My Love My Pain

My Love My Pain
Hanya sebuah kebohongan



Semalam. Mereka bermalam di hotel, tidak ada yang sepesial memang. Tapi, Airin merasa menjadi istri satu-satunya bagi Arja.


Sinar matahari perlahan masuk ke dalam kamar. Airin sudah siap untuk pergi ke kantor. Jika memang Arja sudah meminta Airin berhenti, Airin akan berhenti. Namun, alasanya masih belum jelas hingga membuat Airin merasa harus tetap bekerja.


Arja masih terlelap dengan selimut polos berwarna biru. Airin melihat ponsel dan sudah waktunya Airin pergi. Perlahan Airin mendekat dan mencoba membangunkan Arja.


"Aku berangkat kerja dulu ya," kata Airin.


Arja bangun dan langsung memegang tangan Airin. Dia membuka mata dengan malas.


"Sudah aku bilang jangan bekerja."


Airin hanya bisa menghela nafas. Airin bahkan belum mengurus semuanya. Langsung meminta Airin berhenti.


"Aku sudah urus semuanya." Jelas Arja dengan suara serak khas tidurnya.


"Baiklah. Aku ke kantor hanya untuk mengambil barang."


"Hanya itu? tidak ada hal lain lagi?"


Airin tidak paham dengan apa yang Arja maksud. Apa sekarang dia sedang curiga pada Airin. Kenapa selalu curiga? pikir Airin.


"Ok. Aku akan jemput kamu nanti."


Airin mengangguk. Tentu saja agar percakapan ini selesai dan Airin bisa langsung pergi. Arja seakan-akan tidak mau melepaskan Airin. Arja hanya ingin mengekang Airin atas nama suami.


***


Gedung kantor yang menjulang tinggi ini harus Airin tinggalkan. Airin akan menjadi wanita rumah tangga yang sesungguhnya. Hanya karena alasan, suaminya tidak ingin Airin bekerja. Dia ingin Airin hanya diam di rumah dengan semua kebosanan.


"Pagi-pagi sudah melamun. Nggak baik tahu," kata Sela yang sudah di samping Airin.


"Kamu benar."


Kami masuk ke kantor bersama. Sela kaget saat tahu Bu Mela ada di kantor itu. Semua karyawan tahu, Bu Mela sudah berhenti dan digantikan oleh Airin.


"Kenapa Bu Mela disini?" bisik Sela.


Airin menoleh dan tersenyum pada Sela.


"Ini kan memang pekerjaannya. Aku hanya mencari kesibukan saja."


"Kau bohong."


"Anggap saja begitu."


"Apa ini perintah suamimu?" tanya Sela.


Airin hanya menganggukan kepalanya. Sela menarik tangan Airin hingga Airin ikut duduk di sebuah bangku. Airin menatap dengan penuh tanya.


"Kenapa kamu mau? dia hanya ingin kau di rumah. Dia akan mengekangmu."


Airin tidak bisa berkata-kata.


"Aku tahu kau mencintai Arja, tapi apa Arja juga mencintaimu?"


"Apa yang kamu maksud?" tanya Airin merasa tidak senang dengan perkataan Maya.


Sela menepuk pundak Airin. "Dia hanya ingin menyiksamu dengan cinta palsunya."


Kini gantian Airin menepuk pundak Sela dan langsung menuju ke ruangan Vino. Banyak hal yang harus Airin bicarakan dengannya. Bagaimanapun, Airin dan Vino sudah menjadi teman.


"Maaf. Aku harus pergi," kata Airin dan meninggalkan Sela.


Vino duduk dengan tangan yang memainkan ponsel. Jelas sekali dia sedang gelisah. Bu Mela masuk membawa beberapa berkas yang harus Airin dan Vino tanda tangani. Tentunya tentang pemutusan kerja.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Bu Mela di sela pembicaraan kami.


"Aku sehat, Bu. Bagaimana dengan Ibu dan keluarga?"


"Kau tahu sendiri kondisi anakku."


Airin hanya mengangguk. Pasti sangat sulit menjadi Bu Mela. Harus bekerja dan mengurus rumah. Airin merasa sedikit iri, rumah tangga Bu Mela sangat harmonis.


"Pak, silahkan tanda tangan," Bu Mela menyodorkan berkas itu.


Vino hanya diam dan menatap Airin. Entah tatapan apa yang dia maksud. Airin hanya diam dan mencoba mencari pandangan lain.


"Mela, tinggalkan kami berdua."


"Baik, Pak."


Bu Mela keluar. Kini hanya kami berdua yang ada di ruangan itu. Vino masih tidak meninggalkan pandangannya dari Airin. Membuat Airin semakin bingung.


"Kau bisa langsung tanda tangan. Aku harus pergi secepatnya," kata Airin.


"Apa maksudmu Vino? kau tahu bukan jika aku sudah punya suami."


Vino tersenyum, "Aku tahu. Hanya saja, aku merasa sedih harus kembali berpisah dengan kamu." Vino menggenggam tangan Airin dengan erat. Mata kami bertemu, "Aku sangat mencintaimu, Rin. Tinggalkanlah suami brengsekmu."


Brak. Pintu terbuka dengan sangat lebar. Bukan Mela yang ada di sana, melainkan suami Airin, Arja. Matanya menatap tidak suka dengan apa yang dia lihat. Jelas saja, Vino masih menggenggam tangan Airin saat ini.


Sekuat tenaga Airin mencoba melepaskan tangan tangannya. Namun percuma, semakin Airin ingin melepaskanya. Semakin kuat Vino menggenggam tangannya.


"Vino lepaskan." Teriak Airin.


"Larilah denganku. Aku janji akan buat kamu bahagia, Rin."


Kembali Airin mendapat tatapan itu. Tatapan yang memiliki satu arti. tapi, apa mau dikata. Sampai saat ini, Airin masih memiliki rasa pada Arja.


Brak. badan Vino terhempas cukup jauh. Bahkan sampai menabrak meja. Setelah berhasil memukul Vino. Arja menarik tangan Airin.


"Apa sepuluh milyar tidak cukup untukmu. Sampai kau masih menginginkan istriku?" tanya Arja.


Vino bangkit dengan bibir yang berdarah. Airin tahu, cinta Vino padamya masih sama seperti saat kami berpisah dulu. Namun, Airin belum bisa menerima saat dia ditinggalkan dulu. Hingga Airin berlabuh pada Arja saat ini.


"Rin. Apa kau lupa dengan perlakuan suamimu ini? kau di duakan. Dia juga tidak percaya padamu, hingga menginginkan kau tetap di dalam rumah. Dia ingin mengurungmu."


Airin menoleh pada Arja. Tatapanya berubah gelisah, apa mungkin yang dikatakan Vino dan Sela benar. Arja tidak percaya padanya dan hanya ingin mengurungnya saja.


"Apa kau percaya dengan ******** ini?" tunjuk Arja pada Vino.


Airin tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Hanya diam yang bisa Airin lakukan saat ini.


"Jika kau masih mendekati istriku. Aku bahkan rela membawamu ke ranah hukum."


Arja menarik Airin dengan keras. Yang Airin ingat hanya tatapan Vino di sana. Dia terlihat ingin membawa Airin bersamanya. Membuat hati Airin goyah secara perlahan.


Kini, setelah Airin benar-benar akan keluar dari pekerjaan. Airin baru merasakan jika Vinolah yang selama ini ada untuknya. Bukan suaminya.


***


Arja membawa mobil dengan sangat cepat. Bahkan Airin sampai tidak bisa bergerak. Tatapanya nyalang, dia seperti banteng yang mengincar targetnya. Sangat mengerikan.


"Apa bisa lebih pelan," pinta Airin.


"Diam." Teriak Arja pada Airin.


Dia bukanlah Arja yang kemarin mengajaknya berdamai. Dia bukanlah Arja yang mengajak Airin untuk kembali ke asal cinta. Dia sangat mengerikan.


Sampai di rumah. Yang Airin lihat hanya Maya yang sedang menonton TV. Melihat Airin masuk dengan Arja, Maya bergegas mendekat pada Arja.


"Kau sudah pulang?" tanya Maya dengan nada manjanya.


Bukan kata manis yang keluar dari mulut Arja. Maya malah di dorong hingga jatuh ke sofa. Maya menatap Airin dengan tatapan tidak suka, mungkin dia menganggap Airin sebagai kunci masalah ini.


"Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal jika Airin memiliki hubungan dengan Vino." Bentak Arja pada Maya.


Maya diam. Dia menundukan kepalanya. Kini Airin tahu, semua alasan Arja kembali mendekatinya adalah Maya. Dia ingin Airin merasakan sakit karena perilaku Arja padanya.


"Kenapa kau mengatakannya pada Arja? bukankah kau sudah berjanji?" tanya Airin.


"Diam kamu Rin. Di sini, hanya aku yang boleh bicara. Kau hanya diam dan lihat saja."


Kini Airin benar-benar muak. Apa yang dilakukan Maya dan Arja tidak pernah ada yang tulus. Mereka hanya ingin menyakiti hati Airin. Entah siapa yang memberi tahu Maya hingga Maya mengatakan pada Arja.


"Sejak kau menikah dengan Maya, kau berubah. Kau tidaklah menjadi pria yang baik seperti dulu, kau hanya bisa menyakitiku."


Ya, Airin mencoba membela dirinya dan mengungkapkan semua emosi dalam hatinya.


"Kau sudah berani membantah sekarang?" Arja mendekat dan menampar Airin dengan keras.


Airin tersenyum kecil, "Kau hanya bisa menyakitiku. Kau bahkan biasa saja ketika aku kehilangan anakku yang jelas-jelas anakmu. Kau memilih wanita lain, yang sedang mengandung anak pria lain. Apa itu adil bagiku?"


Maya berlari ke dalam kamar. Mungkin dia sudah tahu apa yang Airin katakan. Dia juga mungkin akan segera pergi dari rumah ini.


"Aku tidak peduli apa itu anakku atau bukan." Arja mengatakanya dengan mata tajamnya.


"Kau sendiri yang mengatakan akan adil padaku. Tapi kenyataanya, kau sama saja dengan pria lain yang hanya bisa mengumbar janji."


Arja mendekat dan menggenggam tangan Airin. Perlahan sorot matanya menjadi lebih lembut.


"Maaf," kata Arja dengan wajah sedih.


"Maaf? kata itu sudah tidak berguna. Aku benci padamu."


Airin melepaskan tangan Arja dengan keras. Kini, Airin hanya bisa menitikan air mata di dalam kamar. Tanpa teman dan tanpa kekasih. Hanya sepi yang menemaninya.


***