My Love My Pain

My Love My Pain
Hadiah



Arja melempar Airin masuk ke dalam kamar. Entah apa yang sudah terjadi hingga membuat Arja sangat marah. Airin bahkan hanya bisa diam melihat Arja yang menatapnya dengan tajam.


Crang. Arja melempar sebuah vas bunga pada Airin. Untung saja dengan cepat Airin menghindar. Jika tidak, mungkin dia akan terluka karena vas itu.


"Kamu kenapa? datang kesini dan langsung marah-marah," tanya Airin yang masih terus menghindar dari Arja.


"Kenapa kau semakin dekat saja dengan bosmu. Apa kau memiliki hubungan dengannya?"


"Maba nungkin. Aku sekretarisnya, jadi aku selalu di dekatnya saat di kantor."


"Bohong. Jelas-jelas kau sudah bermesraan dengannya."


"Apa kau bilang?"


Airin merasa ada yang aneh. Bagaimana bisa Arja mengatakan jika dia dan Vino bermesraan. Apa ada yang memata-matainya, tapi siapa.


Sret. Arja menarik paksa tubuh Airin hingga baju yang dia pakai robek. Bahkan ada luka gores di bahunya. Airin mencoba melepaskan cengkraman itu.


"Kenapa kamu bisa menuduhku seperti itu."


Arja melepaskan tangannya dari tubuh Airin. Lalu, dia memberikan beberapa lembar foto padanya. Disana, Airin sedang berdiri dengan posisi Vino sangat dekat dengannya. Jika dilihat difoto itu, Airin dan Arja sedang berada di ruang karyawan. Banyak orang disana.


"Katakan, kenapa kalian begitu dekat saat di belakangku." Bentak Arja.


"Lihat. Kau bahkan menuduhku karena foto. Asal kau tahu, aku dan Vino sedang berada dj ruang karyawan. Banyak orang disana, lihatlah," kata Airin membela dirinya.


Arja diam dan mengambil kembali foto itu. Perlahan, Arja mengamati foto itu. Tadi dia benar-benar kalap hingga langsung datang dan menyiksa Airin.


Airin meringis kesakitan sembari melihat goresan di bahunya. Arja benar-benar melakukannya dengan keras.


Perlahan Arja mendekat dan memegang bahu itu. Airin mencoba menjauh kembali, tapi Arja memeluk pinggannya.


"Maaf, aku terlalu cemburu."


Airin hanya bisa diam dan menahan luka itu.


"Maaf. Aku minta maaf, Rin," bisik Arja di telinga Airin.


"Siapa yang memberikan foto itu?" tanya Airin kemudian.


"Kau tidak perlu tahu. Sekarang, kita obati saja luka ini. Sekali lagi, aku minta maaf."


Airin hanya diam. Arja bergegas mengambil kotak obat dan mengobati luka itu. Memang benar, Arja mengobati luka Airin. Hanya luka luar saja, tidak dengan luka hatinya.


***


Beberapa hari ini Arja memilih untuk berada di rumah Airin. Dia bahkan hanya menengok Maya hanya sekali. Walaupun Airin merasa senang, tetap saja dia merasa sudah menyakiti Maya. Bagaimana tidak, bukan hanya dia saja yang menjadi istri Arja. Maya juga.


"Kau tidak kembali ke rumah?" tanya Airin saat sarapan.


"Kenapa? kau tidak suka aku disini? apa kau merasa tidak bebas?"


"Bukan begitu. Hanya saja, aku merasa tidak enak dengan Maya. Dia juga istrimu."


Jujur saja, Airin merasa sedikit kesal dengan tingkah Arja. Kadang dia sangat perhatian dan penuh kasih. Kadang dia pemarah dan suka melukai Airin.


"Baiklah. Aku harus kembali bekerja, sudah dua hari aku meminta cuti."


"Kau sangat merindukannya?"


"Ayolah Arja. Jangan lagi," kata Airin.


Arja hanya diam dan bergegas mengikuti Airin. Hari ini Arja berniat untuk mengantar Airin ke kantornya. Dia juga ingin bertemu dengan Vino.


"Ayo masuk. Aku akan mengantarmu," kata Arja sembari membukakan pintu mobil.


Airin tersenyum kali ini. Dia merasa senang dengan sikap Arja. Bagaimanapun, Arja suaminya walau kadang mengesalkan.


"Terima kasih," Airin masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.


Sampai di kantor. Airin merasa sangat lega, bagaimana tidak. Saat mengantarnya Arja terus mengatakan jika aku tidak boleh terlalu dekat dengan Vino. Dia mengatakan jika Vino memiliki banyak wanita di luar sana.


"Ingat apa yang aku katakan," kata Arja saat ikut turun dari mobil.


"Ya."


"Airin. Cepat masuk."


Airin dan Arja langsung menoleh keasal suara. Vino sudah berdiri di dekat sana sejak tadi dan memperhatikan tingkah Airin dan suaminya.


"Ya, Pak."


"Kenapa kau menurutinya?" tanya Arja sembari memegang tangan Airin.


"Disini, dia harus mendengarkan aku. Karena aku yang membayarnya. Ayo masuk."


"Masuklah. Nanti aku kabari lagi," kata Arja sembari melepaskan tangan Airin.


"Terima kasih. Kamu hati-hati di jalan."


"Ya."


Setelah Arja pergi. Airin bergegas menyusul langkah kaki Vino. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Airin dan Vino, tidak ada kata. Hanya saja, Vino terlihat sedang memendam sesuatu.


"Kenapa kau mencintainya?" tanya Vino.


Entah sudah berapa kali Vino menanyakan hal itu pada Airin. Airin tetap saja menjawab seperti biasanya.


"Ini urusan pribadi saya, Pak."


Setelah Airin menjawabnya. Vino hanya bisa diam. Dia tidak punya kuasa lagi untuk bertanya lebih lanjut.


***


Airin dan yang lain sudah bersiap pulang. Vino, dia pulang lebih dulu karena ada suatu alasan. Airin juga tidak tahu alasan apa itu, yang jelas Vino pergi dengan wajah kesal.


Sampai di luar kantor. Banyak karyawan yang berkerumun. Terlihat di tengah kerumunan itu ada sebuah mobil berwarna merah. Terlihat elegan dan baru.


"Ini buatmu," kata Sela yang langsung menyodorkan sebuah memo kecil.


"Apa?"


"Aku juga tidak tahu."


Airin membaca isi memo itu 'Untukmu'. Apa maksudnya ini, pikir Airin. Ting sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin. Dengan cepat Airin membuka ponsel itu.


Baguskan hadiah yang aku berikan?


Saat Airin akan kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. Seorang pria paruh baya mendekat padanya dan memberikan sebuah kunci mobil. Kali ini Airin tahu maksud dari pesan Vino.


Padahal Vino tahu jika Airin tidak bisa membawa mobil. Lalu untuk apa memberikan hal sebesar itu. Mereka juga hanya berhubungan sebagai atasan dan bawahan.


"Biar aku yang bawa. Ayo naik ke mobil." Sela langsung mengambil alih kunci itu dan masuk ke mobil.


Saat Airin masuk ke dalam mobil. Banyak sekali karyawan yang membicarakannya. Mereka bahkan mengatakan jika Airin adalah wanita penggoda.


***


Sampai di depan rumahnya yang baru. Airin melihat mobil Arja terparkir rapi disana. Dia juga melihat bayangan seorang wanita di dalam rumahnya. Jelas sekali jika itu Maya.


"Kamu mampir dulu kan?" tanya Airin pada Sela.


"Baiklah."


Sela turun dan mengikuti langkah Maya untuk masuk ke rumah. Sebenarnya Sela kaget dengan cerita Airin di mobil. Hanya karena kesalahan kecil, Airin harus di keluarkan dari rumah mewah itu. Kini Airin harus tinggal di rumah yang sederhana.


"Kau sudah pulang?" tanya Arja yang menurunkan Maya dari pangkuanya.


"Ya. Untuk apa kalian disini?" tanya Airin.


Maya mendekat pada Sela dan Airin. Dia menepuk pundak Airin dengan senyuman liciknya.


"Nanti malam. Arja akan mengajakku keacara lelang. Sayang sekali, hanya satu wanita istimewa yang dia bawa."


Airin hanya menghela nafas. Arja bahkan tidak berkutik saat Maya mengatakannya.


"Tidak apa," jawab Airin dengan santai, "aku juga akan pergi dengan bosku. Sebagai sekretarisnya."


"Baguslah. Ayo pergi, kau mau membelikan aku baju kan?" tanya Maya dengan sangat manja pada Arja.


"Tunggu. Itu mobil siapa?" tanya Arja.


Airin ingat mobil itu. Jika dia mengatakan yang sebenarnya. Arja pasti akan marah dan kembali memukulnya.


"Itu mobil kantor. Vino yang menyuruh Airin menggunakannya," jawab Sela. Airin merasa terselamatkan oleh Sela


Arja hanya diam dan meninggalkan rumah itu dengan Maya. Di dalam hati, ingin sekali Airin menampar wajah Maya dengan keras. Hatinya merasa terluka dengan apa yang dilakukan Maya. Sekan-akan hanya dia yang bisa merebut hati Arja.


"Airin. Kenapa kau selalu mengalah. Buatlah pelajaran untuk wanita perebut itu."


"Sel, mau minum apa?" tawar Airin. Dia mencoba tidak mendengar apa yang dikatakan Sela.


"Aku mau pulang saja. Tolong pikirkan apa yang aku katakan, aku tidak ingin kau terluka."


"Ya. Hati-hati di jalan."


Setelah semuanya pergi. Airin berlari masuk ke dalam kamar. Dia terduduk dengan tas yang tergeletak di sampingnya. Dia kembali merasa kalah dari Maya. Dia merasa apa yang dilakukan Arja terus menyakitinya. Hanya tangisan yang menemani hati Airin.


***