
Airin bersembunyi di balik tubuh Arja. Setelah selesai baku hantam. Tanpa kata Arja menariknya ke dalam sebuah kamar. Mata mereka bertemu.
Semuanya seperti mimpi. Airin tidak tahu kenapa semua ini terjadi dan Arja yang menolongnya pada saat itu.
***
Terjebak dalam keheningan. Airin masih memikirkan keadaan Kevin di luar sana. Bagaimanapun, Airin tidak mau jika Kevin melaporkan Arja tentang hal ini.
Jika melihat Arja, rasa kesal dalam diri Airin semakin meningkat saja. Dia suami Airin namun sangat plin plan dalam mencintai Airin. Saat ini dia melindungi Airin, tapi entah setengah jam lagi.
"Aku sudah meminta anak buahku mengurus semuanya," kata Arja sembari menepuk pundak Airin.
"Terima kasih."
"Kenapa kau bisa kenal dengan pria seperti itu? apa karena kau ingin balas dendam padaku?" ejek Arja.
Airin berdiri dan menatap matanya. Tanpa sadar dia sudah mengakui jika dia berselingkuh. Sial, Airin tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
"Sepertinya aku harus kembali bekerja. Permisi." Airin melangkahkan kaki untuk pergi.
Arja menahan Airin agar tidak keluar dari kamar itu. Dia menarik Airin mendekat padanya, bahkan Airin bisa merasakan nafas dan detak jantungnya.
Mata mereka bertemu, ada rasa yang entah dari mana membuat Airin nyaman dalam pelukan Arja. Airin tahu jika dia memiliki cinta yang gila, suaminya berselingkuh dan dia menerimannya.
Mungkin tidak ada cara yang bisa menyembuhkan penyakit suka berselingkuh dari seorang pria. Aku tidak akan menyerah, pikir Airin.
Brak. Seorang wanita masuk dengan rambut tergerai dan pakaian seksi. Airin pikir dia dan Arja sudah salah masuk kamar. Saat melihat wanita itu menyingkap rambutnya. Airin melihat sosok yang sudah dia kenal. Sekretaris Sa.
"Maaf saya mengganggu," katanya dengan wajah kembali menunduk.
Airin sadar posisinya kali ini tidak pantas dilihat oleh orang luar. Airin mendorong Arja dari dekatnya. Arja tersenyum penuh kemenangan, dia mungkin berfikir jika Airin mudah digoda.
"Aku harus kembali ke kantor. Terima kasih untuk bantuannya."
Airin melangkah melewati sekretaris Sa sambil berbisik, "Kau lebih cocok jadi wanita penghibur."
Airin lihat tangan sekretaris Sa terkepal. Dia merasa tidak senang dengan apa yang baru saja Airin katakan. Cemburu, pasti ada di dalam hati Airin saat ini, namun Airin mencoba menahannya dan tetap di dalam tekadnya.
***
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Airin pada Cika yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Cika melepas kaca matanya dan menoleh pada Airin. Dia menutup laptopnya dan tersenyum.
"Aku hanya ingin kamu move on dari Arja. Tidak lebih," kata Cika dengan sangat santai.
"Kau tahu apa yang aku mau. Bukan cara seperti ini yang aku inginkan."
"Lalu maumu bagaimana?" tanya Cika.
"Bukankah kau sudah tahu? kenapa kau menanyakan lagi. Apa kau terserang pikun kali ini?"
Airin menghempaskan tubuhnya ke sofa. Kesal rasanya hari ini. Cika tega membuat dia hampir dibawa oleh pria kurang ajar.
"Maafkan aku. Kita akan cari cara lain," kata Cika.
Tok tok tok.
"Masuk," kata Cika.
Sekretaris Cika masuk dengan sebuah berkas di tangannya. Dia membenarkan posisi kaca matanya dan membuka map itu.
"Kami sudah berhasil membatalkan perjanjian dengan perusahaan Kevin Star."
Airin baru sadar jika Cika melakukan semua ini untuknya. Dia rela membatalkan kerja sama dengan perusahaan Kevin.
Airin melangkah dengan cepat dan langsung memeluk Cika. Airin kira Cika yang menjebaknya, ternyata tidak.
"Terima kasih," kata Airin.
"Aku melakukan ini karena kita teman."
Mereka memutuskan untuk makan siang di luar kantor. Baru kali ini Airin menemukan seseorang yang mau berkorban untuknya. Padahal, kerugiannya cukup besar untuk perusahaan Cika. Demi Airin, Cika rela melakukannya.
"Kita akan makan siang dimana?" tanya Airin saat sudah di dalam mobil.
"Vino yang mencari tempatnya. Kita akan mengikuti maps."
"Baiklah."
Cika sudah membantu Airin dengan tulus. Airin pikir dia juga harus membantu Cika. Airin akan mencarikan pria baik yang akan membuat Cika nyaman dan dilindungi. Bukan hanya melindungi secara fisik, tapi juga hatinya.
Sebuah pesan masuk ke aplikasi chat Airin.
Makan malam di rumah. Ada hal yang harus kita bicarakan.
Arja ingin mengatakan apa padanya. Apa dia akan meminta ijin untuk menikah lagi. Airin pun setuju untuk pulang saat makan malam nanti. Walau sebenarnya sangat malas membahas sesuatu dengan Arja.
***
Makan siang ini cukup meriah karena Vino dan Cika terus bersenda gurau. Sementara Airin merasa sangat tidak enak badan. Airin merasa sangat mual.
"Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Cika.
"Tidak apa. Aku pergi dulu ke toilet."
Airin meninggalkan Vino dan Cika di meja makan. Airin benar-benar merasa sangat mual namun tidak bisa muntah sedikitpun. Ada apa dengan aku ini, pikir Airin.
Airin memutuskan untuk mengirim pesan pada Cika jika dia pergi dulu. Airin harus segera istirahat sebelum semuanya memburuk.
Disaat seperti ini Airin harus menunggu sebuah taxsi di pinggir jalan. Cuaca yang panas membuatnya semakin pusing. Mual di perutnya juga semakin menjadi.
"Kau masih disini? Cika bilang kau akan pulang karena ada kepentingan," kata Vino yang sudah berada di samping Airin. Mungkin dia juga akan pulang.
"Ya. Aku sedang menunggu taxsi."
"Mau aku antar?" tawar Vino.
Disisi lain. Cika sudah masuk ke dalam mobilnya. Dia sudah pergi, andai saja dia bisa meminta bantuan pada Cika. Kali ini, Airin tidak perlu menolak Vino.
Airin menggeleng dengan cepat, "Kau tahu suamiku seperti apa. Lihat, sebuah taxsi datang."
Untung saja sebuah taxsi datang. Airin langsung menghentikannya.
"Aku pergi dulu," kata Airin pada Vino.
Vino hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Airin menutup rapat kaca mobil dan bersandar. Kenapa tiba-tiba saja dia merasa seperti ini. Sebelumnya Airin baik-baik saja.
***
Airin merasakan tubuhnya sangat lemas. Dia kira setelah tidur, akan mendapatkan tubuhnya yang lebih baik. Ternyata tidak, Airin tetap merasakan mual.
Makan-makanan yang asam mungkin akan membuat Airin lebih baik. Airin akan mencari buah di dapur. Beberapa pelayan sedang sibuk, mereka tengah mempersiapkan sesuatu.
"Nyonya mau kemana?" tanya kepala pelayan.
"Ada acara apa ini?" tanya Airin.
"Kami tidak tahu. Tuan yang menyuruh kami."
Airin hanya mengangguk. Apa yang akan dilakukan Arja malam ini. Dia juga menyuruh Airin untuk makan malam di rumah.
"Kepala pelayan," panggil Airin, "bisakah kau ambilkan aku buah yang asam. Sejak tadi aku merasa sangat mual."
"Baik, Nyonya."
Airin kembali ke dalam kamar. Sembari menunggu kepala pelayan datang. Dia memilih untuk membaca buku. Setidaknya waktu akan berjalan lebih cepat.
Tidak lama kepala pelayan datang. Airin mendapatkan apa yang dia mau. Dengan lahap Airin memakan buah-buahan itu. Sangat nikmat rasanya.
"Nyonya, ini ada sebuah paket untuk nyonya," kata kepala pelayan di saat Airin sedang makan.
"Dari siapa?"
"Disini tertulis nama Cika."
"Berikan padaku."
Aiein mengambil paket itu dan membukanya. Sebuah gaun cantik berwarna merah cerah. Disana juga ada sebuah surat kecil.
Maaf aku tidak tahu hari ini ulang tahunmu. Aku hanya mengirimkan ini sebagai permintaan maaf. Pakailah nanti di saat acara ulang tahunmu. Maafkan aku, Cika.
Kenapa Airin bisa lupa. Arja ternyata menyiapkan semua ini untuknya. Tidak Airin sangka jika Arja mengingat hari ulang tahunnya.
***