My Love My Pain

My Love My Pain
Hal aneh terjadi pada Airin



Acara yang dibuat oleh Airin dan Vino sangatlah meriah. Walau hanya kenalan mereka saja yang datang. Tidak ada hal yang mampu membuat acara itu menjadi kacau.


Airin masih belum keluar dari dalam kamarnya. Dia masih duduk di depan kaca rias. Dia merasa tidak percaya diri untuk keluar dari dalam kamar itu.


Tok tok tok. Ketukan pintu di kamarnya membuat Airin menoleh. Cika masuk dengan senyuman hangatnya. Dia duduk di samping Airin yang terlihat tidak senang.


"Apa yang kau lakukan disini? semua tamu menunggumu."


"Aku tahu, hanya saja. Aku belum siap untuk keluar."


Cika memengan tangan Airin, "Apa ada masalah. Vino? atau hal lain?"


Airin menggeleng. Dia mengulas senyum dan mengambil sebuah tas di samping kanannya. Dia mengambil ponsel dan mengetikan sebuah pesan pada Vino. Padahal mereka satu rumah.


"Ayo kita keluar," kata Airin.


"Baiklah."


Dengan gaun biru Airin keluar dari dalam kamarnya. Apa yang dikatakan Cika benar. Semua orang sudah menunggunya. Hanya saja, Airin merasa ada yang menatapnya dengan tatapan lain.


Airin mencoba menepis perasaan itu. Dia mencoba tetap tersenyum dan menyapa semua orang disana. Sampai akhirnya, Vino datang dan langsung memeluk pinggang Airin.


"Kemana saja kau?" tanya Vino.


Airin mendekat pada Vino, "Aku perlu dandan agat kau tidak malu."


"Untuk apa malu. Kamu masih sangat cantik tanpa makeup di wajahmu."


"Kau ini," ucap Airin.


Kembali Airin merasakan tatapan itu. Gelisah, Airin berubah menjadi sangat gelisah. Dia memegang tangan Vino dengan erat. Senyuman di wajahnya menutupi semua ketakutan yang ada di dalam hatinya.


Vino merasa ada yang aneh dengan istrinya itu. Dia tahu jika ada yang salah karena melihat Airin beberapa kali menoleh keluar ruangan pesta.


"Apa kau ingin berdansa?" ajak Vino.


Airin tertawa kecil, "Kau tahu aku tidak bisa berdansa."


"Aku akan mengajarimu. Ayo." Vino menarik Airin ke tengah pesta.


Perlahan alunan musik merasuki Airin dan Vino. Mereka mulai melangkahkan kaki mereka. Tanpa sadar, Airin menikmati setiap langkah dalam dansa itu.


Pandangan mereka saling merasuki masing-masing. Mereka sudah masuk ke alam cinta yang selama ini mereka cari.


Sementara itu, Arja hanya bisa melihat kemesraan itu. Kesal, ya, Arja merasa sangat kesal. Seharusnya dia lah yang menjadi pendamping Airin. Namun kini, wanita yang dia inginkan sedang bersama dengan pria lain.


Alasan bosan, Arja memilih keluar dari area pesta. Dia memilih untuk berada diluar dengan angin malam. Dia merenungi apa saja yang sudah terjadi.


"Kau disini?" tanya tante Mia pada Arja.


Tante Mia mendekat dan menyodorkan sebuah minuman. Arja menerima minuman itu dan langsung meminumnya.


"Kenapa kau datang? bukankah aku tidak mengajakmu?"


Benar. Arja tidak mengajak tante Mia. Dia masih saja tidak suka dengan tante Mia sampai detik ini.


"Aku hanya ingin melihat kau yang terpuruk. Kenapa kau tidak maju dan mendapatkan Airin."


"Karena aku tidak ingin Airin terluka karena kau," jawab Arja.


"Apa maksudmu?"


Arja tidak menjawab. Dia memberikan gelas kosong pada tante Mia. Lalu dia berlalu begitu saja. Kembali tante Mia harus merasakan dicampakan oleh Arja.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Aku ingin pesta ini kacau," ucap tante Mia.


Setelah orang yang dia suruh pergi. Tante Mia masuk ke dalam pesta. Dia tidak melakukan apapun. Dia hanya melihat kearah beberapa orang yang baru selesai berdansa. Wajah berseri karena cinta.


"Bagaimana?" tanya Vino pada Airin.


"Aku bahagia."


Vino ikut tersenyum karena melihat Airin bisa tertawa dengan lepas. Airin sudah tidak merasa gelisah lagi.


Ais datang dengan nampan berisi dua minuman. Untuk Airin dan untuk Vino, mereka meminum minuman itu sekali teguk. Ya, mereka lelah dengan dansa yang baru saja mereka lakukan.


"Aku tidak menyangka jika kau bisa berdansa," ucap Cika yang datang dengan Jay.


Wajah Airin memerah, "Semua ini karena suamiku."


"Mentang-mentang sudah ada suami. Oh ya, kapan kau akan menikahiku?" tanya Cika pada Jay.


Jay terlihat gelagapan dengan pertanyaan yang Cika ajukan. Perlahan wajah Airin berubah. Dia terlihat tidak seperti dirinya. Beberapa kali dia memegang kepalanya.


"Apa kau sakit? lelah?" tanya Vino.


"Katakan ada apa?" tanya Jay.


Tiba-tiba saja mata Airin berubah menjadi merah. Tingkahnya juga tidak sama seperti Airin. Dia berjalan dengan lenggak lenggok dan menggoda. Bahkan, Airin melepaskan jepit rambut yang dia pakai.


"Terima kasih semuanya. Kalian sudah datang ke acara yang aku buat. Aku merasa sangat gembira," teriak Airin.


Vino.menoleh pada Cika. Cika hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Baru kali ini, Airin terlihat sangat berani.


Sreet. Airin memotong sendiri gaun yang dia pakai menjadi sebuah dress mini. Dia mendekat pada seseorang untuk mengganti lagu. Suara berdentum, lagu yang semula romantis kini berubah menjadi lagu yang anarkis.


"Kenapa kalian tidak menari?" tanya Airin. Semua orang menatap kearahnya. "Ayolah, ini pesta. Bukan acara yang membosankan."


Airin mendekat pada Vino dan mengajaknya menari. Dia juga mendekat pada Cika dan beberapa orang lainnya.


"Apa yang terjadi, Rin?" tanya Vino yang menangkap tubuh Airin.


Airin mengerlingkan matanya dengan seksi, "Aku ingin kau bahagia. Ikutilah iramanya."


"Ini bukan kau."


"Ini aku, istrimu." Airin mendekat dan akan mencium Vino.


Vino menepis hal itu. Kali ini, benar-benar sudah diluar batas. Entah apa yang Airin makan atau minum. Dia terlihat sangat kacau.


Sementara Vino menenangkan Airin. Jay dan Cika mencoba untuk mengembalikan suasana pesta. Mereka juga mengatakan jika pesta itu sudah usai.


Beberapa orang keluar dengan perkataan tentang Airin. Hal itu sudah pasti terjadi. Setelah tidak ada orang, Cika dan Jay masuk ke kamar Airin.


"Bagaimana?" tanya Jay.


"Dia tenang setelah aku menyuntikkan obat yang kamu berikan," kata Vino.


Jay menepuk pundak Vino, "Jaga dia. Jika ada apa-apa, langsung kabari kami."


"Baiklah."


"Jangan lupa besok bawa dia ke rumah sakit. Aku ingin lihat apa yang sudah membuatnya seperti ini."


"Aku tahu, Jay."


Cika mendekat dan memeluk lengan Jay dengan lembut. "Baiklah. Kita pergi dulu. Kalian bisa istirahat," ucap Cika.


***


"Sudah aku transfer ke akunmu. Besok kerjakan lagi dengan tepat."


"Siap, Bos."


***


Arja tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Baru kali ini, Arja melihat Airin melakukan hal yang seperti itu. Bahkan Arja tidak pernah memikirkannya.


"Kenapa bisa dia melakukan hal semacam itu. Sangat memalukan," ucap tante Mia.


Arja tidak memikirkan apa yang diucapkan tante Mia.


"Bagaimana bisa kau mencintai orang gila seperti dia," kali ini tante Mia mengatakan dengan tawa.


Arja menatap pada tante Mia dan langsung menghentikan mobilnya. Dengan kasar Arja turun dari mobil dan menarik tante Mia keluar.


"Apa yang sudah kau berikan pada Airin?" tanya Arja dengan keras.


"Lepaskan aku," ucap tante Mia.


Arja melepaskan cengkraman tangannya pada tante Mia.


"Katakan. Apa yang sudah kau lakukan pada Airin?"


"Kenapa kau menuduhku?" tanya tante Mia.


"Kau bilang aku menuduhmu."


Tante Mia berkacak pinggang dan menatap pada Arja, "Apa buktinya?"


Arja diam. Dia memang tidak memiliki bukti. Hanya saja, hanya tante Mia yang sanggup melakukannya.


"Jika kau tidak memiliki bukti. Jangan menuduh sembarangan."


Tante Mia kembali masuk ke dalam mobil. Berharap Arja akan mengikutinya masuk dan kembali pulang ke rumah. Ternyata tidak, Arja malah menghentikan sebuah taxsi dan meninggalkan tante Mia di dalam mobil.


"Dasar gila," umpat tante Mia.


Bagaimana tidak. Dia kembali di campakan oleh Arja. Lagi dan lagi.