
Perlahan tangan Vino memegang tangan Airin. Membuat mereka saling pandang, perlahan wajah Vino mendekat padanya. Dekat dan semakin dekat lagi dan....
Tiba-tiba saja ponsel Airin berdering. Airin dan Vino sama-sama kaget. Mata mereka bertemu, karena merasa sangat tidak enak. Airin mengambil ponselnya dan masuk ke dalam kamar.
"Ya, Cika," kata Airin.
"Kenapa kau baru mengangkatknya? apa kau disana banyak pekerjaan?" tanya Cika dengan nada kesal.
"Maaf, ada Vino disini."
Kenapa Airin mengatakannya. Bukankah, seharusnya Airin merahasiakan ini dari Cika. Rasanya aneh jika ada yang tahu kedekatannya dengan Vino.
"Maksudku..."
"Hubungan kalian sudah dekat lagi?" tanya Cika dengan suara tawanya, "Aku berharap kalian bisa bersama."
"Kenapa kau bisa mengatakan hal itu. Bukankah kau masih memiliki perasaan pada Vino. Tidak mungkin akan melukaimu."
"Kau ini, aku dan Vino hanya teman. Kau akan pulang kapan? bukankah kau akan datang dengan Vino kepernikahan Arja?"
"Mungkin aku akan datang bersama denganmu saja."
Terdengar jika Cika berdecak, "Aku tidak bisa datang denganmu. Jay akan menemaniku."
"Jay?"
"Kau tahu lah. Sudah dulu ya, jika kau sudah akan pulang. Kabari aku, ok."
"Ok."
Cika langsung menutup telfonnya. Airin meletakan ponsel itu ke meja di samping tempat tidur. Hujan di luar sangat lebat, tidak mungkin mobil Vino akan diperbaiki malam ini. Lebih baik, Airin menyuruhnya menginap saja.
Airin keluar dari kamar. Dia melihat Vino sudah terlelap di atas sofa biru itu. Dia terlihat sangat lelah. Ya, seharian ini dia terus menemani Airin kesana kesini.
Untung saja ada beberapa selimut di rumah ini. Jadi, Airin bisa menyelimuti Vino tanpa takut kehabisan selimut. Vino terlihat sangat tenang saat dia tidur. Tidak seperti saat dia sadar, dia lebih terlihat tegas walau sebenarnya sangat lembut.
***
Tidak tahu kenapa, Airin merasa jika dia harus kembali ke kotanya yang lama. Airin sudah merapikan barang-barangnya masuk ke dalam koper. Airin sudah siap kembali, apapun yang terjadi.
Beberapa kali Airin mengetuk pintu rumah bu Ann. Airin akan berpamitan jika sore ini dia harus kembali. Ya, kembali bukan untuk menemui luka lamanya, tapi untuk menjemput kebahagiaannya.
"Airin, ada apa pagi-pagi begini? apa ada yang salah di rumah?" tanya Bu Ann.
"Tidak, Bu Ann. Aku kesini mau berpamitan."
"Ayo masuk dulu," kata bu Ann.
Baru kali ini aku benar-benar masuk ke rumah itu. Rumah dengan banyak hiasan bunga. Sepertinya bu Ann adalah orang yang sangat suka dengan bunga.
Mata Airin tertuju pada sebuah foto yang dikelilingi mawar putih. Foto gadis belia yang cantik, dengan rambut pirang panjang. Mungkin umurnya lima belas atau enam belas tahun.
"Dia anak ibu yang sudah meninggal. Cantik bukan?" tanya bu Ann sembari meletakan dua cangkir teh ke atas meja.
"Ya, bu. Sangat cantik," timpal Airin.
Bu Ann duduk di samping Airin, "Dia meninggal saat akan membelikan ibu bunga mawar putih. Oh ya, kenapa kamu mau kembali? bukankah sewanya satu bulan? ini baru satu minggu lebih."
"Sebenarnya, saya ada urusan mendadak dan harus kembali. Untuk uang sewa, tidak usah di kembalikan, Bu."
"Terima kasih banyak. Ayo diminum dulu tehnya."
Airin jadi sadar, mungkin nasib Airin dan bu Ann berbeda. Dia memilih sendiri dan Airin terpaksa sendiri.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Vino sudah berada di dekat mobilnya. Disana juga ada beberapa orang yang sedang melihat mobilnya. Mungkin orang dari bengkel dari bengkel terdekat.
"Kau sudah bangun?" tanya Airin.
Vino mengangguk, "Kau dari mana saja? bahkan ada koper di ruang tamu."
"Aku akan kembali hari ini. Kau tahu, tidak enak jauh dari kota sendiri."
"Kau mau pulang nanti?" tanya Vino yang terlihat kaget.
Airin mengangguk dengan pasti dan melewatinya begitu saja. Vino mengikuti langkah kaki Airin. Dia menarik tangan Airin hingga hampir terjatuh. Untung saja Airin berpegangan pada tiang di sampingnya.
"Kenapa mendadak? apa kau menghindariku?" tanya Vino.
"Kata siapa aku menghindarimu? aku tidak menghindari siapapun. Bahkan kenyataan pahit dalam hidupku sekalipun. Aku pulang, karena aku merasa sudah tenang."
Vino memegang kedua tangan Airin, matanya menatap mata lekat pada mata Airin, "Kembalilah denganku. Aku janji, aku akan menemanimu hingga akhir."
Airin melepaskan tangan itu, "Vino. Kita teman, aku sangat bersyukur memiliki teman sepertimu." Airin berbalik untuk mengambil koper dan tasnya.
"Aku mencintaimu."
Langkah kakinya terhenti. Kenapa Vino kembali menyatakan cintanya di saat Airin tidak siap menerima. Di saat Airin masih merasakan luka di dalam hatinya yang paling dalam.
"Aku sangat mencintaimu. Aku bahkan rela mengorbankan segalanya untukmu," kata Vino lagi.
"Vino. Aku masih butuh waktu, ingat sampai saat itu tiba. Kita hanya teman."
Airin mengambil koper, mengunci pintu dan meletakan kunci itu di atas pintu. Seperti yang bu Ann pesankan. Airin melewati Vino begitu saja. Dia akan berjalan-jalan di kota sebelum benar-benar pulang.
Jika saja, Airin sudah benar melupakan Arja. Mungkin Airin akan menerima Vino. Hanya saja, Airin takut pertemanan mereka ternoda dan membuat mereka tidak kembali seperti dulu.
***
Arja POV
Sela terus berteriak-teriak. Sejak keputusan pernikahan itu, Arja berbubah total. Dia hanya mementingkan pekerjaan. Sebenarnya, hanya cara itu yang membuat Arja lebih baik. Pikirannya masih saja tertuju pada satu wanita yang dicintainya. Airin.
"Kenapa kau seperti ini? apa kau sudah tidak mencintaiku? apa kau hanya ingin harta warisan itu?"
"Sel. Aku lelah, biarkan aku istirahat."
"Kau bilang lelah. Seharusnya aku yang mengatakan itu. Aku menyiapkan pernikahan ini sendiri. Sementara kamu malah memikirkan Airin. Ingat, aku bisa melakukan apapun agar Airin semakin benci padamu."
Arja menampar Sela dengan begitu keras. Beberapa hari ini Sela terus mengungkit harta warisan Airin. Dia juga terus mengancam Arja, membuat Arja tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Sela, maafkan aku. Aku..."
"Aku benci sama kamu, Ja."
Sela keluar dengan deraian air mata. Baru kali ini Arja menamparnya dan membuatnya terluka. Arja terduduk di sofa, dia meratapi apa yang baru saja dia lakukan. Dia baru saja menyakiti wanita lagi.
Selama Arja belum bertemu dengan Airin. Arja akan terus seperti ini, bahkan semakin hari Arja semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Padahal, dia bisa sangat lembut saat bersama Airin dulu.
Sela berubah karena cintanya pada Arja. Sedangkan Arja berubah karena cintanya pada Airin. Cinta memang tidak ada yang tahu, ada yang merubah menjadi lebih baik. Ada juga yang merubah menjadi iblis.
***