
Airin POV
Airin masih duduk dengan banyak kerisauan di dalam hati. Bagaimana bisa dia malah mengajak Vino bertunangan. Jelas-jelas Airin hanya menganggapnya sebagai teman. Vino mungkin merasa hanya menjadi alat baginya. Alat untuk menjauh dari Arja dan segala urusan tentangnya.
Melihat jam tangannya, ini sudah waktunya Airin pergi ke rumah Vino. Walau Vino kemarin meninggalkannya tanpa kata, tadi pagi-pagi sekali dia mengabari Airin. Mamanya ingin bertemu dengan Airin. Entah apa yang akan mereka bahas nanti.
Brak. Airin membuka pintu dan kaget dengan apa yang yang dia lihat. Tidak tahu sejak kapan, tapi sekretaris Sa sudah duduk di kursi teras depan rumah. Dia juga langsung menoleh begitu mendengar Airin membuka pintu.
"Akhirnya kau keluar juga," kata sekretaris Sa dengan senyum mengembang.
Airin keluar dan menutup pintu itu kembali. Tidak lupa dia juga menguncinya.
"Ada apa kau datang kesini?" tanya Airin.
Sekretaris Sa menyunggingkan sebuah senyuman dan langsung memegang tangan Airin. Dengan keras Airin melepaskan pegangan tangan itu. Tidak mungkin sekretaris Sa akan sebaik itu.
"Tidak usah menyentuhku. Katakan saja apa yang ingin kau katakan, aku ada urusan lain."
"Sifatmu semakin keras saja."
"Bukan urusanmu."
Sekretaris Sa malah tertawa kecil.
"Baiklah. Sepertinya kau tidak senang dengan kedatanganku. Aku kesini hanya karena permintaan Bos Arja. Dia ingin kau kembali padanya saat ini."
"Apa sudah selesai?" tanya Airin yang tidak berminat dengan pembicaraan itu.
"Jika kau menolak. Akan banyak masalah yang akan datang pada hidupmu," jelas sekali jika sekretaris Sa mengancamnya.
"Katakan padanya, lakukan apa saja yang dia mau. Jangan harap aku akan kemhali kepelukan seorang penghianat."
Tidak lama sebuah mobil datang kearah depan rumah Airin. Airin tahu jika itu jemputan untuknya dari Vino. Dia tidak ingin Airin terlambat, akses transportasi disini memang cukup sulit.
Tanpa mengatakan apapun Airin meninggalkan sekretaris Sa. Dia masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopir itu untuk berjalan.
"Tapi wanita itu?" tanya sopir keluarga Vino.
"Dia salah alamat. Ayo pergi."
***
Airin tidak habis fikir dengan apa yang dipikirkan Arja. Dia menyuruh Airin kembali, sementara disisinya ada Sela yang sangat ingin menyingkirkan Airin. Aneh.
Sampai di sebuah vila. Vila dengan bangunan yang terlihat cukup tua. Apa mungkin keluarga Vino sangat suka dengan sejarah. Rumahnya selalu saja terlihat kuno, namun terawat.
"Kau datang?" tanya Vino yang sudah menunggu Airin di depan pintu.
"Ya. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku." Mereka berjalan melalui lorong, "Dimana tante?" tanya Airin.
"Dia sudah mejunggumu sejak tadi."
"Benarkah?" Airin tersenyum mendengar jawaban Vino.
"Dia sangat senang mendengar kabar kita akan bertunangan," kata Vino. Dia terlihat menunduk.
Airin tahu, dia sudah melukai hati Vino. Airin mau bertunangan bukan karena cinta yang kembali tumbuh dihati. Hanya karena sebuah pelampiasan saja. Walaupun begitu, Airin akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan.
Perlahan Airin mendekat dan memegang tangan Vino. Dia menoleh pada Airin, mata mereka bertemu. Perlahan, ada sebuah senyuman yang terbit dibibir Vino. Setidaknya Airin bisa merasa tenang kali ini.
"Akhirnya kau sampai juga. Aku sudah lama menunggumu," kata mama Vino.
"Maaf tante, tadi ada hal mendadak."
Airim mendekat dan langsung memeluk mama Vino. Kemudian mereka duduk di ruangan itu. Ruangan yang berdominan warna putih. Terlihat sangat cerah dan bersih, namun menenangkan.
"Apa kau sudah benar-benar siap dengan pertunangan ini?" tanya mama Vino.
Airin diam, untuk beberapa saat otaknya tidak bisa bekerja rasanya.
"Airin," panggil mama Vino.
"Ya, tante. Aku sudah memikirkan semuanya, aku juga tidak mau reputasi Vino hancur karena aku."
"Jadi?"
Airin menatap kearah Vino. Dia mengulas senyum lagi, namun senyum yang tidak bisa Airin artikan.
"Kami akan bertunangan dengan restu tante. Jika tante tidak merestui kami, percuma saja kami melakukan pertunangan ini," kata Airin sembari menatap Vino. Airin tidak melepas tatapan itu sedikitpun.
Mama Vino tertawa cukup keras, "Aku pasti akan merestui kalian berdua. Kalian adalah pasangan yang sangat aku inginkan."
Airin memalingkan wajahnya pada mama Vino dan mengangguk. Dia benar-benar bahagia mendengar apa yang Airin katakan. Apapun yang terjadi, Airin tidak akan mengecewakannya.
"Kalau begitu. Kalian bisa bicara berdua, aku akan memberitahu pada teman-temanku. Aku akan mengadakan pertunangan yang mewah untuk kalian."
"Terima kasih, tante."
"Ya, sayang."
Kini, hanya ada Airin dan Vino. Dia tidak senang dengan apa yang Airin lakukan. Mungkin, dia mengira Airin hanya memainkan permainan disini. Mereka hanya saling tatap tanpa ada sepatah kata sedikitpun.
***
Setelah selesai berkunjung ke rumah Vino. Airin diantar Vino untuk kembali pulang. Sebelum itu, Vino mengajaknya ke taman belakang rumah ini. Disana ada banyak bunga yang bermekaran. Sangat indah.
"Kenapa kau melakukan ini pada Mama?" tanya Vino saat Airin sedang memetik beberapa bunga.
Airin menoleh padanya, "Apa maksudmu?" tanya Airin tidak paham jalan pikiran Vino.
"Kau yang mengatakan jika kita hanya pura-pura. Lalu kenapa kau malah membuat mama semakin berharap."
Airin membuang bunga itu dan mendekat pada Vino. Mereka saling beradu pandang.
"Aku tidak sedang bermain. Airin menganggap ini sungguhan, bukan sebuah kepura-puraan."
Vino menarik Airin ke dalam pelukannya. Dia merapikan anak rambut yang menutupi wajah Airin.
"Kau tidak mencintaiku. Kenapa kau melakukannya?"
Pertanyaan Vino membuat Airin diam seribu bahasa. Apa yang dia katakan benar, tapi Airin tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Vino akan merasa sangat kesal jika tahu alasan Airin mau bertunangan dengannya.
"Kenapa diam? jawablah."
"Aku melakukan ini karena tidak ingin menyakiti hati seorang wanita. Aku tidak ingin membuat harapan kosong untuk mamamu."
Vino tersenyum dengan sinis. Lalu dia melepaskan pelukannya dari Airin. Dia menatap Airin kembali dan langsung mencium dengan paksa.
Sekuat tenaga Airin mencoba melepaskan ciuman itu. Sampai tidak sengaja Airin menggigit bibirnya. Airin melihat tatapan lain dari mata Vino.
"Kau memang belum mencintaiku, tapi lambat laun kau akan mencintaiku. Seperti aku mencintaimu saat ini," kata Vino.
"Jangan membuat omong kosong. Kita hanya teman dan selamanya akan menjadi teman."
Vino tidak menjawab. Dia malah kembali berniat untuk mencium Airin lagi. Kali ini, Airin bisa menghindar dan langsung meninggalkan Vino. Kenapa Vino menjadi orang lain setelah mencium Airin. Apa karena dia kecewa hanya Airin anggap teman.
***