
Kemarin Airin tidak pulang ke rumah. Dia memilih untuk bermalam di hotel. Hanya untuk menenangkan diri. Gara-gara keguguran itu, Airin harus menanggung semua ini. Sendiri.
Bagaimana Airin harus mengatakan pada Arja. Bagaimana caranya menjelaskan, dia pasti tidak akan percaya. Sama seperti dulu, Airin hanya akan tersakiti.
Jika mengingat kembali, rasanya Airin tidak ingin mengatakan apapun pada Arja. Dia akan mencari tempat untuk pergi. Dia akan menyendiri untuk beberapa waktu. Walau Airin merasa tidak senang harus meninggalkan Arja.
***
Cika sudah menunggunya di sebuah cafe dekat hotel. Airin sengaja meminta bertemu dengan Cika. Dia mungkin akan memberikan Airin sebuah solusi. Airin yakin akan hal itu.
"Maaf aku terlambat," kata Airin pada Cika.
"Ada apa? apa sakitmu bertambah?" tanya Cika dengan nada khawatir.
Airin menggeleng, Airin mulai mengatakan apa yang dia pikirkan tadi. Airin akan mencari tempat menyendiri, setidaknya sampai sakitnya ini sembuh. Airin tidak mau mengecewakan Arja.
"Aku tahu kamu sangat tersiksa mendengar penjelasan dokter kemarin. Walau ada yang salah dengan rahimmu karena keguguran. Setidaknya kau harus mengatakan hal ini pada Arja, dia suami kamu," kata Cika.
"Aku takut dia tidak percaya lagi padaku. Aku berniat pergi secara diam-diam."
Cika menggeleng tidak setuju dengan apa yang Airin katakan.
"Jangan seperti itu. Arja akan tersiksa dengan kepergian kamu."
"Kata siapa, dia sudah memiliki banyak wanita. Aku hanya koleksinya saja."
"Saranku, setidaknya kau katakan pada Arja tentang penyakitmu."
"Baiklah, setidaknya aku bisa tenang karena Arja tahu hal ini."
Cika menganggukan kepalanya. Dia juga akan membantu Airin mencari tempat yang tepat. Tentunya tempat yang memiliki dokter hebat. Airin sangat berharap bisa sembuh dan memberikan anak untuk Arja.
***
Setelah pertemuan Airin dengan Cika. Airin memilih untuk pulang dan mengatakan segalanya pada Arja. Apapun yang terjadi, Airin akan menerimanya.
Arja tetaplah Arja, dia tidak akan berubah hanya karena satu orang. Dia akan hidup jika dengan banyak wanita. Airin harus ingat akan posisiku sendiri.
Taxsi sudah berhenti dan Airin sudah memberikan uangnya. Dia membawa tasnya dan membuka pintu, namun Airin mendengar suara orang yang sedang berdebat.
"Kenapa kau mengatakan hal itu pada Airin?" teriak Arja. Ya, Airin tahu suara ini, ini suara Arja.
"Tuan, maafkan aku. Hanya ini yang bisa aku lakukan agar Airin tidak pergi darimu. Bukankah dia sudah percaya jika kau akan terluka jika dia pergi?"
Airin melihat dokter Bob yang menjelaskan semuanya pada Arja.
"Tapi aku terlihat sangat lemah di depannya. Dia seperti akan memperbudakku." kembali Arja berteriak dengan keras.
"Tidak..."
"Tidak kau bilang, bukankah kau tahu jika aku harus mendapatkan keturunan darinya. Aku juga harus mendapatkan tanda tangannya. Kau tahu alasanku menikahinya, aku hanya ingin harta yang selama ini disembunyikan oleh pamannya."
Airin merasa sangat terluka dengan apa yang dia dengar. Arja meminta keturunan darinya karena ingin menguasai harta. Walau Airin tidak tahu jika dia memiliki banyak harta di luar sana.
"Sudah aku katakan, Tuan. Jika kau harus bisa setia padanya, walau hanya sekali. Dia akan mempercayaimu lagi."
"Sekarang dia berubah, dia bukan Airin yang penurut lagi."
"Sebaiknya tuan mengatakan hal ini pada Sela. Setidaknya, Sela akan mengerti dan tidak akan mendekati tuan untuk saat ini."
"Bagaimana bisa?"
"Bukankah Sela tidak ingin hamil. Jadi, Tuan bisa menggunakan alasan itu."
Airin menutup matanya dan mengatur nafas. Kenapa ada nama Sela yang disebut. Apa Sela tahu sesuatu. Tunggu, Airin ingat, dulu Sela yang mengatakan jika Arja sangat tampan.
Bahkan Airin dan Sela tidak pernah bertemu dengan Arja sebelumnya. Airin kira, dia memang sudah di jodohkan sejak kecil. Tapi kenapa Arja hanya ingin seorang keturunan dari Airin.
Brak. Pintu itu terbuka secara tiba-tiba. Pandangan Airin bertemu dengan mata Arja. Dia menatap kaget pada Airin. Airin pun merasa sudah ketahuan menguping pembicaraan mereka.
"Airin, kau tidak apa?" tanya Arja yang langsung mendekat dan membantu Airin berdiri.
Airin berdiri dan membenarkan bajunya. Senyuman Airin mengembang dengan sepenuhnya.
"Maaf, aku sedang pusing dan membuka pintu sampai terjatuh," kata Airin.
"Apa kau mendengar sesuatu?" tanya Arja dengan gerak gerik aneh.
"Mendengar apa? dokter Bob, kau disini? apa Arja kambuh lagi?"
Kali ini Airin mencoba bersandiwara. Semoga saja Airin tidak ketahuan. Kali ini Airin akan menahan kepergiannya untuk beberapa hari. Airin akan mencari tahu tentang hubungan Sela dan Arja.
"Tidak, Rin. Aku tidak kambuh, dokter hanya mampir saja."
Airin menoleh pada dokter Bob yang berdiri tidak jauh dari kami.
"Benar. Saya juga akan pergi sekarang, ada urusan penting."
Arja memegang pundak Airin, "Jika kau merasa pusing. Kau bisa istirahat lebih dulu. Aku akan mengantar dokter Bob."
"Baiklah."
Setelah kepergian Arja dan dokter Bob. Airin berjalan menuju tangga, dia mencoba mengingat hal yang aneh dari Sela dan Arja. Tidak ada yang Airin ingat, Airin malah semakin pusing saja.
***
Semalam Arja tidak pulang. Hari ini Airin memutuskan untuk ke kantornya. Sudah dia putuskan jika hari ini Airin akan mengikuti kemanapun Arja pergi. Siapa tahu dia akan bertemu dengan Sela.
Pesan masuk ke dalam aplikasi chatnya. Cika, dia membiarkan Airin libur hari ini. Jadi, Airin bisa melakukan rencananya.
Sebuah taxsi berhenti tepat di depan Airin. Airin sudah memesannya sejak tadi. Kebetulan sekali dia sudah mengabari Arja jika dia akan datang ke kantornya.
"Ke alamat ini pak." Airin menunjukan sebuah alamat pada sopir taxsi itu.
"Baik, Bu."
Setelah di berikan obat oleh dokter. Rasa mual dan pusingnya sudah sedikit berkurang. Walau Airin tidak boleh telat meminum obat itu. Setidaknya Airin tidak harus terlihat lemah di depan semua orang.
"Sudah sampai, Bu."
Airin mengangguk. Sebelum turun, Airin meminta tolong pada sopir taxsi itu untuk bersamanya seharian ini.
"Tapi, Bu...."
"Aku akan bayar semuanya. Aku janji," kata Airin pada sopir taxsi itu.
"Baiklah, Bu."
Airin mengambil tas dan juga kotak makan yang sudah dia bawa. Kotak makan ini sebagai alasannya datang kesini.
"Dimana Arja?" tanya Airin pada skretaris Sa.
"Pak Arja di dalam, Bu."
"Terima kasih."
"Arja, aku datang membawa makanan untukmu."
Arja menoleh, dia terlihat kaget dengan kedatangan Airin.
"Semalam kau tidak pulang. Jadi, aku menemuimu saat ini dengan makanan."
Arja tersenyum dan mendekat pada Airin. Dia memeluk pinggang Airin dengan sangat mesra.
"Kenapa?"
"Tidak. Aku hanya merasa jika aku sangat mencintaimu," kata Arja.
"Benarkah?" tanya Airin.
"Ya."
Wajah mereka sangat dekat. Bahkan Arja mencoba agar mereka lebih dekat lagi. Sebelum itu, Airin mendorong Arja untuk sedikit menjauh.
"Kita makan dulu saja. Kau tahu kan, aku harus bekerja setelah ini."
Arja terlihat kecewa dengan penolakan Airin. Dia sengaja melakukan ini. Airin menyiapkan makanan dengan tangannya sendiri. Airin juga menanyakan jadwal hari ini pada Arja. Dia lebih banyak mengatakan meeting di luar kantor.
Kemungkinan besar ada salah satu meeting yang tidak akan terjadi. Arja akan menemui Sela di salah satu waktu meeting itu. Setelah Airin tahu semuanya. Dia akan pergi tanpa pertanyaan yang mengganggu.
"Ini sudah waktunya aku bertemu client, kau tidak apa kan pulang sendiri."
"Tidak masalah."
Saat Airin membereskan bekas makan. Arja terlihat sibuk dengan ponselnya. Kali ini, Airin akan berhasil mengetahui hal yang disembunyikan Arja. Airin akan tahu semuanya.
"Aku pergi dulu," kata Airin.
"Hati-hati di jalan," kata Arja, setelah itu dia mengecup pipi Airin dengan lembut.
Airin turun dengan pikiran yang penuh dengan curiga. Diq memikirkan hal yang ada di luar nalar. Taxsi itu benar menunggu Airin. Dia sudah mengatakan sebelumnya jika taxsi harus mengikuti kemanapun mobil Arja pergi.
"Bu, saya tidak mau terlibat masalah," kata sopir itu dengan nada khawatir.
"Tenang saja, dia suamiku. Tidak akan terjadi masalah."
Tidak lama, Airin lihat mobil Arja keluar dari area kantor. Mereka mulai mengikutinya, walau Airin sangat cerewet tapi sopir taxsi ini sangat sabar.
Dia menanyakan kenapa Airin melakukan ini pada suaminya sendiri. Jika dilihat dari wajahnya, sopir taxsi ini mungkin seumuran dengan paman Airin. Airin pun sedikit mengatakan alasannya melakukan semua ini.
"Jangan terlalu curigaan, Bu."
"Saya nggak curiga kok, Pak. Dia sudah beberapa kali melakukan semua ini pada saya."
"Yang sabar ya, Bu."
Airin hanya mengangguk. Mereka kembali fokus mengikuti mobil Arja. Sampai di sebuah cafe, karena konsep cafe yang outdoor. Airin tidak mungkin turun dan mengendap-endap mengikuti Arja. Dia hanya melihat dari kejauhan.
Arja terlihat mendekatan pada dua orang pria dan wanita. Mereka memakai pakaian yang sama, mungkin seragam perusahaan atau lainnya. Kali ini, dia tidak menemui Sela.
Setelah setengah jam menunggu. Arja kembali masuk ke dalam mobilnya. Airin dan sopir taxsi kembali mengikuti. Kali ini arah mobil Arja menuju kesebuah apartemen yang cukup terkenal.
Banyak gedung yang menjulang tinggi. Jalanan juga cukup ramai. Membuat Airin dan sopir taxsi sulit mengikuti mobil Arja. Sampai akhirnya, mereka benar-benar kehilangan mobil itu.
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa menemukannya."
"Tidak apa."
Mau bagaimana lagi. Mungkin, tidak seharusnya Airin melakukan ini. Ini hukuman karena dia sudah menjadi penguntit untuk suaminya sendiri. Airin sudah memutuskan untuk pulang saja dan melanjutkannya esok hari.
"Kau sudah sampai? baiklah, aku akan datang dengan senyuman untukmu."
Airin merasa tidak asing dengan suara itu. Dia menoleh ke sisi kiri. Sela, dia terlihat cantik dengan rok mini dan blazer. Dia terlihat sedang bahagia.
"Tunggu, Pak. Aku turun disini."
Airin memberikan beberapa lembar uang pada sopir taxsi itu dan turun dari mobil.
"Ini kebanyakan, Bu."
"Ambil saja kembaliannya,Pak."
Sela sudah mulai menjauh dari Airin. Dia berjalan dengan sangat percaya diri. Di tangannya ada sebuah kotak kue dari toko di daerah ini. Dia tampak menggumamkan sesuatu.
Sampai disebuah gedung apartemen. Dia masuk dan akan menggunakan lift. Untung saja lift itu sedang rusak. Mau tidak mau, Sela harus menggunakan tangga. Ini akan membantunya, jika dia menggunakan lift. Airin akan sulit mengikutinya.
Entah sampai di lantai berapa. Airin merasa kakinya cukup lelah berjalan di tangga. Hingga dia lihat Sela membelokan tubuhnya kearah sebuah lorong. Mungkin kearah kamarnya.
Dengan sigap, semangat Airin kembali. Dia sedikit berlari untuk menyusul Sela. Menoleh ke kanan dan ke kiri Airin sudah tidak menemukan Sela. Airin kembali kehilangan dirinya.
Di sebuah kamar, Airin berhenti. Pintu itu tidak tertutup rapat. Jadi, jelas Airin bisa masuk dan melihat apa yang ada di dalam.
Airin melongokkan wajahnya dari pintu. Gelap, tidak ada cahaya di ruangan itu, hanya cahaya dari sebuah kaca yang masuk. Disana terlihat dua orang yang sedang bermesraan. Entah kenapa Airin merasa merasa jijik. Dia mencoba menarik kembali kepalannya, namun...
"Katanya kau tidak bisa datang hari ini?" tanya gadis itu. Tunggu, kenapa suaranya seperti suara...
"Maafkan aku Sela. Airin cukup merepotkan akhir-akhir ini."
"Dia memang selalu merepotkan kamu."
Deg. Jantung Airin rasanya berhenti saat melihat kenyataan ini. Tidak Airin sangka jika mereka sudah berhubungan sejauh ini.
"Kenapa kau tidak ceraikan saja dia?" kata Sela dengan nada tidak suka.
"Bukankah kamu yang menyuruhku dengan dia. Selama ini, aku sudah mencoba menyakitinya. Dia tetap sabar dan menerimaku," kata Arja, "Jika kau mau mengandung anakku. Tidak mungkin aku melakukan hal ini. Kita bahkan menyewa wanita gila, Si Maya itu."
Sela kembali mendekat pada Arja, "Jika aku mengandung dan melahirkan. Tubuhku akan berubah, belum lagi menyusui. Aku akan terlihat jelek."
"Sela. Aku akan menerima kamu apa adanya, tidak peduli bentuk tubuhmu."
"Kau memang mengatakannya sekarang, entah nanti yang terjadi."
Jadi, Sela yang sudah mengatur semua ini. Dia yang merencanakan Airin menikah dengan Arja. Kenapa Airin baru setelah beberapa tahun. Airin merasa sangat dihianati.
Klik. Lampu menyala dengan terangnya. Airin kini bisa melihat dengan jelas. Sela memakai pakaian yang sangat minim di depan suami Airin. Sungguh pemandangan yang menjijikan.
"Aku akan menunggumu sampai wanita itu melahirkan anakmu. Setelah itu, ceraikan dia."
"Baiklah sayang. Beri aku waktu ya," kata Arja.
"Jangan lupa. Minta tanda tangan pengalihan perusahaan untuk anak itu."
Mereka berciuman. Airin pun menutup pintu itu dan diam. Hal besar seperti ini kenapa Airin baru tahu. Akting Sela sungguh hebat sampai Airin tidak sadar tentang semua ini.
Kini, Airin tahu maksud dari paman dan tante. Mereka, meminta aku memaafkan Sela. Hanya saja, Airin merasa tidak semudah itu memaafkannya.
Airin mengecek ponselnya dan melihat foto yang kutangkap. Benar, Airin menangkap foto Arja dan Sela saat bermesraan. Kali ini, Airin tidak memiliki alasan lagi untuk diam disini. Dia akan pergi dengan tekad dan pilihannya.
***