
Airin terbangun karena cahaya yang masuk melalui sela-sela korden di kamarnya. Perlahan, Airin bangun dan mengusap matanya. Arja sudah tidak di sampingnya.
Maaf, aku pergi sangat pagi. Ada urusan penting di kantor.
Membaca pesan itu membuat Airin menyunggingkan senyum. Apa lagi teringat tadi malam, Arja benar-benar menyiapkan makan malam dengan teliti. Dia juga memberika Airin sebuah kalung.
Sebuah harapan kembali muncul di hari Airin. Harapan tentang pernikahan yang indah dan penuh makna. Pernikahan tanpa ada rasa takut karena orang ketiga.
"Ilin. Buatkan saya teh dan roti selai nanas."
"Baik, bu."
Ilin masuk ke dalam dapur. Sementara Airin memilih untuk menonton tv sembari menunggu. Dia sudah mengecek jadwal Vino, tidak ada yang terlihat susah.
Beritanya masih sama seperti hari kemarin. Tentang pernikahan Arja yang kedua. Bahkan mereka mengatakan tentang acara lelang malam itu.
Airin merasa terganggu dengan semua itu. Untung saja, para wartawan tidak tahu tentang rumah dan pekerjaannya. Jika iya, pasti akan sangat merepotkan.
Sarapan sudah selesai. Airin mengambil tasnya dan kembali mengecek apa saja yang harus dia bawa. Sudah semua, pikir Airin.
"Aku berangkat dulu ya, Lin."
"Ya, bu."
Sampai di teras rumah Airin kaget. Disana sudah ada seorang pria yang umurnya mungkin lebih tua dari Airin. Dia sedang duduk dengan kopi di sampingnya.
"Sudah mau berangkat bu?" tanya pria itu.
Airin hanya diam dan memanggil Ilin. Dia menanyakan perihal tentang pria itu.
"Dia suami saya bu, Amar namanya. Dia sopir yang diberikan oleh pak Arja," kata Ilin.
"Benarkah? kenapa Arja tidak bilang padaku."
"Mungkin bapak ingin memberikan hadiah."
Airin hanya tersenyum. Lalu, dia meminta Amar untuk menyiapkan mobilnya. Jika tidak ada Amar, mobil ini akan teronggok di depan rumah tanpa ada yang menyentuh. Arja benar-benar tahu kebutuhan Airin.
***
Airin masuk ke ruangan Vino. Terlihat sangat berantakan sekali. Tidak seperti biasanya, banyak berkas yang tercecer. Bahkan ada pecahan gelas disana.
Langkah Airin perlahan namun pasti. Sampai di depan Vino. Airin membacakan jadwalnya hari ini. Mulai dari meeting hingga bertemu dengan mamanya di sebuah restoran.
"Batalkan semuanya," kata Vino.
"Baik, Pak."
Airin membatalkan semua jadwal hari ini. Vino terlihat sedang tidak senang. Bahkan ada gurat amarah di wajahnya. Dia mungkin sedang memiliki masalah saat ini. Hanya saja, Airin tidak pantas menanyakannya.
"Kenapa kamu tidak bertanya kenapa aku membatalkan semuanya?" kata Vino.
"Maaf, Pak. Saya bukan orang seperti itu."
"Kau ini. Sudahlah, kamu tidak akan paham. Bereskan saja ruangan ini, aku mau pergi."
Airin mengangguk. Setelah Arja keluar dari ruangannya. Airin mulai membersihkan beberapa berkas yang ada disana. Banyak sekali berkas penting, tapi di rusak oleh Vino.
Kau bisa pulang setelah membersihkan ruanganku.
Kenapa Vino seperti ini. Bagaimana bisa dia menyuruh Airin seperti pembantu di rumahnya. Sifat Arja dan Vino tidak beda jauh, mereka terlalu egois.
***
"Apa kau bisa meluangkan waktu setelah pulang kantor?" tanya Sela saat mereka sedang makan siang di kantin kantor.
"Tidak. Aku kayaknya mau ke rumah paman dan tante. Sudah lama, aku tidak kesana."
"Mau aku antar?" tawar Sela.
"Tidak perlu."
Mereka kembali melanjutkan makan siang itu. Walau pikirannya tidak ingin memikirkan Vino. Tetap saja hatinya berkata lain, dia merasa cemas karena perubahan Vino yang tiba-tiba saja. Dia bahkan menyuruh Airin pulang.
"Bagaimana dengan prnikahanmu?" tanya Sela membuyarkan lamunan Airin.
"Arja sudah lebih baik."
Airin menggeleng, "Untuk apa dia melabrakku?"
"Benar juga."
Setelah selesai makan siang. Airin kembali ke meja kerjanya. Dia baru saja di pindah ke meja di depan ruangan Vino. Tentunya agar Vino tidak perlu menelfon jika membutuhkannya.
Dengan teliti Airin kembali menyiapkan berkas yang akan digunakan untuk besok. Bahkan Airin mengerjakan dengan pikiran yang terus berjalan-jalan entah kemana.
Tuk tuk tuk. Karena ada yang mengetuk meja, Airin akhirnya mengalihkan pandangannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Airin pada seorang wanita dengan rambut pirang.
"Apa Vino ada?"
"Pak Vino sudah pulang sejak tadi," kata Airin.
"Kalau begitu. Sampaikan saja pada Vino, Cika mencarinya."
"Baiklah."
"Kalau begitu. Aku pergi dulu, maaf sudah mengganggu."
"Tidak apa," kata Airin dengan senyuman.
Berkas sudah selesai dan tidak ada hal lain lagi. Akhirnya, Airin memutuskan untuk pulang. Sebelum itu, dia mengecek ponselnya. Benar saja, ada sebuah pesan dari Arja.
Aku akan menjemputmu. Biarkan Amar pulang.
Jam sudah menunjukan berakhirnya kerja kantor. Suara riuh memenuhi kantor ini karena rasa senang. Ada juga yang menghela nafas karena harus menyelesaikan pekerjaanya.
"Ayo. Katanya mau ke rumah," Sela langsung memeluk tangan tangan Airin.
Airin berhenti dan melepaskan tangan Sela. Dia menoleh pada Sela, "Maaf, kali ini aku tidak bisa. Arja menjemputku."
"Tidak usah sedih. Kamu bisa ke rumah kapanpun kamu mau, kali ini kamu harus bersenang-senang dengan Kakak Ipar." Sela mendorongku ke arah Arja.
Entah sejak kapan dia berdiri di sana. Dia juga membawa buket bunga untukku. Kenapa dia begitu romantis.
"Terima kasih," kataku saat setelah menerima buket itu.
"Sama-sama. Ayo pergi."
Aku melambaikan tangan pada Sela dan masuk ke mobil.
"Kita akan ke mana?"
"Kita pulang, nanti malam aku akan mengajakmu keluar."
Airin merasa senang sekaligus merasa aneh. Arja begitu romantis padanya sejak kemarin. Apa ada hal yang dia inginkan, atau dia hanya ingin membuat Airin untuk berharap.
"Apa aku boleh bertanya?"
"Tanyakan saja apa yang mau kamu katakan."
"Apa kamu ada masalah dengan Maya? aku tidak melihatnya sejak acara lelang."
Arja tidak merubah ekspresinya, "Kamu tahu jika aku harus membagi waktu. Tiga hari ini, aku akan menemanimu. Tiga hari selanjutnya aku akan menemani Maya."
"Apa Maya setuju?"
"Mau dia setuju atau tidak. Aku tidak peduli, aku pemimpin dalam rumah tangga. Aku punya tanggung jawab untukmu dan dia."
Ternyata Arja sedang berbuat adil. Walau tidak tahu hasilnya nanti. Yang jelas Airin hanya bisa berdo'a semuanya baik-baik saja.
"Kenapa? apa kau tidak suka dengan keputusanku ini?"
"Bukan begitu. Aku hanya merasa aneh, esok kau masih ada untukku. Namun lusa, kau akan bersama wanita lain."
"Janganlah seperti itu. Ini sudah menjadi konsekuensi untuk kamu. Jika saja kamu melarang ...."
"Walaupun aku melarang. Kau akan tetap menikah denganya bukan?"
Tidak ada jawaban. Mereka memilih diam daripada merusak hari indah hanya karena hal sepele. Airin akan menggunakan waktu bersama Arja dengan baik. Dia tidak ingin terus melukai perasaannya sendiri.
***