
Hari sudah semakin sore dan cuaca masih panas seperti tadi. Bahkan di dalam taxsi pun masih merasakan panas yang menyengat.
Mata Airin menatap keluar jendela sembari mengingat perkataan tante padanya. Bahkan Airin merasa aneh dengan perkataan tante. Dia menjelaskan jika dia tidak berselingkuh, dia dan paman sedang ada masalah. Bahkan, tante mengatakan hal yang sama pada Airin. Agar Airin tidak membenci Sela.
Tante sudah tidak ingin bertemu dengan Sela lagi. Dia merasa terluka jika melihat Sela, itu yang dikatakan tante. Dia meminta Airin untuk tetap menerima Sela. Walau nanti Airin akan tahu segalanya.
Dalam kebingungan itu. Airin memilih tidak mengatakannya pada Sela. Dia akan mengatakan lebih dulu pada Arja.
"Nyonya, apa benar ini perumahan yang Nyonya maksud?" tanya pak sopir pada Airin.
"Iya, Pak. Saya turun di sini saja."
Setelah memberikan uang Airin langsung membuka pintu dan turun. Tidak Airin sangka jika aku akan bertemu dengan Cika di sana. Dia terlihat cantik dengan gaun merah dan high heel hitam.
"Kau dari mana?" tanya Cika dengan senyuman khasnya.
"Aku baru saja dari rumah tante. Kau sangat cantik, apa ada kencan hari ini?"
Dengan malu-malu Cika menganggukan kepalanya. Mungkin Vino yang akan datang menjemputnya.
"Vino ternyata sudah berani mengajakmu jalan," kata Airin dengan nada menggoda.
Wajah Cika berubah dia terlihat tidak senang dengan apa yang Airin katakan.
"Bukan Vino," kata Cika dengan wajah tertunduk, "Sebenarnya, kami sudah lama tidak bersama. Kau tahu hubungan kami."
Airin hanya mengangguk. Walau banyak media masa yang pastinya akan menyorot tentang hal ini.
"Semangat untuk hubunganmu yang baru," kata Airin.
Ya, Airin mencoba memberikan semangat pada Cika. Akhirnya Cika tersenyum juga dan mengangguk. Dia benar-benar cantik dan membuat Airin kembali kagum.
"Baiklah, aku harus pulang. Kasihan suamiku sudah menunggu," kata Airin.
"Ok."
Airin kembali melangkahkan kakinya. Sebenarnya bisa saja taxsi tadi mengantarkan Airin sampai di depan rumah. Hanya saja, Airin ingin berjalan-jalan sebentar. Sembari mendinginkan pikirannya itu.
***
Ternyata lelah juga jalan dari pintu masuk komplek sampai di depan rumah. Seperti biasa, hanya ada para pelayan yang berjalan kesana-kemari di rumah.
Perlahan Airin membuka pintu rumah. Tidak ada siapapun di ruang tamu. Hanya kepala pelayan yang kebetulan lewat dari pintu samping.
"Nyonya sudah pulang?" tanya kepala pelayan saat melihat Airin menutup kembali pintu.
"Ya. Apa tuan sudah di rumah?" tanya Airin.
"Sudah."
"Terima kasih, kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu."
Langkah Airin dipercepat agar lebih cepat sampai di kamar. Sebelum itu, Airin berbelok kearah kamar Sela. Airin akan melihat keadaannya.
Pintu kamar Sela terbuka dan Arja keluar dari sana dengan senyuman. Saat melihat Airin, dia terlihat kaget, tapi langsung berubah kembali seperti semula.
"Kau terlihat bahagia," kata Airin dengan sebuah senyuman.
Arja mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Airin. Mereka saling memandang satu sama lain.
"Sela baru saja tidur. Dia memintaku untuk mengantarkannya ke tempat Ibunya."
"Lalu? kenapa kau terlihat senang? apa ada hal lain?"
"Kau ini, aku tersenyum pun dikira bahagia. Aku hanya merasa senang karena keadaan Sela membaik. Jadi, dia bisa meneruskan masa depannya."
Airin melepaskan tangan Arja, "Aku akan lihat Sela dulu."
Arja menahan tangan Airin, "Tidak perlu, sudah aku katakan dia sedang tidur. Ayo ke kamar."
Arja menarik Airin masuk ke dalam kamar. Airin hanya menurut saja, setelah melepaskan jaket Airin duduk di samping tempat tidur.
"Bagaimana tentang ibu Sela?" tanya Arja saat Airin melepaskan ikatan rambutnya.
"Akhir-akhir ini kau sangat peduli pada Sela. Ada apa? apa ada yang kau sembunyikan dariku?"
Airin hanya tertawa kecil dan melanjutkan melepas jam tangan di tangan kirinya. Airin merasa ada yang salah dengan perhatian Arja. Tidak biasanya dia seperti ini, Airin jadi teringat dengan Maya. Apa kabarnya ya?
Tangan Airin mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya secara perlaham. Setelah seharian terkena sinar matahari, rambutnya rasanya sangat berminyak.
"Apa kau cemburu dengan perhatianku pada Sela?" tanya Arja sembari memeluk Airin dengan tiba-tiba dari belakang.
Airin melepaskan pelukan itu dan mengambil handuk mandi. Sepertinya berendam akan segera memulihkan badannya yang terasa sangat lelah.
"Ayolah Rin. Aku tidak melakukan hal apapun."
Perkataan Arja tidak Airin dengar. Airin lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Malas berdebat dan malas mengetahui hal yang sama.
***
Baru saja selesai Airin menyuapi bubur Sela. Arja masuk dengan membawa air putih dan obat milik Sela. Sejak tadi Airin masih tidak bicara dengan Arja. Airin hanya kesal karena dia terlalu memikirkan Sela. Padahal tahu Airin juga lelah karena masalah Sela.
"Minum obat dulu, aku juga mau istirahat setelah ini," kata Airin pada Sela.
"Baik," ucap Sela dengan nada yang masih lemah.
Setelah selesai, Airin merapikan mangkuk dan bekas obat. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Arja. Dia hanya sesekali menatap Airin dengan matanya.
"Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Sela saat Airin sudah membawa nampan di tangannya.
Airin menoleh pada Arja, dia hanya diam.
"Tidak. Aku pergi dulu."
Kenapa Arja hanya diam? apa dia memang berniat seperti ini agar Sela tahu? apa Arja sedang mencari perhatian Sela.
Airin menghela nafas panjang. Bagaimanapun, kali ini Airin benar-benar merasa cemburu. Bagai mana tidak, Arja jelas-jelas memperhatikan Sela. Bahkan dengan Airin pun Arja tidak pernah seperhatian itu.
Arja menarik Airin yang baru saja meletakan nampan ke meja makan. Dia menatap Airin dengan penuh tanya.
"Apa?" tanya Airin dengan keras.
"Apa kau benar-benar cemburu padaku?" tanya Arja.
Dia benar-benar tidak peka dengan keadaan. Hampir semua pelayan yang ada disana menatap kearah Airin dan Arja. Airin melepas tangan Arja dan memilih pergi dari sana.
Langkah Arja tetap mengikuti Airin sampai di taman belakang. Cuaca malam hari memanglah dingin, tapi Airin tidak mau pertengkaran mereka di dengar oleh siapapun.
"Apa yang kau lakukan? kau ingin menjadi gunjingan untuk pelayanmu sendiri?"
Arja berdecak dan melangkahkan kakinya mendekat pada Airin.
"Jangan mendekat."
"Apa salahku Rin? katakan," kata Arja.
"Apa jika aku mengatakannya kau akan paham perasaanku?"
"Ya. Aku akan mencoba mengerti."
"Mencoba kau bilang?"
Arja mendekat dan langsung mencium bibir Airin. Airin sudah berusaha untuk melepaskan ciuman itu. Ya, Airin berhasil melakukannya.
"Aku tahu kau cemburu karena Sela. Dengarkan aku, aku melakukan ini juga karena kamu. Aku tidak mau kau terlihat jelek di mata keluargamu," kata Arja pada Airin.
"Sikapmu pada Sela sama seperti dulu pada Maya. Jangan pikir aku bodoh."
"Rin. Aku mengatakan yang sejujurnya. Percayalah padaku, aku tidak mau hubungan kita kembali memburuk."
Benar juga. Airin tidak seharusnya merasa seperti ini. Jika Airin curiga seharusnya bukan dengan Sela. Dia sedang sakit, mana mungkin dia akan menerima kedatangan Arja begitu saja.
"Maafkan aku," bisik Arja.
Melihat kepala pelayan mendekat. Airin langsung mendorong Arja menjauh. Tidak mungkin kami harus mengumbar kemesraan saat ini.
"Aku mau istirahat dulu," kata Airin dan langsung meninggalkan Arja dengan tatapannya.
***