My Love My Pain

My Love My Pain
Suamiku



Dari kejauhan mereka melihat keramaian. Tepatnya di depan rumah mereka, banyak orang yang berkumpul. Dengan berlari kecil, Airin dan Arja mendekat. Kaget, Airin melihat darah di mana-mana.


"Selaaaa...."


***


Pikirannya sangat kacau. Airin bahkan mondar mandir menunggo dokter Bob datang. Ya, Arja meminta dokter Bob yang datang.


Bagaimanapun, keadaan Sela sangatlah tidak baik. Dia terbaring lemah dengan perban di kepala dan tangan. Dia terjatuh dari balkon kamarnya.


Arja berdiri di depan Airin. Dia menatap Airin dengan tatapan penuh arti. Airin tahu dia sangat khawatir juga pada Sela. Dia juga mencoba menyemangati Airin agar Airin tetap berada di samping Sela.


"Ada apa?" tanya Airin.


"Dokter Bob sudah datang. Dia sedang memeriksa Sela."


Airin menghela nafas panjang, lega rasanya. Airin pun terduduk di sofa panjang. Hanya Airin yang akan menjadi keluarga Sela untuk saat ini.


"Apa mau minum?" tanya Arja pada Airin.


"Tidak. Biarkan aku memelukmu."


Setidaknya Airin akan merasa lebih tenang dalam pelukan Arja. Jika tidak ada Arja, mungkin Airin juga akan merasa terpuruk.


"Maaf, beberapa hari ini aku hanya memikirkan Sela," kata Airin pada Arja.


"Tidak masalah. Oh ya, aku harus pergi ke kantor sebentar lagi."


Hampir saja Airin lupa. Airin pun bergegas masuk ke kamar untuk menyiapkan baju untuk Arja.


"Mau kemana?" tanya Arja sembari menahan tangan Airin.


"Menyiapkan baju untukmu."


"Aku sudah menyiapkannya sendiri. Lebih baik, kamu ke kamar Sela dan lihat keadaannya."


Airin mengangguk. Arja kini penuh pengertian pada Airin dan keluarga Airin. Airin jadi yakin dengan perubahan sifat Arja. Dia benar-benar berubah untuk Airin.


***


Perlahan tangannya membuka kamar Sela. Setelah banyak bicara dengan dokter, kini Airin tahu harus bagaimana menghadapi Sela.


Beberapa hari ini Airin melupakan hidupnya dan kebahagiaannya. Airin lebih memilih menjaga Sela untuk saat ini.


Dia masih terbaring lemah dengan selang infus dan oksigen. Airin duduk dengan tangan menggenggam tangan Sela. Kenapa di saat seperti ini tidak ada pria yang berada di sampingnya. Hanya untuk penyemangat. Dimana kekasihnya itu.


"Sela, cempat sembuh ya. Kasihan ayah kamu," kata Airin dengan lembut. Airin tidak mau mengganggu istirahat Sela saat ini.


Kepala pelayan masuk dengan baskom air dan baju ganti. Dia juga membawa beberapa obat yang sudah diresepkan oleh dokter Bob.


"Kamu bisa melakukannya. Aku akan keluar dulu."


Arja memang tidak membolehkan Airin kelelahan. Dia menyuruh kepala pelayan yang mengurus Sela. Sementara Airin hanya perlu menjaganya saja.


Airin mengambil buku dan membacanya perlahan. Jika Airin hanya menunggu tanpa melakukan apapun. Dia pasti akan bosan dan mengantuk.


Kata demi kata Airin baca dengan sepenuh hati. Pikirannya kini melayang jauh ke dalam isi buku. Membawa Airin mengembara jauh ke dalam alam mimpi yang indah.


***


"Nyonya, ada tamu di bawah ingin bertemu dengan Nona Sela."


"Aku yang akan menemuinya, kau bisa di sini menemani Sela."


Kepala pelayan mengangguk dan mengambil posisi Airin. Sementara Airin turun, masih dengan buku di tangannya. Airin tidak melihat siapapun berada di ruang tamu.


"Dooor."


Airin terlonjak sampai menjatuhkan buku di tangannya. Karena sangat kaget membuat dadanya rasanya lumayan sakit. Airin menoleh ke belakang dan melihat Vino tertawa senang.


"Kenapa kau kesini?" tanya Airin pada Vino yang masih tertawa.


"Aku... Aku kesini untuk melihat keadaan Sela."


"Dia baik. Lebih baik kamu pergi dari sini."


"Apa kau cemburu karena aku ingin melihat Sela dan bukan kamu."


"Aku tidak pernah mengharapkan pria lain melihatku selain suamiku."


Vino tertawa dan langsung berjalan menaiki tangga. Dia bersi keras untuk melihat Sela. Tidak ingin membuat keributan, Airin pun membiarkannya untuk menemui Sela.


Deru mobil membuat Airin melihat kearah jam dinding. Sudah waktunya Arja pulang, ini pasti dia. Airin melangkahkan kakinya dengan cepat menuju suara mobil.


Benar saja. Arja turun dengan tas dan jas yang dia bawa di tangan. Airin langsung menghampirinya dan mengambil barang bawaanya.


"Bagaimana keadaan Sela?"


"Tadi sudah sadar, tapi tidur lagi."


Arja berhenti saat melihat mobil Vino terparkir rapi di halaman samping. Mata Arja berganti menatap Airin.


"Dia ingin menjenguk Sela," kata Airin sebelum Arja berfikiran yang tidak-tidak.


Mereka masuk dan berpapasan dengan Vino yang baru saja keluar dari kamar Sela. Dia tersenyum dan menyapa Arja dengan tawa kecil.


"Istrimu tambah cantik saja. Bisakah aku meminjamnya walau hanya sehari," kata Vino dengan lirikan mata yang tertuju pada Airin.


Airin langsung memegang tangan Arja sebelum Arja tersulut emosinya. Apa yang dilakukan Vino memanglah tidak baik. Belum lama ini, Vino mengatakan tidak akan berbuat onar lagi. Sekarang, dia kembali membuat Arja emosi.


"Kita ke kamar saja. Aku akan ambilkan minuman buat kamu," kata Airin pada Arja.


"Baiklah. Ayo."


"Tunggu."


Airin dan Arja menoleh kearah Vino.


"Biarkan aku memandang Airin walau hanya sekejap saja," kata Vino dengan senyumannya.


Airin langsung menarik Arja masuk ke dalam kamar. Sejak tadi Airin tidak melihat Arja kesal atau apapun. Dia terlihat biasa saja.


Tas dan jas sudah Airin letakan ke tempatnya. Airin duduk di depan Arja yang masih tidak menunjukan ekspresi apapun.


"Apa kau tidak cemburu dengan apa yang dilakukan Vino?" akhirnya Airin menanyakan kegundahan hatinya.


"Untuk apa, bukankah kau dan dia hanya teman."


Kenapa Arja berubah, kemarin dia terus menerus marah dengan kedekatan Airin dan Vino.


"Kenapa kamu berubah. Bukannya kamu kemarin marah-marah karena aku pergi dengan Vino?"


Kenapa Airin merasa terluka saat Arja tidak cemburu. Dia seperti tidak peduli dengan Airin dan perasaan Airin.


"Cika sudah menjelaskan semuanya. Dia juga mengucapkan terima kasih padamu."


Cika? benar juga, alasan Airin pergi dengan Vino kan membelikan hadiah untuk Cika. Tunggu, bukannya Airin di sana hanya bersenang-senang. Pasti Vino yang sudah melakukannya. Kini, Arja kembali percaya pada Vino.


"Apa kamu tidak senang?" tanya Arja yang melihat Airin cemberut.


"Ya. Kau bahkan tidak cemburu saat ada pria lain yang menggodaku."


Arja mendekat dan menarik Airin. Dia duduk di tepi tempat tidur dan membiarkan Airin duduk di pangkuannya. Mata mereka saling memandang, perlahan tangan Arja mengusap pelan rambut Airin.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Airin pada Arja.


"Apa lagi, aku ingin melakukan apa yang dilakukan oleh suami istri."


Airin mencoba menjauh tapi Arja tetap menahan dirinya.


"Arja, ini masih siang. Aku juga harus melihat keadaan Sela."


"Biarkan aku bersamamu, sejak kemarin kau hanya fokus pada adikmu. Bagaimana dengan diriku."


Arja semakin mengeratkan pelukannya pada Airin. Jika sudah seperti ini, akan sulit membuat Arja diam. Lebih baik Airin menurutinya dan melihat keadaan Sela nanti.


Bagaimanapun, dia suami Airin. Orang yang sudah seharusnya dia turuti.


***