
Airin masih saja menolak Arja. Dia merasa apa yang dilakukan Arja sudah salah besar. Arja tega menampar dirinya hanya untuk membela Maya. Arja tidak pernah memikirkan perasaan Airin.
Airin sudah selesai mengerjakan tugasnya. Lalu, dia keluar dari ruangan Vino. Seorang OB dari lantai satu sedang menunggu di meja Airin. Airin mendekat dan meletakan tablet yang dia bawa.
"Permisi. Ada apa ya?" tanya Airin langsung. Dia terlihat gelisah.
"Apa anda Ibu Airin?" tanya OB itu dengan hati-hati.
Airin menganggukan kepalanya.
"Ada yang mencari Ibu di bawah."
"Siapa?"
"Saya tidak tahu."
Airin mengambil ponselnya. Tidak ada pesan dan telfon dari siapapun. Lalu siapa yang datang menemuinya. Bahkan sampai ke kantor segala.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu."
"Ya."
Merasa tidak kenal dan tidak ingin bertemu siapapun. Airin memilih untuk duduk dan mulai melanjutkan pekerjaanya. Baru beberapa kalimat yang Airin ketik. Seseorang datang dan langsung menggebrak mejaku dengan keras.
"Kenapa kau tidak menemuiku?”
Airin menoleh, "Untuk apa aku menemuimu?"
Dia menarik tangan Airin dengan keras, "Aku suamimu. Seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
Airin melepaskan cekalan tangan Arja di pergelangan tangannya.
"Apa aku ini istrimu? bukan hanya aku yang harus sadar tentang kewajibanku. Kamu juga."
Arja berdecak. "Aku kurang apa? apa kamu masih marah dengan kejadian malam itu?"
Airin memilih diam dan membuang muka. Lalu, Vino keluar dari ruangannya.
"Ada apa ini?" tanya Vino.
"Maaf, Pak. Saya sudah membuat keributan, mari saya antar ke ruang meeting."
Arja menahan tangan Airin sebelum Airin mendekat pada Vino, "Kenapa kamu melakukan ini?"
"Maaf. Ini pekerjaanku, kewajibanku." Airin sengaja menekan kalimat kewajiban di ucapannya.
Arja terlihat ingin mengatakan sesuatu. Namun, Vino mendekat dan membisikan sesuatu padanya.
"Aku tunggu kamu di rumah."
Setelah mengatakan hal itu. Arja pergi meninggalkan Airin dan Vino. Airin baru menyadari jika disana banyak pasang mata yang menatap kearahnya. Baru kali ini, Airin merasa sangat malu.
"Kenapa suami kamu sampai ke sini. Tidak biasanya dia seperti itu," kata Vino.
"Ini urusan rumah tangga saya, Pak. Maaf sudah mengganggu ketenangan kantor ini."
Vino tidak menjawab. Dia melangkahkan kakinya untuk pergi. Dengan cepat Airin langsung mengimbangi langkah kaki itu. Lagi-lagi Airin harus bisa memilah antara pekerjaan kantor dan urusan pribadinya.
***
Roti lapis yang berada di tangan Airin masih utuh. Sejak tadi Airin hanya melamun dan tidak memakannya sama sekali.
Karena Arja datang, banyak yang mengira jika Airin menjadi sekertaris Vino karena hal ini. Mungkin apa yang mereka pikirkan benar, tapi Airin merasa jika dia punya bakat sendiri. Tidak seperti yang orang lain pikirkan.
"Di makan rotinya. Malah ngelamun," kata Sela yang tiba-tiba saja menepuk pundak Airin.
Airin hanya menyunggingkan senyum pada Sela, "Kamu. Mau makan apa? biar aku yang bayar," tawar Airin.
"Aku sudah makan tadi pagi. Siang ini aku hanya ingin minum."
"Diet?"
"Mungkin." Sela tertawa, "Ngomong ngomong kenapa tadi Arja ke sini?"
"Ada hal penting denganku."
Sela mengangguk-angguk. Dia meminum minuman yang dia bawa. Matanya menerawang jauh.
"Oh ya. Kemarin aku lihat Maya. Tapi sama pria lain bukan Arja."
"Temannya kali." Airin mencoba tidak menggubris perkataan Sela.
"Aku serius. Mesra banget loh."
Airin meletakan roti lapis itu ke piring dan menyodorkannya pada Sela.
"Makan ini. Jangan kebanyakan gosip."
"Kamu mau kemana?"
"Mau menyiapkan ruang meeting," kata Airin sambil berlalu.
Setelah selesai menyiapkan ruang meeting. Airin langsung menemui Vino di ruangannya. Sebentar lagi dia harus sudah masuk ke ruang meeting.
Tok tok tok.
Airin masuk. Airin mengira Vino hanya sendirian. Ternyata ada tamu, Mama Vino.
"Airin." Panggil Mama Vino.
"Siang, tante." Airin tersenyum canggung dan mendekat pada mama Vino.
"Jadi kamu sekertaris Vino. Pantesan Vino nggak mau pindah ke kantor lain."
Airin hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Mama Vino.
"Tante apa kabar? sudah lama tidak bertemu."
"Tante baik-baik saja. Kamu bagaimana? sudah punya pacar belum?"
"Saya sudah menikah, tante."
Mama Vino terlihat kaget dengan jawaban yang Airin berikan. Airin tersenyum aneh karena ekspresi Mama Vino. Dia mungkin tidak menyangka jika seorang Airin sudah menikah. Akan lebih kaget lagi jika mama Vino tahu kalau Airin juga memiliki seorang madu di rumahnya.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Vino memecah keheningan.
"Pak. Anda lima menit lagi harus ke ruangan meeting," kata Airin setelah melihat jam tangan.
"Baiklah. Kamu bisa kembali kerja."
"Baik, Pak. Permisi." Airin menganggukan kepalaku pada Vino dan Mama Vino dan keluar dari ruangan itu.
Tidak ada hal penting. Dulu Airin dan Mama Vino memanglah sangat dekat. Sampai Papa Vino meninggal dan mereka memilih pindah dari kota ini. Sudah hampir enam tahun kami berpisah dan pertemuan ini sangat mengagetkan. Pertemuan yang tidak pernah diduga.
Tuk tuk. Airin tersadar dari lamunanya karena sebuah ketukan di meja.
"Tante pulang dulu. Lain kali kita bertemu dan ngobrol," kata Mama Vino.
"Baik, tante. Hati-hati di jalan."
Mama Vino mengangguk kemudian berlalu. Mungkin, jika Airin dan Vino ditakdirkan bersama. Mereka tidak akan berada di kota ini sekarang. Namun, takdir berkata lain.
***
Maya terlihat sangat marah padak Airin. Entah karena apa. Dia bahkan datang dan langsung menampar Airin tadi.
"Duduk dulu, May."
"Tidak perlu."
Airin tersenyum, "Kenapa kamu marah-marah di sini? apa kita punya masalah?"
Mata Maya melotot dan terlihat merah, "Kamu bertanya padaku. Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau mengatakan pada Arja jika aku merokok dan minum-minum."
"Aku tidak mengatakannya," bela Airin untuk dirinya sendiri.
"Kamu kira aku bodoh. Hanya kamu yang tahu aku melakukannya."
"Apa ini trikmu lagi?”
"Jaga bicaramu," Maya mengangkat tangannya dan akan kembali memukul Airin.
Reflek Airin memejamkan mata. Takut kembali di tampar dengan keras. Airin membela diri karena memang bukan Airin yang memberi tahu semua itu pada Arja.
"Oh, sakit sekali ini. Kenapa kamu mendorongku?"
Airin membuka mata karena mendengar Maya mengatakan hal aneh. Dia terduduk dengan tangan di perutnya. Dia juga mengaduh kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa? apa yang terjadi?"
Maya bersandar pada Arja yang entah sejak kapan ada di sana.
"Airin mendorongku. Dia iri dengan kehamilan ini."
Airin kaget bukan main. Kenapa bisa dia mengatakan hal aneh semacam ini. Arja menatap Airin dengan penuh pertanyaan.
"Aku tidak melakukannya. Mana mungkin..."
"Diam. Jika kamu memang tidak suka dengan Maya. Seharusnya kamu mengatakan padaku, aku tidak akan pernah membawanya ke sini lagi."
"Arja. Aku benar-benar tidak melakukannya. Percayalah padaku."
Tidak ada tanggapan. Dengan sigap Arja menggendong Maya dan memasukannya ke dalam mobil. Maya masih sempat mengejek Airin dengan tatapan matanya.
Airin hanya mampu menghela nafas. Arja kembali pada Airin setelah membawa Maya ke mobil. Arja membisikan sesuatu pada Airin.
"Jika terjadi apa-apa pada bayi Maya. Aku tidak akan pernah mengampuni kamu."
Airin terdiam seribu bahasa. Bagaimana bisa Maya melakukan sandiwara ini. Apa dia memang ingin membuat Arja benci pada Airin dan ingin merebut Arja sepenuhnya. Jika iya, kenapa dia masih melakukan ini. Dia sudah menjadi istri suami Airin.
"Bu, apa Ibu tidak apa-apa?" tanya Ilin pada Airin yang masih terpaku.
Airjn mencoba tetap tersenyum, "Aku tidak apa-apa. Siapkan saja makanan untuk kamu dan suami kamu. Aku ingin istirahat."
Airin masuk ke dalam kamar. Dia memilih menyendiri untuk saat ini. Bagaimana bisa ada yang mengatakan pada Arja tentang Maya. Padahal, Airin tidak pernah mengatakan apapun.
***