My Love My Pain

My Love My Pain
Rencana Sela dan Mia



Sore ini Airin melakukan rutinitasnya. Seperti biasa, dia hanya berdiam diri di dalam kamar dengan tumpukan buku novel di sampingnya. Walaupun sedang membaca buku, tetap saja Airin teringat dengan Sela.


Dia ingat sudah membuang nomor telfon tante Mia. Buru-buru Airin meletakan buku ditangannya dan berjalan menuju ke tempat sampah. Dia mencari kertas nomor itu, tapi sudah tidak ada disana.


Airin kembali mengingat. Dimana dia membuanganya, atau sampah yang ada di kamarnya sudah dibersihkan oleh pelayan. Airin hanya bisa menghela nafasnya.


Tok tok tok.


Airin mendekat dan membuka pintu. Vino sudah berada tepat di depan pintu saat Airin membukanya.


"Mau ikut mengantar mama?" tanya Vino.


Benar. Sore ini mama Vino akan kembali keluar negri. Airin tersenyum dan memegang tangan Vino.


"Maaf, aku tidak bisa. Aku akan bertemu dengan Cika. Aku sudah janji."


Vino hanya mengulas senyum, "Baiklah, tapi jangan pulang terlalu malam."


Airin mengangguk dengan semangat. Akhirnya dia punya alasan untuk keluar rumah. Dia juga tidak perlu takut Vino mengikutinya.


***


Airin sudah sampai di cafe. Dia menunggu tante Mia disana. Jelas sudah, Airin mengingkari janjinya pada Vino. Jika Vino tahu, dia pasti akan sangat marah.


Tidak lama. Tante Mia masuk dengan dress selutut dan tas bermerek. Dia juga menggunakan bandana di kepalanya. Setelah meletakan tasnya di meja, tante Mia duduk berhadapan dengan Airin.


"Maaf. Jalanan macet saat aku kesini," ujar tante Mia.


"Tidak apa."


"Biar aku pesankan minuman," kata tante Mia.


"Tidak perlu," jawab Airin, "Aku hanya ingin mendengar tentang Sela."


Tante Mia menyunggingkan sebuah senyuman, "Kau tidak sabaran sekali."


"Tujuanku menemuimu karena Sela."


Tante Mia mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya. Dia menunjukan beberapa foto Sela yang sedang terbaring dengan selang infus di tangannya. Bahkan, wajahnya terlihat memiliki beberapa lebam.


Tante Mie tersenyum melihat ekspresi wajah Airin. Dia merasa rencananya sudah berhasil, memancing Airin datang ke rumah Arja. Walau Arja tidak tahu tentang hal ini.


"Kenapa bisa Sela seperti ini?" kali ini Airin merasa sangat bersalah. Dia merasa bersalah karena sudah meninggalkan adiknya itu bersama pria ********.


"Semua ini karena kamu," kata tante Mia dengan singkat.


Airin menatap tante Mia dengan penuh tanya sekaligus geram.


"Ya, kau tahu sendiri Arja seperti apa. Dia bisa melakukan apapun pada Sela."


"Kenapa kau tidak mencegahnya?" tanya Airin.


"Kenapa aku harus mencegahnya?" tante Mia balik bertanya.


Airin tidak paham dengan apa yang dimaksud tante Mia. Dia merasa jika Sela sudah diperalat Arja terlalu jauh. Bahkan, Airin mengira jika Sela dibutakan oleh cinta pada Arja.


Tante Mia terlihat berkemas. Dia memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia juga merapikan bandana di kepalanya.


"Tunggu. Kau mau kemana?" tanya Airin.


"Kemana lagi. Bukankah kamu sudah tahu kabar dari Sela."


"Bawa aku menemuinya."


Senyuman mengembang di bibir tante Mia. Dia berhasil lagi kali ini. Kali ini, tante Mia menyodorkan sebuah kartu nama ke hadapan Airin.


"Berikan pesan padaku nanti malam. Aku akan membawamu bertemu dengan Sela."


"Apa kau mau berjanji?"


"Tentu. Aku janji."


Airin menerima kartu nama itu dan memasukannya ke dalam tas. Dia dan tante Mia berpisah di depan cafe. Airin merasa sangat gelisah setelah melihat semua foto itu. Dia merasa harus membantu Sela keluar dari jeratan Arja.


***


Sela duduk dengan sebuah boneka di tangannya. Sembari menatap dengan kebencian. Dia merasa balas dendamnya pada Airin harus berhasil. Apa lagi ada tante Mia yang membantunya.


"Nyawamu akan pergi dari ragamu. Aku memang sudah memiliki hartamu dan Arja. Hanya saja, aku masih belum tenang jika kau mati," kata Sela. Tangannya meremas boneka itu dengan kuat. Lalu membuangnya kesembarang tempat.


Sebelum ada Airin. Sela adalah anak semata wayang yang selalu dimanja oleh ke dua orangtuanya. Semenjak kedatangan Airin, sikap papa dan mamanya berbeda. Mereka lebih memanjakan Airin, tentu saja hal itu terjadi karena Airin adalah anak yang banyak memiliki warisan.


Walau banyak pertengkaran yang terjadi antara mama dan papanya. Papanya ingin melindungi harta itu, sementara mamanya ingin harta itu menjadi milik mereka. Hal itulah yang membuat Sela semakin kesal pada Airin.


Mengingat semua itu membuat Sela semakin geram. Dia bahkan membuang vas bunga di samping meja riasnya. Crang, vas bunga itu kini berubah menjadi kepingan-kepingan.


"Aku harus bisa membunuhmu."


Brak. Pintu kamar Sela terbuka. Tante Mia datang dengan senyuman. Dia duduk di tepi tempat tidur Sela. Matanya melihat kesekeliling, lalu matanya tertuju pada vas bunga yang pecah.


"Kenapa kau memecahkannya. Apa dia berbuat salah padamu?" tanya tante Mia.


"Ya. Dia membuat pemandangan menjadi tidak sedap."


Sela hanya tersenyum sinis. Dia merasa wanita yang ada di hadapannya ini adalah malaikat yang dikirim tuhan untuknya. Dia bisa menjebak Airin karena bantuan tante Mia.


"Terima kasih, Ma. Aku sangat senang ada yang satu tujuan denganku."


"Dimana Arja?" tanya tante Mia.


Sela menggelengkan kepalanya. Sejak tadi pagi, Sela tidak melihat Arja di dalam rumah. Bahkan, sudah beberapa hari ini Arja tidak menemui istrinya di dalam kamar.


Mendengar hal itu. Tante Mia memilih untuk keluar dari dalam kamar Sela dan masuk ke dalam kamarnya. Dia menelfon seseorang untuk menanyakan dimana Arja dan sudah melakukan apa saja.


"Bawa dia menemuiku di apartemen. Katakan jika aku ingin bertemu dengannya. Empat mata," kata Tante Mia dan langsung menutup telfonnya.


Sudah beberapa tahun, tante Mia tetap saja tidak bisa mendapatkan cinta yang diinginkannya. Apa lagi, Arja sudah semakin benci padanya karena insiden kematian Airina.


Butuh banyak hal agar Arja kembali percaya dan bisa mencuri hatinya. Tante Mia sudah memiliki rencana agar Arja kembali dekat dengannya.


***


Vino dan Airin sedang duduk di meja makan. Banyak hal yang mereka bicarakan. Termasuk desakan mama Vino agar mereka segera menikah. Vino tahu, jika pertunangannya dengan Airin hanya karena alasan mamanya. Tapi Vino tidak menyerah, dia akan terus mengejar Airin dan membuatnya jatuh cinta kembali.


"Airin. Ini, aku belikan sebuah buku untukmu."


Airin melihat buku yang berada di depannya kali ini. Vino selalu memberikan kejutan-kejutan kecil untuknya. Sangat romantis.


"Apa kau sedang menyogokku?" tanya Airin dengan tawa kecil.


"Ya. Aku sedang mendekatimu, tentunya agar kau mau menikah denganku."


"Kejutanmu masih kurang untukku," canda Airin.


Setelah makan malam itu. Airin memilih duduk di ruang TV. Dia menonton acara berita yang sedang hangat. Topik utamanya selalu saja sama, Arja. Pria muda yang sukses dalam hal karir dan percintaan.


Airin merasa lucu. Bagaimana bisa percintaan seorang Arja dibilang sukses. Jelas-jelas dia sudah jatuh bangun dalam hal percintaan.


"Jangan terlalu fokus," kata Vino.


"Tidak."


"Benarkah?"


Tanpa aba-aba. Vino langsung meletakan kepalanya dipangkuan Airin. Deg, Airin hanya bisa diam. Dia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Jantungnya seperti akan melompat dari tempatnya. Airin benar-benar bisa mendengar detak jantungnya sendiri.


Sementara Vino, dia menatap lekat wajah Airin yang mulai memerah. Jelas sekali dia malu karena ulah Vino. Vino menikmati pemandangan alami itu. Kali ini, Vino benar-benar merasa puas melihat ekspresi Airin.


"Apa kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Vino yang membuyarkan lamunan Airin.


"Ka...kata siapa aku jatuh cinta," kata Airin sembari memalingkan wajahnya.


Vino merubah posisinya menjadi duduk. Dia mendekatkan wajahnya ketelinga Airin dan berbisik, "Kenapa wajahmu memerah?"


Buk. Sebuah bantal mendarat di wajah Vino. Airin benar-benar merasa salah tingkah karena kelakuan Vino. Bagaimana bisa dia merasakan hal semacam ini lagi. Umur Airin sudah tidak muda lagi.


Malam itu. Hanya ada canda tawa di sekeliling Airin dan Vino. Disaat seperti itulah, Vino benar-benar merasakan Airin dekat dengannya. Begitupun dengan Airin.


Cinta memang tidak pernah memandang umur. Disaat umur sudah dewasa, cinta kadang membuat si dewasa menjadi si ABG lagi.


***


Dengan malas Airin masuk ke apartemen mamanya. Dia datang sendiri seperti yang diperintahkan olehnya. Arja tidak bisa terus menerus menghindar, dia harus menghadapi masalahnya.


Arja mendengar langkah kaki dari dalam kamar mamanya. Tanpa aba-aba, tante Mia keluar dengan baju tidur yang sangat tipis. Bahkan membuat Arja membuang mukannya. Jijik, itu yang dia rasakan.


Perlahan tangan tante Mia menyentuh Arja. Tentunya dengan tatapan menggoda. Sudah beberapa kali dia melakukannya pada Arja. Walau hasilnya sama saja. Arja menolak dan memilih untuk pergi dari sana.


"Apa kau mau pergi lagi?" tanya tante Mia sembari menahan tangan Arja.


"Jika tidak ada hal lain. Aku tidak punya alasan ada disini."


"Benarkah?" tanya tante Mia, "Bagaimana jika aku bisa membawa Airin kembali padamu."


Arja melepaskan tangannya dari tante Mia. Dia menatap dengan penuh amarah dan kebencian pada orang yang dia sebut ibu.


"Jangan harap kau bisa mendekat pada Airin."


Tante Mia tersenyum sadis, "Bagaimana jika aku dan Airin sudah dekat. Asal kau mau bersamaku. Aku akan memberikan apa saja yang kau inginkan. Termasuk, Airin."


"Dia bukan barang. Aku juga tidak mungkin membagi rasa ini."


Kali ini tawa tante Mia pecah. Dia merasa lucu dengan apa yang dikatakan Arja. Bahkan tante Mia sampai berdiri dan menatap mata Arja.


"Kau bilang apa? tidak akan membagi katamu? lalu apa yang kau lakukan dengan Sela. Bukankah dia adik Airin."


Arja hanya bisa mendengus kesal.


"Ayolah Arja. Jangan munafik, kau juga tergoda padaku kan?"


Arja membuang muka dan berkata, "Kau lebih rendah dari ******* dimataku."


Setelah mengatakan hal itu. Arja melangkahkan kakinya untuk keluar. Membuat tante Mia hanya bisa menahan amarah di dalam hatinya. Lagi-lagi dia ditolak mentah-mentah oleh Arja.


***