My Love My Pain

My Love My Pain
Mulai bahagia



Vino dan Airin baru saja selesai makan siang. Mereka baru saja menemui Arja di restoran itu. Mereka membahas beberapa hal, walau masih dengan sedikit emosi yang dimiliki Vino.


"Aku pergi dulu," kata Arja saat melewati Airin dan Vino.


Vino hanya tersenyum. Sementara Airin melambaikan tangannya. Merasa tidak senang, Vino menarik tangan Airin masuk ke dalam mobil. Ada tatapan kecemburuan di wajah itu.


"Jangan cemburu. Kita teman, kau sendiri yang mengatakannya pada Arja tadi."


"Baiklah. Asal kau tetap menjaga hatimu."


"Tentu. Aku akan menjaga hati ini untukmu."


"Bagus," ucap Vino sembari mengacak rambut Airin.


Perkembangan hubungan Vino dan Airin cukuplah pesat. Perhatian dan cinta yang diberikan oleh Vino benar-benar membuat Airin terpesona. Dia bisa melupakan Arja tanpa harus menyakiti dirinya sendiri.


Perlahan tangan Airin memegang tangan Vino dengan lembut. Dia menatap Vino dengan senyuman.


"Ada apa?" tanya Vino.


"Tidak. Aku hanya merasa bersyukur memiliki suami sepertimu."


Vino tertawa. Baru kali ini dia mendengar sebuah kata yang membuat hatinya bergetar dari Airin.


***


Ais berdiri di samping Airin yang masih memilih beberapa baju disebuah toko besar. Hari ini, Vino akan menemui client cukup lama. Dia tidak ingin Airin lelah menunggunya, jadi Vino meminta Ais mengantarkan Airin ke toko.


Di kantor. Vino tidak menemui client yang dikatakannya pada Airin. Dia bertemu dengan Arja. Mereka duduk dengan santai. Mereka ingin membahas sebuah rencana, entah rencana apa.


"Kenapa kau mempekerjakan Ais?" tanya Arja kemudian.


"Dia adalah wanita yang baik. Kenapa aku tidak mempekerjakannya."


Arja berdecak, "Kau tidak tahu dia yang sebenarnya. Lebih baik, kau pecat dia sebelum terjadi hal mengerikan."


"Maksudmu?"


"Dia wanita yang mengerikan. Bahkan jika dibandingkan dengan Mia. Mereka hampir sama."


Vino tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arja. Setahu Vino, Ais adalah wanita yang sangat senang dengan pekerjaanya. Bahkan sampai saat ini, tidak ada masalah yang terjadi.


"Aku hanya memberimu saran. Aku tidak ingin terjadi apapun pada Airin."


"Jadi, kau masih mencintai istriku?" tanya Vino.


Arja menatap keluar jendela. Dia tersenyum lalu berkata, "Bagaimana bisa aku melupakan wanita secantik dan sebaik dia."


Vino mengepalkan tangannya. Dia merasa sangat kesal dengan pernyataan yang Arja buat. Hanya saja, dia menahan semua ini untuk kali ini. Dia ingin istrinya tenang saat dalang semua ini ditemukan.


"Tenang saja. Aku tidak akan merebutnya, kali ini aku hanya ingin fokus pada anakku dan Sela."


"Baguslah. Jika masalah ini selesai, pergilah dari istriku."


Arja tertawa dengan keras. Dia benar-benar merasakan tatapan mengerikan dari Vino. Walaupun begitu, Arja tenang karena Airin sudah menemukan kekasih yang baik dan setia.


Setelah menemukan sedikit titik terang. Arja dan Vino berpisah. Mereka akan melakukan pekerjaan masing-masing. Tentunya menjaga Airin dan agar Sela tidak terluka dengan anaknya.


***


"Ada apa, Non?" tanya Ais.


"Tidak. Aku hanya merasa mual saja."


"Apa kau sakit?"


Airin menggeleng. Lalu, dia menyerahkan baju itu pada Ais. Dia meminta Ais untuk membayarnya. Setelah itu, Airin akan langsung mengenakan baju itu. Airin ingin melihat ekspresi yang ditunjukan Vino padanya.


Tanpa terasa, Airin menyunggingkan senyuman. Dia sangat berharap bisa bertemu dengan Vino secepatnya.


"Aku ingin mengganti baju dulu. Apa kau bisa menungguku?"


"Baik, Non."


Airin menghilang dibalik pintu kamar ganti. Dia mengganti bajunya dengan yang baru. Kembali Airin merasakan mual yang sangat. Dia berlari masuk ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


Setelah membasuh muka. Airin keluar menghampiri Ais. Dia tersenyum dengan sangat manis.


"Apa kau benar-benar tidak apa?" tanya Ais.


Airin mengangguk, "Tentu saja aku baik. Ayo, antar aku pulang."


Ais berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil. Sementara Airin masih bermain dengan pikirannya.


Bahkan, sampai di rumah. Airin masih saja membayangkan ekspresi seperti apa yang akan diberikan Vino.


Jeduk. Airin memegangi kepalanya yang merasa terbentur sesuatu. Dia melihat Vino sudah berdiri dengan senyuman di wajahnya.


"Kenapa kau berjalan sembari melamun?" tanya Vino.


Bukannya jawaban. Airin malah lari masuk ke dalam kamar.


"Ada apa ini, Ais?" tanya Vino.


"Tidak tahu, Tuan. Sejak tadi, Nona Airin melamun dan sesekali tersenyum."


"Benarkah?"


"Ya, Tuan."


"Kalau begitu kamu bisa pergi," kata Vino.


Vino menyusul Airin masuk ke kamar. Dilihatnya Airin sedang berdiri di jendela sembari menatap keluar. Vino mendekat dengan pelan dan langsung memeluk Airin dengan erat.


"Kenapa kau melamun dan tersenyum?" bisik Vino.


Airin merubah posisinya menghadap pada Vino, "Aku membayangkan dirimu."


"Kenapa kau hanya membayangkan? aku ada disini."


Airin hanya tersenyum. Lalu, dia memeluk kembali tubuh Vino. Rasa nyaman dan tenang menjalar di seluruh tubuh Airin.


Hari itu, mereka menghabiskan waktu hanya di dalam kamar. Mereka menonton beberapa film, juga banyak bercerita. Kebahagiaan memang bisa di dapat dengan mudah. Tidak perlu dengan sebuah barang mewah dan mahal.


***