My Love My Pain

My Love My Pain
Menjadi wanita jahat



Hari pertama kerja. Untung saja Airin datang sepuluh menit lebih awal. Jika tidak dia akan membuat Cika dalam kekacauan. Airin sudah menunggunya di depan meja resepsionis dengan celana hitam dan baju putih serta blazer hitam.


"Maaf, anda siapa ya?" tanya sang resepsionis cantik dari arah mejanya.


"Aku.."


"Kau sudah disini? bagus juga urusan waktumu," kata Cika begitu melihat Airin yang sedang duduk.


"Pagi, Bu," jawab Airin dengan senyuman.


"Ayo ikut aku."


Resepsionis tadi memandang Airin dengan penuh tanya. Mungkin dia sangat ingin tahu hubungan Airin dengan Cika.


Jika mengingat tadi pagi. Airin berfikir hari ini tidak akan sebaik ini. Pertengkarannya berlanjut dengan Arja. Dia menyalahkan Airin yang mengusir Sela dari rumah.


Andai Arja tahu perasaan apa yang di simpan Sela. Akankah Arja akan tetap di samping Airin atau dia akan memilih wanita yang lebih muda dan lebih cantik dari Airin.


Takjub, itu yang Airin rasakan saat baru masuk ke ruangan Cika. Sangat indah dengan tatanan yang mengesankan. Buku-buku tertata rapi dan banyak hiasan ruangan yang unik.


"Kamu bisa duduk dulu," kata Cika dengan senyumannya.


Airin hanya bisa menatap kagum dengan apa yang dilakukan Cika. Dia benar-benar wanita yang luar biasa. Dia mampu mengurus semuanya sendiri.


"Maaf kemarin aku tidak mengatakan tugas-tugasmu."


"Tidak apa. Kau bisa menjelaskannya kapanpun kau mau, Bu."


Cika tertawa mendengar apa yang Airin ucapkan. Dia mungkin merasa lucu dengan panggilan baru yang diberikan padanya.


"Dengar, jangan panggil aku ibu atau yang lainnya. Kau bisa memanggilku Cika, kita teman. Disini kita sama-sama diuntungkan."


"Baiklah jika itu yang kau mau," jawab Airin dengan senyuman.


Cika mulai menjelaskan tugas Airin. Intinya Airinhanya harus menemani kemanapun Cika pergi. Mulai dari pesta hingga acara resmi lainya. Dia juga harus menyiapkan kebutuhan Cika.


Dia tidak menginginkan Airin mengikuti gayanya. Cika hanya mau Airin menjadi dirinya sendiri dan Cika akan membantu Airin untuk hal lainnya.


"Tenang saja. Arja pasti tidak akan menoleh pada wanita lain," Cika menepuk pundak Airin dengan lembut.


"Semoga saja."


"Ingat. Aku akan menghubungimu jika ada hal penting, jika tidak, kau bisa bersantai sesukamu."


"Siap, Bos."


Mereka tertawa dengan leluasa. Sampai seorang wanita masuk dengan beberapa map di tanganya. Cika mengenalkan dia sebagai sekretaris kantor.


***


Airin baru tahu jika Cika memiliki sebuah perusahaan majalah dengan banyak model terkenal. Alasan inilah yang menjadikan kerjasama Arja dan Cika.


Seharian ini Airin terus berada di samping Cika dan membantunya beberapa hal. Mereka pindah dari gedung satu ke gedung dua berulang kali hanya untuk melihat kinerja karyawan disana.


Dengan langkah gontai Airin membuka pintu rumah. Arja sedang duduk dengan buku di tangannya. Begitu Airin masuk dia menatap dengan tatapan penuh tanya.


"Kau baru pulang?"


"Ya."


"Apa kau tidak menemui Sela untuk minta maaf?" tanya Arja lagi.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun menurutku."


"Kenapa kau seperti ini, Rin?"


Tidak ada jawaban dari Arja. Airin melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam kamar. Airin mengganti pakaian dengan bahan yang lebih ringan.


Sejak tadi pagi hanya Sela yang dibahas oleh Arja. Menjengkelkan, walau semua ini tidak sepenuhnya salah Arja. Tetap saja, kucing mana yang tidak suka diberikan ikan. Lagi pula, kenapa Sela malah menjadi terobsesi pada Arja.


"Apa kau berhubungan lagi dengan Vino?" tanya Arja saat Airin sudah berada di atas tempat tidur, bersiap istirahat sebentar.


"Bukan urusanmu."


"Jadi, dia kesini untuk mengajakmu kencan?" tanya Arja lagi dengan nada tinggi.


"Entahlah."


Airin ingat jika kemarin dia mengajak Vino keluar. Dia pasti kemarin menunggu Airin. Kenapa Airin tidak mengabarinya lagi kemarin, bodohnya Airin.


"Apa kau benar melakukan kesalahan ini?"


"Kau juga membuat kesalahan. Setidaknya kita impas sekarang," kata Airin dengan mata yang sejak tadi dia pejamkan.


Arja menarik Airin bangun dari tidur. Dia menatap wajah Airin dengan tatapan kesal dan marah. Entah apa yang dia rasakan kali ini.


"Kau...." Arja bersiap akan menampar Airin, namun sebuah ketukan dipintu membuat Arja mengurungkan niatnya.


Arja mendorong Airin kembali ke atas tempat tidur, "Buka pintu itu," perintah Arja tanpa menoleh pada Airin.


Airin membuka pintu dan mendapati kepala pelayan disana. Dia menunduk dan mengatakan, "Ada Nona Sela di bawah."


Airin tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan Sela. Dia masih berani datang kesini. Apa dia ingin menggoda Arja lagi. Kali ini Airin akan berikan dia pelajaran.


"Aku akan turun, kau bisa pergi."


Arja masih di posisi yang sama saat Airin menoleh padanya. Dia tidak tahu jika Sela sudah disini. Airin pun turun dan menemui Sela.


Sela duduk dengan tatapan kosong. Dia membawa tas kecil dan sebuah koper di sampingnya. Airin bisa menebak jika dia diusir oleh ibunya. Sungguh kasihan.


"Kenapa kau datang lagi kesini?" tanya Airin.


Sela menoleh dan terlihat sangat berharap pada Airin. Airin tahu, jika dia sangat jahat, tapi Airin tidak bisa begitu saja membiarkan Sela dekat dengan Arja.


"Kak, biarkan aku tinggal disini beberapa hari lagi. Aku janji, aku tidak akan mengatakan apapun pada Arja. Aku janji akan memendam rasa ini."


"Tidak. Kau tidak boleh disini. Kau harus pergi sekarang," kata Airin tanpa menoleh pada Sela.


Jika Airin melihat tatapan berharap itu. Hatinya pasti akan goyah dan membiarkan Sela ada disini lebih baik aku tidak menoleh padanya.


Bruk. Sela duduk tepat di depan Airin, dia memegang kaki Airin dengan sangat erat. Airin melepaskan pegangan itu dan berbalik.


"Kau bisa mencari Vino dan meminta bantuan padanya. Jangan pernah datang kesini lagi," kata Airin.


Sangat sakit sebenarnya melihat Sela seperti ini. Hanya saja, dia tidak ingin dia melakukan hal yang sama pada wanita lain.


Airin dan Arja berpapasan di tangga. Tanpa sadar Airin langsung melirik kearah ruang tamu. Sela sudah pergi, setidaknya Arja tidak akan tahu hal ini.


"Ada apa?" tanya Arja.


"Temanku yang datang. Aku masuk dulu," Airin langsung melewati Arja begitu saja.


Melihat ponsel Airin yang menyala dia langsung meminta bantuan Vino. Ya, semua ini Airin lakukan agar Sela tidak menjadi gelandangan. Setidaknya dia akan diurus Vino sementara waktu.


Dalam hati Airin sudah tidak ada lagi rasa ingin berbaikan pada Arja. Dia hanya ingin menjalani semua ini seperti air mengalir. Jika dia dan Arja ditakdirkan bersatu. Pasti ada jalan yang akan menuntun.


Airin tidak bisa berharap lebih pada Arja. Dia pernah berselingkuh dan menghianati Airin. Akan sulit membuat dia menjadi pria yang setia. Setidaknya Airin akan mencoba, apapun hasilnya Airin akan menerima.


***