My Love My Pain

My Love My Pain
Sela 2



Airin tidak bisa melepaskan tangannya begitu saja dari Sela. Bahkan saat Sela akan dimasukan ke ruang operasi. Tidak tahu kenapa, Airin merasa sangat terluka dengan apa yang dia lihat.


Tanpa sadar, Airin berjalan tanpa tongkat. Entah dimana Airin meninggalkan tongkat itu. Sekarang, pikiran Airin hanya tertuju pada Sela yang sedang menjalankan operasi.


Apa yang baru saja terjadi membuat Airin merasa bingung. Jika tidak ada penembak itu, sudah pasti Sela akan mengatakan siapa dalang penculikannya. Setelah itu dia bisa tahu apa alasannya diculik.


"Airin."


Airin menoleh dan melihat Vino datang dengan berlari kearahnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Vino kemudian.


"Duduk dulu," kata Airin.


Lalu, Airin mulai menceritakan semuanya. Awal pertemuan yang tidak sengaja dan berakhir pada sebuah insiden penembakan.


"Aku ingin kau menyelidiki kasus ini untukku," kata Airin di akhir cerita.


Vino diam, bagaimanapun saat ini Vino tidak ingin Airin ikut dalam masalah. Apa lagi ini bukanlah masalah yang sepele menurut Vino.


"Vin, kenapa kamu diam?" tanya Airin.


"Bukan saatnya membahas hal ini. Aku kesini untuk mengajakmu pulang."


"Pulang?" tanya Airin tidak percaya.


"Iya. Mama sudah menunggu dengan dokter kenalannya."


Airin langsung menggeleng dengan cepat. Dia tahu jika dia bukan dokter biasa. Dia adalah dokter kejiwaan yang dipanggil Vino kemarin malam.


Vino menarik tangan Airin begitu saja. Airin sudah mencoba melepaskannya. Hanya saja pegangan di tangannya sangatlah kuat.


Sampai di parkiran rumah sakit. Airin masuk ke mobil. Dia mencoba keluar tapi Vino sudah terlanjur menguncinya. Sampai Vino masuk dengan ponsel di tangannya.


"Apa kau dan mama masih menganggap aku gila?" tanya Airin.


Vino meletakan ponselnya dan menatap pada Airin, "Ini demi kebaikan kamu, Rin. Aku tidak ingin..."


"Sudah cukup. Kita akhiri saja hubungan ini," kata Airin.


"Rin, dengarkan dulu apa yang aku katakan."


Airin menoleh dengan mata berkaca-kaca, "Aku kira kau akan menjadi tambatan terakhirku. Ternyata kau sama saja dengan Arja. Kau hanya membuat aku terluka."


"Rin,..."


Malas mendengar apa yang diucapkan Vino. Airin memilih untuk menatap keluar kaca mobil. Sebenarnya Airin sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Vino. Vino membuatnya seolah-olah wanita paling bahagia, tapi Airin harus menurut pada Vino.


***


Sampai di rumah. Airin bisa berjalan seperti biasanya. Dia bahkan meninggalkan Vino yang masih berada di dalam mobil.


Dua pasang mata langsung menatap Airin begitu dia masuk. Mama dan sang dokter, mereka sudah menunggu kedatangan Airin.


"Kau sudah datang?" tanya mama Vino yang akan memeluk Airin.


Airin mundur beberapa langkah membuat mama Vino diam. Mereka hanya saling pandang.


"Dimana tongkatmu? Ais?" tanya mama Vino.


"Bukan urusanmu."


Mama Vino menggeleng, "Apa mama berbuat salah sama kamu?" tanya mama Vino dengan lembut.


Airin tidak menjawab. Dia memilih kembali berjalan menuju ke kamarnya. Sampai di dalam kamar, dia mencari berkas yang waktu itu diberikan oleh Arja. Setelah menemukannya, senyum Airin mengembang.


"Apa kau akan pergi dari sini?"


Airin menoleh karena mendengar suara seorang wanita. Wanita itu, kali ini Airin mencoba menguatkan hati dan jiwanya. Dia harus menangkap wanita itu. Agar Vino dan mamanya percaya.


"Apa karena aku?" tanya wanita itu.


Airin tersenyum, "Aku tahu kau bukanlah ilusiku. Kau nyata."


Wanita itu tersenyum, "Bagaimana kejutan yang aku berikan? bagus bukan?"


"Apa maksudmu?" Airin tidak paham dengan apa yang dikatakan wanita itu.


Wanita itu mengelilingi tubuh Airin, "Aku harus menyingkirkan satu persatu orang yang mendukungmu. Dengan begitu, bosku akan membayar mahal."


"Siapa bosmu?"


Wanita itu tertawa dengan keras. Lalu dia menepuk pundak Airin. Setelah itu, pintu terbuka. Ada Vino disana. Airin menoleh pada wanita itu, sudah tidak ada.


Airin menelan ludah dengan hati yang tidak percaya. Jika dia mengatakan hal ini, Vino akan semakin yakin jika Airi wanita gila. Akhirnya, Airin memilih untuk diam.


"Ada apa kau kesini?" tanya Airin.


"Jika kau memang tidak gila. Untuk apa kau bicara sendiri."


Airin kaget, sejak tadi Vino pasti sudah berada di depan pintu.


"Ikut aku," kata Vino yang langsung menarik tangan Airin, "kau harus segera di tangani dokter."


Mau tidak mau akhirnya Airin menerima untuk berbicara dengan dokter itu. Mama Vino sudah menyiapkan sebuah ruangan untuk digunakan dokter dan Airin.


Dengan perasaan yang tidak tenang, Vino menunggu Airi keluar dari ruangan itu. Sementara mama Vino terus menenangkan anaknya itu.


***


Arja kaget saat mendengar kabar bahwa Sela masuk ke rumah sakit. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Sela awalnya. Sampai dia diberi tahu oleh dokter yang menangani Sela.


"Sebenarnya tadi, Ibu Sela bersama seorang wanjta. Saat saya akan memberinya kabar, dia sudah tidak ada di tempat," kata dokter itu.


"Wanita?" tanya Arja.


"Iya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," kata dokter itu dan langsung pergi.


Arja masuk ke ruang rawat. Dia mendapatkan Sela yang terlelap dengan selang infus di tangannya. Perlahan, Arja menggenggam tangan itu lalu menciumnya.


Disaat seperti ini, Arja tidak tahu apa yang terjadi pada hatinya. Yang jelas, dia merasakan luka di dalam hatinya saat melihat Sela terbaring lemah. Untung saja janin Sela masih bisa diselamatkan. Jika tidak, entah apa yang akan dilakukan Arja.


"Airin," lirih Sela, "Airin," lirihnya lagi.


Arja berdiri dan menatap wajah Sela yang masih terlelap. Hanya saja dia terus menyebut nama Airin. Hal itulah yang membuat Arja tahu wanita yang menemani Sela saat tertembak.


Rasa kesal langsung muncul di dalam benak Arja. Dia tidak akan memaafkan apa yang sudah Airin lakukan. Walau Airin ingin balas dendam, bukan seperti ini caranya, pikir Arja.


"Sela, aku akan membuat Airin juga merasakannya."


Sela masih saja menyebutkan nama Airin. Arja menjadi semakin emosi. Sampai seseorang masuk ke ruang rawat itu.


Ya, Airin datang untuk menemui Sela. Mata Arja dan Airin bertemu. Gurat kekesalan semakin terpancar diwajah Arja. Dengan keras, Arja menarik tangan Airin untuk keluar dari ruangan itu.


"Apa yang kau lakukan pada Sela?" tanya Arja begitu sampai di luar kamar.


"Apa maksudmu. Aku kesini untuk menjenguknya," ujar Airin.


"Apa kau sudah gila? bukankah kau dan Sela tidak pernah akur. Kenapa tiba-tiba kau dan dia bersama."


"Apa yang kamu katakan," kata Airin


"Kau kan yang menembak Sela?" tanya Arja.


Airin membulatka matanya, bagaimana bisa Arja menuduh Airin yang menembak. Airin bahkan belum pernah memegang sebuah pistol dalam hidupnya.


"Benar."


Arja dan Airin menoleh kearah yang sama. Tante Mia datang dengan senyuman dibibirnya.


"Ya, aku melihat orang suruhan Airin disana. Aku memang tidak sengaja melihatnya," kata tante Mia.


"Tante? bagaimana bisa tante..."


"Sudahlah, Rin. Kamu sudah tidak bisa mengelak lagi, sebelum aku panggil polisi. Lebih baik kau pergi dari sini," kata Arja.


"Aku tidak melakukan apapun. Aku dan Sela tidak sengaja bertemu." Airin terus mencoba membela dirinya sendiri.


Tante Mia mendekat pada Arja, "Lebih baik kau mengurunya. Aku akan mengurus Sela."


Kali ini Arja menurut dengan apa yang dikatakan tante Mia. Dia membawa Airin keluar dari rumah sakit. Bahkan Arja juga menghentikan taxsi untuk membawa Airin pergi dari sana.


"Airin. Aku tahu kau masih mencintaiku, tapi jangan lukai Sela dan bayinya. Aku tidak akan pernah tinggal diam," kata Arja.


Airin hanya diam. Lalu, Arja menutup pintu taxsi itu. Dia memikirkan apa yang Arja katakan. Airin merasa dirinya sudah dijebak dalam sebuah masalah.


Sementara itu, diruangan rawat. Sela perlahan membuka matanya. Dia melihat wanita yang sangat ingin dia hindari. Tante Mia, tante Mia tersenyum dengan warna lipstik gelap yang dia pakai.


"Kau sudah bangun?" tanya tante Mia.


Sela masih diam. Jika dia bisa berharap, saat ini dia tidak ingin bangun. Dia ingin kembali masuk kealam yang tidak diketahuinya. Itu lebih baik dari pada bertatap muka dengan tante Mia.


"Jangan takut," kata tante Mia yang melihat wajah ketakutan pada Sela, "aku tidak ingin membunuhmu. Aku hanya menggertakmu, jika kau berani mengatakan pada Airin. Baru aku akan membunuhmu."


"Ka...kau..."


"Shhhh," tante Mia meletakan telunjuknya dibibir Sela, "Tidak usah bicara. Kau hanya perlu mengikuti permainanku. Tidak usah takut," kata tante Mia.


Sela menggeleng dengan keras. Air matanya keluar, hal itu membuat tante Mia merasa khawatir. Khawatir jika Arja tiba-tiba saja datang ke kamar itu. Jika dia mau, dia bisa membunuh Sela saat itu juga. Hanya jika dia melakukannya, Arja akan curiga.


Benar saja, Arja masuk dan mendapati Sela sedang menangis ditemani tante Mia. Tante Mia duduk sembari mengusap wajah Sela dengan sangat lembut.


"Kau kenapa? apa ada yang sakit? dimananya?" tanya Arja.


Sela hendak menjawab, tapi tante Mia langsung mendekat pada Arja.


"Sepertinya dia sangat takut mengingat kejadian itu. Aku tidak sengaja menanyakannya," kata tante Mia.


Arja diam dan duduk di samping Sela. Dia menggenggam tangan itu dengan sangat erat. Bahkan membuat Sela merasa lebih tenang dari pada tadi.


Tante Mia menatap tajam pada Sela. Dia merasa sangat benci padanya. Melihat hal itu, Sela memilih untuk menatap pada calon suaminya itu.


"Kalau begitu aku pergi dulu," kata tante Mia.


Tante Mia mendekat pada Sela, "Jaga dirimu dan bayimu baik-baik."


Setelah mengatakan hal itu. Tante Mia langsung keluar. Sebelum itu dia sudah menelfon seseorang untuk mengawasi gerak gerik Sela. Dia tidak mau apa yang sudah dilakunnya sampai saat ini hancur dengan mudah.


***


Vino dan mamanya sedang duduk di ruang tamu. Mereka terlihat gelisah karena Airin tidak kunjung pulang. Bahkan ponselnya juga dimatikan.


Kekhawatiran Vino semakin bertambah saat dokter menyatakan jika Airin trauma. Ya, dia trauma dan terus dibayangi oleh wanita yang menculiknya.


Jika hal itu tidak ditangani dengan baik. Bisa saja Airin akan terkena gangguan yang lain pada hidupnya. Sementara ini, Vino setuju untuk membawa Airin terapi pada dokter itu satu minggu sekali.


Brak. Airin membuka pintu, dia terlihat tidak senang, bahkan matanya terlihat sembab. Vino langsung mendekat pada Airin dan membantunya berjalan.


"Kau darimana saja? aku sangat khawatir," kata Vino.


"Aku baru saja menemui teman," kata Airin.


Mama Vino mendekat, "Apa kalian bertengkar. Kau terlihat baru saja menangis," kata mama Vino.


Airin hanya diam, lalu tersenyum.


"Aku ingin istirahat. Bisa, kan?"


"Tentu," ucap Vino.


Dengan penuh perhatian Vino mengantarkan Airin masuk ke kamarnya. Tidak ada hal yang mereka bicarakan. Sejak Vino mengira Airin tidak sehat secara mental. Airin merasa enggan untuk menceritakan apa saja padanya.


***