
Airin tidak tahu jika kejadian semalam sangatlah mengganggunnya. Dia bahkan sempat ditegur oleh Vino beberapa kali.
"Setelah ini, ada pertemuan dengan Nona Cika di restoran milik Bapak."
"Sejak tadi kamu hanya melamun? apa masih sakit?" tanya Vino saat kami sudah di ruanganyannya.
Airin menggeleng, "Sekali lagi saya minta maaf."
Vino memberikan gelas berisi air mineral.
"Minum dulu, setelah ini kamu bisa pulang."
Airin kaget. Dia tidak tahu kenapa Vino langsung menyuruh Airin untuk pulang. Padahal ini belum waktunya jam pulang.
"Ini belum waktunya pulang. Aku akan pulang nanti." Airin meletakan kembali gelas yang ada di tangannya, "Terima kasih atas perhatianya. Saya permisi Pak."
Mungkin Vino mengira jika Airin masih sakit. Jelas-jelas Airin sudah sembuh. Dia hanya tidak bisa fokus kerja saja. Airin pikir, dia tidak boleh mencampur urusan pribadi dan kantor. Dia bisa kehilangan semuanya.
"Apa Arja melakukan sesuatu?"
Airin menggeleng dengan sopan. Dia tidak ingin Vino terus mengira jika Arja adalah sumber masalahnya. Tidak ingin membahas hal yang lebih lanjut. Airin langsung keluar dari ruangan Vino.
***
"Makan dan minum sudah saya pesankan. Bapak bisa langsung menemui Nona Cika."
Walaupun terpaksa. Vino tetap saja masuk ke dalam restoran. Sementara Airin memilih untuk duduk di meja yang ada di luar. Tentunya dengan alasan tidak ingin mengganggu.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Vino.
Airin tersenyum, "Saya tidak bisa, Pak."
Vino langsung duduk di depan Cika. Sementara Cika menatap dengan tatapan kesal pada Vino. Kali ini Vino benar-benar terlambat datang.
"Kenapa kau sangat terlambat?" tanya Cika.
Vino menyunggingkan senyuman, "Banyak urusan. Aku tidak memiliki waktu untuk berkencan."
"Apa kau kira aku juga menyukai hal ini?" tanya Cika, "Aku melakukan ini karena kerja sama kita. Tidak lebih."
"Benarkah, tapi kau mengatakan pada wartawan jika kau dan aku saling mencintai."
Cika hanya bisa tertawa kecil.
"Kau sangat polos dalam urusan bisnis," ucap Cika.
Mereka kembali diam. Sementara Airin dia duduk dengan ponsel di tangannya. Beberapa kali dia mengirim pesan pada Arja, tapi tidak ada jawaban.
"Semoga kencan ini lancar," lirih Airin.
Ting. Sebuah pesan masuk. Vino yang mengirim pesan.
Kamu temani Cika. Aku ada urusan.
Setelah membaca pesan itu, Airin melihat ke meja mereka. Benar saja, Cika sendirian di sana. Beberapa kali dia mengecek ponselnya. dengan wajah bosan.
Airin merasa sangat bersalah pada wanita cantik itu. Lalu dia memilih untuk mendekat, "Maaf, Nona Cika. Pak Vino baru saja ada urusan mendadak," kata Airin.
Suasana menjadi sangat canggung ketika Vino tiba-tiba pergi. Padahal dia sedang bersama dengan Cika. Hasilnya, Airin lah yang harus mencari alasan untuk kali ini.
"Di mana Vino? kenapa dia tidak kembali?" tanya Cika dengan nada marah.
Sepertinya mereka sedang ada masalah. Sejak tadi aku hanya duduk di luar, takut mengganggu. Kini, semuanya menjadi tidak terkendali. Vino pergi tanpa ada kabar untuk Airin.
"Maaf, mungkin sebentar lagi Pak Vino kembali," kata Airin.
Cika kembali mengecek kembali ponselnya. Dengan kesal dia menggebrak meja dan langsung pergi. Entah apa yang sudah dilakukan Vino sampai wanita secantik itu pergi.
"Akhirnya dia pulang," kata Vino tepat di belakang Airin.
Airin menoleh dan menatap dengan penuh tanya. Dari mana saja Vino hilang sejak tadi dan tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Bapak kenapa disini? sejak tadi Nona Cika menunggu."
Vino meletakan telunjuknya ke bibir Airin, "Aku tidak ingin bertemu dengannya."
"Bapak bisa mengatakanya, kenapa harus sembunyi?"
Vino memakai jasnya lagi, "Bayar semuanya. Aku akan pergi dulu." Vino melenggang pergi tanpa memberikan Airin waktu bicara.
Airin keluar dari kamar setelah selesai membayarnya. Mata Airin mengedar ke kanan dan ke kiri. Tidak ada mobil Vino disana. Apa mungkin pria keras kepala itu sudah meninggalkannya.
"Kenapa dia meninggalkan aku."
Tidak aku duga. Vino pergi begitu saja dan meninggalkan Airin sendirian. Ting.
Cari taxsi dan pulang. Aku bisa mengurus semuanya.
Seenaknya saja dia memerintah Airin. Airin hanya bisa menghela nafas panjang karena tingkah bosnya itu. Akhirnya Airin menghentikan sebuah taxsi. Di rumah dia bisa melepaskan penatnya. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi jika Vino sudah memutuskan.
***
"Lin. Siapkan air hangat. Aku ingin berendam," kata Airin begitu masuk ke dalam rumah.
Airin melemparkan tas dan blazernya kesembarang tempat. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tempat ternyaman setelah dia pulang dari tempat kerjanya.
"Maaf, Bu. Kamar mandi Ibu sedang di pakai."
Airin yang sempat akan tidur langsung membuka matanya, "Siapa yang memakaianya?"
Dari tadi Airin mengirim pesan tidak dibalas. Lalu kenapa Arja malah datang dan istirahat disini. Apa Arja akan kembali memberikan harapan pada Airin. Karena terlalu lelah, Airin pun memilih untuk menutup matanya sebentar.
"Kamu sudah pulang?" tanya Arja begitu Airin masuk ke kamar.
Airin mengangguk dan melepas ikat rambutnya. Kini rambutnya bisa bergerak dengan bebas.
"Apa harimu baik?" tanya Arja lagi.
"Cukup melelahkan. Aku ingin istirahat dulu," kata Airin.
Arja langsung menarik tangan Airin dengan keras. Kali ini dia terlihat kesal.
"Ada apa ini?" tanya Airin.
"Apa yang kau lakukan selama aku tidak pulang ke sini?"
Airin mengernyitkan dahinya setelah mendengar pertanyaan Arja.
"Kenapa kamu tidak bilang jika kamu sakit? kamu malah memilih pria lain yang menemanimu," kata Arja.
"Siapa yang kamu maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan bos gilamu."
Airin tertawa. Dia merasa lucu sekaligus senang. Suaminya yang selama ini keras dan selalu mengacuhkannya. Kali ini dia memberikan sebuah kecemburuan.
"Kau cemburu padaku?" tanya Airin dengan senyuman.
Arja menghempaskan tubuh Airin ke atas tempat tidur. Dia mungkin tidak senang dengan ejekan yang dibuat oleh Airin.
"Aku ingin kamu kali ini."
Arja mendekat dan .... tok tok tok. Pintu kamar kami diketuk.
"Siapa?" teriak Airin dari kamar.
"Di bawah ada tamu, Bu."
"Baiklah, aku segera turun."
Airin mengambil blazernya dan kembali memakainya. Tamu siapa lagi kali ini.
"Lain kali kita harus pergi bulan madu lagi," kata Arja.
Airin merasa lucu saat Arja mengatakannya. Belum sampai di bawah. Airin mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap.
"Paman, tante." Teriak Airin begitu melihat siapa yang datang ke rumahnya "Kapan kalian datang?" tanya Airin.
"Kami datang baru saja. Sebelum ke tempat Sela kami mampir ke sini," kata Tante dengan senyumanya.
"Maaf ya, aku belum sempat datang ke sana."
Paman tersenyum, "Kami tahu keadaan kamu sekarang."
"Lin buatkan minum."
"Baik, Bu."
Tante dan Paman melihat sekeliling rumah, mereka pasti merasa aneh. Dulu Airin tinggal di rumah besar, tapi tidak kali ini. Airin tahu banyak pertanyaan yang akan mereka tanyakan.
"Kok kamu nggak bilang pindah ke sini?"
Entah alasan apa yang akan Airin buat kali ini, "Di sini tempatnya nyaman. Nggak terlalu besar juga, dekat juga dengan kantor." Akhirnya aku memberikan alasan yang lumayan masuk di akal.
"Tante kira kamu ada masalah sama suami kamu."
"Kami baik-baik saja kok, Tan. Arja sedang menyelesaikan kerja di atas."
Mereka mengangguk anggukan kepalanya. Seharusnya mereka sudah tahu jika Arja menikah lagi. Bukannya Sela sudah mengatakan pada mereka. Mungkin mereka tidak menyinggung hal ini di depan Airin, untuk menjaga perasaannya.
"Paman, tante. Sudah lama?" tanya Arja.
"Lumayan."
Kami ngobrol cukup lama. Sampai Paman dan Tante berpamitan. Mereka akan ke tempat kos Sela yang tidak jauh dari sini. Mungkin setengah kilo meter.
"Kami pergi dulu. Lain kali, datang berkunjung ke tempat kita juga," kata Paman.
"Baik Paman."
Tante memeluk Airin sebelum pergi, "Tante pergi dulu. Kamu jaga diri."
"Iya tante. Hati-hati di jalan."
Airin dan Arja kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Paman benar-benar pergi.
"Kenapa kamu pulang cepat hari ini?" tanya Arja.
"Vino sedang ada urusan lain dengan Cika."
"Pantas saja kamu pulang dengan lelah."
"Maksud kamu?"
Arja menggeleng. Dia masuk kembali ke kamar. Sementara Airin menemani Ilin masak. Rasa lelah Airin sudah hilang, kali ini Airin akan memasak makanan kesukaan suaminya. Nasi goreng ayam.
***