
Airin sudah selesai dengan tugasnya. Dia sudah selesai mengetik berkas itu. Tinggal dia kirimkan saja setelah makan siang nanti. Setelah mematikan laptopnya, Airin berjalan untuk keluar dari ruangannya.
Brak. Pintu itu kembali tertutup, Vino masuk dan langsung membungkam mulut Airin dengan tangannya. Bahkan Airin tidak bisa mengucapkan apapun. Airin hanya bergumam tidak jelas.
Setelah di rasa aman. Vino melepaskan bekapan mulutnya pada Airin. Airin akhirnya bisa menghirup nafas lega.
"Ada apa, Pak?" tanya Airin.
"Kau kenapa disini?" tanya Vino pada Airin.
"Ini ruangan saya, Pak."
Vino mengedarkan pandangannya. Benar juga, ini adalah ruangan Airin. Vino yang sudah terlanjur hanya bisa tersenyum.
"Bagaimana dengan berkas yang aku minta?" tanya Vino.
"Sudah saya siapkan, Pak. Akan saya kirim nanti," kata Airin.
"Bagus. Kamu bisa istirahat dulu."
Tanpa kata apapun. Vino keluar dari ruangan Airin. Meninggalkan Airin yang masih kebingungan karena tingkah aneh Vino. Kenapa bisa Vino sampai bersembunyi.
***
Kemarin Arja ingin mengatakan sesuatu pada Airin. Karena kedatangan Sela membuat Arja memilih untuk diam. Bahkan dia mengbrol dengan Sela sampai larut malam. Obrolan yang bahkan Airin sendiri tidak tahu.
"Hai, kau sudah mau pulang?" tanya Sela yang langsung merangkulku.
"Ya."
"Terima kasih sudah mengijinkanku menginap tadi malam."
"Sama-sama."
"Apa Arja tidak menjemputmu?" tanya Sela lagi.
"Entahlah. Kau sendiri, kenapa pacarmu tidak menjemputmu?"
Sela hanya tersenyum, "Pacarku tidak pernah bisa bertemu denganku secara bebas. Dia tipe penggila kerja," jelas Sela.
"Kasihan sekali adikku ini."
Mereka berjalan ke halte bus bersama. Juga bersama dengan karyawan yang lain. Sebenarnya, Airin merasa perlu bertemu dengan Maya dan Arja secara bersamaan. Mungkin, dengan cara itu. Airin akan tahu apa yang mereka inginkan.
Untuk saat ini. Airin akan memilih di duakan dari pada ditinggalkan. Jika dia bercerai, itu akan membuat om dan tante kecewa. Mungkin ini jalan terbaik, pikir Airin.
"Busnya sudah datang. Ayo pergi," ajak Sela.
"Tidak. Kau duluan saja, aku masih harus ke tempat lain."
"Baiklah, Rin."
"Ya."
***
Dengan cucuran air mata. Airin memotong bahan makanan. Dia sudah mengundang Maya, dia juga sudah meminta Arja untuk pulang lebih cepat. Malam ini, malam penentuan tanggal untuk pernikahan Arja dan Maya.
"Jangan menangis," kata Arja yang langsung memeluk Airin dari arah belakang.
Airin yang sadar dengan kedatangan Arja. Dia langsung menghapus air matanya. Dia tidak ingin menjadi beban untuk suaminya itu. Lebih baik, dia menyembunyikan semuanya sendiri.
"Aku tidak menangis. Apa kau sudah lapar?" tanya Airin dengan senyuman.
"Tidak. Aku hanya ingin melihatmu, apa kau sudah yakin dengan apa yang kau putuskan?" tanya Arja.
Senyuman. Itulah yang diberikan Airin kali ini. Dia menata meja makan itu dengan telaten. Dia juga menyiapkan makanan yang sudah dia buat.
"Jika kau tidak ingin terjadi. Katakanlah," kata Arja sembari menarik Airin kembali ke pelukannya.
"Kau sudah tahu alasanku."
"Rin.."
"Sepertinya Sela sudah datang. Aku akan membukakan pintu untuknya."
Arja hanya diam dengan apa yang dilakukan istrinya. Sebenarnya, dia tidaklah mencintai Maya. Dia hanya senang bermain-main dengan wanita. Wanita yang dicintainya hanya satu orang. Tidak lebih.
"Aku merindukan kamu," kata Sela yang tanpa malu langsung memeluk Arja.
Airin memilih untuk memalingkan mukannya. Setelah kemesraan itu berakhir. Mereka mulai makan, tidak ada kata. Hanya suara Maya yang kadang menggoda Arja.
"Kalian akan menikah kapan?" tanya Airin langsung.
Arja meletakan alat makannya dan menoleh pada Airin. Sementara Maya tersenyum penuh kemenangan.
"Aku sih inginnya cepat. Bagaimanapun, aku sangat mencintai suamimu."
Airin menghela nafas. Arja hanya diam.
"Kalian bisa diskusikan. Aku hanya memberi satu syarat, adilah jika menjadi suami yang memiliki dua istri," kata Airin yang menatap pada Arja.
"Rin," panggil Arja.
"Kalian bisa diskusikan disini. Aku akan ke kamar lebih dulu."
Sebenarnya, Airin tidak lelah. Dia hanya merasa sudah tidak kuat membendung air mata. Dia hanya ingin menangis, dimana tidak ada yang melihatnya. Mana ada wanita yang rela diduakan, hanya karena tidak ingin mengecewakan om dan tantenya. Airin memilih jalan ini. Jalan yang menggores luka.
****