
Airin menangis tersedu. Bagaimana tidak, dia bangun dari pingsan dan tidak bisa bergerak. Ya, dia masih diikat dengan tali seperti yang dikatakan oleh dokter pada Vino.
"Sudah aku bilang aku tidak gila. Aku mohon lepaskan aku," kata Airin masih dengan linangan air mata.
Mama Vino masuk dan langsung mencoba menenangkan Airin. Dia merasa tidak tega dengan apa yang dialami Airin. Hanya saja, mama Vino juga tidak ingin Airin mengakhiri hidupnya karena halusinasi.
"Sayang, mama ada buat kamu," kata mama Vino.
"Mau kalian apa? aku tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa aku di perlakukan seperti ini?"
Tidak lama Dokter masuk dengan sebuah suntikan di tangannya. Dia mendekat pada Airin dan langsung menyuntikan cairan itu. Perlahan, Airin mulai menutup matanya kembali. Dia kembali pingsan.
Mama Vino berdiri dan menatap pada dokter itu. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Hanya saja, dia urungkan.
"Ini," kata dokter sembari memberikan obat pada mama Vino, "minumkan saat dia bangun nanti."
"Baik," kata mama Vino.
"Saya pergi dulu. Masih ada pasien yang menungguku."
Sementara itu, Vino duduk dengan Jay disebuah cafe. Jay sedang melihat obat yang selama ini dia berikan pada Airin. Sejak dokter itu memberikan resep itu, tingkah Airin semakin menjadi. Dia bahkan sering berbicara sendiri.
"Vin, apa sebaiknya kau pasang kamera tersembunyi di kamar Airin."
"Maksudmu?"
"Bisa saja apa yang dikatakan Airin bukan halusinasi. Kondisi Airin tidak ada yang salah menurutku," kata Jay.
"Lalu bagaimana dengan obat itu?" tunjuk Vino pada obat yang berada di tangan Jay.
Jay berdecak, "Tidak seharusnya Airin meminum obat penenang ini. Dia baik-baik saja, jika dia terus meminum obat ini. Mungkin akan terjadi hal yang fatal."
Vino diam. Bagaimana bisa seorang dokter memberikan resep seperti itu pada orang yang sehat. Pikiran Vino kini tertuju pada mamanya, mamanya yang membawa dokter itu ke rumah dan memeriksa Airin.
***
Malam itu, Vino duduk di kamarnya sembari menatap layar laptopnya. Dia ingin tahu apa Airin bicara sendiri atau ada orang lain. Ya, rasa penasaran itu harus terpecahkan segera. Atau Airin akan semakin terluka.
Airin duduk masih dengan air mata yang berlinang. Dia merasa sangat terpuruk, bagaimana bisa mereka menganggap Airin gila.
Tidak lama, seorang wanita masuk ke dalam kamar Airin. Vino melihat hal itu, bukan Ais atau mamanya. Juga bukan pelayan di rumah itu.
Wanita itu mendekat pada Airin yang sedang menangis. Dengan keras, wanita itu mengangkat kepala Airin hingga mereka saling berhadapan.
"Apa lagi yang kamu mau? bukankah kau sudah berhasil membuat aku gila," kata Airin masih dengan tatapan ketakutan.
Wanita itu tertawa, "Aku memang ingin kau gila, tapi ada orang lain yang ingin kau lenyap."
Mata Airin membulat, dia tahu maksud dari perkataan Heila. Hanya saja, Airin masih belum tahu siapa yang berada di balik Heila.
Perlahan, tangan Heila mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah pil berwarna merah kecoklatan. Airin tidak tahu obat apa itu.
"Biarkan aku bersama Vino. Kau bisa makan ini dan pergi dengan damai," kata Heila.
Vino sudah tidak tahan lagi. Dengan kecepatan tinggi dia berlari kearah kamar Airin. Brak, Vino membuka pintu kamar itu. Heila kaget dengan kedatangan Vino yang tiba-tiba.
Heila mundur beberapa langkah. Dia berniat akan pergi, tapi tangannya sudah dipegang oleh Vino. Ya, Vino berhasil mendapatkan Heila saat itu juga.
Malam itu, banyak orang yang bangun dan melihat Heila yang sudah terikat. Ya, mereka kini sudah tahu siapa yang selama ini membuat Airin ketakutan.
"Kenapa kau melakukan ini Heila?" tanya mama Vino dengan keras.
Mama Vino menatap pada Vino, "Sudah aku katakan jangan berhubungan dengan wanita ini. Sekarang, lihat apa yang dia lakukan pada Airin."
Vino tidak menjawab, dia sudah menelfon polisi untuk menyelidiki kasus itu. Dia tidak ingin Airin kembali diteror semacam itu lagi.
Tiba-tiba saja Heila tertawa dengan keras. Dia menatap pada Airin, "Bukan hanya aku Airin. Banyak orang yang ingin melenyapkan kamu."
Plak, Vino menampar wajah Heila dengan keras.
"Jangan berani mengancam wanitaku," kata Vino.
Airin menatap pada Heila, "Siapa yang menyuruhmu membunuhku?"
Heila tidak menjawab.
Vino mengangkat wajah Heila, "Katakan siapa yang menyuruhmu."
"Aku tidak akan mengatakan apapun," kata Heila.
Vino berdecak kesal, "Baiklah, biar polisi yang mengurusnya."
Heila mengembangkan senyumnya, "Polisi? mereka tidak akan pernah bisa tahu siapa dan alasannya ingin membunuh Airin."
Heila merubah posisinya menghadap pada jendela. Tidak lama, dor, dor, dor. Beberapa tembakan mengenai Heila, dengan senyuman Heila menutup matanya.
"Sial," umpat Vino.
Semua yang berada di ruangan itu kaget. Tidak ada yang berani bergerak, Heila terjatuh dengan banyak darah keluar dari tubuhnya. Mungkin, Heila memang sudah siap untuk kematiannya itu.
***
Setelah kejadian semalam, rumah Vino rasanya sangat mengerikan. Bahkan para pelayan juga tidak ada yang saling bertegur sapa.
Sarapan yang mereka buat juga tidak disentuh oleh mama Vino dan yang lain. Tidak ada yang berselera untuk makan. Vino menoleh pada mamanya.
"Ma, lebih baik untuk saat ini mama kembali ke luar saja. Disini keadaanya buruk," kata Vino.
Mama Vino malah menatap Airin yang sejak tadi termenung.
"Mama tidak inginkan melihat Airin semakin ketakutan."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya mama Vino.
Vino tersenyum, "Mama tenang saja. Aku akan tetap melanjutkan terapi Airin, aku juga akan memilih rumah yang jauh dari sini."
"Baiklah, tetap kabari mama."
Vino melakukan hal ini karena takut jika kembali ada teror. Mungkin bukan hanya Airin, mamanya juga bisa menjadi incaran si pelaku. Apa lagi, sampai saat ini polisi belum menemukan titik terang untuk kasus ini.
***
Sore itu Airin dan Vino berjalan-jalan disebuah Vila yang cukup jauh dari kota. Vino sengaja membawa Airin untuk jalan-jalan. Setidaknya, Airin bisa menghirup nafas segar tanpa ada rasa khawatir.
Beberapa kali Airin membenarkan lengan baju yang dia pakai. Terlihat sekali jika Airin tidak nyaman dengan bajunya saat ini. Kemudian, Vino menarik tangan Airin mendekat.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Airin.
"Aku ingin melihat senyum di wajahmu."
Ya, beberapa hari ini Airin sangat sulit tersenyum. Dia merasa takut akan kedatangan wanita yang menculiknya. Kini kekhawatiran itu sudah sirna. Airin bisa mengembangkan senyumnya lagi.
"Ayo, tersenyumlah."
Airin menundukan wajahnya. Dia sangat merasa bersalah pada Vino. Dia mengira jika Vino juga tidak percaya padanya. Padahal selama ini Vinolah yang menjaganya. Tanpa terasa, perasaan itu membuat Airin menitikan air matanya.
"Kenapa menangis? apa aku membuatmu sedih?" tanya Vino.
Airin langsung memeluk Vino dengan erat, "Maaf, tidak seharusnya aku mencurigaimu."
"Tidak apa," kata Vino, "masalah ini sudah berlalu. Kembalilah menjadi wanitaku yang murah senyum."
Ya, Airin perlahan mengembangkan senyumnya. Hal itu membuat Vino juga ikut tersenyum.
"Malam ini aku yang masak. Kau hanya perlu berdandan cantik untukku."
"Tentu," ucap Airin.
Mereka bergandengan tangan dan kembali ke vila yang sudah mereka sewa. Hari ini, Vino berniat menjauhkan Airin dari hiruk pikuk kota. Dia tidak ingin Airin kembali terkena masalah.
***
Arja masuk dengan nampan berisi mangkuk bubur dengan susu. Dengan lembut, Arja mulai bersiap untuk menyuapi Sela.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Sela.
Arja menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap pada Sela.
"Apa kau masih mencintai Airin?" tanya Sela lagi.
Arja meletakan mangkuk dan sendok kembali, "Kenapa kau menanyakan hal ini?"
"Arja. Aku tidak ingin menjadi beban, jika memang kau masih mencintai Airin. Lepaskanlah aku," kata Sela.
"Anak kita?"
"Dia akan menjadi anak yang baik. Aku janji," ucap Sela.
Arja diam dengan apa yang dikatakan Sela. Kali ini, Sela benar-benar berhenti. Bukan karena cintanya yang sudah pudar. Hanya saja, dia tidak ingin membuat bayinya dalam bahaya.
Untuk beberapa saat mereka saling diam. Lalu, dengan lembut Sela memegang tangan Arja.
"Berikan saja aku rumah yang jauh dari kota. Aku akan tinggal disana dengan anak kita, kau bisa datang kapan saja untuk menemuinya."
Tes, buliran air mata menetes. Bukan dari mata Sela, tapi dari mata Arja. Entah apa yang bisa membuatnya menangis kali ini. Kehilangan Sela atau bahagia karena dia bisa mengejar Airin.
"Jangan menangis, kau jelek saat menangis."
"Kau tahu, Airin sudah dimiliki Vino. Sekarang aku hanya memilikimu," ucap Arja.
"Aku tidak ingin menjadi bayangan bagi Airin. Kejarlah dia, buat dia menyukaimu."
"Apa kau serius dengan ucapanmu?" tanya Arja.
Sela mengangguk, "Ya."
Arja memeluk Sela dengan erat. Hati Sela sebenarnya sangat terluka. Hanya saja dia mencoba tenang, bagaimanapun nyawa bayinya itu lebih berharga dari sebuah cinta buta.
Setelah percakapan itu. Arja mencarikan sebuah rumah dipinggiran kota. Dia mencarinya sendiri karena permintaan Sela. Sela tidak ingin ada yang tahu kepergiannya, hanya Arja yang boleh tahu. Itupun karena anak yang dikandungnya.
***
Airin menatap dirinya sendiri di depan kaca. Rambutnya tergerai panjang dengan olesan makeup tipis di wajahnya. Dengan cara Vino, Airin perlaha mulai melupakan kejadian penculikan itu.
Melihat jam membuat Airin langsung sadar. Dia mengambil tas tangannya dan berlari kearah Vino. Vino sudah menyiapkan makan malam yang sangat indah.
Sebuah meja makan di tengah-tengah taman dengan berbagai hiasan lampu. Airin mengembangkan senyumnya, sampai dia berada sangat dekat dengan Vino.
"Terima kasih," ucap Airin.
"Sama-sama."
Mereka duduk. Kali ini, Vino benar-benar berhasil membuat Airin melupakan segalanya. Termasuk masa lalu Airin dengan Arja. Vino bahagia karena senyuman Airin sudah kembali.
"Apa kau serius akan menikah denganku?" tanya Vino.
Dengan malu, Airin menganggukan wajahnya.
"Bagaimana jika Arja tetap mengejarmu?"
Airin menoleh pada Vino, "Aku akan tetap memilih kamu."
"Apa kau tidak takut aku melukaimu?"
Kali ini Airin tertawa kecil, "Kau tidak mungkin melakukannya. Selama ini, aku sudah melihatnya, kau selalu melindungiku."
Vino menyunggingkan senyum. Perlahan Vino menyelipkan sebuah cincin di jari manis Airin. Airin merasa sangat senang sekaligus beruntung. Dia sangat berharap, cintanya kali ini bukanlah sebuah luka.
Perlahan tubuh mereka saling mendekat. Pelukan hangat menyambut mereka, sebuah kecupan mendarat dikening Airin. Malam itu, tidak mungkin mereka berdua lupakan. Malam yang indah.
***
Vino dan Airin sudah kembali ke kantor. Airin sudah tidak merasa kesal dengan apa yang dikatakan orang kantor. Dia merasa jika kantor itu juga miliknya. Karena sang pemilik adalah miliknya.
"Tolong kau urus berkas ini," kata Vino memberikan berkas pada Airin.
"Tentu," kata Airin.
Lola tersenyum dan memberikan selamat atas kembalinya Airin ke kantor. Banyak juga karyawan yang memberikan sapaan lembut. Tidak seperti dulu.
Hari ini, Vino dan Airin akan kembali berkutat dengan berkas juga urusan kantor. Untuk semua aset yang dimiliki Airin. Dia serahkan pada Vino, Airin belum bisa mengelolanya dengan baik.
Arja sudah kembali keaktivitasnya seperti biasa. Dia sudah melepaskan Sela dan hal itu membuatnya lega. Hanya ada foto Sela yang kini menemaninya.
Sebuah surat di tangan Arja membuatnya diam. Dia penasaran dengan isi surat itu, hanya saja dia tidak mungkin bisa membukannya. Surat itu bukan untuknya, tapi untuk Airin dari Sela.
Dengan kecepatan sedang, Arja bergegas ke kantor Vino. Dia akan menemui Airin disana, sembari berharap Airin akan kembali menoleh padanya lagi.
Kau dimana? aku ingin bertemu denganmu.
Pesan itu masuk ke dalam ponsel Arja. Dari tante Mia, beberapa hari ini dia tidak terlihat. Kini dia kembali lagi.
Airin melemparkan ponselnya ke kursi samping. Dia tidak ingin bertemu tante Mia sampai kapanpun. Rasa kesalnya masih saja ada sampai saat ini. Apa lagi mengingat tragedi kebakaran itu.
"Akhrinya sampai juga," lirih Arja.
Dia turun dan membawa surat itu. Setelah bertanya kebeberapa orang. Akhrinya Arja sampai juga ketempat Airin. Airin sedang duduk dengan Lola saat itu.
"Airin," panggil Arja.
Airin menoleh karena merasa dipanggil. Arja berdiri dengan sebuah tatapan pada Airin.
"Bisa kita bicara. Berdua," kata Arja.
Airin menoleh pada Lola. Lola hanya menganggukan kepalanya. Tangan Airin meletakan gelas berisi teh di tangannya.
"Katakan saja jika Vino mencariku," kata Airin.
"Tentu," jawab Lola.
Arja dan Vino memilih untuk berbicara di kantin kantor. Airin menolak untuk bertemu di cafe atau di luar kantor.
Mereka duduk saling berhadapan. Belum ada kata sama sekali, sampai Arja memberikan surat itu pada Airin. Airin menatap Arja dengan penuh tanya.
"Sela, dia yang mengirimkannya."
Airin mengambil surat itu. "Kenapa kau jadi pendiam. Biasanya kau akan banyak bicara," kata Airin.
Arja tidak menjawab, "Aku sudah memberikan apa yang Sela mau. Aku pergi," kata Arja.
Tanpa ada kata lagi, Arja meninggalkan Airin dengan surat itu. Ada banyak pertanyaan yang muncul di hati Airin. Arja benar-benar sudah berubah. Tidak seperti dulu.
Dari arah tangga, Vino berlari mencari Airin. Dia melihat Airin sedang duduk sendiri. Tanpa pikir panjang Vino mendekat dan menarik Airin ke dalam pelukannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Airin.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Vino.
Airin melepaskan pelukan itu. Dia memperlihatkan sebuah surat di tangannya.
"Dia kesini hanya untuk memberikan ini," ucap Airin.
"Apa itu surat cinta?" tanya Vino dengan tawa.
"Kau ini," kata Airin sembari memukul pelan pada Vino.
Vino merangkul Airin, "Ayo kita pulang."
Airin mengangguk.
***