
Arja merengkuh Airin ke dalam pelukanya. Pelukan yang selama ini Airin rindukan. Pelukan yang dulu hilang karena hadirnya orang ketiga. Kini, Airin harus mempertahankan cinta ini. Walau akan banyak rintangan yang akan kembali hadir.
Cinta memang tidak ada yang tahu jalan arahnya kemana. Kita hanya bisa menjalaninya dengan senyuman, walau tangis kadang datang.
***
Airin terbangun karena mendengar dering telfon sejak tadi. Ponsel Arja, tapi Arja tidak bangun untuk mengangkatnya. Perlahan Airin mengambil ponsel Arja. Sekretaris Sa.
Sekretaris : Maaf, Pak. Malam-malam begini saya mengganggu. Ada hal buruk terjadi.
Buruk? apa aku harus membangunkan Arja. Melihat Arja yang tertidur pulas membuat Airin mengurungkan niatnya.
Sekretaris : Pak, tolong jawab Pak.
Airin : Maaf, Arja baru saja tidur. Aku tidak mungkin membangunkannya. Lebih baik, katakan saja besok.
Sekretaris : Maaf, Bu. Maaf sekali saya mengganggu.
Airin : Tidak apa-apa.
Airin pun menutup telfon itu dan kembali ke tempat tidur. Hal buruk apa yang terjadi, kenapa sekretarisnya sampai menelfon semalam ini. Airin akan katakan besok pada Arja.
Perlahan tangan Arja menarik Airin mendekat padanya. Dia melingkarkan tanganya di perutku. Airin hanya diam, tidak mau mengganggu tidurnya. Sejak kemarin dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Siapa yang menelfon?"
Kaget. Airin tidak tahu jika Arja bangun. Airin pun menoleh padanya.
"Kapan kamu bangun?"
"Setelah kamu selesai menelfon. Siapa?"
"Sekretarismu. Dia mengatakan ada hal buruk yang terjadi."
Mendengar hal itu. Arja bangun dan langsung mengambil ponselnya. Setelah berhasil memencet sebuah nomor. Ya, dia menelfon sekretarisnya dan mendengarkan dengan seksama.
Arja terlihat sangat gelisah. Dia meletakan ponselnya dan mengambil mantel hangat dari gantungan.
"Malam ini aku tidak akan pulang. Kamu tidak apa kan aku tinggal sendiri?" tanya Arja.
"Ada masalah apa?"
Arja menghela nafas, "Ada peretas yang ingin mengacaukan perusahaan kita."
"Tapi kau masih sakit," kata Airin.
"Aku sudah sehat."
"Hati-hati di jalan." Hanya itu yang bisa dikatakan Airin.
Cup, sebuah kecupan mendarat di bibir Airin, "Aku berangkat dulu. Jaga dirimu dan hatimu."
"Baik."
Tidak mungkin Airin meminta ikut. Airin tidak bisa membantu apapun untuknya. Baru saja dia terlihat lebih tenang, kini harus kembali bekerja.
***
Tas sudah Airin bawa, dia juga menggunakan pakaian hangat. Di luar hujan cukup deras, entah mulai kapan musim di negara ini tidak tentu.
"Mau kemana, Non?"
Airin menoleh dan melihat kepala pelayan sudah berada di belakangnya.
"Aku harus ke rumah sakit. Tolong panggilkan sopir untukku."
"Baik."
Sembari menunggu Airin terus bertanya tentang keadaan paman pada Sela. Karena semalam tidak bisa tidur, Airin tidak tahu jika Sela menelfonnya beberapa kali sejak pagi.
Semua karena pikirannya yang hanya tertuju pada Arja. Oh ya, Airin belum mengabari Arja jika Airin akan ke rumah sakit. Lebih baik Airin mengirim pesan saja. Takut jika nanti mengganggunya.
"Nyonya, mobil sudah siap."
"Terima kasih."
Airin membawa tas dan ponselnya. Tidak perlu menggunakan payung karena mobil sudah berada di depan pintu.
Cuaca benar-benar dingin, padahal Airin sudah memakai pakaian hangat. Tetap saja dingin itu masuk ke dalam tubuhnya dan membuatnya menggigil pelan.
Pesan dari Sela banyak sekali. Dia mengatakan jika kondisi paman semakin buruk. Airi tidak tahu paman kenapa, sejak tadi Airin bertanya Sela hanya mengatakan jika kondisi paman semakin buruk.
Tidak membutuhkan waktu lama. Akhirnya sampai juga di rumah sakit di mana Paman dirawat. Airin membuka payung dan menyuruh sopir untuk pulang. Kasihan jika dia menunggunya di sini.
"Di mana ruang 502?"
Airin menoleh pada pria yang bertanya pada resepsionis. Vino, dia juga di sini. Mungkin karena Sela adalah karyawanya, jadi, dia sedikit memberikan simpati.
"Kau di sini?" tanya Vino.
"Ya. Aku mau mengunjungi pamanku."
"Ayah Sela?"
Airin mengangguk dengan cepat. Tidak mau banyak bicara pada Vino dan Airin melangkahkan kakinya dengan cepat. Vino masih saja mencoba mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah Airin.
"Kenapa kau tidak membalas pesan dariku?" tanya Vino.
Diam. Airin tidak ingin membahas apapun. Sifat Vino yang sekarang sudah tidak Airin kenal. Dia tahu jika Airin sedang ingin fokus dengan Arja, hingga Vino melakukan berbagai cara agar Airin goyah.
Sret. Vino menarik tangan Airin dengan keras. Mereka saling berhadapan, mata Vino menatap Airin dengan sangat tajam.
"Bukan urusanmu. Dia suamiku dan aku mencintainya."
"Kau tidak mencintainya. Kau hanya merasa kasihan."
Tidak. Airin mencintainya tulus, bukan karena kasihan. Arja suaminua dan sudah kewajibannya untuk mencintai Arja sepenuh hati tanpa pamrih.
"Benar bukan apa yang aku katakan?" tanya Vino lagi.
Ting. Sebuah pesan masuk, dari Sela. Airin jadi ingat apa tujuannya datang kesini. Bukan untuk membahas soal hati dengan Vino.
Tanpa kata Airin meninggalkan Vino sendiri di lorong rumah sakit. Airin memilih untuk menaiki lift agar Vino tidak bisa mengejarnya.
***
Sela duduk dengan deraian air mata. Tidak ada tante atau siapapun, hanya ada Sela. Airin mendekat dan menepuk pelan pundak Sela.
"Bagaimana?" tanya Airin perlahan.
Sela menoleh, matanya sangat sembab. Pasti dia menangis sejak tadi. Airin memeluknya dengan erat. Setidaknya dengan pelukan ini Airin bisa menenangkan Sela.
"Paman kenapa?" tanya Airin kemudian saat Sela terlihat sudah cukup tenang.
"Ayah. Dia bertengkar dengan Ibu, karena ibu memilih pria lain. Jantung Ayah..."
"Sudah cukup. Aku akan tanyakan pada dokter sendiri."
"Minum ini," kata Vino yang menyodorkan air mineral pada Sela.
Sela mengambil minuman itu seraya berkata, "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama. Ini sudah menjadi tugasku sebagai atasanmu."
Sejenak kami terdiam. Kami menunggu dokter yang menangani paman keluar. Rasanya sangat lama dan tidak berujung.
Setelah selesai di tangani dokter. Airin meminta untuk masuk dan melihat kondisi pamannya itu. Sela hanya diam, dia tidak berkutik dan duduk tenang di bangku.
Airin merasa sangat terluka melihat keadaan pamannya saat ini. Dia terbaring dengan berbagai alat ditubuhnya.
"Airin," panggil paman dengan lirih.
Airin mendekat, "Ada apa Paman?"
"Jangan benci dengan Sela. Dia hanya ingin bahagia."
Airin tidak paham dengan apa yang dimaksud pamannya. Saat Airin akan bertanya. Paman sudah kembali menutup matanya. Melihat hal itu, Airin memilih keluar dan membiarkan pamannya istirahat.
Sela terlihat sangat murung. Mungkin karena dia baru tahu kenyataan bahwa orang tuanya memiliki cinta lain. Dia pasti sangat kaget dan terluka dengan kejadian ini.
"Rin, apa kita bisa bicara berdua?"
Airin melirik pada Vino yang duduk tidak jauh dariku. Vino menganggukkan kepalanya.
"Kita cari tempat lain, ayo."
Sampai di sebuah lorong yang cukup sepi. Sela memegang tangan Airin, dia menatap mata Airin dengan penuh harapan.
"Ada masalah lain?" tanya Airin.
"Kau tahu, aku tidak punya tabungan sebanyak itu. Aku... aku..."
Airin tahu maksud dari Sela, tangannya memegang pundak Sela.
"Aku akan katakan semuanya pada Arja. Dia pasti mau membantu kamu," kata Airin.
"Aku sangat berterima kasih padamu."
"Sama-sama. Kita kan saudara."
"Airin."
Mendengar seseorang memanggilnya. Airin pun menoleh, Arja. Dia sudah sampai di sini ternyata. Tanpa sadar Airin mengembangkan senyum di bibirnya
"Sela, kamu bisa kembali ke tempat paman. Aku akan menemui Arja lebih dulu, jika ada apa-apa. Cepat kabari aku."
"Ya. Sekali lagi terima kasih."
"Jangan sungkan."
Sela berjalan ke arah di mana ayahnya dirawat. Sementara Airin menghampiri Arja yang basah kuyup karena hujan.
"Kau tidak membawa payung? kenapa tidak menelfonku?" tanya Airin pada Arja.
Tangan Arja mengusap rambutnya dengan pelan, "Tidak apa. Aku bisa melepas mantelku," kata Arja dengan senyuman.
"Bagaimana kalau kau sakit?" tanya Airin.
"Tenang saja. Obatku kan kamu."
Mereka tertawa kecil. Arja merangkul Airin dan mereka berjalan menuju kantin rumah sakit. Arja memang belum makan siang. Jadi, mereka memutuskan untuk makan siang bersama.
Sesaat setelah kami memesan makanan. Sebuah pesan masuk, Sela. Dia mengatakan jika kondisi paman semakin buruk.
"Aku harus ke ruangan paman. Kondisinya..."
Tanpa ada kata Arja langsung menarik Airin ke arah kamar rawat paman. Airin tidak menyangka jika Arja akan peduli dengan keluargannya.
***