
Arja sedang mengumpulkan beberapa berkas di mejanya. Semalam dia benar-benar merasa jika Sela sangat berbeda. Dia bahkan menggoda dengan cara yang sangat murahan. Arja tahu jika itu adalah ulah tante Mia. Dia sengaja membuat Sela melakukan hal menjijikan itu.
"Pak. Jadwal bertemu dengan pak Vino diundur," kata Sekretaris Sa pada Arja.
Arja diam. Dimeletakan berkas itu dengan tenang.
"Tidak apa, tolong katakan pada Vino untuk segera menemuiku jika ada waktu."
"Baik, Pak."
Sekretaris Sa kembali ke mejanya. Sementara Arja masih memikirkan cara untuk mengusir tante Mia. Jika dia terus disini, bukan hanya Airin. Sela juga akan terkena bahaya. Apa lagi, Sela sedang mengandung anak Arja saat ini.
Tuk tuk tuk. Sela masuk dengan langkah kaki yang pasti. Dia tersenyum begitu melihat Arja berada di mejanya.
"Arja," panggil Sela.
Arja menoleh dan melihat Sela datang. Sepertinya Sela membawakan makan siang untuknya. Arja mendekat dan mencium kening Sela dengan lembut.
"Aku minta maaf untuk semalam," ucap Sela.
"Tidak apa. Asal jangan kau ulangi lagi," kata Arja.
Sela hanya tersenyum. Lalu dia menyiapkan meja untuk Arja makan siang. Baru kali ini Sela datang dan membawakan makan siang, dengan penuh perhatian. Biasanya Sela hanya datang untuk meminta jatah bulannanya saja.
Meja sudah dipenuhi oleh makanan. Dengan lembut Sela mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring Arja. Arja merasa jika Sela sedang mencoba mendekat lagi.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Arja langsung.
Sela menoleh dengan tatapan bingung, "maksudmu apa?"
"Tidak biasanya kau melakukan hal ini. Apa kau perlu sesuatu?"
Sela menundukan kepalannya. Lalu, dia menetapkan hatinya untuk menatap Arja kembali. Mata mereka saling pandang, Arja masih memperlihatkan ekspresi datarnya.
"Kapan kau akan menikahiku?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Sela.
"Bukankah kita akan menunggu anak ini lahir."
"Aku ingin secepatnya. Jangan bilang, kau hanya memberikan aku harapan. Kau akan mendekat pada Airin lagi."
Arja tahu kekhawatiran yang sedang dialami Sela. Perlahan Arja mengusap pelan kepala Sela.
"Aku akan tepati janjiku."
"Bagaimana jika Airin kembali padamu? apa kau masih akan menikahiku?"
Arja diam.
"Benarkan. Kau hanya memberikan aku harapan saja." kali ini wajah Sela sudah berubah.
Sela merasa kecewa. Perlahan bulir-bulir air keluar dari matanya yang indah. Dia menangis tepat di depan Arja. Arja mencoba mendekat, namun Sela malah menjauh.
"Benar. Kau hanya mencintai Airin, aku hanyalah wanita simpanan untukmu. Kenapa juga aku harus berharap padamu," ucap Sela lagi.
"Sela," teriak Arja dengan keras. Sela diam, dia hanya menundukan kepalanya. Arja kali ini terlihat marah.
"Kenapa kau berubah Sela. Kau banyak bertanya sekarang, tidak seperti dulu."
Sela hanya diam, tapi dihatinya ada rasa kesal yang sudah memuncak. Dia akan menemui Airin dan akan mengatakan apa yang dia rasakan. Airin harus secepatnya pergi dari kehidupan Arja.
Arja masih marah. Bahkan dia tidak jadi makan siang. Sementara Sela keluar dengan rasa kecewa. Benar apa yang dikatakan tante Mia, Arja hanya mencintai Airin, batin Sela.
Aku ingin bertemu denganmu.
Pesan itu Sela kirimkan pada Airin. Setelah apa yang dilakukan tante Mia. Airin pasti mau menemuinya.
***
Airin masih sibuk dengan beberapa file di layar komputernya. Vino masih belum kembali sejak keluar dengan Lola. Sementara Airin harus berkutat dengan banyak file di ruangan itu.
Ting. Sebuah pesan masuk pada ponsel Airin. Sela yang meminta bertemu dengannya. Airin tersenyum.
"Sepertinya Sela sudah sehat," lirih Airin.
Dengan tenang Airin mematikan komputernya. Dia merapikan mejanya dari beberapa berkas yang harus dia contoh. Sementara hatinya merasa sangat senang akan bertemu kembali dengan Sela.
"Kau terlihat bahagia," ucap Vino yang melihat senyuman mengembang diwajah Airin.
Airin mengangguk. Lalu dia mendekat pada Vino yang masih berada di depan pintu.
"Aku akan bertemu dengan Sela."
Wajah Vino berubah begitu mendengar nama Sela. Dia memegang tangan Airin dan menatap lekat pada matanya.
"Apa perlu aku temani?" tanya Vino.
"Aku hanya sebentar."
"Aku khawatir padamu," ucap Vino.
Airin menangkup wajah Vino dengan kedua tangannya, "Aku hanya bertemu dengan Sela. Bukan seorang penjahat."
"Tapi..."
"Percayalah padaku, Vin."
Vino hanya bisa mengangguk. Dia juga harus belajar membiarkan Airin bebas. Vino tidak boleh selalu mengekangnya atau Airin akan pergi dari hidupnya lagi.
Baru saja dia mengundur pertemuan dengan Arja. Kini dia malah kehilangan kesempatan untuk makan siang bersama dengan Airin.
Airin berjalan dengan sebuah tas yang tergangtung di bahu kanannya. Sementara ponsel berada di tangannya. Airin masuk ke sebuah tempat makan. Airin akan menunggu Sela disana.
Tidak lama, sebuah taxsi berhenti. Sela turun dengan langkah yang tidak biasa. Dengan senyuman Airin menyambut kedatangan Sela.
"Apa kau sudah baik-baik saja?" tanya Airin dan akan memeluk Sela.
Bukannya sebuah pelukan. Sela malah mendorong Airin menjauh darinya. Airin membenarkan posisinya dan duduk di depan Sela.
"Apa ada masalah?" tanya Airin.
"Menurutmu?" jawab Sela dengan kata-kata yang tidak menyenangkan.
Airin menghela nafas, "Apa Arja melakukan hal buruk lagi padamu?"
"Kau masih bertanya? seharusnya kau sadar diri dan pergi dari kehidupanku dan Arja."
Airin tidak paham dengan apa yang dikatakan Sela. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Arja dan juga tidak berhubungan. Kenapa kesannya Airin masih memiliki hubungan dengan Arja.
"Arja bahkan sampai menunda menikahiku. Padahal aku sudah mengandung anaknya. Semua itu karena kamu."
"Sel..."
"Kau memang egois Rin. Kau sudah memiliki Vino disisimu, tapi kau masih menginginkan Arja."
"Sela, dengarkan dulu."
"Sudah cukup. Jangan lagi mendekat pada Arja atau diriku."
Airin masih mencoba mengejar Sela. Tapi langkah kaki Sela begitu panjang. Belum sempat Airin mendapatkannya, sebuah taxsi sudah membawa Sela menjauh.
Airin hanya bisa pasrah. Sela terus saja menganggapnya mencintai Arja. Padahal, Airin sudah menghapus rasa itu dan menerima Vino di dalam hatinya.
Dengan langkah lemah. Airin berjalan kembali menuju ke kantor. Dia akan kembali bekerja dan kembali memikirkan kesalahan apa yang sudah dia perbuat.
"Airin, kau tidak apa?" tanya Arja yang membantu Airin agar tidak jatuh, "kau kenapa?"
Airin melepaskan tangan Arja dari tubuhnya, "Kau...kenapa kau bisa ada disini?" tanya Airin kaget melihat Arja berada di depannya.
"Ada yang memberiku pesan. Jika kau baru saja dilabrak oleh Sela. Aku sangat minta maaf," kata Arja.
Airin membenarkan letak tasnya ke bahu. Airin menatap pada Arja. Dia sudah tidak berharap dengan Airin, terlihat jelas dari matanya.
"Kenapa kau tidak nikahi saja Sela?"
"Airin, aku masih butuh waktu untuk itu."
Airin tidak menjawab. Dia memilih berjalan terus ke depan. Sementara Arja mengikutinya dari arah belakang. Sejak perhatian Sela pada Arja sangat banyak, Arja merasa hasratnya mengejar Airin sudah berkurang. Tapi kenapa, Arja masih saja terluka melihat Airin sedih.
"Aku akan mengantarkan kamu pulang," ucap Arja dan langsung memegang tangan Airin.
Airin langsung menarik kembali tangannya, "Tidak perlu. Aku bisa sendiri," kata Airin.
"Airin."
"Tunanganku sudah menolak dirimu. Aku sendiri yang akan mengantarnya pulang."
Arja dan Airin menoleh kearah yang sama. Vino datang dan langsung menggandeng tangan wanitanya itu. Dia tersenyum penuh kemenangan pada Arja.
"Baguslah. Aku bisa tenang karena ada yang menjaga Airin." Arja mengatakan dengan perasaan yang campur aduk.
"Sudah kewajibanku menjaga dia." Vino menunjukan genggaman tangannya dengan Airin.
Merasa tidak berdaya. Akhirnya Arja masuk ke dalam mobil dan pergi. Sementara Vino membantu Airin masuk ke dalam mobil. Dia akan mengantarkan Airin pulang untuk istirahat.
***
Tante Mia tertawa dengan keras di dalam ruangnya. Dia merasa sangat puas dengan apa yang dikatakan oleh mata-matanya. Dia sudah berhasil membuat Airin dilukai oleh Sela. Dia juga berhasil mendapatkan foto saat Arja membantu Airin, terlihat jika disana Arja memeluk Airin.
"Akhirnya mereka berdua akan kalah dan aku yang akan menang."
"Bos, sepertinya Sela sangat membenci kakaknya itu."
"Ya. Aku sudah membuat rencana lain. Kalian hanya perlu memberikan informasi yang aku butuhkan."
"Baik, Bos."
"Kalian bisa pergi," kata tante Mia dengan melemparkan sebuah amplop berisi uang.
Jika perselisilah ini berlanjut. Dengan mudah tante Mia bisa menghasut Sela untuk menggugurkan kandungannya. Atau tante Mia sendiri yang akan membuat Sela keguguran. Dengan hal itu, Arja akan meninggalkan Sela. Tante Mia akan kehilangan satu saingan bodohnya.
Tante Mia turun dari kantornya. Dia akan pulang dan melihat keadaan Sela. Saat ini dia pasti butuh teman untuk bercerita. Tante Mia lah yang akan menjadi sandaran hatinya.
****
Airin dan Vino sudah sampai di rumah. Sepi, canda dan tawa yang terjadi tadi di atas mobil kini berubah menjadi sebuah kesunyian. Mama Vino masih belum menemui Vino maupun Airin, mereka masih didiamkan. Hal itu membuat Airin merasa sakit di dalam hatinya.
"Apa aku tidak usah kembali kesini," kata Airin dengan lirih, namun Vino masih mendengarnya.
"Jangan seperti itu. Ayo masuk, kita temui mama dan minta maaf padanya."
Airin menghela nafas. Dengan cara itu Airin bisa sedikit mengurangi beban di dalam hatinya. Kemudian Vino dan Airin berjalan beriringan. Mereka masuk ke rumah.
Seorang pelayan sudah menunggu di ruang tamu. Begitu melihat Vino dan Airin masuk, dia langsung mendekat pada mereka.
"Ada apa?" tanya Vino.
"Nyonya ingin bertemu dengan Anda berdua," kata pelayan itu.
Airin menoleh pada Vino.
"Baiklah. Kami akan menemui mama," ucap Vino.
Perlahan tangan Vino menyentuh tangan Airin. Dia menggenggam tangan itu dan membawanya ikut berjalan. Airin merasa sangat berat untuk melangkahkan kakinya, dia masih merasa malu bertemu dengan mama Vino.
Sampai di dalam ruangan. Mama Vino duduk dengan secangkir teh di tangannya. Dengan isyarat mata, Vino dan Airin duduk di depan mama Vino.
Mama Vino meletakan cangkir itu dengan perlahan. Lalu, dia menatap pada Airin dan Vino secara bergantian.
"Kalian tahu kenapa mama menyuruh kalian kesini?" tanya mama Vino.
Airin dan Vino kompak menggeleng.
"Mama sebenarnya sangat kecewa dengan kalian. Kalian sudah berani melewati batas pertunangan. Hal inilah yang membuat mama tidak betah di luar sana."
Vino dan Airin hanya bisa menunduk. Mereka benar-benar merasa sangat bersalah. Sudah melukai orang yang mereka sayang.
"Kini, apa yang mama takutkan sudah terjadi. Apa mau dikata, kalian sendiri yang melanggar. Jadi, mama ingin kalian segera menikah, dengan itu mama tidak akan merasa khawatir lagi."
Airin tidak bisa berkata apapun lagi. Apa yang ditakutkannya kini sudah datang. Walau dia sudah memiliki benih cinta, namun cinta itu belum tumbuh dengan sempurna. Airin masih takut cintanya hanyalah bayang semu semata.
"Bagaimana?"
Dengan memberanikan diri, Airin mendongakkan kepalanya.
"Kami siap, Ma."
Airin langsung menoleh pada Vino. Bagaimana bisa Vino mengucapkan kata itu tanpa pertimbangan. Dia juga tidak bertanya pada Airin lebih dulu.
Mendengar ucapan Vino, mama Vino tersenyum. Wajahnya berubah menjadi ceria. Perlahan dia mendekat pada Airin dan memeluknya dengan erat.
Airin diam. Dia merasa jika semua itu hanyalah mimpi. Namun tidak, bagaimana bisa mimpi seperti ini. Kini, Airin hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi.
"Maafin mama, Rin. Mama sudah marah padamu," kata mama Vino.
Airin mengulas senyum, "Tidak apa, Ma."
Setelah percakapan itu. Airin kembali ke dalam kamarnya. Begitu juga Vino. Sejak tadi Vino merasa dia bersalah karena tidak bertanya dulu pada Airin. Vino akan meminta maaf nanti.
Airin terus mondar mandir di dalam kamarnya. Dia tidak tahu harus bagaimana, mungkin Vino akan mengerti tentang perasaanya. Bagaimana dengan mama Vino, Airin sudah berjanji untuk tidak mengecewakannya.
Tok tok tok. Sebuah ketukan pintu di kamar Airin, tidak lama Vino masuk dengan tatapan lekat pada Airin.
"Maaf."
"Tidak apa," jawab Airin.
"Apa kau sudah yakin dengan perasaanmu padaku?" tanya Vino.
Airin memang belum tahu jelas tentang perasaanya. Yang jelas, tidak ada nama siapapun di hati Airin saat ini.
"Vino. Setiap orang harus belajar, begitu juga aku. Aku harus belajar menerima orang yang mencintaiku dan juga melindungiku."
Mendengar jawaban Airin membuat Vino tidak merasa khawatir lagi. Dia bisa berusaha terus agar Airin membuka hatinya dengan penuh.
"Vino, tapi kamu harus janji. Jangan mengekang aku, aku akan jadi istri kamu. Hanya, aku juga butuh privasiku."
Vino mendekat dan mengelus pelan kepala Airin, "Aku tahu."
Tanpa sungkan Airin memeluk Vino saat itu. Beberapa hari lagi, mereka benar-benar akan meresmikan hubungan mereka. Walau tentunya, jalan tidak akan pernah mulus sampai akhir.
***
Tante Mia mendekat pada Sela yang sedang duduk dengan mata berkaca-kaca. Jelas sekali jika Sela tidak memiliki siapapun untuk bercerita.
"Menantuku sayang, ada apa dengan kamu?" tanya tante Mia dan langsung duduk di samping Sela.
Sela tidak menjawab. Dia masih meratapi citanya yang tidak kunjung membaik pada Arja. Sela sangat ingin seperti dulu saat pertama bertemu dengan Arja. Arja yang penuh kasih sayang dan romantis.
"Sela," panggil tante Mia.
Kali ini Sela menoleh dan mendapati tante Mia sudah berada di sampingnya dengan tatapan penuh tanya.
"Kapan mama sampai disini?" tanya Sela pada tante Mia.
"Sudah sejak tadi, tapi kamunya malah asik nangis. Ada apa?" tanya tante Mia.
Sela mengatakan semuanya pada tante Mia. Penolakan Arja dan pertemuannya dengan Airin. Semuanya terasa sangat kacau bagi Sela. Perlahan tante Mia menarik Sela ke dalam pelukannya.
"Aku sangat ingin menyingkirkan Airin dari dunia ini, Ma."
Tante Mia tersenyum dengan sangat mengerikan, "Kenapa kamu tidak melakukannya sekarang?"
"Maksud mama apa?"
"Semakin kamu membiarkannya. Arja akan semakin menjauh darimu."
Sela membenarkan apa yang dikatakan tante Mia. Hanya saja dia takut untuk melakukannya, takut di penjara dan takut kehilangan Arja selamanya.
Kini tatapan Sela tertuju pada tante Mia. Sejak awal tante Mia datang. Dia selalu mendukung Sela. Sela merasa ada yang salah.
"Tante," panggil Sela.
Tante Mia menoleh pada Sela, "Ya, ada apa, Sayang?"
"Kenapa tante selalu mendukungku?" tanya Sela.
"Karena kamu menantu tante," jawab tante Mia.
Sela tersenyum, "Aku masih belum menikah dengan Arja. Pasti ada alasan kenapa tante melakukannya."
"Kenapa kamu malah memanggilku tante. Panggil saja mama, mama akan ceritakan semuanya pada kamu."
Sela hanya diam sembari mendengarkan cerita dari tante Mia. Sela tahu, setelah tante Mia selesai bicara. Ternyata, dulu Arja memiliki pasangan bernama Airina. Airina meninggalkan Arja dan pergi dengan wanita lain. Sejak saat itu, Arja selalu menyukai wanita dengan nama Airin.
"Jadi,..."
"Ya. Mama tidak mau masa lalu terulang lagi. Mama janji, akan selalu mendukung apa yang kamu lakukan. Semua ini demi kebaikan Arja."
Sela mengangguk. Mereka lalu membicarakan banyak hal. Sampai larut malam. Tentu saja pembicaraan itu menyangkut tentang Airin dan rencana membunuhnya.
***