
Rasa lelah yang sudah menghampiri tidak dihiraukan oleh Airin. Dia masih harus mengurus meeting Vibo hari ini. Setelah itu, dia bisa pulang dan istirahat.
"Ruang meetingnya sudah siap, Pak."
"Baik, aku akan ke sana sebentar lagi."
Airin mengangguk dan berlalu dari ruangan Vino. Tidak ada hal lain lagi selain kembali memastikan ruang meeting dan tamu sudah datang.
"Bagaimana semuanya?" tanya Airin saat masuk ke ruang meeting.
"Semuanya sudah siap, Bu."
Airin mengangguk dan menyiapkan laptop untuk Vino. Sampai meeting ini selesai. Airin tidak bisa meninggalkan ruangan ini. Satu demi satu peserta meeting masuk. Airin sudah siap untuk membantu Vino selama meeting ini.
"Terima kasih," bisik Vino pada Airin.
Airin mengangguk, "Ini sudah tugasku."
Sebuah tatapan tajam membuat Airin merasa tidak enak. Ya, di sana juga ada Arja. Entah Airin harus bersikap bagaimana. Tatapanya seperti akan membunuh, sangat menakutkan.
***
Meeting sudah selesai. Airin sedang bersiap untuk pergi. Dia juga membantu membersihkan ruangan itu.
"Airin. Kita akan makan bersama dengan teman-teman lain. Kamu mau ikut bukan?" tanya Vino.
"Baiklah, kebetulan saya tidak ada hal lain."
Vino menyodorkan sebuah alamat restoran. Kami akan bertemu di sana nanti. Tidak biasanya, Vino ikut berkumpul dengan karyawan lain.
"Mau aku jemput?" tanya Vino.
Airin menggeleng dengan cepat, "Tidak perlu. Nanti aku akan diantar oleh Amar."
"Baiklah, aku pergi dulu."
"Oh ya, jika ada apa-apa kabari aku," kata Vino sebelum dia keluar.
Airin hanya memberikan anggukan dan kembali membereskan laptop Vino. Malam ini memang Airin tidak memiliki hal lain untuk dikerjakan. Akan lebih senang jika dia bisa pergi. Tapi, Airin tidak tahu jika tiba-tiba saja Arja pulang.
"Ternyata kamu sudah cukup dekat dengannya."
Airin menoleh. Arja menatap Airin dengan tatapan tidak suka. Mungkin karena dia cemburu pada lagi. Walau cemburunya hanya saat Airin dekat dengan Vino.
"Apa kau cemburu?" Airin masih fokus membersihkan meja.
Dengan gesit, Arja menarik Airin ke dalam pelukannya. Kami saling berhadapan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Airin.
Arja tidak menjawab. Dia malah mendekat dan akan mencium Airin.
"Arja. Jangan main-main, ini di kantor." Airin mencoba mendorong Arja.
Akan panjang urusanya jika ada yang melihat hal ini. Bagaimanapun Airin harus menjaga image di depan semua orang.
"Kita suami istri. Apa salahnya kita seperti ini. Bukankah kau mencintaiku?"
"Ya. Aku mencintaimu, tapi bukan seperti ini caranya."
Kali ini Airin mendorong Arja sampai pelukan terlepas.
"Aku sedang bekerja."
"Jadi kau tidak menganggapku saat sedang bekerja?" tanya Arja.
Airin menoleh, "Jika kau cemburu, itu bagus. Tapi bukan seperti ini cara kamu memberi tahuku."
"Airin. Ingat, kamu perempuan yang sudah bersuami."
"Aku tahu."
Airin membawa laptop itu keluar dari ruangan meeting. Sekali lagi, Arja sudah mengingatkan Airin tentang siapa dirinya. Dia wanita yang sudah bersuami, tapi apa Airin tidak boleh bahagia?
"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Sela yang langsung merangkul Airin.
"Tidak."
"Apa nanti kau akan datang ke acara makan malam bersama?" tanya Sela.
"Aku belum tahu."
Sela menghela nafas panjang, "Kamu harus datang. Ini kesempatan langka melihat Vino berada di tengah-tengah karyawannya."
Airin hanya tertawa kecil. Bagaimanapun Airin sudah tidak kaget. Airin bahkan pernah melihat Vino tidur di dalam kelas. Sebelum dia menjadi Vino yang sekarang tentunya.
"Aku pulang duluan ya." Sela melambaikan tangannya.
Airin membalas lambaian itu dan kembali ke mejanya. Airin membersihkan mejanya dan bersiap untuk pulang. Tidak lama Vino keluar dari ruangannya.
"Belum pulang?" tanya Vino pada Airin.
"Sebentar lagi, Pak."
"Baik. Aku akan tunggu," kata Vino.
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri."
Vino bersandar di meja Airin, "Tidak apa."
"Bukankah istriku sudah menolak. Kenapa kau terus mendekatinya?"
Airin dan Vino sama-sama menoleh kearah suara. Arja, dia masih di sini.
"Ternyata suamimu sudah menunggu. Kalau begitu aku akan pergi dulu."
"Baik, Pak."
Vino berjalan pergi. Namun perkataan Arja mencegah Vino untuk pergi.
"Jangan goda istriku," kata Arja dengan tatapan yang mengerikan.
"Bukankah kau punya dua istri. Biarkan dia bahagia denganku, selamanya."
Buk. Arja menonjok wajah Vino dengan keras. Dengan cepat Airin mendekat dan mencoba melerai. Buk, kali ini Vino yang memukul Arja bahkan pelipis Arja terlihat membiru.
"Sudah Arja. Apa yang kamu lakukan," Airin menahan tubuh Arja.
Kembali Arja tersulut emosinya. Sekuat tenaga Airin memeluk tubuh Arja agar dia tidak mendekat pada Vino. Airin tidak ingin kembali terjadi baku hantam.
"Jika kamu masih menyakitinya. Aku akan mengambilnya kembali, ingat itu." Vino berlalu tangannya menepuk pundak Arja perlahan.
Setelah kepergian Vino. Airin melepaskan pelukannya, dia menatap Airin dengan tatapan yang tidak bisa Airin mengerti.
"Kenapa kamu melakukan hal ini?" Airin mencoba memegang pelipis Arja.
Tangan Arja menahan tangan Airin. Dia menarik Airin ke dalam pelukanya
"Dia mengatakan akan mengambilmu kembali. Apa maksudnya?"
Airin menggeleng, "Dia hanya ingin kamu marah."
"Apa benar?"
Karena perkataan Vino. Arja jadi curiga pada Airin. Tidak mau ketahuan oleh Arja. Airin memilih untuk mencari topik pembicaraan lain.
"Arja. Lepaskan pelukanmu, kita harus pulang."
Arja melepaskan tubuh Airin. Dia mengambil tas Airin yang ada di meja. Lalu kembali menggenggam tangannya dan pergi.
"Aku cemburu jika kau bersama laki-laki lain," kata Arja begitu mereka berada di lift.
Airin menundukan kepalanya. Dengan mudahnya Arja mengatakan hal itu. Dia tidak memikirkan perasaan Airin saat dia bersama wanita lain. Bahkan membuat Airin terus terluka.
***
Arja tidak pulang ke sini. Dia sudah mengabari Airin akan bersama Maya. Maya masih butuh perhatian lebih, kata Arja pada Airin.
"Jadi pergi, Bu?" tanya Amar.
"Ya. Siapkan saja mobilnya, ini alamat yang akan kita tuju." Airin memberikan kartu restoran itu.
"Bu, apa mau makan dulu. Saya sudah siapkan makanan," kata Ilin yang melihat Airin masih duduk di ruang tamu.
Airin tersenyum, "Kalian makan saja nanti. Saya ada makan malam dengan teman."
"Baik, Bu."
Ilin kembali masuk ke dapur. Beberapa kali Maya mengirim pesan. Dia masih saja mengancam Airin karena cinta masa lalu dengan Vino. Kali ini, Airin menepis rasa takut itu.
"Bu, mobil sudah siap," kata Amar.
Airin membayangkan jika dia bisa memiliki waktu bersama Arja. Tidak perlu ke tempat mewah, cukup berjalan di dalam indahnya malam. Itu sudah cukup bagi Airin, namun semuanya adalah mimpi.
"Bu, ini sudah sampai."
"Kamu bisa langsung pulang. Nanti aku akan kabari kamu jika sudah akan pulang," kata Airin.
Ini memang tempat yang dipesan oleh Vino untuk para karyawan. Airin juga pernah kesini bersama dengan Arja. Arja yang mengatakan jika ini adalah tempat milik keluarganya.
"Kamu sudah datang?" tanya Sela yang langsung menyambut kedatangan Airin.
"Ya, aku tidak ada acara malam ini," kata Airin.
"Ayo. Sudah banyak yang datang. Vino juga sudah datang," kata Sela menggoda Airin.
"Jangan seperti itu. Arja bisa salah paham."
"Maaf. Oh ya, ternyata restoran ini milik Kakak Maya, namanya Kenzo. Vino juga mengundang Arja dan Maya."
Airin ingat dengan pria bertato waktu itu. Jadi, dia pemilik restoran ini. Pantas saja jika Arja mengatakan ini milik kerabatnya.
"Kenapa melamun?"
"Tidak ada, ayo gabung dengan yang lain."
Mereka sudah mulai acara makan malam itu. Lebih tepatnya sebuah pesta kecil-kecilan. Airin yang berterima kasih lada Vino berniat untuk memberikannya segelas jus.
Brak. Tidak sengaja Airin tersandung kaki meja dan menumpahkan minuman itu. Maya yang sedang berjalan kearahnyapun tidak kuasa untuk menghindar. Akhirnya dia terkena tumpahan jus yang Airin bawa.
"Kau ini," teriak Maya, "Kau selalu saja membuat aku terluka."
"Maaf, aku tidak sengaja." Airin mendekat, mencoba membersihkan baju Maya.
Namun dia malah mendorong Airin dengan keras. Tanpa sengaja tubuh Airin yang kehilangan keseimbangan menabrak kursi.
"Kau tidak apa?" Vino langsung mendekat pada Airin yang terlihat kesakitan.
Airin memegang perutnya. Sepertinya perutnya yang merasakan sakit. Dia menatap pada Arja, dia bahkan tidak menolong atau mencoba mendekat. Arja memilih diam di samping Maya.
"Kau tidak apa?" tanya Vino lagi.
"Tidak."
Airin memejamkan matanya karena merasa sakit dibagian perutnya. Baru kali ini dia merasakan sakit yang sangat dibagian perut. Maya yang melihat Airin kesakitan merasa senang, dia bahkan mendekat dan akan menampar wajah Airin.
"Sudah cukup." Vino menahan tangan Maya.
Tatapan Vino berpindah pada Arja, "Jadi ini nyalimu. Kau bahkan tidak bisa mengurus istrimu yang satu ini."
Arja yang merasa kesal langsung menarik Maya dengan keras. Mata Airin terbelalak ketika melihat darah keluar dari tubuhnya. Merasa sudah tidak kuat lagi Airi berbisik pada Vino.
"Vino. Perutku sakit," lirih Airin.
Arja mendekat pada Airin, "Ada apa? kenapa ada darah?"
Airin hanya bisa menggeleng, "Ini sangat sakit," kata Airin lagi.
Tiba-tiba saja Maya terduduk dan memegang perutnya.
"Arja. Perutku sakit, aku takut terjadi apa-apa dengan bayi kita."
Mendengar kata bayi membuat Arja langsung melepaskan tubuh Airin. Hampir saja Airin terjatuh, untung Vino dengan sigap memeluk badan Airin. Jika tidak Airin pasti akan kembali terluka.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Bukan Arja yang menggendong Airin. Kali ini, Airin merasa benar-benar tidak dihargai sebagai istri oleh Arja. Rasa sakit di hati dan perutnya membuat Airin menekan keras lengan Vino. Walaupun sakit, Vino menahan semua itu. Tentunya agar Airin tidak sungkan dan menahan rasa sakitnya.
"Bertahanlah. Lebih baik kau pejamkan mata agar tidak terlalu sakit," kata Vino.
Airin melakukan apa yang dikatakan Vino. Perlahan dia memejamkan mata. Bukanya berkurang, rasa sakit dihatinya bertambah. Membuat Airin tanpa sadar menitikkan Air mata.