
Malam yang indah di temani dengan bintang dan bulan yang bersinar. Airin masih duduk di balkon kamar. Matanya masih tidak bisa terpejam.
Pikirannya masih saja kacau sejak kejadian di gedung itu. Sudah banyak hal yang Airin lakukan agar bisa melupakan hal itu. Tapi nyatanya, semakin Airin ingin melupakan semakin Airin ingat. Semua itu sangat mengganggunya.
"Nyonya. Tuan Arja sudah pulang," kata seorang pelayan yang datang ke kamar Airin.
"Aku akan ke bawah."
Melihat jadwal di kalender. Airin baru ingat jika Arja hari ini pulang. Ya, dia baru saja melakukan perjalanan bisnis. Satu minggu ini, Airin tidak memiliki hal lain yang sepesial. Karena Arja pergi, pikirannya juga masih terpaku kepada Vino. Dengan ajakannya waktu itu.
"Sudah pulang?" Airin langsung memeluk Arja.
"Ada tamu di luar. Kamu suruh mereka masuk," bisik Arja pada Airin.
"Ok."
Brak. Saat Airin membuka pintu rumah. Airin kaget melihat Cika dan Vino disana. Mereka bahkan terlihat sangat mesra.
Mata Airin tidak lepas menatap Vino di depan sana. Mata mereka bertemu, tanpa disadari Cika. Vino mengerlingkan matanya.
"Kok nggak diajak masuk?" tanya Arja yang langsung memeluk pinggang Airin dan membuatnya sadar.
"Maaf, ayo masuk. Aku kaget kalian berkunjung kesini," kata Airin.
Jujur saja hatinya masih sangat kaget. Tidak percaya jika Vino benar-benar datang. Baru saja tadi malam Vino mengatakan akan datang. Hal itu membuat Airin takut, tapi sekarang dia sudah di depan Airin. Walaupun dengan kekasihnya yang baru.
Mereka duduk di ruang tamu. Beberapa pelayan datangg membawakan kudapan dan minuman untuk tamu Vino dan Cika. Sejak tadi, Airin hanya menundukan kepalanya.
Airin sangat takut dengan perasaannya sendiri. Airin takut jika dia akan melewati batas sebagai seorang istri. Airin takut jika hatinya kembali goyah tentang perasaannya.
Banyak hal yang kami bicarakan. Sampai akhirnya Vino mengatakan jika dia akan ke kamar mandi.
"Di mana kamar kecilnya?" tanya Arja.
"Pelayan..."
"Kok malah memanggil pelayan," kata Arja pada Airin.
"Biar pelayan yang mengantar," kata Airin pada Arja.
Arja tersenyum, "Kamu aja yang nganterin. Aku juga ada hal yang harus dibicarakan dengan Cika. Mereka tamu sepesial untuk kita."
"Iya. Mungkin kami akan melakukan kerjasama," kata Cika dengan senyumanya.
Airin tersenyum aneh. Mau tidak mau Airin harus mengantar Vino ke kamar mandi. Beberapa langkah, suasananya masih sama. Sampai di depan kamar mandi. Vino menarik Airin ke dalam pelukannya.
Airin mendorongnya dengan kuat. Bahkan sampai menimbulkan suara yang gaduh. Airin tidak ingin Arja sampai mendengarnya. Dia tidak mau membuat Cika atau Arja terluka.
"Apa yang kamu lakukan? bukankah kau juga merindukan aku?" tanya Vino pada Airin.
"Aku sudah mengubur perasaan itu. Jangan harap aku melakukan hal yang kamu katakan."
"Jangan munafik Rin. Kamu bisa jujur sama aku, kamu masih cinta sama aku kan?" Vino menarik tangan Airin dan dia genggam dengan erat, "asal kamu tahu. Aku menikah dengan Cika hanya karena ingin dekat dengan kamu."
"Bukan urusanku semua itu. Aku sudah punya suami dan aku mencintainya."
Vino melepaskan tangan Airin. Dia tertawa, namun tawanya sangat berbeda. Tidak seperti tawa bahagia. Melainkan tawa yang penuh luka.
Jika menengok ke belakang. Mungkin Airin akan kembali mencintai Vino. Apa lagi jika teringat tentang kebaikan Vino. Tapi kini dia benar-benar berubah. Bahkan dia mengatakan hal aneh pada Airin.
Kaki Airin melangkah dengan cepat menuju ruang tamu. Dia akan merasa nyaman di samping Arja. Alasan Vino datang kerumah ini hanya karena ingin menemui Airin, jadi dia membuat alasan tentang kamar mandi.
"Bagaimana kerjasama kalian?" tanya Airin dengan senyuman.
Arja menoleh dan tersenyum. Dia sedikit menggeser duduknya.
"Kamu sudah kembali? di mana Vino?" tanya Arja.
"Dia masih di kamar mandi. Mungkin sebentar lagi dia keluar."
Tidak lama Vino kembali. Wajahnya basah, mungkin karena baru saja mencuci muka. Airin mencoba tidak melihat wajahnya. Dia memilih memandang wajah suaminya.
"Ayo sayang. Kita harus kembali," kata Cika pada Vino.
Vino hanya mengangguk.
"Kenapa buru-buru?" tanya Airin walau hanya sebatas pertanyaan.
"Maaf sekali Airin. Sebenarnya, kami kesini hanya ingin membicarakan hal bisnis. Dan semuanya sudah selesai," kata Cika.
"Sayang sekali. Seharusnya kita bisa makan malam bersama," Airin masih saja berbasa basi di depan Cika dan Vino.
Airin dan Arja mengantar Vino dan Cika sampai di teras rumah. Sejak tadi, Vino hanya diam dan tidak berkata apapun.
***
Mereka masih duduk dengan pikiran masing-masing. Beberapa pelayan datang dan membawakan sarapan. Airin yang melihat Arja fokus dengan ponselnya hanya diam.
"Rin." Panggil Arja saat Airin akan mengambilkan nasi ke piringnya.
"Ada apa?"
"Nanti malam Cika mengajak kita makan malam bersama. Kamu mau?"
Airin diam beberapa saat. Tidak ingin terjadi hal yang aneh lagi. Airin menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
Airin meletakan piring yang sudah dia isi dengan nasi. Dia kembali duduk.
"Sebenarnya. Aku ingin bertemu teman."
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Sela." Jawab Airin sekenannya. Airin tidak mau Arja bertanya lebih lanjut.
"Ok. Tapi, jangan pulang kemalaman ya."
Senyuman Airin mengembang dibibir. Sebenarnya, Airin sudah berjanji akan menemui Kenzo. Dia akan kembali menanyakan alasan kenapa Arja menceraikan Maya secara tiba-tiba.
"Sarapan dulu, nanti telat ke kantornya."
"Tumben perhatian. Biasanya juga cuek. Apa sudah mulai jatuh cinta lagi padaku."
"Ada-ada aja," Airin tertawa kecil di sela sarapan kami, "nanti siang. Aku akan bawakan makan siang. Ok."
"Apapun yang kamu lakukan. Aku akan menjawab ya."
Sarapan pagi ini berbeda dengan biasanya. Mereka membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Bahkan, Arja mengajak Airin liburan. Hanya berdua. Jelas sekali jika dia tidak ingin mengingat-ingat tentang Maya.
Setelah selesai mengantar Arja sampai depan rumah. Airin kembali masuk ke kamar. Melihat ponselnya yang menyala membuat Airin kaget. Siapa yang sepagi ini sudah menelfonnya.
Vino. Nama itu yang tertera di layar ponsel Airin, karena malas meresponya. Airin memilih untuk mematikan panggilan itu.
Kembali. Vino mencoba memanggil Airin. Tidak tahu harus bagaimana. Vino yang sekarang sangat mengerikan menurut Airin. Dia melakukan berbagai cara agar bisa menemui Airin dan menghubunginya. Airin memilih mematikan ponselnya dan melemparkannya ke tempat tidur.
***
Beberapa karyawan kantor menyapa Airin. Malu, itu yang dia rasakan. Sudah lama sekali Airin tidak mendapatkan suasana seperti ini. Lucu rasanya.
"Mau ke ruangan Pak Arja ya?" tanya sekertaris Arja.
Airin mengangguk.
"Silahkan masuk, Bu."
"Sayang. Aku datang...."
Malu. Itu yang Airin rasakan pertama kali. Disana bukan hanya ada Arja. Tapi juga ada beberapa orang lain. Kenapa Arja tidak mengatakannya, bahkan sekertarisnya juga hanya diam.
"Maaf mengganggu."
"Tidak apa-apa, Bu. Kami sudah akan pergi. Silahkan masuk," kata salah seorang dari mereka.
Airin melangkahkan kakinya perlahan. Sementara mereka pergi dari ruangan itu. Arja sudah menahan tawanya. Sampai disaat mereka hanya berdua. Arja tertawa dengan keras.
"Apa ini lucu bagimu?" tanya Airin dengan kesal, "Kau bahkan tidak mengatakan jika ada rapat hari ini."
Arja mendekat dan mengambil tempat makan di tangannya. Dia mencium kening Airin dengan halus. Membuat Airin merasa lebih tenang.
"Maaf, aku lupa mengenai hal ini. Apa kamu sudah makan?" tanya Arja.
"Sudah. Aku hanya membawakan untukmu."
"Terima kasih, Sayang."
Dengan gesit Airin menyiapkan makan siang di meja Arja. Dia juga membuatkan minuman untuk Arja. Melihat dari jendela ruangan ini. Rasanya seluruh kota bisa terlihat. Indah.
Airin menikmati pemandangan itu. Dia menikmati saat di mana dia menemani suaminya dengan cinta. Dia menikmati saat Arja juga membalas cintanya. Airin bahagia untuk saat ini.
***