
Arja merasa ada yang salah dengan istrinya. Airin yang biasanya ceria kini lebih sering diam. Bahkan lebih ke menghindar jika akan diajak bicara. Pikiran Arja menjadi kacau, dia takut apa yang dia lakukan sudah ketahuan.
"Rin. Kamu kenapa sejak kemarin hanya diam. Apa aku ada salah?" tanya Arja yang melihat Airin hanya diam di depan makanan.
"Tidak apa-apa kok. Kamu makan saja. Aku masih ada kerjaan yang harus diurus."
Bagaimanapun, Airin menahan rasa luka yang ada di dalam hatinya. Jika saja waktu dapat diputar. Mungkin, Airin akan memilih untuk menunggu. Bukan menerima lamaran dari orang yang tidak dia kenal.
Airin tetap diam bukan karena tidak sakit hati. Dia hanya tidak ingin ada keributan yang sampai di dengar orang lain tentang rumah tangganya.
Airin bahkan tetap melakukan semua kewajibannya. Dia ingin tetap menjadi wanita yang sabar dan tidak melakukan apapun. Walau hatinya sudah diremukkan.
Setelah selesai membersihkan meja makan. Airin tidak masuk ke dalam kamar. Dia memilih membaca buku di ruang tengah. Ditemani alunan lagu yang menenangkan.
*****
Pikiran Airin masih sangat kacau. Kali ini, dia hanya menunggu Arja saja. Berharap jika dia akan jujur kali ini. Berharap Arja akan mengatakan semuanya padanya.
Tadi sebelum Arja bangun. Airin sudah menyiapkan sarapan. Juga baju dan beberapa berkas yang dibutuhkan Arja. Airin memang tidak melihat berkas apa itu. Dia hanya menyiapkan karena kemarin Arja memintanya.
Dia pasti sudah bangun kali ini, pikir Airin. Taxsi yang dinaikinya berjalan dengan kecepatan sedang. Pagi-pagi seperti ini, jalanan masih terlihat lenggah. Terlihat beberapa anak sekolah yang berjalan beriringan.
Setengah jam berlalu. Akhirnya sampai juga di kantor. Airin turun dengan tas di tangannya, juga tablet yang dia gunakan untuk bekerja. Saat masuk ke dalam kantor, seorang OB mendekat pada Airin.
"Bu, Airin. Ini ada titipan dari bu Mela."
Airin menerima berkas itu, "Dimana bu Mela?"
"Tadi dia sudah disini. Karena buru-buru bu Mela menitipkannya pada saya," kata OB itu.
"Terima kasih."
Dengan hati-hati Airin membuka berkas itu. Berkas yang harus diselesaikannya hari ini. Dia juga harus mengirim data yang diinginkan Vino sekarang. Sepertinya dia akan sibuk hari ini.
Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Kerjakan berkas itu secepatnya. Aku membutuhkannya nanti. Cepat!
Sifat memerintah Vino sangatlah keras. Airin menyincingkan lengan bajunya dan mulai mengetik. Dia juga sudah mengirim data laporan kemarin.
Sebenarnya, Airin tidak berbakat dalam hal ini. Jika tanpa bu Mela, pekerjaan ini rasanya semakin sulit. Sudah sangat lama Airin hanya diam di rumah dan membantu pamannya.
Ada yang mengatakan jika Airin memiliki banyak harta. Nyatanya, paman Airin selalu menolak pernyataan itu. Dia selalu mengatakan pada Airin jika hidup tidaklah mudah. Kita harus memulai semuanya dari awal. Jangan menyerah.
"Lelahnya." Airin menyandarkan tubuhnya di kursi yang dia duduki.
Air yang berada di dekatnya pun sudah dia minum habis. Bahkan kepalanya terasa pusing, mungkin karena sejak tadi dia menatap layar laptop tanpa istirahat.
Dengan masih merasakan lelah. Airin masuk ke dalam ruangan Vino. Vino sedang duduk dan menandatangani sesuatu.
"Kau sudah disini? bagaimana berkasnya?" tanya Vino saat melihat Airin sudah ada di depannya.
"Ini, Pak." Airin meletakan berkas itu dan akan segera berpamitan.
"Kamu duduk dulu selama aku memeriksa data ini. Aku tidak suka ada kesalahan," kata Vino.
"Baik."
Airin duduk dengan tenang. Pikirannya masih saja berjalan-jalan sendiri entah kemana. Namun, kembali dia memikirkan tentang Maya. Dia berfikir jika Arja sedang bersama Maya dan sedang bersenang-senang.
"Apa yang kamu lakukan, Rin?" tanya Vino.
"Ma...maaf, pak."
"Jika lelah. Kamu bisa istirahat di ruanganmu, nanti aku kabari lagi."
"Sekali lagi maaf, Pak. Saya permisi."
Tanpa pikir panjang. Airin keluar dari ruangan Vino. Dia masuk ke ruangannya sendiri dengan perasaan kesal. Dia sampai membuat malu diri sendiri karena tingkah suaminya itu.
Jika bukan karena menjaga perasaan Om dan Tante. Airin pasti sudah bertindak dengan caranya. Hanya saja, dia tidak mau membuat orang tuanya itu terluka.
*****
Airin duduk di balkon sendirian. Sejak tadi dia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Sembari mencari cara agar hatinya tidak gundah dan rumah tangganya aman. Tidak ada ketenangan dan jawaban dalam otaknya. Bahkan terbesit kata cerai saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Airin pada dirinya sendiri.
Sebuah langkah kaki membuat Airin memilih berpura-pura duduk dan diam. Pasti Arja yang pulang, pikir Airin. Tidak biasanya Arja pulang secepat ini.
"Kau di rumah?" tanya Arja setelah menemukan Airin yang duduk di balkon kamar.
Airin menoleh dan menyunggingkan sebuah senyuman.
"Ada yang ingin aku bicarakan," kata Arja. Kali ini nadanya sangat serius.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan."
Arja duduk di sebelah Airin. Matanya menerawang jauh, lalu kembali menatap Airin. Airin sudah menunggu penjelasan itu, semoga Arja mengatakan yang sebenarnya.
"Airin. Aku minta maaf, aku...aku sudah membuat kesalahan besar padamu. Aku..."
Tok tok tok. Sebuah ketukan pintu membuat Arja diam. Airin juga menoleh keasal suara. Disaat seperti ini, siapa yang datang dan mengganggu. Mau tidak mau akhirnya Airin meninggalkan Arja dan membuka pintu rumah.
"Sela, kenapa kau menangis?" tanya Airin begitu melihat Sela yang datang.
"Rin. Biarkan aku menginap disini ya," kata Airin.
Airin memegang tangan Sela.
"Masuk dulu. Katakan ada apa."
Di dalam Sela menceritakan semuanya. Pertengkaran Om dan tante Airin kadang terjadi. Walau sejak dulu alasanya hanya satu, tante yang selalu ingin hidup mewah. Tidak seperti Om yang biasa hidup sederhana.
"Biarkan aku menginap disini. Semalam saja," kata Sela.
Airin hanya diam. Dia tidak tahu harus apa, dia harus meminta ijin pada Arja. Ini rumah Arja dan Arja pemimpin disini.
"Tidak apa. Kamu bisa menginap disini malam ini. Rin, buatkan minuman untuk Sela."
Entah sejak kapan Arja berada disana. Airin hanya mengangguk dan masuk ke dalam dapur. Sembari menyeduh kopi untuk Arja. Airin mendengar percakapan Arja dan Sela. Mereka terdengar akrab dan sudah lama kenal.
Airin juga sesekali mendengar tawa pecah diantara mereka. Karena Sela adalah adiknya, Airin menyingikirkan rasa cemburunya dan memilih membawa minuman itu keluar.
***
To be continued