My Love My Pain

My Love My Pain
Nasib Sela 2



Sesaat setelah mereka sedang memesan makanan. Sebuah pesan masuk, Sela. Dia mengatakan jika kondisi paman semakin buruk.


"Aku harus ke ruangan paman. Kondisinya..."


Tanpa ada kata Arja langsung menarik Airin ke arah kamar rawat paman. Airin tidak menyangka jika Arja peduli dengan keluarganya.


***


Sela terlihat sangat lemas di samping Vino. Airin melihat dokter baru saja pergi dari sana. Situasinya sangat kacau, Sela bahkan tidak mengatakan sepatah katapun pada Airin.


"Apa yang terjadi?" akhirnya Airin bertanya juga pada Vino.


Vino diam dan menggelengkan kepala. Dia menunjuk ke ruangan dokter pada Airin.


"Lebih baik jika kau mendengarnya sendiri. Aku akan menemani Sela di sini," kata Arja pada Airin.


Airin setuju dengan apa yang dikatakan Arja. Airin mempercepat langkah kakinya ke ruangan dokter yang menangani Paman. Airin masuk, mata mereka bertemu. Dokter mungkin tahu apa yang akan Airin tanyakan.


"Apa kau saudara dari mbak Sela tadi?" tanyanya dengan senyuman.


"Iya dok."


Mereka duduk berhadapan. Untuk sesaat tidak ada kata diantara Airin dan dokter. Hanya suara jantung Airin yang berpacu, takut dengan apa yang akan dikatakan dokter padanya.


"Apa Nona Sela tidak mengatakan jika Paman anda..."


"Paman saya kenapa, Dok?"


"Paman anda sudah tiada."


Deg. Seperti berhenti rasanya jantung Airin. Bagaimana bisa paman meninggalkan Sela. Sela pasti akan sangat terpuruk, baru saja dia mendapatkan kabar tidak menyenangkan dari ke dua orang tuanya. Sekarang dia harus kehilangan ayahnya.


"Apa ini tidak salah, Dok? lalu apa penyakit paman saya?"


"Beliau terkena gagal jantung. Kami sudah melakukan semua hal yang kami bisa, tapi nyawa paman anda tidak tertolong," kata dokter itu.


Airin hanya bisa menghela nafas dan menerima semua ini. Baru saja Airin kehilangan Nenek yang menemaninya sejak kecil. Kini, pamannya meninggalkan dirinya.


Airin pun keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. Vino sudah tidak ada di sana, hanya ada Arja dan Sela. Untuk saat ini, Airin menghapus rasa cemburunya yang melihat Sela memeluk suaminya dengan erat.


Dia sedang membutuhkan orang untuk bersandar saat ini. Dia membutuhkan teman yang sanggup untuk menyemangatinya.


"Sela," Airin menepuk pelan pundak Sela, "Kita siapkan semuanya di rumah. Aku dan Arja akan membantumu," kata Airin.


"Rumah kami..." mata Sela menerawang.


"Kita pulang ke rumah Arja. Bukan ke rumah Papa kamu, ok."


Sela mengangguk dengan pelan. Kepalanya masih bersandar di bahu Arja. Terlihat sangat kelelahan.


"Arja. Aku akan mengurus administrasi, lebih baik kau bawa Sela ke mobil," kata Airin.


"Aku sudah mengurus semuanya," Airin menoleh dan melihat Vino datang dengan bukti pembayaran yang diberikan pada Airin, "kalian bisa pulang sekarang. Untuk sementara waktu, aku akan ambilkan cuti untuk Sela."


"Terima kasih." Ucap Airin.


Airin membantu Sela berdiri. Karena badan Sela yang lebih besar dari Airin, akhirnya Arja yang memapahnya untuk jalan ke mobil.


Airin dan Vino berjalan beriringan. Tanpa kata dan suara apapun. Vino beberapa kali terlihat memandang kearah Airin. Sementara Airin pura-pura tidak tahu dan tetap berjalan. Bahkan Airin memilih mempercepat langkahnya.


***


Setelah kepergian Paman. Airin dan Arja memilih untuk membawa Sela tinggal dengan mereka. Hanya ini yang bisa mereka bantu untuk Sela.


Sejak kemarin. Sela hanya melamun dan tidak bersemangat. Dia terlihat sangat terpuruk dengan apa yang menimpanya.


Arja memeluk Airin dari belakang dan memintanya masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, Arja memberikan sebuah map yang berisi tentang alamat lengkap tante dan pacarnya.


"Apa aku harus berikan pada Sela?" tanya Airin meminta persetujuan Arja.


"Sebaiknya jangan. Kamu saja yang menemui tantemu. Tanyakan padanya kenapa bisa jadi seperti ini."


"Tapi...." Airin merasa sangat ragu. Jika di suruh memilih, Airin memilih untuk diam dan tidak mencampuri urusan siapapun.


"Tenang saja. Aku ada di samping kamu."


Airin mengangguk dan memeluk tubuh Arja. Nyaman dan tentunya Airin merasa lega dengan apa yang Arja katakan.


"Lagi kaya gini kok minta jalan-jalan."


Arja tersenyum, "Cuma jalan-jalan di dekat sini. Biarkan Sela memikirkan masa depannya dulu."


"Baiklah."


Hari ini Arja akan berangkat kerja siang. Hanya untuk meeting, pagi ini mereka memilih untuk berjalan santai di dekat rumah. Sembari membiarkan Sela sendiri. Dia masih sangat butuh waktu untuk sendiri.


***


Melihat gerobak bubur ayam. Tiba-tiba saja Airin merasa lapar dan ingin memakannya. Padahal, Airin sudah sarapan dengan Arja tadi.


"Pengen?" tanya Arja yang menyadari jika Airin menatap gerobak bubur ayam.


Airin tersenyum kecil.


"Kamu duduk di sini dulu. Aku akan belikan."


Melihat di belakang Airin ada sebuah bangku. Airin duduk di sana sembari menatap Arja. Dia sangat tampan dengan baju biasa yang dia pakai. Tanpa setelan jas dan sebuah kekuasaan. Dia terlihat sangat natural.


"Hei. Pagi-pagi sudah melamun."


Airin kaget saat tersadar dan melihat Cika sudah di depannya. Entah sejak kapan dia ada di sana dan melihat Airin melamun.


"Kamu di sini?" tanya Airin sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Siapa tahu Cika datang dengan Vino.


"Ya. Baru kemarin aku pindah ke komplek ini."


Tanpa sungkan. Cika memilih untuk duduk di samping Airin. Walau dengan pakaian biasa, Cika masih saja terlihat cantik dan menawan. Airin menatap kepada dirinya sendiri. Jika dibandingkan dengan Cika, Airin bukanlah apa-apa.


"Kamu kenapa di sini?" tanya Cika.


"Lagi nungguin Arja beli bubur ayam," jawab Airin dengan senyuman.


"Romantisnya suamimu. Tidak seperti Vino yang sangat kaku padaku."


"Mungkin karena dia belum terbiasa."


"Entahlah." Cika mengedikkan bahu dan menyandarkan tubuhnya ke sisi bangku. Dia menatap lurus ke depan. "Jika dipikir lagi. Pertunanganku dan Vino tidak ada untungnya, selain perusahaan kami."


Airin hanya diam.


"Dia banyak bercerita tentang kamu. Bagaimanapun, dia sangat sulit melupakanmu. Seperti aku, aku juga memiliki hal yang aku cintai dan itu bukan Vino."


Arja datang dengan mangkuk bubur ayam. Dia juga menambahkan sambal di dalamnya. Airin menerimanya dan langsung melahapnya dengan senang.


"Terima kasih," kata Airin pada Arja.


"Sama-sama. Cika kenapa?" tanya Arja pada Airin.


Airin menoleh dan melihat Cika masih di posisi yang sama.


"Aku juga tidak tahu."


Airin dan Arja tertawa hingga membuat Cika tersadar dari lamunanya.


"Kalian kenapa?" tanya Cika dengan kebingungan yang terlihat jelas di wajahnya.


"Tidak. Kami sudah mau pulang, mau ikut?" tawar Airin.


"Tidak. Aku masih mau jalan-jalan."


Arja menarik Airin dan mengatakan, "Baiklah. Kita pergi dulu."


Mereka meninggalkan Cika yang masih setia duduk di bangku dengan ponsel di tanganya. Mereka memilih jalan terdekat untuk sampai di rumah dengan cepat.


Beberapa kali Arja mencoba menyinggung tentang anak, tapi Airin mencoba menghindar. Sebenarnya, Airin masih belum siap, tapi dengan keadaan seperti ini Airin takut mengatakan pada Arja.


Dari kejauhan mereka melihat keramaian. Tepatnya di depan rumah mereka, banyak orang yang berkumpul. Dengan berlari kecil, Airin dan Arja mendekat. Kaget, Airin melihat darah di mana-mana.


"Selaaaa...."


***