
Kacau, semuanya kacau. Apa yang sudah Airin lakukan adalah kesalahan besar, walau itu tidak sengaja. Awalnya Airin tidak ingin membuat masalah apapun, tapi kini Airin malah terjebak dalam masalah serius.
Air matanya terus berderai. Airin duduk sendirian di lorong rumah sakit. Sementara Arja sedang menjalankan sebuah operasi besar karena pendarahan di kepalanya.
"Ada apa?" tanya Vino yang memang sudah Airin hubungi. Airin tidak tahu lagi harus menghubungi siapa.
"Arja... Arja..."
"Ada apa dengan Arja?" tanya Vino yang memegang kedua pundak Airin.
"Aku...aku membuat Arja.. kecelakaan."
"Apa?!" tanya Vino tidak percaya dengan apa yang Airin katakan.
Airin hanya menggeleng tidak jelas. Pikirannya sangat kacau, kali ini Airinpasti akan dipenjara. Airin harus bagaimana sekarang. Kenapa bisa dia melakukan hal sebodoh ini.
Tuk tuk tuk. Seseorang datang mendekat kearah kami. Airin menoleh keasal suara langkah kaki itu. Sela datang dengan langkah panjang dam cepat. Dia pasti sangat marah pada Airin.
Plak. Benar saja, Sela langsung menampar Airin begitu sampai di dekat Vino dan Airin. Kali ini Airin tidak akan mengelak atau melakukan kesalahan lain. Airin mengakui jika ini memanglah kesalahannya.
"Maafkan aku, Sel."
"Kau bilang maaf sekarang? kau sengaja melakukan ini kan? kau tidak ingin aku dan Arja bersatu. Itu karena kamu masih mencintai Arja," kata Sela dengan panjang lebar.
"Aku tidak sengaja. Aku bisa jelaskan apa yang terjadi."
Tidak lama tiga orang datang. Mereka adalah polisi, terlihat dari pakaian dan cara mereka berjalan. Sela pasti sudah melaporkan Airin kali ini. Airin menoleh pada Vino, dia hanya mengangguk dan mencoba menenangkan Airin.
"Dia pelakunya, Pak. Kalian bisa bawa dia," kata Sela dengan nada sinis pada Airin.
"Mari, bu."
"Pak. Saya bisa jelaskan semuanya."
"Ibu bisa menjelaskannya di kantor polisi."
Kali ini Airin hanya bisa pasrah. Airin mengikuti ketiga polisi itu dengan tangan diborgol. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya jika dia akan diposisi ini. Posisi dimana Airin adalah seorang tersangka.
Andai saja Airin tidak menemui Arja. Seandainya Airin bisa memutar kembali waktu yang sudah berjalan ini. Gelap sekali rasanya di depan Airin. Airin benar-benar sudah tamat kali ini.
***
Setelah selesai diintrogasi. Airin dimasukan kesebuah sel. Disana tidak ada siapapun, dingin sekali rasanya. Mungkin karena ini baru pertama kali Airin datang kesini.
"Kau bisa menunggu disini dan menunggu hasilnya," kata seorang polisi yang memasukan Airin ke dalam sel.
Disaat seperti ini. Airin sudah tidak memiliki siapapun. Orang tua, suami, saudara, bahkan teman. Benar, Airin masih memiliki Vino dan Cika. Mungkin mereka bisa membantu Airin.
Beberapa kali Airin mencoba menelfon Cika. Hasilnya tetap sama saja. Mungkin dia sedang sibuk saat ini. Kini hanya Vino yang bisa aku andalkan.
"Kau bisa keluar sekarang," kata seorang polisi lain yang membukakan pintu sel Airin.
Airin merasa aneh dengan hal ini. Baru saja dia dimasukan dan sekarang dia sudah bisa keluar dari tempat ini.
"Pacar anda sudah menunggu. Ayo cepat," kata polisi itu lagi.
"Pacar?"
"Ya."
Sampai di luar kantor polisi. Airin melihat Vino yang sedang bersandar di samping mobilnya. Tangannya sedang bermain ponsel. Tanpa kata, Airin mendekat dan langsung memeluknya. Airin benar-benar melakukan hal gila kali ini.
"Terima kasih. Jika tidak ada kamu, mungkin aku akan dipenjara."
"Kau tidak bersalah karena tidak sengaja. Ayo kita pulang, Cika juga sangat khawatir padamu."
"Sekali lagi terima kasih," kata Airin.
Vino mengangguk. Dia membukakan pintu mobil untuk Airin. Bagaimana Airin harus membalas semua kebaikan Vino. Tidak mungkin jika Airin tiba-tiba menerima perasaannya begitu saja. Akan terlihat tidak masuk akal nantinya. Lebih baik, Airin jalani saja semua ini seperti air mengalir.
***
Vino mengajak Airin masuk ke dalam apartemennya. Dia mengatakan jika apartemen yang Airin tinggali sedang tidak ada air karena ada sumbatan.
Dia sudah menyiapkan segalanya. Makan malam, baju ganti untuk Airin. Bahkan sebuah kamar untuk Airin tinggali.
"Vin. Apartemen yang aku tinggali kan hanya airnya saja yang tersumbat," kata Airin, "aku masih bisa tidur disana," tambah Airin.
"Turuti saja apa kataku. Aku tidak akan berbuat macam-macam denganmu. Mandilah, setelah itu kita bisa makan bersama."
Airin menerima handuk dari tangan Vino. Jahatnya Airin, sekarang Airin benar-benar merasa bersalah dengan Vino. Airin terus menyakitinya, tapi dia tetap saja perhatian dan baik pada Airin.
Setelah selesai mandi. Airin mengecek ponselnya. Beberapa pesan masuk dari Cika, namun ada juga sebuah pesan dari Sela.
Kembalilah ke rumah sakit. Sejak tadi calon suamiku memanggil namamu.
Sela mungkin sengaja mengatakan calon suami agar Airin sadar pada posisinya. Kali ini Airin harus benar-benar kejam. Mereka sudah menyakiti Airin tanpa tahu apa yang Airin rasakan. Walau kecelakaan Arja karena Airin, tapi Airin tidak sengaja melakukannya.
Maaf. Kita sudah tidak ada urusan. Aku hanya akan bertanggung jawab untuk pengobatan Arja. Tidak lebih.
Apa Airin terlalu jahat kali ini. Jika diingat lagi, bagaimana bisa Airin membayar pengobatan Arja. Airin hanya memiliki tabungan sedikit. Airin akan menanyakannya pada Cika. Dia pasti mau membantunya di saat seperti ini.
Jadi ini yang kau mau? kau sudah membayar semuanya dan kabur!!
"Membayar semuanya?" Airin memikirkan apa yang sudah terjadi. Airin bahkan tidak tahu berapa biaya pengobatan itu. Jangan-jangan Vino lagi yang membantunya.
Tok tok tok. Airin meletakan ponselnya ke nakas dan membuka pintu. Vino berdiri dengan senyumannya. Dia begitu baik, kata Airin dalam hati.
"Ayo makan. Nanti makananya dingin," kata Vino.
"Ya."
Diam. Itulah yang terjadi di meja makan. Hanya ada dentingan sendok dan piring. Tidak ada hal lain. Beberapa kali Airin menoleh pada Vino. Dia terlihat tenang dan sama seperti dulu. Dia bisa menjadi orang lain hanya karena luka.
Kenapa dia tetap tidak berubah pada Airin. Padahal Airin sudah menyakitinya, bukan satu atau dua kali. Beberapa kali Airin menyakitinya.
"Hei, kenapa tidak di makan? apa tidak enak? mau kubuatkan lagi?" tanya Vino beruntun. Vino beranjak dari duduknya dan akan kembali membuatkan makanan untuk Airin.
"Vin. Apa kau yang sudah membayar biaya perawatan Arja?"
"Ya. Kau bisa bebas sekarang."
"Kenapa kau selalu baik padaku?"
Pertanyaan Airin membuat Vino terdiam. Hanya matanya saja yang menatap Airin dengan penuh harapan. Airin tahu harapan apa itu.
"Vin. Aku minta maaaf, kau tahu posisiku saat ini. Aku baru saja bercerai. Aku..."
Vino memegang tangan Airin dengan lembut, "Tenang saja. Aku akan selalu mendukungmu."
Tanpa sadar air mata Airin menetes. Airin merasa bahagia dan terluka dengan apa yang dilakukan Vino. Apa yang sudah Airin perbuat dimasa lalu. Hingga Airin bisa seperti ini. Mencampakan cinta sejati untuk sebuah penghianatan.
***