My Love My Pain

My Love My Pain
Kejutan besar



Malam terasa cukup dingin. Gaun yang diberikan Cika cukup terbuka membuat Airin harus mengenakan mantel bulu. Ya, Airin sengaja memadu padankan agar lebih serasi.


Arja membuka pintu kamar dengan sebuah senyuman dibibirnya. Dia mendekat dan memberikan sebuah buket bunga mawar. Sangat indah.


Arja merasa jika istrinya berubah. Berubah menjadi cantik dan mempesona.


"Selamat ulang tahun sayang," kata Arja.


Airin menerima dengan senang hati buket bunga itu. Lantas, Airin memeluknya dengan erat. Tadi mereka bertengkar hebat, sekarang mereka terlihat seperti pasangan romantis.


Airin mendorong Arja menjauh dan berlari masuk ke kamar mandi. Lagi-lagi Airin merasakan mual. Airin juga merasakan kepalanya pusing lagi. Ada apa ini? kenapa seharian aku merasakan mual, pikir Airin.


Setelah merapikan diri Airin keluar dari kamar mandi. Arja masih menunggunya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.


"Aku tidak apa. Hanya saja sejak tadi aku merasa mual," ujar Airin.


"Jangan-jangan kau..."


"Jangan berkata yang tidak-tidak. Ayo kita turun, para tamu sudah berdatangan."


Airin sengaja memotong perkataan Arja. Arja mungkin mengira Airin hamil. Diw tidak ingin menerima hal itu, dia belum siap untuk hamil lagi.


***


Banyak tamu yang datang. Cika juga datang dengan Vino. Yang tidak Airin sangka adalah Arja juga mengundang Sela kesana. Airin mencoba terus menghindarinya. Tidak ingin rasa kasihannya memberikan dia sebuah maaf.


"Airin, apa kau sangat benci padaku?" tanya Sela.


Airin menghela nafas dan berbalik badan. Mata kami bertemu, jelas sekali jika dia terpuruk. Entah karena apa.


"Aku masih menyembunyikannya dari Arja. Aku tidak mau kau terluka," kata Sela.


"Apa yang kau katakan? apa kau sedang mengancamku? kau ingin mengatakan pada Arja? katakan saja. Aku akan lihat reaksi Arja selanjutnya."


Sela menggeleng dan mendekat pada Airin. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Apa kau ingin semua orang tahu jika suamimu tunkang selingkuh?" kali ini Sela tersenyum dengan tatapan licik.


"Apa kau ingin disebut pelakor di depan semua orang?" tanya Airin kemudian.


Sela diam, dia menatap kesal pada Airin. Kado yang ada ditangannya dia letakan di meja dan berlalu begitu saja. Dia merasa bersalah sudah memperlakukan Sela sedemikian rupa. Hanya saja, Airin merasa harus melakukannya.


"Kalian sudah berbaikan?" tanya Arja yang langsung merangkul Airin.


Airin hanya tersenyum kecil. Arja masih mengira jika Airin dan Sela akan berbaikan dengan cepat.


"Aku akan menemui Vino dan Cika lebih dulu."


"Ok. Jangan terlalu dekat dengan Vino."


Tidak ada tanggapan dari Airin. Dia melangkahkan kakinya menuju Cika dan Vino yang sedang duduk di sebuah meja. Airin langsung memeluk Cika.


"Gaun yang kau berikan sangat cantik."


Cika terlihat aneh saat Airin mengatakan tentang gaun. Dia menoleh pada Vino dan Vino hanya tersenyum tipis.


"Sepertinya kau sudah tertipu, aku tidak membeli gaun untukmu. Dia yang membelikannya," tunjuk Cika pada Vino.


Airin duduk di sebelah Cika, "Kenapa kau melakukan ini dan mengatas namakan Cika?"


"Kau tahu suamimu. Jika dia tahu, aku mungkin akan di bunuh."


"Dia tidak sekejam itu," bela Airin.


"Kau membelannya sekarang?" tanya Vino.


"Sudah-sudah, kalian seperti anak kecil saja," Cika mencoba melerai Airin dengan Vino, "Ini kado dariku, sebagai teman."


Airin menerima dengan senyuman. Dia masih saja sabar melihat Airin dan Vino bercanda. Cika sangat dewasa hingga bisa menahan semua perasaannya. Tidak seperti anak kecil.


"Bukalah," kata Cika.


Airin membukannya dengan perlahan. Sedikit demi sedikit akhirnya terlihat juga isi kado dari Cika. Sebuah kalung dengan liontin setengah bintang.


"Lihat." Cika menunjukan kalung yang dia pakai. Ternyata ini kalung berpasangan.


"Terima kasih, aku sangat suka."


"Sama-sama."


Vino mencolek lengan Airin, "Apa kau tidak suka kado dariku?"


"Jika aku tahu ini dari kamu, aku tidak akan mau memakainya," canda Airin.


"Kau ini."


Tiba-tiba saja mata Airin tertuju pada Arja dan Sela. Airin melihat tingkah Sela yang aneh. Dia membawa dua gelas minuman dan mendekat pada Arja yang sedang bergurau dengan temannya.


Mata Airin tidak mau pindah, sampai Airin lihat Sela menuangkan sesuatu ke salah satu gelas. Dia tersenyum dengan tatapan penuh makna pada Arja.


Hatinya sudah tidak mampu menahan semua ini. Airin mendekati Sela sebelum dia berhasil mendekat pada Arja. Dia tidak mau terjadi apapun di acara ulang tahunnya ini.


Airin mengambil yang sudah di beri sesuatu oleh Sela. Dia menatap Airin, namun tidak berani mengambil kembali gelas itu.


"Apa aku boleh meminumnya?"


Sela terlihat khawatir, "I..itu, kau minum yang ini saja bagaimana?" tawar Sela pada Airin.


"Tapi aku mau yang ini," kata Airin.


"Ja..jangan Rin, kamu yang ini aja."


"Ada apa?" tanya Airin lagi.


Wajah Sela semakin gelisah. Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Sela. Dia terlihat sangat takut saat ini. Tanpa pikir panjang, Sela mengambil gelas di tangan Airin dan langsung meminumnya.


Tidak berapa lama, Sela terlihat tidak sadar. Dia mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dia katakan. Dia juga menyatakan cintanya di depan semua orang di depan Airin juga.


Melihat kejadian itu membuat Airin hanya bisa terpaku. Arja yang kewalahan karena tingkah Sela hanya bisa tersenyum dengan wajah kebingungan. Kali ini, bukan hanya Airin yang membenci Sela. Semua orang yang ada disini juga.


Tidak tahu kenapa Airin merasa jika dia harus pergi dari sana. Airin merasa sangat muak dengan apa yang terjadi. Arja bahkan seperti menikmati saat-saat seperti itu.


"Pengumuman. Sepertinya sudah terjadi kekacauan, acara ini akan dihentikan saat ini juga," kata Vino di mikrofon.


Satu persatu tamu mulai keluar melewati pintu. Airin mengangguk, sebagai isyarat terima kasih pada Vino dan Cika. Setidaknya mereka sudah mencoba membantu Airin.


Sementara itu, Sela masih saja menggelayut manja di tubuh Arja. Airin tersenyum geli, Arja memang pria tukang selingkuh. Dia tidak bisa merubah sifatnya.


Untuk saat ini Airin tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter Bob waktu itu. Ini pasti hanya akal-akalannya saja agar Airin bersimpati.


Airin memilih berlari masuk ke dalam kamar. Dia mengunci pintu dengan rapat. Tangannya menutup rapat telinga, dia merasa jika Arja akan kembali memberikan alasan untuk hal ini. Walau Airin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Sela tega melakukan hal ini pada Airin.


***


Airin terbangun karena dia merasakan mual yang sangat mengganggu. Padahal dia sudah mencoba menahannya, tapi tetap saja rasa mual ini datang.


Airin keluar dari kamar masih menggunakan piyama. Melihat ruang tamu membuat Airin kembali ingat tentang hal semalam. Dia berpegangan pada pinggiran tangga.


Tidak lama kepala pelayan menaiki tangga dengan nampan di tangannya. Ada mangkuk bubur dan juga susu. Disana juga ada obat, Airin tahu itu untuk siapa. Sela, dia masih disini sejak semalam, lalu dimana Arja.


"Dimana Arja?" pertanyaan Airin membuat Kepala pelayan hampir terjatuh. Dia mungkin kaget.


"Tuan sudah berangkat sejak pagi tadi. Sarapan sudah kami siapkan," kata kepala pelayan.


"Ya."


Airin mengurungkan niatnya untuk mengambil minuman. Dia memilih untuk bersiap pergi ke kantor saja. Disana dia bisa makan di kantin kantor. Sebelum Sela bangun dan melihat wajahnya. Airin akan pergi lebih dulu.


Dengan celana dan kemeja merah Airin menenteng tas tangannya. Dia sudah siap untuk pergi ke kantor. Sejak bersama dengan Cika, Airin merasa lebih mengerti tentang cara berpakaian. Tidak seperti dulu, hanya pakai baju yang dia suka.


"Nyonya mau kemana?" tanya kepala pelayan.


"Aku akan ke kantor."


"Rin, apa aku bisa ikut di mobilmu. Aku harus kembali ke apartemen."


"Cari mobil lain saja. Aku buru-buru," kata Airin sembari berlalu dari hadapan Sela.


"Bagaimana semalam?"


Pertanyaan Sela membuat Airin berhenti dan menoleh pada Sela. Dia tersenyum dengan licik.


"Aku sudah maju satu langkah. Apa kau tahu apa yang terjadi semalam padaku dan Arja?"


Airin menyunggingkan senyum, "Bukan urusanku."


Airin keluar dengan menahan amarah. Sela semakin menjijikan bagi Airin.


Tidak Airin sangka, cuaca di luar tidak secerah biasanya. Hari ini sedikit mendung. Mobil yang Airin tumpangipun berasa tidak berjalan. Macet, itu yang sedang terjadi. Padahal biasanya lancar.


***


Masuk ke lift Airin kembali merasa mual. Entah apa yang terjadi pada dirinya beberapa hari ini. Jika hamil seharusnya Airin merasakan tanda-tandanya, tapi ini tidak. Bahkan Airin baru saja datang bulan tiga hari yang lalu.


Dengan mengatur nafas Airin mencoba menahan rasa mual ini. Sampai di lantai paling atas Airin keluar. Sepi, hal yang sudah biasa ketika melewati lorong ini.


Hanya beberapa OB yang khusus di lantai ini. Tidak semua orang juga bisa ke lantai ini. Airin masuk ke ruangan Cika. Sama seperti biasanya, Cika sedang mengerjakan pekerjaannya.


"Maaf aku terlambat, tidak seharusnya aku seperti ini."


"Tidak masalah. Apa kau baik-baik saja?" tanya Cika kemudian.


Airin merasa bingung dengan pertanyaan yang ditanyakan Cika.


"Kau terlihat sangat pucat."


"Benarkah?" Airin langsung mengambil kaca dan melihat dirinya sendiri di cermin. Benar, wajahnya terlihat sangat pucat, tidak seperti biasanya.


"Apa kau yakin tidak ada apa-apa?"


"Entahlah, sejak kemarin aku merasa mual dan pusing," jelas Airin.


"Apa jangan-jangan kau hamil."


Airin hanya menggelengkan kepalanya dan duduk di sofa. Cika mengikuti dan membawa gelas berisi air.


"Minum dulu, aku antar kamu ke rumah sakit setelah ini."


"Tidak perlu, aku datang kesini untuk bekerja. Bukan untuk merepotkan kamu."


"Tidak apa. Aku takut terjadi apa-apa dengan kamu."


Airin hanya bisa mengangguk dan ikut apa yang dikatakan Cika. Jika dia benar hamil, dia tidak tahu harus bagaimana.


***


Airin dan Cika sedang menunggu hasil tesnya. Takut sekaligus khawatir. Airin tidak tahu apa yang akan terjadi dan membuat dia semakin gelisah.


"Kamu yang tenang ya. Kamu harus yakin jika tidak terjadi apapun."


Airin hanya mengangguk dan kembali duduk. Tidak lama seorang suster datang dan memintanya untuk masuk ke ruangan dokter. Airin melihat kearah Cika.


"Aku temani."


"Terima kasih."


Mereka masuk dan berhadapan dengan dokter. Setelah serangkaian tes akhirnya dokter menjelaskan apa yang terjadi pada Airin. Jujur saja Airin tidak menyangka dengan hasil tesnya. Mana mungkin dia bisa sakit seperti itu.


"Memang itulah yang terjadi," kata dokter kemudian.


Cika beberapa kali menepuk punggung Airin sebagai penenang. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan. Airin juga harus mengatakan pada Arja. Entah dia akan bereaksi seperti apa nantinya.


"Kalau begitu, kami permisi dulu dok."


Cika memegang tangan Airin. Dia juga mengantarkan Airin pulang. Airin akan menenangkan diri untuk beberapa saat.


***