My Love My Pain

My Love My Pain
Awal kebohongan



Hari ini adalah hari yang melelahkan untuk Airin dan Vino. Mama Vino akan membuka cabang toko baju disini. Cukup besar, dia bahkan membuat sebuah acara untuk pembukaan itu.


Airin dan Vinolah yang harus mengurus semuanya. Tentunya agar mama Vino tidak kelelahan dan fresh saat acara nanti. Tidak mungkin jika mama Vino harus kembali hanya untuk mencari gedung untuk acara.


"Kamu sudah temukan gedung untuk acara ini?" tanya Vino pada Airin yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Ya."


"Bagus. Aku harus pergi sekarang, kau tidak apa kan jika aku tinggal?" tanya Vino lagi.


Airin menoleh dengan senyuman, "Tidak apa."


Vino membawa tas kerjanya dan keluar. Hari ini Airin akan pergi untuk mencari hadiah. Ya, Cika ulang tahun malam ini. Tidak mungkin jika Airin datang dengan tangan kosong.


Hampir berselang satu jam. Airin mengambil tasnya dan keluar dari ruang kerja. Vino memang akan meeting. Karena kasihan melihat Airin kelelahan, Vino memilih untuk datang menemui client dengan Lola, sekretarisnya.


Sebuah taxsi sudah menunggu Airin di depan kantor. Tanpa basa-basi Airin langsung masuk ke taxsi dan menyandarkan tubuhnya. Bukan hanya membeli hadiah, Airin juga akan membeli sebuah baju. Dia tidak memiliki baju yang pantas untuk dibawa ke acara ulang tahun Cika.


***


Beberapa kali Airin keluar masuk toko. Dia tidak tahu akan membeli hadiah apa untuk temannya itu. Perhiasan, jelas Cika sudah memilikinya. Gaun mewah, Cika adalah seorang sosialita.


Akhirnya, Airin masuk kesebuah toko perhiasan. Selama ini, Airin jarang melihat Cika memakai gelang. Airin akan membelikannya sebuah gelang.


Airin sedang memilih sebuah gelang. Dia tidak tahu harus membeli gelang seperti apa. Banyak gelang yang terlihat cantik dan menawan. Akan sangat cocok dengan Cika, tapi Airin belum bisa menentukan gelang yang mana yang akan diambil.


"Pilih saja yang ini," kata tante Mia yang entah datang dari mana.


Airin menoleh, "Tante? kok tante disini?" tanya Airin.


Tante Mia tersenyum. Dia meminta seorang pelayan mengambil sebuah kalung dengan berlian di tengahnya.


"Aku wanita yang suka perhiasan. Apa lagi, desain yang langka," kata tante Mia.


Airin hanya menganggukan kepalanya. Lalu kembali menatap kearah gelang-gelang itu lagi. Pikirannya masih kacau, ada niat untuk bertanya pada Vino. Hanya saja dia takut mengganggu.


"Apa kau membeli gelang untuk hadiah?" tanya tante Mia lagi.


Airin kembali mengangguk, "Untuk temanku."


"Jika aku jadi kamu. Aku akan memilihkan gelang berwarna merah ini," kata tante Mia.


Airin merasa setuju dengan apa yang dikatakan tante Mia. Tiba-tiba Airin ingat, Cika tidak suka warna merah. Dia pasti tidak akan memakainya.


"Kenapa masih melamun?" tanya tante Mia.


"Tidak tante. Sebenarnya temanku tidak suka warna merah."


"Kau sangat memperhatikan temanmu," ucap tante Mia. "Kalau begitu pilih warna yang dia suka."


"Tante benar."


Kali ini Airin mengambil sebuah gelang. Memang tidak mewah, namun terdapat ukiran di gelang itu. Airin merasa Cika akan menyukainya.


Setelah selesai berbelanja. Airin berniat untuk pulang dan istirahat siang. Tante Mia yang melihat Airin akan keluar dari toko langsung menyusulnya.


Dia mencoba menyejajarkan langkah kakinya dengan Airin. Sampai di depan sebuah restoran, tante Mia menarik tangan Airin. Hingga Airin menghentikan langkah kakinya.


"Tante? kenapa tante masih mengikutiku?" Airin merasa aneh dengan sikap tante Mia.


"Tante ingin makan siang. Hanya saja, tidak enak makan sendiri. Kau mau kan menemani tante?"


Airin ingin sekali menolak tawaran itu. Dia masih ingat janjinya pada Vino. Tidak mungkin dia akan terus mengingkarinya.


"Tidak usah sungkan. Tante yang akan bayar."


"Bukan begitu tante."


"Ayolah."


Airin hanya bisa pasrah saat tante Mia menariknya masuk. Dengan penuh perhatian tante Mia menanyakan makanan kesukaan Airin. Seperti seorang ibu pada umumnya, namun perhatian tante Mia terlalu berlebihan menurut Airin.


Tidak berapa lama makanan yang mereka pesan datang. Masih dengan banyak cerita, tante Mia membuat Airin beberapa kali tersenyum.


Airin merasa tante Mia adalah ibu yang baik. Dia sangat perhatian, terlihat dari cara bicaranya dan senyumannya. Airin menyesal karena tidak pernah mengenal tante Mia sebelumnya. Lalu, kenapa bisa Vino melarangnya berhubungan dengan tante Mia.


"Sebenarnya tante sangat marah pada Arja. Dia tega tidak mengundang tante saat pernikahan kalian. Dia bahkan tidak mengatakan pernah punya istri sebaik kamu," kata tante Mia.


Airin hanya bisa tersenyum.


"Andai saja kamu masih menjadi istri Arja. Tante pasti akan sangat bahagia," ujar tante Mia lagi.


Airin menggeleng, "Tante, masa lalu biarlah sudah. Aku tidak ingin mengingatnya lagi."


"Apa Arja melakukan hal yang tidak baik padamu. Sampai kau ingin melupakannya."


"Bukan begitu, Arja sangat baik kok. Hanya saja, saya sudah punya jalan lain. Begitupun dengan Arja."


Tante Mia hanya bisa tersenyum. Lalu dia mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Dia meletakan kotak itu di depan Airin. Airin diam dan menghentikan acara makannya. Dia menatap pada tante Mia.


"Ini hadiah dari tante. Maaf, tante sangat minta maaf atas perlakuan Arja padamu."


Airin menggeleng dan langsung mendorong kotak itu kembali kearah tante Mia.


"Terima saja. Anggap ini hadiah pertama dariku."


"Tante...."


Brak. Tiba-tiba saja Arja datang dan langsung membuang kotak itu kesampah. Wajah tante Mia langsung berubah. Sementara Airin hanya bisa diam dengan kejadian itu.


"Sudah aku bilang jangan dekati Airin. Dia tidak boleh kenal dengan wanita macam dirimu," kata Arja dan langsung menarik Airin kesisinya.


"Arja. Mama hanya ingin kenal dengan Airin. Apa salahnya," ucap tante Mia dengan wajah takut.


Arja berdecak kesal, "Kau wanita ular. Aku tidak ingin wanita yang aku cintai sampai terkena racunmu."


"Arja. Dengarkan dulu penjelasan mama. Mama minta maaf jika mama ada salah."


Airin merasa terluka melihat tante Mia saat ini. Dengan kerasa Airin menarik Arja dan menamparnya dengan keras. Tidak Airin sangka, Arja begitu membenci mamanya. Bahkan tega melukai hati mamanya.


"Kau tidak tahu dia, Rin," ucap Arja.


"Sudah cukup. Kamu memang anak durhaka," kata Airin.


Airin memilih untuk pergi dari sana. Meninggalkan Arja dan tante Mia. Airin kira, hanya pada dirinya Arja berbuat kasar. Tidak disangka, Arja tega membuat orang tuanya menangis. Bahkan mengatakan hal yang tidak-tidak.


Sementara itu. Di restoran banyak yang masih memandang pada Arja dan tante Mia. Mereka sudah pasti menganggap Arja anak yang tidak baik. Seperti Airin.


Dengan tenang, tante Mia mengambil tas tangannya dan meletakan beberapa lembar uang ke meja. Setelah itu, dia mendekat pada Arja.


"Bagaimana aktingku. Airin sudah semakin membencimu," bisik tante Mia saat melewati Arja.


Arja hanya bisa menahan emosinya. Apa yang dilakukannya malah semakin membuat Airin tidak suka padanya. Padahal niat Arja hanya ingin melindungi Airin dari tipu muslihat tante Mia.


***


Vino merasa ada yang aneh dengan Airin. Dia pulang dengan wajah kusam dan tidak menyapa siapapun. Padahal biasanya Airin akan menyapa para pelayan dan semua orang yang dia temui di rumah.


Jelas sekali sudah terjadi masalah pada Airin. Vino mencoba untuk masuk ke kamar Airin. Namun, dia urungkan dia mendengar Airin sedang berbicara melalui telfon.


"Tidak apa tante. Yang penting tante baik-baik saja," ucap Airin.


"Ya. Aku akan kabari tante nanti."


Vino merasa tingkah Airin ada kaitannya dengan tante Mia. Sejak waktu itu, tante Mia terus mendekati Airin. Apa dia sudah berhasil, pikir Vino.


Vino merasa sangat takut jika Airin berhubungan dengan tante Mia. Dia tidak mau, Airin akan terkena masalah seperti dulu Airina. Vino merasa harus melindunginya.


"Airin," panggil Vino sembari membuka pintu kamar Airin.


Buru-buru Airin menyembunyikan ponselnya ke bawah bantal. Airin mengembangkan senyuman diwajahnya lalu mendekat pada Vino.


"Ada apa denganmu? kau terlihat murung," tanya Vino.


Airin hanya menggeleng. Dia tetap tidak bisa menyembunyikan perasaanya di depan Vino.


"Katakan jika ada masalah," Vino sangat berharap Airin mengatakan yang sebenarnya.


"Tadi aku membeli hadiah untuk Cika. Lalu, aku bertemu dengan Arja."


"Lalu?"


"Kau tahu. Arja selalu membuat keributan."


Vino menghela nafas. Tidak disangka jika Airin sudah berani berbohong. Vino tahu karena dia mendapat informasi dari orang yang dia suruh menjaga Airin.


Tidak mau membuat Airin semakin murung. Vino memilih untuk mengajak Airin berjalan-jalan sebentar. Dia akan membiarkan Airin seperti ini. Walau begitu, Vino akan tetap menjaganya. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada wanitanya itu.


"Mau jalan-jalan?" tawar Vino.


"Tidak. Aku hanya ingin duduk di taman belakang dengan buku-bukuku."


"Kau ini," ucap Vino sembari mengelus pelan kepala Airin, "Jika ada apa-apa. Katakan padaku, aku tidak ingin kau terkena masalah."


"Aku bukan anak kecil lagi," ucap Airin.


"Aku tahu. Aku akan kembali ke ruang baca."


Airin duduk dengan termenung. Karena satu kebohongan, Airin menjadi berbohong lagi. Airin merasa sangat bersalah menyembunyikan semua ini dari Vino. Jika tidak disembunyikan, Vino akan melarang Airin untuk keluar dari rumah.


Kini Airin merasa serba salah. Dia tidak tahu harus bagaimana. Yang jelas, Airin juga tidak tega melihat tante Mia di bentak-bentak oleh Arja seperti tadi.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin.


Sela sudah semakin membaik. Kau tenang saja.


Airin tersenyum membacanya. Dia merasa tante Mia benar-benar sudah menjaga Sela disana. Sela dan tante Mia pasti akan saling menjaga dari kekejaman Vino.


Terima kasih sudah menjaga Sela untukku.


Lima menit kemudian.


Ini juga kewajiban tante, Rin.


****


Sementara itu di rumah Sela dan tante Mia. Mereka tertawa senang melihat kebodohan yang dilakukan Airin. Bahkan mereka merasa sudah menang karena membuat Arja semakin dibenci Airin.


"Katanya kau akan membuat Airin kembali pada Arja?" tanya Sela di sela tawanya.


"Aku akan menarik simpati Airin dulu. Lalu, perlahan aku akan membuat Arja juga dekat denganku."


"Lalu aku?"


Tante Mia tersenyum, "Kau menantuku yang sangat baik. Kau hanya perlu terus menggoda Arja. Jika sudah waktunya nanti, Arja akan memilihmu dan akan membuang si Airin."


Sela mengangguk. Ternyata tante Mia sangat baik padanya. Dia tidak diberikan tugas apapun. Dia hanya ingin Sela terus menggoda Arja. Hanya itu.


Suara langkah kaki Arja membuat Sela meletakan gelas di tangannya. Dia bergegas mendekat pada Arja dan membawakan tasnya.


"Apa hari ini ada masalah?" tanya Sela dengan lembut.


Arja menoleh, "Banyak masalah yang disebabkan Mia. Kau harus jaga jarak dengannya," kata Arja.


"Dia kan mamamu, aku harus dekat dengannya."


Arja kembali menoleh, namun dengan raut wajah yang berbeda.


"Aku tidak suka kau membantah."


Sela hanya diam dan terus mengikuti Arja. Sampai mereka masuk ke dalam kamar Arja. Sela menutupnya, sebelum itu dia memberikan senyuman pada tante Mia.


Tante Mia hanya tersenyum. Arja akan terus menolak wanita yang mengejarnya. Apa lagi yang bertingkah murahan. Cepat atau lambat, Sela pasti akan diusir oleh Arja. Tentu saja hal itu membuat tante Mia memiliki peluang lebih besar.


***