My Love My Pain

My Love My Pain
Dia melangkah kembali



Setelah kejadian semalam membuat Airin tidak ingin bertemu dengan Vino. Airin merasa malu dan tidak tenang. Kenapa perasaannya bisa berubah-ubah seperti ini. Airin tidak konsisten dalam mencintai seseorang.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


Aku tunggu di cafe dekat apartemen.


Airin ingat jika hari ini dia sudah berjanji akan sarapan bersama dengan Vino. Kenapa dia memintanya bertemu di cafe. Sudahlah, setelah bertemu Vino Airin bisa menemui Cika dan meminta bantuannya.


Airin akan meminta Cika untuk mencarikan dia pekerjaan yang cocok dengannya. Walaupun sederhana, setidaknya ada pemasukan untuk dirinya. Airin tidak perlu memikirkan hal aneh-aneh.


Dengan baju seadannya Airin turun dan menemui Vino. Dia sedang duduk di dekat jendela. Terlihat jelas jika Vino masih belum memesan apapun.


"Maaf lama. Aku bangun kesiangan," kata Airin.


"Bagaimana tidurmu? apa nyenyak?" tanya Vino.


Airin memutar bola matanya. Bagaimana bisa tidur dengan nyenyak. Semalam Airin memikirkan apa yang sudah Vino lakukan padanya.


"Bagaimana?" tanya Vino lagi.


"Sangat nyenyak. Bagaimana denganmu?"


"Lumayan. Mau pesan apa?" tanya Vino yang menyodorkan buku menu pada Airin.


"Coklat panas."


"Hanya itu?" tanya Vino.


"Ya."


"Kau tidak sarapan?"


"Vino, aku hanya ingin coklat panas. Tidak ada yang lain."


"Tidak mau yang lain? nanti kamu bisa sakit jika tidak sarapan?" tanyanya lagi.


"Aku ada urusan lain. Apa bisa aku pergi sekarang?" Airin sudah bersiap untuk pergi dari sana. Moodnya hilang karena Vino yang cukup banyak pertanyaan untuknya.


"Baiklah, coklat panas. Kau bisa duduk dulu."


Airin tersenyum tipis dan menoleh pada Vino. Dia tidak merasa bersalah atau apapun itu. Padahal tidak biasanya dia secerewet ini pada Airin. Kenapa dia berubah hanya dengan satu malam.


***


Berjalan dengan tenang tanpa ada gangguan. Akan lebih cepat jika Airin menggunakan taxsi, namun melihat kantongnya yang semakin menipis Airin memutuskan untuk jalan kaki. Untung jarak apartemen dan kantor Cika lumayan dekat, jadi Airin tidak perlu membuang-buang uang.


Suasana yang sudah lama Airin rindukan. Suara mobil yang menderu beradu dengan suara disekitar. Dulu, Airin selalu menaiki mobil dengan AC. Bahkan Airin tidak kekurangan suatu apapun.


Sekarang. Airin kembali ke titik awal. Di mana dia kembali menjadi Airin yang dulu. Airin yang tidak terikat dengan siapapun. Airin yang hidup sederhana dengan segala impiannya.


Huuuh. Airin menghela nafas panjang. Lelah, itu yang Airin rasakan kini. Bagaimana tidak, hampir lima ratus meter lebih Airin berjalan dengan sepatu yang memiliki hak. Tanpa sadar Airin sudah menyiksa dirinya sendiri kali ini.


"Cika ada di dalam?" tanya Airin pada sekretaris Cika.


"Ada, Bu, tapi sedang ada tamu."


"Baiklah. Aku akan menunggu disini."


Airin duduk di depan meja sekretaris itu. Sembari menunggu tamu yang ada di dalam keluar. Walau Airin dan Cika akrab, bukan berarti dia bisa masuk dengan seenaknya. Airin juga harus bisa memberikan privasi pada Cika.


Tidak lama suara pintu di buka. Airin langsung berdiri dan akan masuk ke dalam. Arja keluar dari ruangan itu dengan raut wajah marah. Sepertinya dia baru saja bertengkar dengan Cika.


Mata mereka bertemu. Tanpa sadar Airin langsung membuang muka. Airin tidak mau ada hal lain lagi yang mengikat kami.


"Kau disini? aku sangat lelah mencarimu," kata Arja seraya mendekat pada Airin.


"Maaf, aku banyak urusan."


Airin melangkahkan kakinya melewati Arja begitu saja. Jika dipikir lagi, Airin tidak memiliki urusan apapun. Airin hanya ingin menghindarinya, hanya itu.


Sekuat apapun hatinya. Tetap saja Airin merasakan terluka dan kecewa. Suaminya, bukan lebih tepatnya mantan suaminya. Mengirim layang cerai tanpa bertatap muka dan mengatakan apa masalah yang terjadi.


Kini dia datang dengan alasan dia mencari Airin. Hal apa lagi yang dia inginkan. Bukankah segalanya sudah dia ambil, termasuk impian-impiannya.


Airin masuk ke ruangan Cika dan langsung duduk di sofa. Airin mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Apa kau berpapasan dengan Arja?" tanya Cika dengan raut wajah khawatir.


Airin mengangguk.


"Aku tidak apa. Bisakah aku meminta segelas air?"


Cika langsung mengambilkan air minum untuk temannya itu. Tanpa jeda Airin meminum habis air dalam gelas itu.


"Apa yang dilakukannya disini?" tanya Airin.


Cika menunduk, "Sebenarnya setelah kamu pergi. Arja terus menerus datang kesini. Dia menanyakan alamat kamu dan dimana kamu."


"Lalu?"


"Tentu saja aku tidak mengatakannya. Aku tidak mau dia kembali menyakitimu. Dia sudah sangat membuatmu terluka."


Airin hanya diam. Ternyata selama ini Arja mencoba bertemu dengannya. Mungkin memang takdir yang tidak menginginkan kita bertatap muka sebelum ada perceraian.


"Oh ya, ada apa kamu datang kesini?"


Airin jadi ingat dengan tujuannya.


"Aku ingin meminta bantuanmu. Bisakah kau mencarikan aku sebuah pekerjaan. Aku bukan orang yang pemilih."


"Bukankah kau masih menjadi asisten pribadiku?"


"Aku melakukannya karena Arja. Bukankah sekarang sudah berubah?"


Cika menepuk pundak Airin dengan lembut, "Hubunganmu dan Arja memang sudah berubah, tapi tidak dengan hubunganku dan kamu. Kamu masih bisa bekerja denganku."


"Benarkah?"


Cika mengangguk. Perasaannya sangat senang. Airin langsung memeluk Cika yang masih diam di depannya. Tidak Airin sangka jika hubungannya dengan Cika akan seperti ini. Padahal, Airin dulu sangat iri padanya.


***


Setelah seharian bekerja untuk Cika. Kini Cika mengantarkan Airin kembali ke apartemen. Jika diingat lagi, Airin dan Cika tidak seperti bos dan bawahan. Mereka lebih seperti teman yang melewati waktu bersama.


Seharian ini kami hanya menghabiskan berbelanja. Walau bukan Airinyang belanja. Airin tidak membeli baju jika memang tidak butuh. Kali ini, Airin mendapat sebuah blouse dari Cika. Dia mengatakan jika ini sebagai tanda pertemanan.


Sampai di apartemen. Cika turun untuk mengantarkan Airin. Walau Airin sudah melarangnya. Tetap saja Cika melakukannya.


"Lihat. Sudah ada yang menunggumu," kata Cika dengan nada menggoda.


Airin menoleh kearah mata Cika. Benar saja, Vino disana dengan pakaian santainya. Dia memandang kearah Airin dan Cika.


"Aku pergi dulu," kata Cika kemudian.


Airin menarik tangannya, "Tidak mau mampir."


Cika melihat kearah jam tangannya, "Sudah malam. Aku harus segera pulang. Daah."


"Daah."


Cika pasti sengaja melakukan ini. Dia membiarkan Airin menemui Vino sendiri. Perlahan tapi pasti Vino mendekat padanya.


"Kau dari mana saja?" tanya Vino tanpa basa basi.


"Apakah aku perlu mengatakan padamu?"


"Ini sudah malam dan kau baru pulang. Apa kau bekerja untuk dia lagi?"


Airin tahu kata dia Vino tujukan untuk Cika. Kenapa Vino terlihat tidak suka dengan pertamanan Airin dan Cika.


"Ya. Aku harus bekerja. Apa ada yang salah? jika tidak aku akan masuk. Hari ini aku sangat lelah."


Vino mendekat pada Airin. Dia bahkan mengunci Airin di dinding. Matanya menatap tajam.


"Kenapa tidak bekerja saja denganku?"


Airin mendorong Vino dengan sekuat tenaga.


"Aku tidak mau merepotkan kamu."


Setelah mengatakan itu Airin langsung berjalan. Vino tetap saja mengikuti langkah kaki Airin. Sampai di depan kamar Airin. Airin kembali menoleh pada Vino.


"Malam ini aku ingin istirahat. Kau bisa kembali ke apartemenmu. Selamat malam."


Airin masuk dan langsung menutup pintu. Sengaja Airin tidak mengganti kata sandi apartemen ini. Bukan karena apa, hanya saja Airin masih menghormati Vino sebagai pemilik asli.


***