
Brak. Tante Mia membuka pintu dengan sembarangan. Dia berjalan gontai dengan dress yang sudah awut-awutan. Beberapa kali dia hampir terjatuh, namun kembali dia mencoba menyeimbangkan diri.
Beberapa pelayan mendekat dan akan membantunya. Tante Mia mendorong dan menolak bantuan itu.
"Dimana Arja?" tanya tante Mia dalam keadaan tidak sadar.
"Aku sangat mencintainya, tapi kenapa dia terus menolakku," kata tante Mia. Para pelayan mencoba membantu lagi, tapi tetap saja dia menolak.
Lalu, tante Mia menoleh pada para pelayan, "Apa aku kurang cantik? apa aku kurang seksi? kenapa Arja terus menolak diriku."
Arja yang mendengar suara gaduh langsung turun. Dia yang tidak suka dengan kebisingan saat bekerja merasa terganggu. Matanya melihat tante Mia yang sedang dibantu berdiri oleh beberapa pelayan.
Arja menatap pada para pelayan dan mengisyaratkan mereka untuk pergi. Kemudian, Arja berjalan dengan tegap kearah tante Mia.
Tante Mia tersenyum, "akhirnya kau mau menemuiku. Aku sangat merindukanmu." Tante Mia bersiap akan memeluk Arja
Dengan tenang Arja menahan agar tante Mia tidak sampai memeluknya. Marah, itulah yang terjadi pada tante Mia. Dia menjauh sedikit dari Arja dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Dia merasa kesal dengan perlakuan Arja selama ini. Bahkan, air mata tante Mia mulai meleleh. Arja yang melihat itu hanya diam, lalu tante Mia kembali menoleh pada Arja. Kini dia tertawa terbahak-bahak seakan-akan melihat sesuatu yang lucu.
"Arja. Apa kau masih menolakku sekarang?" tanya tante Mia.
Arja hanya diam dan berdiri di tempat.
"Apa perlu aku menyingkirkan semua wanita disisimu dulu. Aku sudah membunuh Airina, aku juga sudah mencoba membunuh Airin. Kau tetap saja mencampakan aku," kata tante Mia.
"Kembali ke kamarmu," kata Arja dengan tegas.
"Kau menyuruhku pergi?" tante Mia tertawa, "tidak akan, aku akan terus berada di sekitarmu. Aku akan menyingkirkan setiap wanita yang berada di sampingmu. Lalu, kau akan datang dan meminta cintaku."
Arja yang tidak tahan lagi langsung menyetet tante Mia masuk ke dalam kamarnya. Kemudian dia membawa tante Mia masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam bath up, Arja mengguyur air pada tante Mia.
Tante Mia menggigil kedinginan. Dia menatap pada Arja yang hanya diam dan terus mengguyurnya dengan air. Tanpa ada kata, Arja keluar dari kamar tante Mia. Dia menyuruh beberapa pelayan untuk mengurusnya.
"Kalian harus ingat. Jangan katakan pada siapapun atas kejadian ini," kata Arja.
"Baik, Tuan," kata mereka kompak.
Sementara itu, Sela diam dengan segala ketakutan yang menerpa dirinya. Dia merasa jika tante Mia mungkin akan mengatakan tentang Ais pada Arja. Sela takut, Arja akan membencinya.
"Kau sedang apa disini?" tanya Arja yang melihat Sela terpaku disamping almari.
"A...aku.."
"Apa kau melihat semuanya?" tanya Arja.
Sela tidak menjawab, dia hanya menganggukan kepalanya. Dia juga tidak berani memandang wajah Arja.
Perlahan Arja merangkul tubuh Sela dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar. Arja juga membantu Sela berbaring, tidak lupa dia menyelimuti tubuh Sela dengan selimut tebal.
"Lupakan semua yang terjadi. Mia memang gila, kamu harus menjauh darinya."
Sela mengangguk.
"Tidurlah. Besok aku akan membawamu jalan-jalan."
Setelah memastikan Sela baik-baik saja. Arja kembali masuk ke dalam ruangannya. Dia kembali membaca laporan-laporan yang datang.
***
Hari ini Airin pulang ke rumah. Dibantu Vino dan Cika Airin masuk ke dalam mobil. Sebenarnya Airin masih butih dirawat di ruma sakit. Hanya saja dia bersikeras untuk pulang saja.
Alasan itulah yang membuat Vino menyiapkan perawat di rumah. Dia tidak ingin terjadi apapun pada kekasihnya itu.
"Aku akan menggunakan mobil sendiri. Kalian bisa duluan saja," kata Cika.
"Terima kasih," ucap Airin lirih.
"Sama-sama," kata Cika sembari menepuk pundak Airin.
Vino memasangkan sabuk pengaman pada Airin. Dia juga mengatakan hal yang menenangkan untuk Airin. Sampai saat ini, Airin belum mengatakan tentang penculikan itu. Airin terlihat menghindarinya.
Airin menurunkan kaca mobilnya. Dia menghirup nafas panjang. Sudah beberapa hari ini dia hanya menghirup udara rumah sakit. Hal itu bukanlah hal yang menyenangkan.
"Maaf," ucap Airin begitu saja.
"Untuk apa?" tanya Vino.
"Karena aku, kita jadi batal menikah."
Vino menggenggam tangan Airin, membuat Airin menoleh padanya.
"Tidak masalah. Sekarang, kau hanya perlu fokus untuk pengobatanmu."
Airin tersenyum. Sejak kejadian penculikan itu, senyum Airin kembali memudar. Senyuman yang beberapa hari lalu sudah kembali muncul diwajahnya. Kini, Vino kembali harus berjuang untuk mengembangkan kembali senyum itu.
Sampai di rumah, Airin masih belum bisa turun sendiri. Vino mengangkat tubuh Airin dan meletakannya di kursi roda. Dengan telaten, Vino mengurus Airin.
Pintu terbuka, para pelayan dan petugas keamanan rumah menyambut kepulangan Airin. Airin menoleh pada Vino, Vino hanya menganggukan kepalanya. Lalu, Airin kembali menoleh pada para pelayan. Seulas senyum tersungging di wajahnya.
"Selamat datang kembali, Airin."
Mama Vino datang dan langsung memeluk Airin dengan erat. Airin tidak kuasa menahan air matanya.
"Kenapa kamu menangis sayang?"
"Aku hanya rindu padamu."
"Kau bisa saja. Ayo, mama sudah menyiapkan semuanya di dalam kamar."
Vino kembali mendorong kursi roda itu secara perlahan. Dia membawa Airin masuk ke dalam kamarnya. Disana sudah ada seorang wanita dengan pakaian serba hitam. Rambut pendek dan senyuman yang tegas.
"Siapa dia?" tanya Airin langsung.
Mama Vino mendekat pada wanita itu, "Dia pengawal barumu. Namanya, Ais."
Ais menyunggingkan senyum, begitupun dengan Airin.
"Mulai hari ini dia yang akan menjagamu. 24 jam," kata mama Vino.
"Kenapa kalian melakukan ini?"
"Semua demi kebaikan kamu," kata Vino.
Beberapa menit suasana menjadi hening. Tidak ada kata diantara orang itu. Sampai Airin meminta untuk istirahat.
Dengan sigap Ais menyiapkan tempat tidur. Vino mengangkatnya dan meletakan secara perlahan.
"Jika kau butuh sesuatu, tekan saja bel ini. Nanti akan ada orang yang datang," kata Vino.
Airin hanya diam.
"Memang apa yang sudah terjadi pada Nona Airin?" tanya Ais.
Airin diam. Dia kembali teringat dengan situasi saat itu. Saat dia tidak berdaya di depan penculiknya. Wajah ketakutan langsung terlihat di wajah Airin.
"Kamu bisa ikut saya sekarang," kata mama Vino yang langsung menarik Ais.
Sementara Vino langsung merengkuh tubuh kekasihnya itu. Kembali Vino merasa khawatir dengan Airin. Jika ada yang mengingatkan hal itu, Airin akan seperti ini lagi. Dia benar-benar trauma.
"Kamu tenang, ada aku disini."
Disisi lain, Ais berdiri dengan wajah menunduk dihadapan mama Vino. Mama Vino benar-benar marah dengan apa yang dilakukan Ais.
"Apa kau sengaja melakukannya?"
"Maaf, saya tidak tahu."
"Bukankah aku sudah memberi tahumu?"
"Belum, Nyonya."
Mama Vino baru ingat. Dia belum memberikan daftar apa saja yang disukai Airin dan tidak pada Ais. Kemudian mama Vino mengambil sebuah map dan memberikannya pada Ais.
"Kau bisa bekerja besok. Hari ini, pelajari saja itu."
"Baik, Nyonya."
Lalu Ais masuk ke dalam kamarnya. Sementara mama Vino kembali ke kamar Airin. Saat akan masuk, Vino keluar dari kamar Airin dan menutupnya secara perlahan.
"Bagaimana?"
"Dia sudah tidur, Ma."
"Baguslah. Kamu juga harus istirahat."
"Ya."
***
"Bagaimana?"
"Aku sudah berhasil masuk."
"Lalu?"
"Kau tenang saja. Kirim saja apa yang aku butuhkan."
"Kabari aku perkembangannya."
"Siap."
***
Sela merasa haus dan akan mengambil air minum. Saat dia melihat tante Mia sedang duduk dengan buah di tangannya. Sela mengurungkan niatnya, tapi saat dia berbalik tanpa sengaja dia menabrak sebuah vas bunga hingga jatuh.
Tante Mia menoleh dan melihat Sela sedang terduduk untuk mengambil serpihan vas. Senyum, itulah yang ditunjukan oleh tante Mia. Diapun mendekat pada Sela.
"Kau kenapa?"
"Tidak ada. Aku tidak sengaja menabraknya."
"Benarkah?" tanya tante Mia yang ikut duduk di depan Sela.
Sela memalingkan wajahnya dan tetap mengambil serpihan vas itu. Sampai tanpa sengaja dia tertusuk, tangannya mengeluarkan darah.
"Ada apa? kemarin kau mengancamku. Sekarang, kau malah menghindariku, bukanka kita satu tujuan?"
Sela menggeleng, "Aku sudah berubah fikiran. Aku tidak ingin dekat denganmu lagi."
"Benarkah?"
Suara langkah kaki Arja membuat Sela menoleh. Begitupun dengan tante Mia. Tidak mau Sela mengadu, tante Mia langsung memegan tangan Sela.
"Sela, kenapa kau tidak bisa hati-hati." Teriak tante Mia.
Mendengar hal itu membuat Arja berjalan dengan cepat.
"Jangan katakan apapun atau kau akan mati," ancam tante Mia.
"Kamu kenapa?" tanya Arja yang langsung mengambil tangan Sela dari genggaman tangan tante Mia.
Sela tersenyum, "Aku tidak sengaja memecahkan vas bunga. Aku berniat membersihkannya tapi..."
"Biarkan pelayan yang bersihkan. Ayo kamu ke kamar," kata Arja yang langsung membawanya pergi dari hadapan tante Mia.
Tante Mia memandang apa yang dilakukan Sela. Tante Mia tidak akan kehabisan akal untuk Sela. Dia tidak akan tinggal diam jika Sela berani membuka suara.
Sampai di kamar. Arja sedang menempelkan plester di tangan Sela. Sejak tadi, Sela hanya diam. Tidak secerewet biasanya, hal itu membuat Arja merasa ada yang salah.
"Ada apa? apa kau sakit?" tanya Arja yang langsung meletakan telapak tangannya dikening Sela.
"Tidak."
"Jika ada apa-apa katakan padaku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan anak kita."
Sela mengangguk. Dia teringat dengan apa yang tante Mia kataka saat mabuk kemarin. Sela jelas sadar jika tante Mia juga akan menyingkirkannya dari Arja. Hal itu sangat mengerikan baginya.
Tangan Sela meremas bajunya dengan keras. Jika dia jujur pada Arja, Arja pasti akan membencinya. Jika Sela tidak mengatakan yang sebenarnya. Tante Mia pasti akan terus menekan Sela.
"Sela, kenapa malah melamun?"
"Bukankah kau harus berangkat kerja?"
"Ya. Kau benar, aku hampir saja telat." Arja melihat kearah jam tangannya, "Kalau begitu aku akan pergi. Ingat apa yang aku katakan."
"Baik."
Sela menarik selimut kecil untuk menyelimuti tubuhnya. Sampai tante Mia masuk ke dalam kamar dengan segelas susu di tangannya. Dia tersenyum seperti biasanya.
Memalingkan wajah, itulah yang dilakukan oleh Sela. Dia tidak ingin mendapatkan ancaman lagi dari tante Mia.
"Minum dulu susumu," kata tante Mia.
"Letakan saja dulu. Aku sekarang hanya ingin istirahat," kata Sela.
"Tentu, aku tidak akan mengganggumu asal kau tetap diam."
Tante Mia meletakan susu itu di nakas samping. Sementara Sela hanya diam. Jika terus seperti ini, Sela akan tertekan dan akan sulit menjaga anaknya.
***
Airin bangun, dia baru saja bermimpi bertemu dengan Sela. Di dalam mimpi, beberapa kali Sela tersenyum dan mengatakan maaf. Semua itu bukanlah mimpi buruk, hanya saja membuat Airin tidak nyaman.
Dengan berpegangan dengan meja. Airin mencoba bangun dari tempat tidurnya. Percuma, kakinya masih sangat lemah membawanya berjalan. Mau tidak mau dia menekan bel yang berada di sampingnya.
Tidak lama Ais masuk dengan sigap. Dia berdiri di depan Airin.
"Maaf untuk yang tadi, Nona."
"Tidak masalah," kata Airin.
Ais menoleh pada Airin, "Apa ada yang Nona inginkan?"
"Apa kau bisa bantu aku ke kamar mandi?"
"Tentu."
Ais membantu Airin berdiri, dengan cara memapahnya Airin bisa masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Airin hanya membasuh mukanya. Dia memandang ke kaca saat ini.
Kembali rasa takut karena penculikan itu datang. Sekuat tenaga Airin mencoba menahan dirinya, tapi tetap saja hal itu tidak menyenangkan.
Bruk. Airin terjatuh dengan tatapan kosong. Air mata kembali menetes membasahi pipinya.
"Apa Nona tidak apa-apa?" tanya Ais dan langsung membantu Airin bangun.
"Aku tidak apa-apa."
Setelah selesai berganti pakaian. Airin kembali duduk di tempat tidur. Dia tidak tahu harus berbuat apa, dia merasa bosan dengan hal ini. Dia juga sangat ingin melupakan kejadian itu.
Ais hanya berdiri di samping Airin. Dia tidak bertanya atau melakukan apapun. Matanya hanya tertuju pada tatapan kosong Airin.
"Apa yang kamu lakukan jika bosan?" tanya Airin tiba-tiba.
Ais menoleh, "Saya biasanya melakukan latihan."
"Latihan apa?"
"Karate."
Airin menoleh pada Ais. Benar saja, tubuh Ais tidak seperti gadis lain. Dia terlihat sangat kekar dan tidak lemah. Airin kembali memalingkan wajahnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Apa kau mau membaca buku, Nona?"
Airin merasa aneh, kenapa Ais bisa tahu apa yang dia suka.
"Aku membacanya dibuku tentangmu," kata Ais.
Airin mengangguk-anggukan kepalanya. Dia lalu tersenyum.
"Ambilkan aku sebuah buku. Aku akan membacanya untuk membunuh waktu."
"Baik."
Ais memilih beberapa buku yang berada di rak. Karena tidak tahu buku apa yang Airin suka, Ais memilih sembarang buku dari rak.
"Ini," kata Ais sembari memberikan sebuah buku.
"Apa kau juga tahu aku sangat suka buku ini?"
Ais kaget, "Ti...tidak. Aku hanya asal memilih."
"Benarkah?"
"Ya."
Airin mengangguk percaya, "Kamu bisa keluar. Aku ingin sendiri."
Beberapa kali Ais memukul kepalanya sendiri. Dia merasa sangat bodoh saat di depan Airin. Bahkan Ais tidak bisa menahan gejolak di dalam hatinya itu.
***