My Love My Pain

My Love My Pain
Saran Vino



Kali ini Airin di bawa oleh Arja bertemu dengan teman-temannya. Alasan Arja membawanya karena Maya sedang tidak sehat. Akhirnya Airin mau tidak mau mengikuti apa yang dikatakan oleh Arja.


"Kenapa muka kamu terlihat tidak senang?" tanya Arja.


"Tidak apa. Aku hanya merasa khawatir jika akan membuat kamu malu di sana."


Arja memberikan senyumannya, "Kamu tenang saja. Aku akan selalu di samping kamu."


"Terima kasih."


Sebenarnya Airin masih memikirkan apa yang dilakukan oleh Maya. Bagaimanapun, semua itu bukanlah kesepakatakan. Itu adalah keuntungan pribadi untuk Maya. Walaupun begitu, Airin tetap saja diam di hadapan Arja.


"Sudah sampai. Ayo kita turun."


Arja membukakan pintu mobil untuk Airin. Dia bahkan menggenggam tangan Airin dengan sangat erat.


"Bintangnya sudah datang. Arja sudah datang," kata seseorang begitu Airin dan Arja masuk.


"Terima kasih sudah menyambut aku dan istriku."


"Ini hanya pertemuan biasa. Kenapa kalian harus heboh seperti ini." Vino mengatakan kata itu dengan tatapan tajam pada Arja.


Arja tidak menjawab. Dia malah menarik kursi untuk Airin duduk. Banyak mata yang melihat iri pada perlakuan Arja untuk istrinya. Jelas saja, Arja bukanlah pria biasa. Akan banyak wanita yang mengantri untuknya. Seperti Maya.


"Silahkan di minum," kata teman Arja yang menyodorkan minuman beralkohol untuk Airin.


Aku menolak dengan halus, "Maaf. Saya tidak bisa minum."


"Ternyata istri Arja sangat polos," teriaknya pada yang lain.


Semua yang ada di sana langsung tertawa. Airin hanya diam sembari menunduk. Airin tahu, Arja akan sangat marah. Dia merasa dipermalukan karena diri penolakan yang dilakukan oleh Airin.


Brak. Semua diam dan langsung menatap kearah Vino. Dia mendekat dan mengambil gelas minuman tadi.


"Aku yang akan minum untuk istri Arja. Airin."


Gluk gluk gluk. Air itu habis di minum oleh Vino. Arja yang merasa di permalukan langsung mengambil botol minuman dan meminumnya langsung.


"Arja. Apa yang kamu lakukan?" Airin berdiri dan memegang tangan Arja mencoba mencegah apa yang dilakukan oleh Arja. Namun bukanya berhenti Arja malah meminumnya sampai habis.


"Apa di sini sedang ada perlombaan?" Maya masuk dengan pakaian seksinya.


Jelas saja jika semua mata pria langsung tertuju padanya. Jika dipikir lagi, seharusnya memang Maya yang diajak keacara seperti ini. Bukan Airin.


"Sayang. Kenapa kau minum sangat banyak?" Maya langsung duduk di pangkuan Arja.


Sabar memang ada batasnya. Namun, kali ini Airin tidak bisa melakukan apapun. Pedih, Airin merasa sangat terluka dan tidak bisa melihat hal itu. Dia memilih keluar dari acara menjijikan itu.


Tidak salah memang. Maya juga istri Arja. Dia bebas melakukan apa saja. Hanya saja, mereka tidak seharusnya melakukan hal itu di depan umum. Apa lagi di depan orang yang memiliki hak yang sama.


"Kenapa kamu lari?"


Airin menoleh dan melihat Vino sudah disana. Dengan perlahan, Airin menggeser duduknya. Tentunya agar Vino juga bisa duduk disana.


"Kamu tahu, aku tidak sebanding dengan Maya. Dia populer, sedangkan aku, aku hanyalah wanita biasa."


Vino menyodorkan minuman dingin untuk Airin. Setidaknya bisa menenangkan walau hanya sesaat.


"Terima kasih."


"Airin. Kenapa kamu mengalah jika kamu memang menyayanginya."


Airin menggeleng, dia juga menghela nafas panjang "Sudah aku bilang. Aku tidak sebanding dengan Maya."


"Aku memang mencintaimu, tapi aku juga tidak bisa memaksamu. Aku hanya bisa mengatakan, jadilah diri kamu sendiri. Rebut Arja dengan hatimu."


Mendengar apa yang dikatakan Vino membuat Airin tertawa. Mana ada orang yang merelakan cintanya begitu saja. Dia juga mendukung apa yang dilakukan Airin.


"Bagaiman bisa aku merebutnya. Semua itu tidak semudah membalik telapak tangan."


"Aku tahu. Tapi Arja suami kamu, kamu bisa melakukan apapun padanya."


"Saranmu terdengar mengerikan."


Vino tertawa.


Memikirkan apa yang dikatakan Vino. Memang ada benarnya juga. Airin istri Arja, dia bisa melukan apapun. Dia harus menjadi istri yang sesungguhnya untuk seorang suami. Bukan malah mengalah untuk wanita lain.


"Aku akan pergi dulu. Terima kasih saranya."


"Airin."


"Ya."


"Jika kamu lelah. Aku ada di sini," kata Vino.


Airin mengangguk pelan.


***


Kembali Airin masuk ke ruangan itu. Arja duduk di temani Maya. Banyak pria yang masih menggoda Maya walau ada Arja di sana.


"Airin. Kamu kembali?" tanya Arja.


Dengan tenang Airin langsung duduk di sebelah kanannya.


"Maaf. Tadi aku sedikit kesal," ujar Airin pada suaminya itu.


Arja tersenyum. Dia menyodorkan minuman untuk Airin.


"Ini bukan alkohol tenang saja."


Airin menerimannya dengan senang hati. Saat Airin akan meminumnya, Maya mendekat dan dengan paksa mengambil minuman itu.


"Kamu tidak pantas meminum minuman ini."


Dengan keberanian yang sudah dia dapat. Airin berdiri dan langsung merebut kembali minuman itu.


"Jika aku tidak pantas meminum minuman ini. Maka kamu juga tidak pantas."


Byur. Airin menyiram air itu pada Maya.


"Apa yang kamu lakukan pada bajuku?"


"Apa yang kamu lakukan pada Maya?" kali ini suara Arja cukup keras.


"Maaf, sepertinya tanganku licin. Lebih baik kamu ganti baju, kasihan suami kamu. Jika tubuh kamu bisa dinikmati siapapun."


"Apa yang kamu maksud?"


Hampir saja Maya menampar wajah Airin. Namun Vino mencegahnya. Vino tidak ingin jika Airin terluka karena saranya.


"Jangan sentuh Airin." Vino langsung menghempaskan tangan Maya dengan keras.


Airin mendekat pada Arja.


"Benar apa yang dikatakan Airin. Tidak seharusnya kamu memakai baju seminim ini."


Arja langsung menarik tangan Airin. Vino tersenyum tipis melihat usaha Airin yang cukup membuahkan hasil. Saran Vino memang cukup berguna untuk Airin.


"Kenapa kamu sampai menyiram Maya?"


Airin hanya bisa menunduk dan diam begitu Arja berhenti dan menanyakan hal itu.


"Kenapa diam? apa kamu tidak malu melakukan hal itu?"


"Aku tidak malu. Aku mencoba agar kamu tidak dipermalukan. Tanpa sadar, Maya sudah membuat kamu malu. Dia menggunakan pakaian yang tidak pantas."


Plak. "Mau dia memakai apapun tidak ada urusanya dengan kamu. Kamu hanya cukup membuat aku bahagia. Tanpa mengurusi hal yang lain."


Airin memagang pipi yang baru saja di tampar Arja. Bahkan ada bekas merah disana.


"Jadi, aku ini hanya boneka buat kamu. Bahkan kamu tidak pernah memperhatikan aku, perasaanku. Kamu hanya menyakiti aku."


"Maksud kamu apa?"


"Percuma saja aku mencintaimu. Hasilnya tetap sama, aku adalah boneka bagimu. Rasa cinta dan cemburuku juga tidak ada harganya di matamu."


"Airin." Arja perlahan mendekat pada Airin.


Merasa dirinya tidak dibutuhkan oleh Arja. Airin memilih menjauh dari Arja. Dia juga menghentikan sebuah taxsi sebelum Arja bisa mengejarnya.


"Kau selalu menyakitinya, tapi dengan bodohnya dia masih mencintaimu."


Arja semakin merasa kesal dengan apa yang dikatakan Vino. Setelah mengatakan hal yang menjengkelkan itu. Vino masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas.


***