
Malam itu Arja masuk ke dalam kamar Sela. Disana Sela terlelap dengan selimut yang jatuh ke samping tempat tidur. Dengan langkah pelan, Arja mengambil selimut itu dan menyelimuti tubuh Sela.
Dia duduk sembari memandang wajah Sela yang sudah terlelap. Entah datang dari mana, ada rasa bersalah di dalam hati Arja. Dia sudah menipu dan membuat Sela terluka. Apa lagi, saat ini Sela sedang mengandung anaknnya.
Disisi lain, hatinya masih juga memikirkan Airin. Wanita yang sudah pergi darinya dan membenci dirinya.
"Maafkan aku," ucap Arja sembari mengecup pelan kening Sela.
Sela merubah posisinya dan hal itu membuat Arja menjauh. Akhirnya, Arja memutuskan untuk keluar dari kamar Sela. Dia akan menanyakan kabar terbaru pada sekretaris Sa.
Arja keluar dari kamar Sela dan mendapati tante Mia yang sedang duduk di ruang tengah. Arja mengurungkan niatnya bertemu dengan sekretaris Sa. Dia mendekat pada tante Mia yang sedang duduk menonton tv.
Tante Mia sadar akan kedatangan Arja. Buru-buru dia merubah posisinya dan duduk menghadap Arja. Dia berharap Arja akan duduk dan memberinya sebuah ruang di hatinya.
"Kenapa kau masih disini? aku sudah mengusirmu berulang kali."
"Aku disini karena kamu yang masih menolakku."
Arja mendengus kesal. Wanita ini memanglah wanita yang tidak tahu malu, pikir Arja. Dia pun memilih untuk berlalu dari hadapan tante Mia. Tante Mia tidak ingin kehilangan kesempatan itu, dia berlari kecil dan memeluk Arja dengan lembut.
Arja melepaskan pelukan itu dan menarik tante Mia keluar dari rumah. Dia menatap tajam dan tidak ada belas kasih.
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk pergi. Kau wanita murahan," ucap Arja dengan penuh penekanan.
Tante Mia merubah mimik wajahnya, "Arja. Kenapa kamu mau usir mama. Mama hanya ingin menyatukan kamu dengan Sela."
Arja menyadari jika ada Sela di belakangnya. Sudah pasti tante Mia ingin mencari simpati dari Sela. Arja menoleh dan melihat Sela berlari kearahnya. Bukannya mendekat pada Arja. Sela malah membantu tante Mia berdiri.
"Kenapa kamu tega dengan mama kamu sendiri," kata Sela.
"Dia bukan mamaku," jawab Arja.
Sela menatap wajah tante Mia yang akan menangis. Sela tidak tega melihat tatapan itu. Dengan berani, Sela membawa kembali tante Mia masuk. Sela juga mengantarnya masuk ke dalam kamar. Arja mengikutinya dari belakang.
Sampai di kamar. Sela membantu tante Mia berbaring, dengan penuh perhatian Sela menyelimuti tubuh tante Mia.
"Ma, aku ambilkan air minum dulu."
"Terima kasih," ucap tante Mia.
Setelah Sela pergi ke dapur. Tante Mia kembalu ke watak aslinya lagi. Dia tersenyum pada Arja. Arja yang memang sudah tahu hanya diam. Rasa kesalnya semakin bertambah saja.
"Arja. Kenapa kau malah mencintai gadis-gadis bodoh itu. Aku bisa memberikan lebih dari mereka."
"Setidaknya mereka lebih tulus darimu."
"Benarkah? bagaimana jika aku membuat mereka hancur dan pergi dari dunia ini. Apa kau akan memilihku."
"Jaga ucapanmu, Mia," teriak Arja dengan keras.
Sela yang mendengar hal itu kembali masuk ke kamar tante Mia. Dia melihat Arja mengangkat tangannya dan akan menampar tante Mia. Tanpa pikir panjang, Sela mendekat dan plak. Sela lah yang terkena tamparan itu.
Arja membulatkan matanya karena kaget. Sementara tante Mia sangat beruntung memiliki tameng seperti Sela.
"Sela, kamu tidak apa?" tanya Arja yang langsung duduk di hadapan Sela.
Sela diam, dia hanya memegangi pipinya yang memerah karena tamparan itu. Dengan lembut, tante Mia memeluk Sela di hadapan Arja. Aku menang, tanpa suara tante Mia mengatakan itu pada Arja.
Tidak mau terjadi apa-apa pada Sela. Arja langsung merebut Sela dan membawanya kembali ke kamar. Setelah sekian lama, baru kali ini Sela mendapat perlakuan lembut dari Arja. Ada rasa senang yang tersembunyi di hati Sela.
Arja tidak mengatakan apapun. Dia hanya membantu Sela mengoleskan sebuah salep di pipi yang memerah. Sela juga memilih diam dan memandang wajah Arja.
"Arja. Aku mencintaimu," bisik Sela.
"Aku tahu itu," jawab Arja.
Lalu, Arja meletakan salep itu kembali ke dalam kotak P3K. Dia menatap wajah Sela. Dia sangat manis, batin Arja. Tidak mau terlena, Arja memilih berpamitan dan membiarkan Sela istirahat malam ini.
Di luar kamar. Tante Mia merasa sangat kesal melihat Arja memperlakukan Sela dengan lembut. Jika terus seperti ini, rencana yang sudah dia buat akan hancur. Tante Mia tidak akan pernah mendapatkan Arja.
***
Pagi itu Vino sedang sarapan dengan Airin dan juga mamanya. Hening, tidak ada obrolan pagi itu. Mama Vino sibuk dengan ponselnya begitupun Airin.
Dering ponsel Arja membuat semua orang yang ada di meja makan kaget. Buru-buru Vino mengangkatnya.
"Ya, ada apa?" tanya Vino.
"Aku ingin bertemu denganmu hari ini. Penting," ucap Arja dari seberang sana.
"Kenapa harus bertemu?"
"Ayolah, Vin. Semua ini demi Airin."
Mendengar nama Airin disebut membuat Vino berfikir lagi. Matanya kini tengah menatap Airin yang sedang menyuapkan nasi pada mulutnya.
"Baiklah. Aku akan kesana nanti."
"Baik. Aku tunggu."
Vino menutup telfon itu dan kembali melanjutkan sarapannya. Masih belum ada pertanyaan atau hal lainnya. Hanya pikiran Vino yang merasa kalut. Sejak beberapa hari ini Arja memang meminta bertemu. Alasannya selalu saja Airin.
"Siapa?" tanya mama Vino kemudian.
"Apanya Ma?"
"Yang menelfonmu."
"Temanku, Ma. Dia meminta bertemu."
Mama Vino hanya mengangguk, begitupun dengan Airin yang menyimak obrolan singkat itu. Kembali Airin fokus pada ponselnya, Cika sedang membahas beberapa hal dengan Cika. Tentunya masalah pernikahan Airin.
Setelah sarapan selesai. Airin masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas. Sementara mama Vino sudah pergi ke butik untuk melakukan aktivitasnya.
Vino sudah menunggu di dalam mobil sampai Airin datang dan langsung duduk di sampingnya. Bukannya menjalankan mobil, Arja malah memandang wajah Airin. Dia takut jika Arja datang dan membawa Airin pergi. Bagaimanapun, Airin belumlah sepenuhnya jatuh cinta pada Vino.
"A..apa?"
Airin tersenyum, "Kamu kenapa? bukannya berangkat ke kantor malah diam."
"Maaf," ucap Vino dan langsung menjalankan mobilnya.
Vino hanya mengantar Airin saja. Setelah itu dia pergi menemui Arja. Jika memang Arja akan merebut Airin kembali. Vino akan menyembunyikan Airin sejauh mungkin. Dia tidak akan membiarkan Arja mendapatkannya lagi.
Sampai di kantor. Vino hanya memberikan beberapa pesan pada Airin agar tidak terlalu peduli dengan apa yang dia dengar. Vino tahu, para anak buahnya belum sepenuhnya menerima kedatangan Airin di kantor itu. Hanya Lola yang mau membantu dan menemani Airin disana.
"Hati-hati di jalan," ucap Airin sembari melambaikan tangannya.
Vino hanya mengangguk dan menjalankan mobilnya kembali secara perlahan. Lola sudah menunggu Airin untuk masuk ke kantor secara bersamaan.
"Kenapa Pak Vino tidak bersama dengan Anda?" tanya Lola.
"Dia ada janji dengan temannya. Ayo masuk," kata Airin.
Lola dan Airin masuk ke dalam kantor. Kembali Airin mendengar suara-suara yang membuatnya terluka. Walaupun begitu, Airin tetap menebar senyumnya. Dia tidak ingin membuat keributan apapun.
"Maafkan para karyawan ya, Bu," kata Lola.
"Tidak masalah. Semua orang berhak suka dan tidak suka."
Airin dan Lola berpisah saat sudah sampai di lantai atas. Airin masuk ke dalam ruangan Arja, sementara Lola masuk ke ruangannya sendiri.
***
Arja duduk dengan setelan jas dan teh di depannya. Dia sedang menunggu kedatangan Vino sembari mendengar laporan dari sekretaris Sa. Pikirannya masih saja kacau, dia merasa bersalah pada Sela. Hanya saja, dia belum rela Airin bersama dengan pria lain.
"Pak, Mia sudah bertindak cukup cepat. Kali ini, dia sudah mendapatkan hati Sela dan Airin. Bapak harus bertindak cepat sebelum Mia melakukan hal buruk."
"Aku tahu," kata Arja.
Tok tok tok. Seorang karyawan masuk ke ruangan Arja dengan menundukan kepalanya.
"Pak Vino sudah datang."
Arja berdiri, "Biarkan dia masuk. Kamu bisa pergi dari sini," kata Arja pada Sekretaris Sa.
Tidak lama Vino masuk. Arja mengira Vino akan datang dengan orang lain. Ternyata Vino hanya seorang diri. Arja menyambutnya dengan hangat. Tidak seperti pertemuan-pertemuan biasanya.
Kini mereka duduk secara berhadapan. Belum ada kata-kata penting yang mereka bicarakan. Sampai sekretaris Sa masuk dan memberikan kopi untuk Vino. Vino hanya memberikan senyuman.
"Ada apa kau memintaku kesini?" tanya Vino pada Arja.
Arja tidak menjawab. Dia hanya memberikan berkas pada Vino. Vino membukannya, disana ada laporan mengenai tante Mia. Vino hanya mengangguk karena dia juga sudah tahu apa yang terjadi.
"Jadi, kau mau bagaimana?" tanya Vino.
"Tentu saja aku ingin kau menjaga Airin darinya."
"Tanpa kau minta aku pasti akan melakukannya," jawab Vino.
Arja berdecak dengan kesal. Awalnya dia ingin berdiskusi dengan tenang. Kini emosinya tanpa sadar sudah rersulut.
"Aku ingin menemui Airin," kata Arja.
"Apa kau kira aku akan membiarkanmu menemuinya."
"Aku tahu kau tidak akan membiarkannya."
Vino hanya menyunggingkan senyumnya. Dia merasa harus menjaga Airin dengan baik. Arja pasti akan berbuat sesuatu pada Airin.
Tidak mau terjadi keributan. Vino memilih untuk pergi dari sana. Dengan senyuman Arja mengantar Vino kembali.
Kali ini. Arja benar-benar sudah percaya dengan cinta yang dimiliki oleh Vino pada Airin. Dengan menetapkan hatinya, Arja akan melepaskan Airin. Cara itu akan membuat tante Mia tidak akan mendekat pada Airin. Kini, Arja hanya perlu menjaga Sela dan anaknya agar tetap aman.
Vino menyetir dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia benar merasa kalut karena takut Airin akan kembali direbut oleh Arja. Walau sebenarnya Arja juga sama dengan Airin. Sama-sama mencoba melupakan.
Sampai di kantor Vino langsung mencari dimana Airin. Dia menemukan Airin sedang duduk di ruang print. Dengan senyuman Airin menyambut kedatangan Vino.
"Kau sudah kembali. Tadi ada orang dari perusahaan Z yang datang. Dia men..."
Tiba-tiba saja Vino mendekat dan langsung memeluknya. Airin hanya bisa diam dengan apa yang dilakukan oleh Vino. Pasti sudah terjadi sesuatu, pikir Airin.
Perlahan Vino melepaskan pelukannya dan menatap lekat pada mata Airin. Dia memandang wajah itu, wajah yang selama ini memenuhi relung hatinya.
"Kita akan segera menikah. Aku tidak ingin kau pergi dariku lagi," kata Vino.
"Siapa yang akan pergi. Aku akan berada di sampingmu, Vin."
Mendengar jawaban itu sedikit membuat Vino lega. Bagaimanapun, dia tidak suka melihat wajah Vino saat khawatir.
Vino tidak memberikan alasan saat Airin bertanya tentang alasannya seperti itu. Kini Aiein hanya bisa membiarkan hal itu, suatu saat nanti. Pasti Vino akan mengatakan semuanya.
***
Arja pulang dan melihat Sela sedang duduk dengan tante Mia. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu. Tanpa disadari Arja, mereka langsung diam begitu melihatnya masuk.
Sela menoleh dan langsung berlari kearah Arja. Kali ini Arja tidak menampakkan wajah cuek dan datarnya. Hanya senyuman yang mengembang untuk Sela.
Dengan senang hati Sela mengambil tas ditangan Arja. Mereka berjalan beriringan dengan banyak obrolan. Tidak seperti hari-hari biasanya.
"Mau makan?" tanya Sela.
Arja menggeleng, "Aku ingin bicara dengan kamu. Kamu bisa ke ruang kerjaku kan?" tanya Arja.
"Tentu," jawab Sela dengan senyuman.
Tante Mia hanya bisa menahan amarah saat melihat keajaiban yang terjadi. Arja berubah sikap pada Sela. Kini, tante Mia hanya bisa melihat dan kembali memikirkan cara agar Sela tetap melakukan rencana yang mereka buat. Menyingkirkan Airin.
***