My Love My Pain

My Love My Pain
Pengganggu



Airin POV


Airin masih tinggal di rumah yang dia sewa. Beberapa wartawan masih mencarinya dan menanyakan perihal hubungan yang sedang dijalaninya. Bahkan, Cika juga sampai pergi keluar kota dengan Jay. Mereka juga terkena imbasnya.


Selama hubungan Airin dan Vino belum terjadi. Para wartawan akan terus mengejar mereka. Bahkan tidak ada ruang yang aman bagi mereka. Kemarin, bahkan ada beberapa orang yang mengikuti Vino saat pulang. Khawatir? jelas saja Airin merasakannya. Airin tidak ingin terjadi apapun pada teman dan calon tunangannya itu.


Beberapa pesan teror juga masuk ke dalam ponsel Airin. Airin tidak akan mengatakan apapun pada Vino. Dia pasti akan mencari tahu dan itu akan membahayakannya. Arja semakin membuat Airin pusing dengan tingkahnya.


"Kamu sudah siap?" tanya Vino yang sudah berdiri di depan Airin.


"Kau disini? sejak kapan?" tanya Airin.


"Kau sejak tadi melamun. Ayo pergi, kita harus mengurus acara ini."


Vino langsung menggandeng tangan Airin dengan erat. Mereka masuk ke dalam mobil, tidak ada siapapun. Airin kira Vino akan mengajak sopir.


Walau Airin sudah memutuskan pertunangan ini. Tetap saja Airin merasa canggung, dulu mereka memang pernah memiliki hubungan. Hubungan yang selalu dibilang cinta monyet. Kini cinta monyet itu sudah berevolusi. Walau masih belum sempurna.


"Apa Arja menemuimu?" tanya Vino.


"Tidak. Memangnya ada apa?"


Vino masih fokus pada setirnya, "Setelah kemarin kamu pulang. Dia datang ke rumah, bukan menemuiku. Dia menemui Mama."


"Apa ada hal buruk yang terjadi?" Airin khawatir jika Arja akan melakukan hal buruk pada keluarga Vino.


Vino menggeleng, "Aku baru tahu, ternyata Mama yang sudah bersedia bekerja sama dengan Arja."


"Lalu?"


"Kau tahu pastinya. Kita akan sering bertemu dengannya."


Airin hanya bisa diam. Apa lagi yang akan direncanakan Arja pada Airin. Semoga apa yang Airin pikirkan tidak terjadi. Vino dan Mamanya tidak bersalah. Airin harus melindungi mereka. Apapun yang terjadi, ini semua salahnya.


***


Mereka sudah selesai berdiskusi dengan beberapa orang tentang pertunangan yang akan terjadi. Semuanya sudah siap, mereka tinggal menunggu tanggal saja. Gedung dan segalanya sudah diatur oleh mama Vino. Dia sangat ingin membuat pertunangan ini menjadi yang terbaik.


Para wartawan juga bahkan diundang. Tentunya agar acara ini menjadi topik utama dan tidak ada kabar miring lagi tentang Cika dan Vino. Karena Airin sudah siap bertanggung jawab, Airin hanya bisa menurut saja.


"Mau makan siang dulu?" tanya Vino saat mereka baru keluar dari gedung.


"Boleh," jawab Airin.


"Mau makan dimana?"


"Terserah kau saja."


"Baiklah, ayo. Aku tahu restoran yang enak di daerah ini."


Mereka masuk kembali ke dalam mobil. Sampai detik ini, masih belum ada cinta yang sesungguhnya diantara Airin dan Vino. Hanya ada rasa nyaman dan tenang saat bersama dengannya.


Airin tahu, perasaan Vino masih sama seperti dulu. Hanya saja, kalian tahu rasannya dihianati. Ada rasa trauma di dalam hati Airin, takut cinta itu kembali membuatnya terluka. Takut, hatinya kembali dihianati.


Tidak Airin sangka. Ternyata mereka datang ke restoran milik Kenzo, suami Maya saat ini. Entahlah, yang jelas Airin tidak berharap bertemu dengan mereka disini. Airin ingin menjalani harinya dengan tenang.


"Kau mau pesan apa?" tanya Vino.


"Kau tahu apa yang aku suka."


Vino mengangguk dan mulai memesan beberapa menu. Sementara Airin melihat ponselnya, Cika banyak mengirim pesan pada Airin. Dia mungkin akan kembali ke kota ini saat Airin dan Vino sudah resmi bertunangan.


Cika. Apa aku bisa bertemyu Jay? ada hal yang harus aku bicarakan.


Ya, Airin sengaja mengirim pesan itu. Rasa mual seperti waktu itu datang lagi padanya beberapa hari ini. Bahkan sampai membuat Airin tidak bisa makan beberapa hari. Airin takut, ada sesuatu dalam perutnya. Yang jelas, bukan janin.


Apa kau sakit?


Balas Cika.


Tidak. Aku hanya ingin berbicara dengannya.


Aku akan bilang padanya.


Setelah mendapat jawaban itu. Airin kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. Pandangan mereka bertemu saat Airin mendongakkan kepala.


"Siapa?"


"Cika."


"Aku kira siapa," kata Vino.


"Apa kau sedang cemburu?" goda Airin.


"Tidak."


"Baguslah."


Pesanan mereka sudah datang. Mereka mulai bersiap untuk memakannya. Sampai seorang wanita datang dan langsung duduk di samping Vino.


Heila. Wanita itu tiba-tiba datang. Seperti waktu itu, saat Airin bersama dengan Vino untuk ke bukit. Dia datang kesini lagi, padahal sudah menghilang beberapa hari.


"Makan yang banyak," kata Vino sembari memberikan sepotong daging kepiring Airin.


Vino bahkan tidak menoleh sedikitpun pada Heila. Dia hanya diam dan terus menatap Airin, sampai cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Vino.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Airin dengan keras. Entah kenapa Airin tidak suka dengan sikap Heila.


Heila menoleh pada Airin, "Apa urusanmu. Dia pacarku," kata Heila.


Kali ini mata Airin tertuju pada Vino. Dia menggeleng dengan cepat.


"Dia mantanku. Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya."


"Kau kenapa? saat tidak ada dia kau bahkan masih memelukku," kaya Heila sembari menunjuk kearah Airin.


Airin hanya bisa menghela nafas dan menahan amarah ini. Airin letakan peralatan makannya dan menatap pada Vino. Arja, Airin tahu dia yang melakukannya.


Plak. Tanpa sadar Airin langsung menampar wajah Heila. Bahkan pipinya sampai terlihat memerah. Beberapa pasang mata juga menatap kearah kami.


"Dia tunanganku. Kau bukanlah apa-apa baginya," bisik Airin pada Heila.


Setelah itu Airin menarik tangan Vino dan memilih pergi dari sana. Airin kira, harinya akan berjalan dengan baik hari ini. Ternyata tidak, masih ada saja yang membuat dirinya tidak senang.


"Apa kau sedang cemburu?" tanya Vino saat Airin masih menggenggam tangannya.


Airin melepaskan pegangan tangan itu, "Jangan berfikir terlalu jauh. Aku hanya tidak suka dengan wanita murahan."


"Benarkah kau tidak cemburu. Kalau begitu, aku akan menemuinya lagi. Dia pasti merasa terluka."


Vino berbalik dan akan kembali pada Heila si wanita murahan. Airin pun berlari kecil dan langsung menahan tangan Vino.


"Apa lagi?" tanya Vino.


"Ayo pulang. Tidak baik kau bersama wanita lain, bukankah aku tunanganmu?"


"Kau sangat ingin menjadi tunanganku ya?" goda Vino.


Tiba-tiba saja rasa mual itu kembali. Airin pun meninggalkan Vino disana dan mencari kamar mandi. Tidak ada apapun yang keluar, hanya rasa mual yang terus datang.


Airin keluar sembari mengelap wajahnya dengan tisu. Airin tidak boleh terlihat sakit atau apapun di depan Vino.


"Ada apa? apa kau sakit?" tanya Vino sembari meletakan tangannya di kening Airin.


"Tidak. Sepertinya aku salah makan, lebih baik aku pulang dan istirahat."


"Baiklah. Aku akan mengantarkan kamu."


Jika Airin mengaku sakit, Vino pasti akan memaksanya ke rumah sakit. Sekarang, Airin tidak ingin tahu yang terjadi padanya. Lebih baik, dia istirahat beberapa hari di rumah. Tiga hari lagi, pertunangan itu akan diadakan. Airin harus sehat pada saat itu.


***