
Malam itu cuaca cukup cerah. Hanya hati Arja saja yang masih kelabu. Dia sudah memikirkan banyak cara untuk mendekat pada Airin. Kini semua rencana itu hancur karena kedatangan tante Mia.
Arja meletakan ponselnya. Sejak tadi dia sangat ingin mengirim pesan pada Airin. Namun niat itu kembali dia urungkan. Dia merasa tidak pantas jika mengirim pesan pada saat itu.
Karena tidak ada pekerjaan lain. Arja memilih untuk kembali ke kamar. Tentunya untuk istirahat, hari sudah semakin larut.
Klik. Arja menyalakan lampu kamarnya. Betapa kagetnya Arja melihat Sela yang duduk dengan pakaian tipis di atas ranjangnya. Dengan langkah pelan, Sela mendekat pada Arja. Lalu memeluknya.
Arja melepaskan pelukan itu dan mendorong Sela. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Sela. Bagaimana Sela bergikiran untuk menggodanya seperti itu.
"Kenapa kau malah mendorongku? sudah lama kau tidak datang padaku," kata Sela.
"Keluar dari kamarku."
"Aku kan istrimu."
"Belum resmi," jawab Arja singkat.
Kembali Sela mendekat dari arah belakang. Dia kembali memeluk Arja dengan lembut. Lagi-lagi Arja mendorongnya dengan keras. Bahkan membuat Airin terdorong menabrak tembok.
"Apa yang kau lakukan. Aku hanya ingin memelukmu." Teriak Sela.
"Jangan menggodaku seperti ini lagi. Aku muak."
"Arja.."
"Keluar dari kamarku sekarang."
"Ja..."
"Keluar."
Dengan perasaan yang sangat malu. Sela keluar dari kamar Arja. Air matanya sudah mulai menetes membasahi pipi. Baru kali ini Arja benar-benar menolak Sela. Memang baru kali ini Sela mencoba menggoda dengan cara itu.
Tante Mia tersenyum melihat kesedihan Sela yang keluar dari kamar Arja. Setelah tahu apa yang terjadi. Tante Mia mendekat dan langsung memeluk Sela.
"Kenapa kamu menangis?" tanya tante Mia dengan penuh perhatian.
"Arja. Dia menolakku dan menyuruhku keluar."
"Cup cup cup. Sudahlah, ayo masuk ke kamar. Tidak baik jika ada yang melihat dirimu seperti ini."
Tante Mia membawa Sela masuk ke dalam kamar Sela. Dalam hati tante Mia bersorak bahagia. Sementara diwajahnya, dia terlihat sangat kasihan dengan apa yang terjadi pada Sela.
"Bukankah kamu sedang hamil anak Arja?" tanya tante Mia.
Sela mengangguk dengan lemah.
"Kamu harus memaksa Arja menikahimu. Dia butuh ayah di dalam akta kelahirannya. Apa kamu mau dia lahir tanpa ayah."
"Dia sudah berjanji akan menikahiku setelah anak ini lahir," jawab Sela.
Tante Mia menatap Sela, "Kenapa kau sangat bodoh, Sel. Arja itu laki-laki dia pasti akan berpaling. Cepat atau lambat, kau harus memaksa Arja menikahimu. Atau dia akan semakin menjauh."
"Aku akan berusaha," ujar Sela.
Tante Mia kembali tersenyum, "Sekarang. Kamu bisa istirahat. Aku akan kembali ke kamarku, ini sudah larut."
"Terima kasih, Ma."
"Sama-sama."
Tante Mia keluar dari dalam kamar Sela dengan banyak rencana di otaknya. Kali ini dia akan membuat Sela menjadi bonekannya. Arja harus bisa menjadi milikku, pikir tante Mia.
***
Beberapa pesan masuk ke ponsel Airin saat dia akan mencoba tidur. Pesan dari Arja dan juga tante Mia.
Arja : Apa kau bisa bertemu denganku? aku ingin mengatakan sesuatu padamu.
Airin memilih tidak membalasnya. Dia membuka sebuah pesan dari tante Mia.
Airin. Apa kau besok ada waktu? tante ingin makan siang denganmu. Banyak hal yang tante ingin bicarakan dengan kamu.
Semakin hari. Tante Mia semakin dekat dengan Airin. Bahkan Airin tidak bisa menolak ajakan untuk bertemu dengannya. Walau harus dengan kebohongan saat ditanya oleh Vino.
Airin masih belum tahu alasan Vino melarangnya berhubungan dengan tante Mia. Sementara Arja jelas-jelas tidak suka dengan kedekatan Airin dengan tante Mia.
Disisi lain. Vino masih duduk di ruang kerjanya. Sampai Lola datang dengan pakaian tidak biasa. Dia datang dengan seorang pria ke ruang kerja Vino.
Melihat siapa yang datang. Vino meletakan buku yang ada di tangannya. Lalu duduk di depan Lola dan teman prianya itu.
"Bagaimana info yang aku minta?"
"Benar dugaan pak Vino. Mia sudah membuat kerusuhan dan berhasil membuat Airin percaya padanya. Bahkan, Airin sampai menampar Arja di depan umum karena Mia."
Vino mengepalkan tangannya. Tidak disangka jika tante Mia sudah berjalan terlalu jauh. Vino merasa jika dia harus menemui Arja dan membahas hal ini. Semua ini untuk keselamatan Airin.
Vino hanya diam saat Lola dan teman prianya mengatakan setiap detail kejadian Airin bertemu dengan tante Mia. Airin tidak tahu menahu tentang hal ini. Saat ini, Airin hanya tahu jika tante Mia adalah orang baik dan sangat keibuan.
Vino keluar dari ruanganya untuk mengantar Lola dan temannya itu. Tidak disangka jika mereka akan bertemu dengan Airin saat keluar dari ruangan Arja.
"Lola, kamu disini?" tanya Airin.
"Dia datang untuk mengambil berkas disini," jawab Vino.
"Bukankah bisa dikirim lewat email?" tanya Airin lagi.
Vino mendekat pada Airin, "Jaringan disini sedang bermasalah."
"Benarkah? kenapa milikku tidak."
Kini Vino tidak memiliki jawaban untuk apa yang dikatakan Airin. Melihat Airin sangat penasaran akhirnya Vino mengalihkan topik pembicaraannya.
"Kau sudah makan malam?" tanya Vino kemudian.
Airin menyunggingkan senyuman. Dia tahu jika Vino sedang menghindari pertanyaanya tadi. Airin memilih untuk mengikuti apa yang Vino lakukan.
"Aku sudah makan tadi. Kau sendiri?"
"Maaf, Pak. Saya dan teman saya permisi dulu. Ini sudah sangat malam," kata Lola dan dianggukan oleh teman prianya itu.
"Benar juga. Kalau begitu aku akan mengantar kalian."
"Aku juga," kata Airin sembari berdiri di samping Vino dengan senyuman.
Vino hanya mengangguk. Lalu, mereka mengantar Lola dan temannya sampai di teras rumah. Setelah kepergian Lola, Airin dan Vino kembali masuk.
Tidak ada kata. Hanya ada kesunyian, kali ini mereka sama-sama menyembunyikan sesuatu. Jika bisa memilih, hubungan akan lebih indah jika saling terbuka. Bukan dengan kebohongan.
"Sudah malam. Kenapa kamu belum tidur?" tanya Vino.
"Entahlah. Aku tidak bisa tidur."
"Mau nonton film?" tawar Vino.
"Boleh."
Akhirnya mereka berdua memilih untuk menonton malam itu. Tidak ada ponsel dan suara selain dari film yang mereka tonton. Vino masih asik menonton dengan camilan di tangannya. Sementara Airin sudah terlelap dengan kepala bersandar di kursi.
Vino mendekat pada Airin. Dia memandang wajah itu. Wajah yang sangat ingin dia bahagiakan dan dia lindungi. Ada rasa bersalah karena memata-matai Airin. Vino tidak memiliki pilihan lain selain itu.
"Maafkan aku," ucap Vino. Lalu, dia mengecup kening Airin dengan lembut.
****
Airin terbangun karena sinar mentari memasuki kamarnya. Dia terbangun dengan badan yang terasa sangat segar. Saat akan bangun dia merasakan ada yang memeluknya dari belakang.
Dengan hati yang berdegup kencang. Airin menoleh kearah belakang. Dan tanpa sadar Airin berteriak cukup keras. Membuat orang yang disampingnya ikut terbangun.
"Ada apa?" tanya Vino pada Airin.
"Kenapa kau tidur disini?" tanya Airin dengan rasa kesal diwajahnya.
Vino menatap lekat pada wanita di depannya itu, "Bukankah kau sendiri yang memintaku tidur disini tadi malam."
"Mana mungkin." Elak Airin.
"Kau tidak percaya. Dengar ini," kata Vino sembari menekan tombol di ponselnya.
Benar. Airin mendengar suaranya keluar dari ponsel itu. Dia meminta Vino menemaninya karena takut Arja akan datang dan membawanya pergi. Bahkan, Airin terkesan sangat memaksa disana.
"Apa kau sudah percaya sekarang?" tanya Vino.
Bukannya jawaban. Airin malah mengambil bantal untuk menutupi wajahnya. Dia merasa sangat malu dengan apa yang dia lakukan. Bagaimana bisa aku melakukan hal memalukan macam itu, batin Airin.
Tok tok tok.
Airin gelagapan mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Dia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Jika ada yang tahu, Airin akan sangat malu.
Tanpa perintah atau apapun. Vino turun dari ranjang dan membuka pintu kamar itu. Dengan sangat percaya diri.
"Ada apa?" tanya Vino.
"Vino!! kenapa kau ada di kamar Airin."
Vino sangat kaget saat tahu jika mamanya yang baru saja mengetuk pintu.
"Apa kalian tidur bersama?" mama Vino masuk ke dalam kamar dan melihat Airin sedang duduk di atas tempat tidur.
"Ma, Vino bisa jelasin semuanya."
Mama Vino tidak menjawab sepatah katapun. Dia langsung keluar dari kamar Airin dan meninggalkan Vino disana. Mama Vino merasa sangat kecewa dengan apa yang dia lihat. Dia tidak menyangka jika Vino dan Airin akan berbuat hal semacam itu.
"Bagaimana ini?" tanya Airin dengan nada khawatir.
"Kamu tenang saja. Aku akan jelaskan pada mama."
"Tapi..."
"Kamu bisa disini dulu sementara waktu. Aku akan menemui mama."
Vino mencoba untuk menemui mamanya. Tapi tidak ada yang membukakan pintu. Bahkan, mama Vino mengusir Vino dengan nada marah. Kali ini Airin dan Vino benar-benar membuat kesalahan fatal.