
Airin POV
Akhirnya Airin bisa bernafas lega. Hampir saja pesawat yang dia tumpangi tidak sampai di bandara. Pikirannya sudah campur aduk tadi.
Suasana bandara cukup ramai dan membuat kepala Airin pusing. Airin pun memilih duduk sebentar di kursi sembari menunggu Cika. Dia berjanji akan menjemput Airin untuk membawanya ke apartemen.
Apartemen yang dulu diberikan Vino pada Airin. Airin masih menyimpanya karena Vino tidak menerima jika Airin kembalikan. Jika tidak ada apartemen ini, entahlah Airin akan tinggal dimana.
"Aku sangat lelah mencaimu. Ini, minum dulu," kata Cika yang datang dan langsung menyodorkan sebuah minuman pada Airin.
Airin mengambil air mineral itu dan langsung meminumnya. Setidaknya air ini sangat menyegarkan.
"Kau tahu tidak? aku dan Jay sudah bersama. Kami memilih komitmen yang tepat bukan?" tanya Cika. Dia mengatakan dengan sangat bahagia.
Tangan Airin menepuk pundaknya dengan cukup kuat, "Kenapa sangat cepat dan baru mengatakan padaku?"
"Kau yang sulit dihubungi."
"Benarkah?"
Mereka memilih untuk pergi kearah mobil. Airin sangat ingin istirahat setelah perjalanan ini. Besok Airin harus menyiapkan tenaga untuk hatinya dan jiwanya.
Dengan sangat ceria, Cika masih mengatakan tentang dirinya dan Jay. Cinta pertamannya. Terlihat jelas jika Cika langsung melupakan rasa sukannya pada pria waktu itu.
***
Apartemen itu terlihat sangat kotor. Penuh dengan debu, untung saja semua perabotan masih di tutup dengan kain. Jika tidak, akan sangat sulit untuk membersihkannya.
Airin bersiap untuk membersihkan apartemen itu, namun Cika memilih untuk memanggil petugas pembersih.
"Aku tidak memiliki uang sebanyak dirimu," kata Airin pada Cika.
Airin tidak setuju. Kini Airin hanya memiliki beberapa uang di dalam tabungannya dan itu tidak banyak. Airin juga harus mencari pekerjaan agar dia bisa menghidupi dirinya sendiri.
"Aku yang akan bayar semuanya."
Airin dan Cika sontak menoleh keasal suara. Vino, sejak kapan dia disana. Apa sejak tadi dia mendengarkan pembicaraan Airin dan Cika. Jika iya, Airin semakin merasa bersalah saja.
"Kebetulan kau disini. Kau bisa temani Airin kan? aku ada rapat mendadak," kata Cika dengan senyuman licik pada Airin.
"Aku bisa sendiri," kata Airin.
"Aku pergi dulu ya. Baik-baiklah kalian berdua," kata Cika dan langsung pergi.
Kini hanya tinggal Airin dan Vino. Mereka saling diam dengan suasana aneh ini. Begitu cintanya Vino pada Airin sampai dia mengikuti Airin pulang. Apa yang harus Airin lakukan, apa Airin harus menerimannya saja.
Jika Airin menerimannya di saat seperti ini. Semuanya akan terlihat aneh. Dia akan mengira jika Airin hanya memanfaatkannya saja. Bukan karena cinta, lagi pula kami masih berteman baik hingga saat ini.
"Mau minum teh di bawah?" tawar Vino yang memecah keheningan.
"Ok."
Mereka berjalan beriringan. Canggung sekali, kenapa Airin merasakan seperti ini. Sialnya lagi, kenapa Airin malah teringat dengan Arja saat ini. Hatinya begitu bodoh, kenapa Airin tidak memilih Vino saja. Airin malah berharap pada Arja si pria gila. Sial sial sial.
"Kau mau pesan apa?"
"Kau tahu apa yang aku mau," kata Airin pada Vino.
Vino mengangguk dan tersenyum. Dia memesan pai mini bluberry dan teh hijau tawar untuk Airin. Kenapa dia selalu mengingat tentang Airin dan terus membuat Airin tersenyum.
Oh Tuhan, biarkan hati ini berpaling pada Vino. Biarkan hati ini meninggalkan pria yang berhianat padaku. Pikir Airin.
"Makan ini." Vino menyodorkan makanan yang dia pesankan untuk Airin.
Kembali mereka hanya diam. Ingin sekali Airin mengatakan jika Airin butuh waktu untuk menjawab pertanyaannya.
"Rin. Kita lupakan saja apa yang aku katakan. Aku tidak mau hubungan kita menjadi aneh seperti ini."
"Ba...baiklah."
Kini Airin merasa lebih tenang setelah Vino mengatakannya. Airin tidak memiliki rasa canggung karena pernyataan cintanya itu. Kini, Airin kembali memiliki temannya.
***
Vino bahkan masih mau berteman dengan Airin sampai saat ini. Padahal, sudah beberapa kali Airin tolak cintanya. Ya, hatinya selama ini terombang ambing hanya karena Arja dan Vino. Tidak ada pria lain dalam hidupnya.
"Jika perlu kamu bisa mengganti kata sandi apartemen ini," kata Vino saat membantu Airin membawa koper masuk.
"Tidak perlu. Ini juga milikmu, aku kan hanya meminjam."
"Kau masih sama saja. Sudah aku katakan jika semua inj milikmu. Jangan sungkan."
Airin hanya tertawa kecil.
"Tadi kamu pulang dengan siapa?" tanya Vino.
"Cika. Dia menjemputku. Lalu kenapa kau juga ke.kota ini. Kasihan tante, dia pasti merasa kesepian."
Vino tersenyum, "Mama yang menyuruhku mengikutimu. Dia takut, jika terjadi apa-apa dengan kamu."
"Tante tidak berubah. Dia masih saja menganggapku anak kecil."
Vino mengacak rambut Airin dan tertawa. Mereka tertawa bersama. Seperti dulu, saat mereka belum mengenal apa itu cinta dan apa itu kehidupan.
Setelah membantunya mengemas barang. Vino berpamitan untuk kembali ke apartemennya. Mereka memang satu apartemen, hanya beda lantai. Airin di lantai tiga sementara Vino di lantai dua.
"Aku pulang dulu. Nanti malam apa bisa kita bertemu lagi?" tanya Vino.
"Maaf," kata Airin dengan sangat menyesal, "mungkin aku akan istirahat di dalam kamar. Besok pagi kita bisa sarapan bersama," kata Airin kemudian.
"Baiklah. Selamat istirahat."
"Terima kasih sudah membantuku."
Airin membalas lambaian tangan Vino. Dia terlihat lucu kali ini.
***
Malam yang sunyi. Airin duduk di balkon dengan ditemani secangkir teh dan buku di tangannya. Walau ada buku, Airin tidak membacanya. Pikirannya masih melayang jauh entah kemana.
Airin memikirkan perasaannya sendiri. Kenapa Airin harus mencintai pria yang salah. Seharusnya, Airin tidak boleh terjebak dalam cinta semacam ini. Entah cinta berapa yang jelas Airin benar-benar terombang ambing dalam perasaan.
"Tuhan, tolong buat aku jatuh cinta pada orang yang tepat."
Tubuhnya disandarkan di kursi. Airin menatap langit yang cerah dengan dihiasi bintang dan bulan. Bahkan Airin tidak melihat sedikitpun awan yang menghalangi sinar bintang dan bulan. Sangat indah, tidak seperti perasaannya saat ini.
Tok tok tok. Sebuah ketukan pintu membuat Airin yang malas ini beranjak dari duduk. Dengan selimut hangat yang menempel di badan Airin. Airin membuka pintu itu.
"Malam, Rin," kata Vino dengan sebuah senyuman.
"Malam. Ada apa Vin?"
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam saja. Ini," Vino menyodorkan sebuah bungkusan, "kau pasti belum makan. Aku belikan nasi goreng."
Airin tertawa. Bagaimana bisa seorang Vino tahu Airin belum makan. Sejak tadi Airin memang tidak ada niat untuk makan. Sekarang, Airin harus memaksakan dirinya untuk makan.
"Kenapa tertawa?" tanya Vino dengan tatapan bingung.
"Tidak apa-apa. Aku merasa senang karena kau membawakanku makan malam."
Tangan Airin akan menerima bungkusan itu. Tangan Vino masih disana membuat Airin kebingungan. Lalu, dengan sebuah tarikan lembut. Cup, sebuah kecupan mendarat di kening Airin.
Kaget. Airin menoleh kearah Vino. Dia sudah melepaskan tangannya dari bungkusan. Tentu saja bungkusan itu sudah berpindah ketangan Airin. Hanya saja, Airin merasa linglung dengan apa yang dilakukan Vino.
"Aku pergi dulu."
Vino langsung pergi begitu saja. Membiarkan Airin terdiam dengan apa yang dia lakukan. Jantungnya kenapa seperti ini. Airin mencoba mengatur nafasnya berulang kali. Hasilnya tetap sama, jantungnya berdetak dengan sangat keras.
***