My Love My Pain

My Love My Pain
Dia mengaku



Airin dan Vino sudah di bandara. Mereka sedang mengantar Mama Vino untuk kembali lagi ke kota lain. Tentu saja setelah beberapa drama yang terjadi di rumah. Bahkan, mama Vino sampai menangis saat tahu Airin dan Vino memiliki hubungan. Padahal, Airin dan Vino hanya menjalin sebuah hubungan palsu.


"Mama pergi dulu ya, sayang," kata Mama Vino.


Airin mengangguk dengan pelan. Perlahan, mama Vino mendekat dan memeluk Airin. Ternyata pelukan seorang ibu sangatlah hangat dan menenangkan.


"Mama nitip Vino. Semoga kalian bisa selalu bersama," bisik mama Vino pada Airin.


"Ya, tante," lirih Airin.


Berat rasanya menyanggupi apa yang dikatakan mama Vino. Jika terus seperti ini, akan ada banyak kebohongan lagi yang terjadi. Bahkan tanpa sadar Airin dan Vino membuat kebohongan yang beranak pinak.


"Mama hati-hati di jalan. Mungkin dua minggu lagi aku akan kesana," kata Vino pada mamanya.


"Ajaklah juga Airin."


Vino melirik pada Airin. Airin diam dan memilih untuk melihat kearah lain.


"Aku akan mengajaknya jika sempat," kata Vino.


"Mama pergi dulu."


Mereka hanya bisa melihat kepergian mama Vino. Setelah beliau pergi, Airin bergegas untuk ke kantor. Sejak kemarin Cika terus menanyakan berkas yang ada padanya. Kali ini Airin harus menyerahkannya.


"Kau mau kemana?" tanya Vino yang langsung mencekal tangan Airin.


Airin menoleh padanya, "Apa kau tahu. Karena kebohongan yang sudah kamu buat. Aku sampai tidak bisa bertemu dengan Cika. Aku akan ke kantor karena ada urusan penting."


"Kau akan pulang ke apartemen kan nanti?" tanya Vino.


"Entahlah. Aku pergi."


Jujur saja. Rasa bersalah masih menyelimuti hati Airin. Tidak ada yang bisa Airin lakukan selain hal ini. Jika Airin mengatakan yang sejujurnya, mama Vino akan sangat kecewa. Dia pasti akan terluka.


Sebuah taxsi berhenti tepat di depan Airin. Airin langsung masuk dan menutup pintu. Hanya teman, Airin hanya menganggap Vino seorang teman yang sangat baik. Tidak lebih, tapi kenapa Vino masih saja menganggapnya mencintainya juga.


***


Airin sudah sampai di depan ruangan Cika. Airin mendengar suara gaduh dari dalam sana. Lebih tepatnya sedang ada pertengkaran di dalam sana. Lebih baik Airin menunggu saja atau dia akan terkena masalah jika aku masuk.


Hampir sepuluh menit Airin berdiri di depan pintu ruangan Cika. Bahkan sekretaris Cika juga tidak tahu apa yang terjadi dan siapa yang ada di dalam. Karena sebelum semuanya datang, Cika sudah mulai bertengkar di ruangannya.


Crang. Airin mendengar sebuah barang yang pecah. Tanpa ragu, Airin langsung membuka pintu itu. Apa yang Airin lihat tidak seperti yang ada di bayangannya.


"Kau sudah datang?" tanya Cika dengan raut wajah senang.


Airin mengangguk pelan sembari melihat aneh pada Sela. Untuk apa dia datang kesini pagi-pagi.


"Urusi dia. Aku lelah berdebat dengannya," kata Cika yang kembali duduk di kursinya.


Sementara Sela menatap Airin dengan tatapan yang tidak pernah Airin dapat sebelumnya. Dia terlihat sangat membenci Airin saat ini. Tanpa kata, Sela langsung menarik Airin keluar dari ruangan Cika.


Sakit yang Airin rasakan dipergelangan tangannya membuat Airin menghentikan langkahnya. Airin melepaskan cekalan tangan Sela.


"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Airin pada Sela, "apa kau belum puas telah menghianatiku."


Sela berdecak dan menyilangkan tangannya, "Aku kesini juga karena terpaksa. Arja sudah menjadi milikku saat ini, tapi dia ingin bertemu denganmu. Cepat temui dia dan katakan jika kau sangat menbencinya," kata Sela pada Airin.


"Kau kira aku akan menemuinya? untuk apa lagi aku bertemu dengannya."


"Kau bohong. Kau sangat mencintainya, mana mungkin kau tidak ingin menemuinya."


Airin melihat kearah lain. Apa yang dikatakan Sela benar. Airin masih menyimpan rasa walau selalu tersakiti.


"Benarkan yang aku katakan? jika iya. Temui dia dan katakan apa yang aku katakan."


"Tidak. Aku tidak ingin menemui siapapun."


Airin berniat untuk pergi dari hadapan Sela. Kembali, Sela membuat Airin diam dan berdiri dengan kaku.


"Apa kau tahu, Arja hanya mengincar hartamu yang disembunyikan oleh Papa. Apa kau tahu? aku membunuh Papaku sendiri karena hartamu. Jadi, temuilah Arja dan katakan jika kau sangat membencinya," kata Sela dengan berbisik pada Airin.


Airin tidak peduli dengan harta yang dibicarakan oleh Sela. Hanya saja, Airin merasa terganggu dengan apa yang diungkapkan Sela. Dia tidak merasa bersalah sedikitpun, padahal sudah membunuh ayah kandungnya sendiri.


"Ayo. Temuilah Arja," kembali Sela mengatakannya.


Plak. Airin menampar dengan keras wajah Sela. Apa yang Airin lakukan, dia anggap benar.


Airin melangkahkan kakinya dari hadapan Sela. Sekuat tenaga Airin menahan air matanya agar tidak kembali keluar. Paman, maafkan aku karena aku kau dibunuh oleh anakmu sendiri. Maafkan aku, batin Airin.


***


Arja POV


Plak. Arja menampar wajah Sela dengan keras. Bahkan ada tanda merah di wajah Sela karena tamparan itu.


Sela hanya diam dan tidak bisa berkutik. Kali ini, bukan Sela lagi yang mampu membuat Arja tunduk. Sebaliknya, sejak kecelakaan itu, Arja lebih sering menyakiti Sela. Entah fisik maupun batin.


"Aku sudah melakukan apa yang kau suruh. Kenapa kau masih saja membuat aku terluka," kata Sela dengan tangan yang memegangi wajahnya.


"Kenapa kau mengakui apa yang kau lakukan pada Ayahmu. Airin pasti akan memenjarakanku dan kamu." Teriak Arja.


"Dia tidak kesal dengan harta itu. Kau bisa tenang, dia hanya membenciku karena aku membunuh ayahku sendiri." Sela berderaian air mata.


Arja menoleh dan tersenyum. Dia mendekat dan duduk di samping Sela. Perlahan tangannya membelai wajah Sela. Wajah yang baru saja dia sakiti.


"Apa dia tidak ingin memenjarakan kita?" tanya Arja.


Sela mengangguk.


"Baguslah. Sekarang aku bisa tenang dan kau, kau masih bisa menjadi istriku karena apa yang sudah kau lakukan untukku."


Jika bukan karena anak yang dikandungnya. Sela tidak ingin lagi di samping Arja. Ternyata, Arja hanya ingin harta dan sudah memperalat Sela. Sela bahkan sudah terjebak oleh obsesinya pada Arja. Arja yang dulu sangat dia kagumi, kini sudah berubah menjadi iblis gila harta.


Dengan perlahan, Arja mengobati luka di wajah Sela. Dia masih memanjakan Sela dan pura-pura mencintainya. Hanya satu alasan kenapa Arja melakukannya. Dia ingin, Airin kembali datang ke dalam hidupnya dan menjadi kekasihnya lagi.


***


Airin POV


Airin duduk dengan lelah. Baru saja Airin sampai di rumah Cika. Airin kini sudah resmi pindah ke rumah Cika siang tadi. Sebenarnya, Vino tidak mengijinkan Airin pergi. Hanya saja Airin memaksa. Dia tidak enak terus merepotkannya.


Tok tok tok. Airin membuka pintu itu, seorang pelayan datang dengan senyuman. Pelayan disini sangat ramah. Tidak seperti dulu di rumah Arja.


"Ada apa?" tanya Airin.


"Anda di panggil, Nona Cika ke kamarnya."


"Bisa kau antarkan?"


Pelayan itu mengangguk. Airin pun berjalan tepat di belakang pelayan itu. Bagaimanapun Airin masih baru disini, Airin masih harus belajar banyak.


Sampai dikamar Cika. Airin kembali takjub, kamarnya sangat mewah dengan desain yang sangat elegan. Benar-benar seperti yang Airin bayangkan, bahkan lebih.


"Kau bisa pergi dari sini. Terima kasih sudah mengantarkan temanku kesini," kata Cika dengan senyuman.


Pelayan itu terlihat bahagia saat keluar dari kamar Cika.


"Kenapa kau menyuruhku datang?"


"Aku hanya akan menjelaskan tugas seorang sekretaris pribadi yang sesungguhnya padamu."


"Aku merasa senang. Katakan semuanya dan aku akan mendengarkan," kata Airin.


"Baiklah."


Cika menjelaskan segalanya. Mulai dari kegiatan dia bangun tidur sampai akan tidur lagi. Airin harus mengurus semuanya tanpa ada yang tertinggal. Airin bisa libur di akhir minggu.


Selama ini Airin hanya belajar dan di bayar. Setelah ini, Airin akan benar-benar bekerja untuk Cika. Jadi, Airin tidak perlu sungkan lagi dengannya. Karena Airin kerja, tidak menumpang di rumahnya.


"Baik, bu."


"Kenapa kau memangilku ibu?" tanya Cika dengan raut wajah kesal.


"Aku sudah bekerja disini dengan resmi."


"Kau harus bersikap biasa padaku. Hanya pekerjaanmu yang sesungguhny, hubungan kita tetap teman," kata Cika.


Mereka merasa bahagia dengan hal ini. Apa lagi Airin, orang yang Airin kira akan menjadi musuh. Dia malah menolong Airin dan menganggapnya sebagai sahabat. Ini adalah anugerah terindah.


***