My Love My Pain

My Love My Pain
Surat Sela



Airin terbangun karena sinar mentari masuk ke dalam kamarnya. Vino sudah berdiri dengan kemeja berwarna biru di hadapan Airin. Senyumnya mengembang.


Dengan malas Airin bangun dari tidurnya. Dia mendekat pada Vino dan memeluknya.


"Kenapa kau membangunkan aku?" tanya Airin dengan suara khas bangun tidur.


Vino menepuk pelan punggung Airin, "Apa semalam kau tidur terlambat?"


"Ya, aku menonton sebuah film."


"Ok, sekarang kamu harus bangun. Kita akan sarapan dan berangkat ke kantor."


Airin melepaskan pelukannya. Kemarin Vino mengatakan jika mereka akan pindah ke rumah yang baru. Kenapa malah sekarang Vino mengajaknya ke kantor.


"Jangan lama-lama. Aku menunggu di bawah," kata Vino sembari keluar dari kamar Airin.


Dengan senyuman, Airin mengambil handuk dan bergegas mandi. Setelah beberapa hari kemarin mereka tidak bisa tidur lelap. Kini, Airin bisa merasakannya lagi.


Guyuran air yang segar membuat Airin merasa kembali hidup. Dia merasakan harinya kali ini akan tenang seperti dulu. Tidak akan ada masalah yang membuatnya harus kembali terpuruk dalam luka.


Vino sudah menunggu kedatangan Airin. Dia sendiri yang memasak untuk sarapan. Dengan harapan Airin akan makan dengan lahap.


Tuk tuk tuk. Suara langkah kaki membuat Vino menoleh. Airin turun dengan tas kecil di tangannya. Dress biru tua membuatnya semakin menawan. Apa lagi dengan rambut tergerai.


Vino bahkan sampai tidak berkedip. Kali ini, dia kembali melihat Airin yang selama ini dia tunggu. Airin, cinta masa kecilnya dulu.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Airin sembari mengambil gelas jus ditangan Vino.


"Ka...kau sangat cantik hari ini," ucap Vino.


Airin mengeeucutkan bibirnya, "Apa selama ini aku tidak cantik?"


"Bukan begitu. Hanya saja, kau terlihat seperti Airinku yang dulu."


"Aku akan tetap menjadi Airinmu. Sampai kapanpun," kata Airin.


Vino tersenyum. Dia kembali mengambil gelas di tangan Airin dan meletakannya di meja. Dengan sekali tarik, Airin masuk ke dalam pelukan Vino.


Mereka sangat dekat, bahkan membuat mereka saling mendengar degupan jantung masing-masing. Perlahan bibir mereka menyatu. Mereka melepaskan rasa yang selama ini hilang.


***


Sampai di kantor. Airin terkejut dengan adanya Arja disana. Dia berdiri dengan tangan terbuka pada Airin. Airin menoleh pada Vino, terlihat sekali jika Vino tidak senang akan hal ini.


"Jangan berbuat aneh. Aku akan bicara dengannya," kata Airin.


"Tapi..."


"Aku tahu kau cemas. Aku sudah janji, aku akan memilih dirimu."


Akhirnya Vino memperbolehkan Airin pergi menemui Arja. Airin mendekat dan mengulas senyum tipis pada Arja.


"Ada apa?" tanya Airin.


"Aku hanya ingin menemuimu."


"Untuk apa?"


Arja tersenyum kecil, "Apa kau sudah membaca surat dari Sela?"


Airin bahkan tidak ingat dimana dia meletakan surat dari Sela itu. Dia akhirnya memberikan senyuman pada Arja.


"Maaf, aku belum membacanya. Ada apa memangnya?"


"Ti..tidak. Aku akan pergi sekarang, setelah kau membacanya kau bisa memberi pesan padaku," kata Arja dan langsung pergi begitu saja.


Airin hanya bisa menatap kepergian Arja. Setelah itu dia kembali sadar akan posisinya kali ini. Vino pasti sudah menunggunya di atas.


Lola datang dan menepuk pundak Airin dengan cukup keras. Membuat Airin langsung menoleh pada Lola.


"Kenapa kau disini?" tanya Lola.


"Tidak ada. Ayo kita ke atas," ajak Airin.


Mereka masuk dan menaiki lift agar cepat sampai di ruangan Vino. Airin masih mencoba mengingat dimana dia meletakan surat itu. Mungkin, Sela mengatakan sesuatu disana.


Semua kejutan Vino kemarin membuat Airin melupakan segalanya. Sampai di ruangan Vino, Airin langsung ke mejanya dan tidak menyapa Vino. Airin membuka laci dan berbagai berkas dimejanya.


"Apa yang kau cari?"


"Aku mencari surat dari Sela," jawab Airin tanpa menoleh pada Vino.


Vino kembali ke mejanya. Dia mengambil sebuah surat dari mejanya dan kembali pada Airin.


"Apa kau mencari ini?" Vino menunjukan surat itu pada Airin.


Airin mendongakkan kepalanya. Lalu, dia langsung mengambil surat itu dari tangan Vino. Dengan tatapan penuh tanya, Airin mendekat pada Vino.


"Kenapa surat ini berada di tempatmu?"


"Bukankah kau sendiri yang meminta aku membawanya," bela Vino.


"Benarkah? aku tidak ingat."


"Sudahlah. Kau bisa membaca surat itu sekarang."


Airin tersenyum dan langsung mengecup pipi kiri Vino. Membuat pipi Vino memerah. Setelah melakukan hal yang tidak terduga itu. Airin duduk di kursinya dan mulai membuka surat itu.


*Hai Airin,


Aku tahu kau masih memiliki banyak pertanyaan untukku. Apa lagi, aku belum selesai mengatakan semuanya saat kita ada di mall.


Maaf, aku sungguh minta maaf. Aku mohon padamu untuk jangan bertanya tentang hal itu. Aku harap kau mengerti, semua ini bukan hanya tentan aku dan kau. aku juga memiliki kehidupan di dalam rahimku.


Saat ini, aku sengaja menjauh dari dunia luar. Aku ingin hidup bahagia dengan apa yang aku miliki. Tanpa harus merebut dari siapapun.


Beribu maaf tidak bisa kuucapkan. Saat ini, aku dan Arja tidak memiliki ikatakan apapun selain dengan anak yang kukandung.


Hiduplah dengan bahagia. Pilihlah apa yang membuat kamu merasa nyaman dan dilindungi. Aku disini berharap kau memaafkan semua kesalahanku di masa lalu.


Kita akan bertemu suatu saat nanti. Saat kita tua dan sama-sama bahagia. Jadilah Airin yang dulu, tapi jangan suka ditindas.


Maaf tidak bisa berpamitan. Aku hanya ingin mengatakan, pilihlah apa yang hatimu pilih. Jangan lupakan aku.


Sela*.


Airin diam. Ternyata apa yang diharapkanya tidak tertulis disana. Walau begitu, Airin merasa tenang dengan apa yang Sela pilih. Setidaknya, Sela tidak akan menjadi sasaran lagi dari pengincar Airin.


Rasa khawatir kembali muncul. Orang yang ingin membunuhnya belum jelas. Airin harus berhati-hati dalam setiap tindakannya. Masih ada orang yang akan berbuat jahat diluar sana.


"Airin," panggil Vino.


"Ya."


Vino mendekat, "Aku ada meeting di luar. Mungkin tidak akan kembali lagi. Nanti biar Ais yang datang dan mengantarkan kamu ke rumah baru."


"Kau akan pergi sekarang?" tanya Airin.


"Ya. Ada apa? apa kau tidak ingin aku pergi?"


"Bukan begitu. Aku hanya merasa tidak tenang. Kau bisa pergi sekarang."


Vino tersenyum. Setelah mengelus kepala Airin dengan lembut. Vino mengecup kening Airin. Lalu dia pergi, kini Airin akan berada di ruangan itu sampai waktunya pulang.


Sebelum itu, dia menyimpan surat yang diberikan Sela kedalam laci mejanya. Dia tidak ingin membuangnya. Airin senang dengan perubahan Sela.


Aku sudah membaca surat itu.


Itulah pesan yang Airin kirim untuk Arja. Lima menit kemudian.


Ya. Apa kau sudah membuat pilihan dalam hidupmu?


Airin hanya membaca pesan itu. Lalu Arja mengirim sebuah pesan lagi.


Apa kau akan memilih dengan Vino?


Karena tidak ingin memberikan harapan palsu. Airin membalas pesan itu.


Ya, aku memilih dengan Vino. Selama ini, dia yang selalu membuat aku bahagia.


Setelah mengirim pesan itu. Airin kembali ke dunianya. Dia mulai melihat beberapa berkas yang harus ditanda tangani Vino nanti. Bahkan, Arja juga tidak membalas pesan itu. Mungkin, dia menyadari apa yang sudah dia lakukan sebelumnya.


***