-buru melihat wajah si penculik.


"Ais," teriak Airin yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Ais? aku bukan Ais."


"Ka...kau... bukankah kau.."


"Aku sudah mati. Ya, aku mati. Lebih tepatnya bukan aku, tapi Ais lah yang mati di hadapan kalian."


Airin masih menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Ironis memang. Aku mengorbankan temanku sendiri, demi wanita sepertimu."


"Apa maumu sebenarnya?"


"Vino. Aku ingin dia, hartanya, keluarganya, dan segala miliknya."


Kali ini tidak ada ketakutan yang dipancarkan mata Airin. Airin malah tertawa dengan apa yang dikatakan Heila.


"Kau mau suamiku? dengan melakukan hal gila seperti ini?"


Heila merasa ada yang aneh dengan Airin. Airin melangkahkan kakinya, dia mengitari tubuh Heila.


"Kamu kira, aku adalah Airin yang sama. Airin yang kau culik?"


Heila hanya diam.


Buk. Sebuah tendangan mengenai belakang tubuh Heila dengan keras.


"Apa kau kira aku tidak bisa berubah?" tanya Airin.


Heila meringis kesakitan. Lalu dia mencoba untuk meninju Airin. Hampir kena, untung saja Airin bisa mengelak. Namun, sebuah tendangan mendarat di perut Airin.


Sakit. Jelas Airin merasakannya, hanya saja dia tidak ingin terlihat lemah begitu saja. Mereka bertarung dengan sengit. Memang tidak ada yang tahu, jika Airin sudah belajar bela diri. Walau hanya beberapa kali dan pengetahuannya masih sangatlah minim.


Tanpa mereka sadari. Arja dan Vino sudah berhasil masuk. Melihat keadaan Sela saat itu, Arja langsung mendekat dan merengkuh Sela.


Sementara Vino hanya bisa melihat hal yang belum pernah dia lihat. Airin melakukan tendangan dan tinju. Sampai pada akhirnya, Airin menendang dada Heila dengan sangat keras.


"Ini untuk semua yang kau lakukan. Kau bahkan menyakiti orang yang tidak bersalah," ucap Airin.


Heila tergeletak pingsan dengan darah keluar dari mulutnya. Airin tersenyum, dia menoleh pada Vino dan berlari kearahnya.


Dorr. Sebuah tembakan melayang. Airin dan Vino menoleh, Arja sudah tergeletak dengan darah keluar dari dadanya.


"Kau. Kenapa kau melakukan ini?" tanya Airin pada Heila.


Heila hanya tersenyum dengan rasa sakit ditubuhnya. Saat mencoba untuk menembak Airin. Tembakan itu tidak berfungsi, kali ini mata Heila menampakan wajah ketakutan.


Merasa sangat terluka dengan apa yang dia lihat. Airin menendang Heila dengan sangat keras. Setelah memastikan Heila benar-benar tidak sadar. Airin berlari kesisi Arja.


"Kenapa kau melakukan ini? seharusnya kau tidak melakukan hal bodoh ini," kata Airin.


Arja tersenyum, "Aku melakukannya agar kau dan Vino bahagia. Akulah yang menjadi penyebab utama kau mendapatkan semua luka dalam hidupmu."


"Tidak," ucap Airin sembari menggeleng.


"Aku menitipkan Sela dan anakku padamu. Terima kasih, Airin."


Setelah itu. Arja menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya. Air mata Airin tidak bisa dibendung. Dia menangis sejadi-jadinya membuat Vino hanya bisa diam.


Disisi lain, Sela juga merasakan luka yang dalam. Dia melihat Arja tergeletak dan tidak bisa merengkuhnya.


"Kamu tenanglah. Kita, tolong Sela lebih dulu. Dia butuh perawatan medis," kata Vino.


"Baiklah."


Airin mendekat pada Sela, "Kau tenang saja. Aku dan Vino akan bertanggung jawab untukmu dan anakmu."


Tidak lama polisi dan perawat datang. Mereka melakukan tugas masing-masing. Baru kali ini, Airin merasa berani. Hanya saja, keberanian itu membuat orang terdekatnya terluka.


***


Perjalanan cinta Airin selalu menyakitkan. Namun saat ini, mungkin cahaya akan bersinar dihidupnya. Dengan adanya Vino di sampingnya.