
Arja bangun dengan sebuah tangan yang memeluk dirinya. Kaget, jelas dia kaget. Di rumahnya tidak ada orang selain dirinya. Lalu, dia mulai mengingat semuanya yang terjadi semalam.
Mata Arja membulat. Dia langsung menoleh ke belakangnya. Benar, tante Mia terlelap dengan pakaian yang sama seperti tadi malam.
Dengan kasar Arja mengguncang tubuh tante Mia sampai dia terbangun. Tante Mia mengerjapkan beberapa kali matanya. Dia duduk di depan Arja.
"Bagaimana semalam?" tanya tante Mia dengan senyuman menggoda.
Arja hanya menatap dengan tajam, "Kau itu istri papaku. Kenapa kau melakukan hal gila seperti ini."
"Bukankah kau sendiri yang menarikku ke atas ranjang. Oh ya, kau terus menyebutkan nama Airin semalam. Hanya saja, yang kau peluk adalah aku."
Dengan kesal Arja bangun dari ranjang itu. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menyiram dirinya dengan air. Bukan air hangat seperti biasanya. Kali ini air dingin yang dia guyurkan ke tubuhnya.
"Bagaimana bisa aku melakukannya. Aku bahkan tidak meminum alkohol, pasti sudah ada yang salah," lirih Arja.
***
Tante Mia merasa menang. Apa lagi, Arja kini sedang terpuruk karena Airin lebih memilih bersama dengan Vino. Walaupun begitu, selama Airin masih hidup. Akan sangat sulit membuat Arja berpaling.
Dengan tangannya sendiri, tante Mia menyiapkan sarapan. Dia juga menaburkan bubuk di dalam makanan Arja. Berharap, Arja mulai melupakan masa lalunya.
"Arja. Sarapan dulu," kata tante Mia yang mencegah Arja keluar dari rumah.
Arja menepis lengan tante Mia, "Aku bisa makan di kantor."
"Pantas saja Airin lebih memilih Vino. Kau tidak pernah bisa menghargai orang lain," kata tante Mia.
Arja berhenti dari langkah kakinya. Dia menoleh pada tante Mia yang berdiri dan melipat tangannya.
"Setidaknya hargai aku sudah membuatkan kamu sarapan. Jika kau menganggap aku menjijikan, anggap saja aku pembantumu saat ini."
Merasa tidak enak hati. Arja memilih pergi ke ruang makan. Dia duduk dan mulai memakan nasi goreng yang tante Mia buat.
Tante Mia menyodorkan air putih dan berkata, "Kau tahu bukan. Aku tidak akan menyerah."
Arja diam dan tetap memakan nasi goreng itu. Setelah beberapa suapan. Arja meminum air putih itu dan mengambil ponselnya di meja.
Tante Mia hanya diam. Untuk beberapa saat, tante Mia merasa jika sudah memiliki Arja. Walaupun begitu, tante Mia tetap akan melancarkan usahanya. Dia akan membuat Arja bertekuk lutut dihadapannya.
Bruk, Arja hampir terjatuh. Untung saja dia berhasil memegang meja yang berada di sampingnya. Tante Mia yang melihat hal itu langsung menghampiri Arja.
"Ada apa? apa kau sakit?" tanya tante Mia.
"Tidak. Kau bisa pergi," kata Arja sembari melepaskan tangan tante Mia.
Arja kembali berjalan menuju mobilnya. Tante Mia hanya bisa mengikutinya dari belakang. Dia melihat Arja yang berjalan sedikit limbung. Mungkin, itu adalah efek dari obat yang diberikan tante Mia.
Tante Mia mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
"Bagaimana kau disana?"
"Aku sudah mencoba. Mereka semakin dekat saja, kau akan berhasil."
Tante Mia menyunggingkan bibirnya, "Bagus. Mereka akan terus dekat dan saling mencintai. Biarkan si patah hati menjadi milikku. Kau lakukan saja apa yang aku minta."
"Siap."
Tante Mia mematikan telfon itu dan menatap pada mobil Arja yang melaju dengan kecepatan sedang.
"Lupakan dia, Arja."
***
Helaan nafas Airin menjadi tanda jika dia sudah merasa lega. Ya, baru saja dia dinikahi oleh Vino. Kini, meraka sudah sah menjadi pasangan suami istri. Tidak ada hal yang bisa memisahkan mereka.
Langkah kaki Ais cepat dan dia memyentuh Airin. Bruk, Vino mendapatkan tubuh Airin. Hampir saja Airin terjatuh dari atas tangga.
"Apa yang kamu lakukan Ais?" tanya Vino.
Ais menunduk, "Maaf, Tuan. Saya tidak melakukan apapun."
Airin mencoba berdiri sendiri. Dia melihat kearah Ais yang terlihat takut karena Vino marah padanya.
"Dia tidak melakukan apapun. Aku hanya kehilangan keseimbangan tadi."
Ais bergegas mendekat ke mobil dan membuka pintunya. Dia membiarkan Vino dan Airin masuk lebih dulu. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobil.
Ais tersenyum melihat kemesraan yang ditunjukan Vino pada Airin. Walau ada perasaan aneh yang berada di dalam hati Ais.
"Apa ada yang kau inginkan?" tanya Vino.
"Aku hanya ingin mengumpulkan kenalan kita. Nanti malam," ucap Airin.
Vino mengangguk, "Baiklah. Aku akan memesan gedung."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka kembali diam dan menikmati perjalanan itu. Genggaman tangan mereka bahkan tidak terlepas sampai di rumah. Ais membukakan pintu itu dengan ramah. Airin turun diikuti oleh Vino.
Senyuman Airin sejak tadi tidak luntur. Dia merasa bahagia, mungkin ini bukan kali pertama dia menikah. Hanya saja, dia merasa lebih bahagia saat ini.
"Vino," panggil Airin saat mereka sudah berada di ruang tamu.
"Apa?" tanya Vino dengan senyuman.
Airin mendekat dan melingkarkan tangannya di leher Vino. "Apa aku bisa mengundang Arja. Dia temanku."
Perkataan Airin langsung membuat Vino tidak senang. Dia melepaskan tangan Airin dari lehernya dan memeluk Airin dari belakang.
"Kenapa? apa kau masih mencintainya?"
"Kau terlalu cemburu, Vin. Dia sudah melepaskan aku, dia hanya ingin berteman dengan kita."
"Apa benar yang kau ucapkan?"
"Ya."
Vino menahan rasa tidak senangnya. Dia hanya bisa mengangguk agar Airin tersenyum. Di hari pernikahan ini, Vino tidak ingin bertengkar sama sekali. Dia ingin menikmati rasa senang dengan istrinya itu.
***
Semua undangan sudah tersebar. Termasuk undangan untuk Arja. Airin sendiri yang sudah menyebarkan undangan itu. Dia hanya mengundang orang-orang yang benar dia kenal. Airin masih sangat waspada.
"Kenapa aku tidak kau undang?" tanya tante Mia saat Airin akan pergi dari hadapan Arja.
Airin tersenyum, "Maaf, kita tidak saling kenal."
Tante Mia hanya bisa menahan kekesalanya. Lalu dia mendekat pada Arja. Dia mengambil undangan yang berada di tangan Arja.
"Dia anakku. Aku akan selalu bersamanya," ucap tante Mia.
Airin menghela nafasnya. Lalu dia menatap pada Arja yang masih diam.
"Kau bisa mengajak mamamu. Jika kau mau."
Setelah mengatakannya. Airin meninggalkan rumah Arja. Rumah yang dulu menjadi tempatnya merasakan suka dan duka.
Senyuman Arja masih belum hilang sampai Airin menutup pintu rumahnya. Dengan kata teman, Arja berharap bisa dekat kembali dengan Airin. Walau dia tahu, akan sangat mustahil mendapatkan cinta yang sudah lama hilang.
"Silahkan, Non."
Airin masuk ke dalam mobil. Saat ini, Vino pasti sudah menunggunya di rumah. Dia akan sangat cemas karena Airin yang terlambat. Sebelumnya, Airin tidak ingin ada kata terlambat. Hanya saja, Arja mengajaknya berbicara lebih lama.
"Ais. Apa kau kenal dengan Arja?" tanya Airin kemudian.
Terlihat sekali Ais kaget dengan pertanyaan yang diajukan Airin.
"Ya. Ada apa, Non?"
"Tidak ada yang penting. Aku hanya ingin tahu saja." Airin meletakan tasnya di samping kiri. "Apa kalian dulu dekat?"
"Ya. Kami cukup dekat."
Mendengar jawaban yang Ais berikan Airin hanya mengangguk. Kini Airin sadar, sejak dulu Arja bukanlah pria sembarangan. Dia pria yang selalu dikelilingi oleh banyak wanita.
***