My Love My Pain

My Love My Pain
Berani



Crang. Airin menoleh kearah jendela yang sudah pecah kacanya. Sebuah batu masuk dan membuat kaca itu berhamburan. Untung saja Airin tidak terkena kepingan kaca itu.


Tanpa rasa takut, Airin mendekat kearah jendela dan buk. Hampir saja Airin terkena lemparan yang kedua. Airin melihat kearah luar. Seorang wanita berlari menjauh dari rumah Airin.


"Siapa dia?"


Brak. Vino dan Ais masuk ke ruangan Airin. Dengan cepat, Vino mendekat dan langsung memeluk Airin. Merasa tidak enak dengan Ais, Airin mendorong Vino menjauh.


"Kau tidak apa?" tanya Vino sembari memutar tubuh Airin.


"Aku tidak apa."


"Apa kau tahu siapa yang membuat ulah?" tanya Vino pada Airin.


Airin menggeleng. Dia memang tidak tahu, dia hanya melihat wanita berlari tadi. Hanya saja, Airin tidak menyimpulkan jika wanita itu pelakunya.


Vino menoleh pada Ais yang sedang melihat keluar jendela. Setelah itu kembali menatap pada Airin.


"Sudah aku bilang, diluar sana sangat mengerikan."


"Ayolah, Vin. Aku di rumah atau tidak. Hasilnya sama saja. Ada orang yang mengincarku."


Vino memegang ke dua pundak Airin, "Apa kamu tahu sesuatu?"


Airin tidak paham dengan maksud dari pertanyaan Vino.


"Tuan. Aku melihat, tuan Arja di bawah."


"Arja?" tanya Vino tidak percaya.


Ais mengangguk.


"Kamu bersihkan semua kaca ini," kata Vino pada Ais. Sementara Airin di tarik paksa oleh Vino untuk ikut turun.


Benar apa yang dikatakan Ais. Arja datang ke rumah mereka. Tidak ada pengawal atau sekretarisnya. Hanya ada Arja saja.


Vino sudah akan berteriak, tapi Airin menahannya. Dia meminta agar Vino mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arja. Siapa tahu, mereka bisa menemukan titik terang dalam hal ini.


"Selamat datang, Arja."


"Aku kira kalian tidak akan menyambutku," kata Arja dengan senyuman hangat.


Vino mendekat dengan Airin, "Ada maksud apa kau kesini?" tanya Vino langsung.


Airin tersenyum, "Silahkan duduk dulu."


Arja duduk, begitupun dengan Airin dan Vino. Dengan isyarat tangan, Airin meminta pelayan membawakan minuman untuk Arja dan Vino. Setidaknya obrolan mereka tidak akan membosankan nantinya.


"Ada apa kau kesini?" tanya Vino lagi.


"Aku ingin bertemu dengan istrimu."


Vino langsung berdiri dan bertanya, "Apa maksudmu, Arja?"


"Maaf. Aku hanya ingin menanyakan surat yang diberikan Sela. Apa Airin masih menyimpannya?"


Airin jelas merasakan jika ada yang salah. Vino kembali duduk, kini Airin yang kembali ke ruang baca untuk mengambil surat itu.


"Kenapa kau menginginkannya?" tanya Airin saat kembali dari ruang baca.


Arja mencoba menutupi masalah yang terjadi.


"Apa terjadi sesuatu dengan Sela?"


Arja mengangguk.


"Ada apa?" tanya Airin dengan penuh kekhawatiran.


Vino merasa tidak senang dengan apa yang dilakukan Airin. Ya, Airin duduk di samping Arja dengan dekat.


"Dia hilang kontak setelah kau memberikan surat balasan. Aku sangat khawatir padanya," kata Arja.


Vino tertawa dengan keras. Airin dan Arja kompak menoleh padanya.


"Mungkin dia sudah bosan dengan kamu. Dia ingin bersama pria lain," ujar Vino.


Arja merasa sangat marah dengan apa yang dikatakan Vino. Hampir saja mereka baku hantam di rumah itu. Walau akhirnya mereka kembali duduk.


Sementara Arja keluar dengan surat yang diberikan oleh Airin. Airin masih mencoba menenangkan Vino yang terbakar api cemburu.


"Vin, aku mohon jangan seperti itu," kata Airin.


"Tapi dia mencoba mencari simpatimu, Rin."


"Dia tidak mencari simpatiku. Dia menghawatirkan anak di dalam kandungan Sela. Sela sedang hamil saat ini."


Vino membuang muka, "Lalu apa hubungannya denganmu?"


"Sela tahu siapa yang ingin mencelakaiku."


Kaget. Vino merasa sangat kaget dengan apa yang dikatakan Airin. Selama ini, Airin tidak mengatakan tentang hal itu.


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"


"Karena jika aku mengatakannya padamu. Kau pasti akan mendekat pada Sela dan memaksanya mengakui segalanya. Aku tidak mau hal itu. Sela sudah mencoba pergi jauh dariku hanya karena janin di dalam rahimnya. Kini, dia mungkin kembali di targetkan agar aku mencarinya."


"Baiklah. Aku sudah tahu apa maksudmu. Sekarang, aku minta kau ikuti perkataanku. Aku akan mencari tahu hal ini."


"Tapi,..."


***


Airin tidak tahu bagaimana keadaan Sela. Jika Arja saja sampai kehilangan kontak dengannya. Sudah pasti ada masalah, entah Sela yang ingin pergi dari Arja. Atau memang ada orang yang membuat Sela bungkam.


Langkah Airin terhenti di sebuah pemakaman. Ya, dia datang ke tempat pemakan pamannya. Dia berharap akan menemukan jejak Sela disana. Walaupun hasilnya nihil.


Beberapa pesan masuk ke dalam ponsel Airin. Ais dan Vino mengiriminya pesan. Mereka memang sedang mencari Airin saat ini. Airin pergi dari rumah tanpa ada yang tahu.


"Maaf," lirih Airin yang kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.


Dia duduk di samping makam pamannya. Setelah selesai berdo'a, Airin kembali berjalan. Dia memikirkan tempat yang mana yang bisa didatangi oleh Sela.


Bruk. Airin hampir saja terjatuh karena tersandung oleh batu. Saat itu juga, dia ingat dengan tantenya. Walaupun tantenya tidak suka dengan sifat Sela. Sudah pasti dia akan menerima Sela jika Sela sedang butuh bantuannya.


Tanpa pikir panjang. Airin menghentikan sebuah taxsi. Dia mencoba mengingat dimana tantenya tinggal. Berharap jika Sela ada disana.


"Tolong ke jalan meida," kata Airin.


"Baik, Bu."


Sejak tadi ponselnya terus berbunyi. Karena merasa malu, akhirnya Airin mengangkat telfon dari Vino.


"Hallo, ada apa?" tanya Airin.


"Dimana kau? kenapa kau pergi tanpa ijinku?"


"Maaf, aku ingin mencari Sela. Aku janji, sebelum makan malam aku akan pulang."


Vino berdecak, "Dimana kau? aku akan menjemputmu."


"Kau tidak perlu..."


"Katakan dimana?" kali ini nada suara Vino sedikit keras.


Akhirnya Airin menyerah. Dia mengatakan jika dia akan pergi ke rumah tante. Vino hanya perlu menjemputnya setelah Airin menyelesaikan tugasnya.


"Baiklah. Jaga dirimu," kata Vino.


Setelah itu Airin mematikan ponselnya. Dia kembali fokus pada apa yang menjadi tujuannya saat ini. Jika Airin terus menghindar dari masalah. Airin tidak akan pernah bisa menyelesaikannya.


***


Tok tok tok.


Beberapa kali Airin mengetuk pintu berwarna biru itu. Hasilnya masih sama saja, tidak ada yang membuka pintu itu. Kembali Airin mengetuk pintu itu.


"Kau? kenapa kau disini?" tanya tante begitu melihat Airin yang berada diambang pintu.


Airin menyunggingkan senyum dan akan berjalan masuk.


"Kau tidak perlu kesini lagi. Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Sela. Kau bisa mencarinya ke tempat lain."


Kali ini Airin merasa sudah mendapat titik terang.


"Kenapa tante mengira aku mencari Sela. Aku kesini ingin melihat keadaan tante."


Tante terlihat gelagapan dengan apa yang baru saja dia katakan. Lalu, dia mengijinkan Airin masuk ke rumah itu. Airin melihat kesekeliling rumah. Lalu, tatapanya tertambat pada satu set pakaian bayi.


"Kenapa tante menyembunyikan Sela?" tanya Airin.


"Sudah aku bilang aku tidak ada hubungan lagi dengannya."


"Benarkah? lalu kenapa tante langsung mengatakan tentang Sela begitu aku datang. Aku tahu, tante tidak ingin Sela terluka."


Tante hanya bisa duduk dengan gelisah di depan Airin.


"Tante. Aku mohon sama tante, katakan dimana Sela. Jika dia mengatakan nama itu sekali saja, masalah ini akan selesai. Sela juga bisa bersama dengan Arja."


"Tidak. Aku tidak ingin dia dan anaknya terbunuh."


"Tante..."


"Kau bisa pergi sekarang. Aku banyak urusan."


Tante langsung menarik tangan Airin dan mendorongnya keluar. Airin mencoba mengatakan sesuatu. Hanya saja, tante memilih untuk menutup rapat pintu rumahnya.


Vino melihat wajah kecewa pada Airin. Dengan senyuman, Vino mengambil tas yang berada di tangan Airin.


"Bukankah tidak mudah?"


"Aku tahu," ucap Airin.


"Tersenyumlah. Aku akan membantumu, Arja juga sudah bersedia membantumu."


Airin menoleh dengan tatapan tidak percaya.


"Ya. Aku baru saja menemui Arja. Dia setuju membantu kita."


Tanpa sadar Airin langsung menggandeng tangan Vino karena mendapat kabar baik itu. Hatinya merasa lebih tenang.


"Kita mau kemana?" tanya Airin.


"Ketempat yang kau sukai."


***