
Suasana cafe milik Kenzo kali ini terlihat lenggang. Tidak banyak yang datang, mungkin karena masih banyak yang di kantor. Airin duduk termenung menunggu datangnya Kenzo.
Padahal baru satu jam, tapi Airin sudah merasa sangat lama. Beberapa kali Airin mengecek jam di ponsel dan jam di tangannya. Hasilnya tetap sama, hanya saja Kenzo tetap tidak datang.
Matanya kini menatap kearah pintu masuk. Berharap ada yang datang dan kenal dengan dirinya saat itu. Setidaknya Airin memiliki teman untuk berbicara.
"Maaf menunggu lama."
Entah datang dari arah mana. Kenzo kini sudah duduk di depan Airin. Wajahnya terlihat sangat lelah. Bahkan dia langsung melepaskan jaketnya.
"Kau pasti menunggu lama ya?" tanya Kenzo pada Airin.
"Tidak masalah."
"Ini." Kenzo menyodorkan sebuah surat tanpa nama, "Aku sudah menulis semuanya."
"Maksud kamu?" Airin mengernyitkan dahi.
Sejak datang tadi, Kenzo terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia terlihat gelisah dan takut. Airin mengikuti arah penglihatanya, menurut Airin tidak ada yang aneh.
"Banyak hal yang harus kamu tahu tentang Arja. Aku pergi dulu."
Setelah mengatakannya, Kenzo langsung pergi dengan jaket di tanganya. Perlahan Airin membuka surat itu.
**Hallo Airin?
Haha. Aku tahu ini aneh rasanya, kita sudah bertatap muka dan aku tidak mengatakan apapun. Pasti ada banyak hal yang ingin kamu tanyakan? benar bukan.
Ya. Disini aku akan menjelaskan kenapa Maya terlihat sangat depresi. Sejak awal, Maya memang memiliki gangguan pada emosinya. Aku juga tidak tahu kenapa. Ini hal yang mengerikan menurutku.
Berawal dari rasa takut kehilangan. Aku memutuskan untuk mengikuti sandiwara yang dilakukan Maya. Aku mencintainya dan dia mencintai Arja. Suamimu. Aku tahu ini gila, aku membiarkan kekasihku yang sedang hamil menikah dengan suami orang lain. Haha.
Maya sangat terobsesi pada suamimu. Dia bisa melakukan apa saja untuk membuat suamimu berpaling. Dan itu berhasil. Namun, semua rencananya gagal. Maya tidak tahu jika Arja sedang di kamar. Dia malah menelfonku dan mengatakan apa yang harus aku lakukan padamu.
Tebak apa yang dia suruh untuku? ya, dia memintaku membunuhmu. Jelas saja Arja tidak terima, dia mencintaimu tulus dan hanya kasihan pada Maya.
Sampai detik ini kamu sudah paham kan kenapa Maya seperti itu. Aku harap kamu tidak merasa bersalah dan tetap menjalani hidupmu dengan baik.
Pesanku hanya satu. Jaga suamimu, dia sangat menyayangimu dan melindungimu. Dia takut kau terluka.
Sekian suratku. Setidaknya, tolong maafkan Maya demi aku. Dan demi calon anakku**.
Setelah membaca seluruh surat itu. Airin meletakannya. Hatinya merasa kaget, ternyata Maya sudah merencanakan semua ini. Untung saja Arja tahu, Airin tidak akan terluka dibuatnya.
Melihat jam tangan sudah semakin sore. Airin langsung bergegas pergi. Dia akan menemui Arja di kantornya. Setidaknya dia akan memberikan kejutan kecil.
Tanganku sibuk menyobek surat yang diberikan oleh Kenzo. Airin tidak mau ada yang tahu tentang hal ini. Bagaimanapun, Maya sangat kasihan dalam kondisinya sekarang. Dia mungkin tidak akan melepaskan Airin dalam waktu dekat.
***
Ramai sekali orang keluar dari kantor Arja. Jika Airin masuk, mungkin dia tidak akan bertemu Arja. Airin memutuskan untuk menunggu di mobil.
Tidak lama. Airin melihat Arja sedang berbicara serius dengan seorang pria. Pria yang kemarin-kemarin Airin lihat dengan Arja. Biasanya mereka akan saling senyum, namun suasana kali ini berbeda.
"Terima kasih untuk semua bantuanya. Aku harus pulang menemui istriku," kata Arja pada pria itu.
"Ya. Hati-hati di jalan."
Airin hanya diam. Menunggu Arja membuka pintu, dan akhirnya Arja membuka pintu. Airin langsung memberikan senyuman untuknya.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Arja.
Ekspresinya benar-benar membuat Airin kecewa. Arja tidak terlihat senang melihat Airin yang berada di depannya. Airin meletakan tas ke samping dan membuang muka.
"Apa kau ingin membicarakan hal penting padaku. Sampai kau menemuiku kesini?" tanya Arja lagi.
"Lupakanlah. Aku akan pulang sendiri."
Tangan Airin sudah siap membuka pintu mobil. Namun Arja menahannya, dia menarik dan membalik tubuh Airin hingga saling berhadapan. Mata mereka bertemu.
"Apa kau marah?" tanya Arja dengan sebuah senyuman.
Airin hanya diam. Hati Airinmasih kesal dengan sikap Arja.
"Maaf. Aku sangat kaget kamu disini."
Cup. Sebuah kecupan mendarat di bibir Airin. Airin mendongakkan wajahnya. Kaget rasanya dengan perlakuan Arja.
"Ayo pulang. Jangan marah lagi."
Airin hanya mengangguk pelan dan membenarkan posisi duduknya. Perlahan Arja menjalanlan mobilnya menjauh dari area parkir.
"Kenapa kau berada di mobil dan tidak masuk ke kantor saja?" tanya Arja pada Airin.
"Aku tidak mau mengganggumu."
Airin mengangguk dengan pasti, "Aku mau tanya."
"Apa?"
"Siapa pria yang bersama denganmu tadi?"
Pertanyaan Airin berhasil membuat wajah Arja berubah. Dia terlihat takut dan mencoba menyembunyikan sesuatu dari Airin.
"Jika tidak mau mengatakan. Tidak apa," kata Airin kemudian.
Arja perlahan mendekatkan tanganya pada Airin. Kini tangan mereka bergandengan.
"Aku akan memperkenalkannya padamu."
"Baguslah."
Tidak terasa jika mereka sudah sampai di rumah. Seorang pelayan dengan sigap menghampiri Arja dan membawakan tasnya. Tangan Airin masih di genggam erat oleh Arja.
Sampai di kamar. Airin memilih untuk mengistirahatkan diri. Lelah, itu yang Airin rasakan hari ini. Setelah seharian penuh berjalan-jalan di luar rumah. Walau akhirnya Airin mendapatkan hasilnya juga.
***
Mata Airin masih terpejam. Namun, dia merasakan jika ada yang menyentuh wajahnya secara perlahan. Karena merasa terganggu, perlahan Airin membuka matanya juga.
Airin mendapati Arja di depannya, tanganya merapikan anak rambut dari pipi Airin. Cup, sebuah kecupan mendarat di kening Airin.
"Bangunlah. Aku akan menunggumu untuk makan malam," kata Arja dengan senyuman.
"Malas," kata Airin dengan suara khas orang bangun tidur.
"Ayolah. Ada hal sepesial untukmu."
"Apa?" tanya Airin penasaran. Mata Airin kini sudah terbuka selebar-lebarnya.
Arja menarik tangan Airin dengan perlahan, "Bangun dan bersiap. Aku akan menunggumu di taman belakang."
Melihat jam di dinding. Ini memang sudah waktunya makan malam. Airin sudah tertidur cukup lama ternyata.
Arja kembali menyuruh Airin untuk bangun dan pergi. Airin beranjak dari tempat tidur dengan sangat malas. Perlahan tangannya mengambil handuk.
Setelah selesai mandi. Airin sudah siap untuk makan malam dengan Arja. Langkah kakinya rasanya sangat berat. Entah kenapa. Sampai di pintu taman belakang, Airin merasakan ada yang aneh.
Banyak lilin dan hiasan lampu. Di ujung jalan, tepatnya di tengah taman ini ada sebuah meja dengan dua kursi. Arja berdiri dengan buket bunga mawar di tanganya.
Ingin rasanya berlari kearahnya. Tapi, Airin mengurungkan niatnya. Airin tidak mau jika terlihat sangat murahan. Airin melangkah dengan pasti hingga sampai di depan Arja.
"I love you," kata Arja dengan tangan menyodorkan buket bunga itu untuk Airin.
"I love you too.
Airin memeluk erat tubuh Arja. Bahagia rasanya menjadi istri yang dicintai.
"Terima kasih untuk malam ini."
Malam ini, mereka habiskan dengan penuh cinta. Makan malam yang sangat romantis yang belum pernah Airin bayangkan sebelumnya.
"Masih ada hadiah lain untuk kamu," kata Arja pada Arin.
Airin mendongakkan wajahnya.
"Lihat ini," Arja menyodorkan sebuah amplop untuknya.
Airin meraihnya dan membuka. Sebuah kalimat yang membuat aku terdiam seribu bahasa.
"Ya. Aku mau kita melakukan itu, bulan madu ke dua. Kali ini, bulan madu kita akan sangat indah," kata Arja.
Diam. Itu yang Airin lakukan, rasa takut dikhianati dan di bohongi membuat Airin diam. Dia takut, kejadian yang membuat luka itu terulang kembali.
"Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku janji padamu." Arja menggenggam erat tangan Airn. Dia menantikan jawaban dari Airin saat ini.
"Bagaimana?" tanya Arja pada Airin.
"Bisakah aku memikirkanya dulu?"
Arja terlihat kecewa dengan jawaban yang diberikan Airin. Namun, Airin juga tidak mau mengambil resiko lagi. Airin tidak mau, kejadian dulu terulang lagi. Airin takut semua ini hanya fatamorgana saja.
"Aku akan menunggumu sampai kamu siap."
Jawaban Arja membuat Airin lega. Dia tidak sepenuhnya kecewa. Mungkin dia mengerti tentang perasaan yang dirasakan istrinya itu.
***