
"Hallo," kata Airin dari seberang sana.
Arja tidak menjawab. Dia malah terpaku karena mendengar suara Airin. Suara yang sudah satu minggu ini pergi dari kehidupannya.
"Hallo, ada apa ini? kenapa hanya diam saja?" tanya Airin dari seberang sana.
Arja tidak tahu harus mengatakan apa. Tanpa sadar dia memutuskan telfon itu dan kembali memasukan ponselnya ke dalam saku. Arja merasa dirinya berubah saat ini.
***
Airin POV
"Siapa?" tanya Vino pada Airin.
"Arja."
Kenapa Arja tidak mengatakan apapun. Padahal Arja sendiri yang menelfon Airin. Apa dia hanya ingin mempermainkan aku, pikir Airin. Kenapa di lubuk hati Airin masih berharap Arja menjelaskan semuanya padanya.
Vino memegang tangan Airin secara tiba-tiba. Membuat Airin langsung menarik kembali tangannya.
"Maaf," kata Vino pada Airin.
"Tidak apa. Apa kau tidak lapar? aku merasa sangat lapar," kata Airin mencoba membuang rasa canggung ini.
"Boleh. Aku tahu tempat makan yang enak."
Vino langsung membelokkan mobilnya ke arah kiri. Vino benar-benar tahu tentang kota ini. Apa mungkin, Vino dulu pergi kesini dengan mamanya. Benar juga, sudah lama Airin tidak melihat mama Vino.
"Bagaimana kabar tante?" tanya Airin.
"Tumben tanya kabar Mama?"
"Emm, nggak kok, cuma kangen aja. Sudah lama nggak ketemu."
Vino hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun. Dia menatap lurus pada jalan yang cukup ramai.
Sampai disebuah tempat. Vino menghentikan mobilnya. Tidak Airin sangka jika di tempat seperti ini masih ada bangunan tua. Terlihat terawat, namun tetap saja tidak bisa menyembunyikan fakta. Rumah itu terlihat usang.
Vino berjalan masuk tanpa ragu. Sementara Airin, Airin masih menatap kesekeliling bangunan. Hanya rumah ini yang terlihat tua, semua bangunan lain sudah sangat modern.
"Ayo masuk," kata Vino sembari membukakan pintu untuk Airin.
Airin mengangguk. Dengan hati ragu, akhirnya Airin melangkahkan kakinya ke rumah itu. Beberapa wanita memakai pakaian pelayan berjalan kesana kemari. Mereka hanya memberi hormat saat Vino masuk.
"Ma, aku bawa wanita yang kau suka," teriak Vino begitu mereka masuk kesebuah ruangan.
Ruangan dengan sofa yang senada dengan warna temboknya. Coklat muda. Disana juga ada bunga dan beberapa furniture lain. Airin hanya bisa menatap takjub di ruangan ini.
"Bukan Mama yang suka, tapi kau."
Airin dan Vino menoleh langsung keasal suara. Airin melihat Mama Vino sedang turun dengan tangan yang sedang memegang buket bunga.
"Kau sudah datang?" tanya Mama Vino pada Airin.
"Ya, tante. Bagaimana kabar tante?" tanya Airin.
Mama Vino memeluk Airin dan memberikan buket bunga itu pada Vino. Dengan isyarat mata, mama Vino meminta Vino meletakan bunga itu ke meja.
Vino hanya tersenyum dan melakukan apa yang diperintah oleh mamanya. Dengan lembut, mama Vino menarik tangan Airin hingga mereka duduk di sofa itu.
"Kabar tante baik. Bagaimana denganmu?" tanya mama Vino.
"Saya baik, tante."
"Sudah sangat lama Vino ingin membawamu kesini. Sekarang baru terwujud apa yang dia inginkan."
"Ma, jangan katakan yang tidak-tidak pada Airin."
Mama Vino tidak menggubris apa yang dikatakan Vino. Dia memilih untuk menceritakan apa saja yang dilakukan Vino. Tetap saja, mama Vino hanya ingin mengatakan jika Vino mencintai Airin. Padahal, Airin sudah mencari topik pembicaraan lain.
"Sayangnya, kau sudah menikah," kata mama Vino dengan wajah kecewa.
"Dia baru saja cerai, ma," ungkap Vino.
Airin langsung menoleh dan menatap Vino dengan tajam. Kenapa dia melakukan ini pada Airin, kenapa dia bisa mengatakan hal ini pada mamanya. Apa dia sengaja membawa Airin kesini untuk mengatakan hal ini.
"Benarkah apa yang dikatakan Vino?" tanya mama Vino dengan pertanyaan mengandung harapan.
"Sebenarnya, sebenarnya..."
Tiba-tiba saja ponsel Airin berdering. Airin merasa jika ini sebuah pertolongan untuknya. Setidaknya Airin tidak harus mengatakan alasannya bercerai pada mama Vino. Jika mengatakannya, akan semakin rumit nanti urusannya.
Airin memilih untuk sedikit menjauh dari mama Vino dan Vino. Ternyata Cika yang menelfon Airin, dia menanyakan apa Airin akan datang keacara pernikahan Arja atau tidak. Jika mengingat sakit hati ini, Airin tidak ingin datang. Hanya saja, Airin perlu membuat mereka sadar. Jika Airin bisa hidup tanpa mereka.
"Bagaimana?" tanya Cika dari seberang telfon.
"Ya, aku akan datang. Beri tahu saja aku tanggal dan alamat diadakannya pernikahan itu."
"Aku baik-baik saja. Sudah dulu ya, aku punya banyak urusan."
"Baiklah, daah."
Kembali Airin memasukan ponselnya ke dalam saku. Airin menghela nafas panjang. Kenapa Airin bisa memutuskan hal ini secara tiba-tiba. Dia bahkan tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika dia datang. Apa Airin bisa menyembunyikan rasa ini di depan Arja dan Sela nanti.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Vino.
"Ya."
"Ayo kita makan, Mama sudah membuatkan makanan untukmu."
Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi chat Airin.
Aku akan menikah. Apa kau akan datang?
Airin berdecak kesal menatap layar ponselnya. Apa Arja sudah gila? dia mengirimkan pesan ini tanpa memikirkan perasaan Airin. Airin harus bisa membalasnya.
"Ayo," kata Vino lagi.
"Baiklah."
Di meja makan sudah tersedia banyak sekali makanan. Mulai dari yang pedas sampai yang tidak pedas. Jujur saja, melihat semua ini membuat Airin langsung merasa kenyang.
Bahkan beberapa pelayan masih saja datang dan membawa makanan di tangan mereka. Apa semua ini disiapkan untukku? kenapa aku jadi narsis seperti ini. Pikir Airin.
"Ayo, Rin. Makan saja, tidak perlu sungkan," kata mama Vino.
"Baik, tante."
Sudah adat di keluar Vino. Jika makan tidak boleh sambil bicara. Hanya dentingan piring dan sendok yang beradu. Disaat sepeti ini, Airin malah merasa sulit menelan makanan. Bagaimana tidak, mama Vino terus menatapnya.
***
Vino tertawa saat Airin mengatakan apa yang dilakuakan mamanya. Bahkan sampai membuat Airin tidak bisa makan. Entah kenapa, tawa itu membuat Airin juga ingin tertawa. Airin merasa lebih tenang saat ini, tidak seperti tadi pagi.
Airin baru tahu, jika di kota ini sangat indah di saat malam hari. Banyak lampu yang menghias kota. Banyak juga remaja yang asik bercanda dengan teman-temannya.
"Apa kau ingin berhenti disini dulu?" tanya Vino.
"Tidak. Aku hanya melihat-lihat saja."
"Aku kira kau ingin disini lebih dulu."
Airin hanya menggelengkan kepalanya. Kembali Vino menancap gas mobilnya. Mereka melaju dengan kecepatan sedang.
Sampai di rumah yang Airin sewa. Mereka tidak mengatakan sepatah katapun. Hanya beberapa kali mereka tidak sengaja bertatap mata.
Kenapa Airin kembali seperti ini. Airin merasa sangat canggung dengan Vino. Padahal, mereka sudah berteman sejak kecil. Kenapa harus ada perasaan aneh ini lagi.
"Airin. Aku pulang dulu ya," kata Vino pada Airin.
Airin mengangguk, "Hati-hati di jalan."
Mata Airin masih saja menatap Vino sampai dia masuk ke dalam mobil. Tidak Airin sangka, cuaca berbubah mendung tiba-tiba. Sepertinya hujan akan turun hari ini.
Airin kembali melihat kearah mobil Vino. Tidak beranjak dari sana sedikitpun. Airin pun mendekat kembali dan mengetuk kaca mobil itu.
"Ada apa?" tanya Airin.
"Sepertinya mobilku mogok, padahal baru saja dari bengkel kemarin," kata Vino yang masih mencoba menyalakan mesinnya.
Rintik hujan sudah mulai turun. Disini juga akan sulit jika memanggil orang bengkel. Akhirnya Airin memutuskan untuk mengajak Vino masuk ke dalam rumah.
"Ayo minum teh dulu. Sepertinya akan hujan."
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah. Airin membuatkan teh dan menyiapkan kue yang sudah Airin beli tadi. Mereka menonton tv di ruang tengah. Tidak ada kata.
Acara yang kami tonton adalah berita terkini. Disana juga ada berita tentang Arja dan Sela yang akan menikah. Semua orang tahu tentang Airin, mereka menanyakan apa yang membuat Airin dan Arja bercerai.
Tidak Airin sangka, Arja menjawabnya dengan sangat simple namun membuat Airin terluka. Dia mengatakan jika Airin tidak ingin memiliki anak darinya.
"Apa kau masih mencintainya?" tanya Vino tiba-tiba.
"A..aku..."
"Tidak apa, lambat laun kau pasti bisa melupakannya. Seperti hubungan kita dulu," kata Vino.
Kenapa Airin merasa tersindir saat Vino mengatakannya. Seakan-akan Airin adalah wanita yang sangat mudah jatuh cinta dan mudah melupakan cinta yang lama.
Perlahan tangan Vino memegang tangan Airin. Membuat mereka saling pandang, perlahan wajah Vino mendekat pada Airin. Dekat dan semakin dekat lagi dan....
***