My Love My Pain

My Love My Pain
Takut kembali dibohongi



Airin benar-benar merasa bersalah dengan apa yang sudah di rasakannya pada Vino. Kini Airin hanya akan mencoba menjadi istri yang baik. Dia akan menghapus rasa itu, dia akan menganggap Vino sebagai seorang teman.


Makan malam ini. Airin sengaja menyiapkanya. Airin sudah mencoba memaafkan tentang kegugurannya dan tidak menyalahkan Arja lagi. Kata nenek, Airin harus bisa memaafkan, dengan itu hidupnya akan lebih tenang.


"Siapa yang masak?" tanya Maya pada kepala pelayan di rumah ini.


"Nyonya Airin yang memasak."


Karena malas berkomentar. Airin hanya melanjutkan menyiapkan meja makan. Maya yang melihat Airin, dia mendekat dan langsung mendorong Airin dengan kasar.


"Apa kau sedang mencari muka pada Arja? percuma. Dia masih mengira kau memiliki hubungan dengan Vino."


Airin hanya tersenyum, "Jika memang aku memiliki hubungan. Lalu untuk apa kau takut aku mengambil hati Arja."


Sebelum Maya kembali menjawab. Arja sudah masuk lebih dulu ke ruang makan dan diikuti oleh Kenzo di belakangnya.


"Aku sudah masak nasi untuk kamu. Mau makan sama apa?" tanya Airin pada Arja.


"Ambilkan saja apa yang menurutmu sepesial."


Sebelum itu aku sudah menuangkan minum untuk Arja. Di lanjutkan mengambilkan nasi dan lauk pauk. Maya terlihat gelisah, sedangkan Kenzo, dia bahkan tidak memperhatikan tingkah kekasihnya itu.


"Besok aku harus ke luar kota. Ada acara penting," kata Arja di sela mereka makan.


"Bagaimana kalau aku ikut?"


Arja langsung menoleh pada Maya.


"Kau sedang hamil. Lebih baik kau di rumah saja, besok biarkan Airin yang mengajak kamu ke rumah sakit."


Airin hanya bisa mengiyakan. Dia tidak mungkin membuat keributan lagi. Walau sebenarnya Airin ingin kembali menemui nenek.


***


Gelapnya malam sudah sepenuhnya menyelimuti. Airin duduk terdiam dengan segala pikiran yang terus berjalan. Ya, mempertahankan apa yang kita punya sangatlah sulit. Pikir Airin.


Rasa percaya Arja pada Airin sudah berkurang, begitupun rasa yang ada di dalam hati Airin. Walau terbesit kata perpisahan, dalam hati Airin, dia ingin memperbaiki hubungan itu. Hubungan yang sudah retak.


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Airin. Vino. Malam seperti ini dia menelfonku, ada apa ini? pikir Airin.


"Airin. Apa kau bisa ke rumah sakit sekarang?" tanya Vino dengan nada khawatir.


Airin kaget mendengar suara Vino. Dia terdengar sangat panik.


"Ada apa, Vin?"


"Nenek masuk rumah sakit. Dia pingsan secara tiba-tiba."


"Aku akan segera kesana."


Tanpa pikir panjang Airin menjangkau tas dan dompetnya, juga mantel hangat yang tergantung di belakang pintu. Airin merasa sangat khawatir. Anak-anak nenek pasti tidak akan datang walau untuk menjenguknya.


"Kau mau kemana?"


Airin kaget saat melihat Arja sudah ada di depan pintu. Sepertinya Arja mendengar percakapan Airin dan Vino. Dia pasti akan mengira Airin benar-benar memiliki hubungan dengan Vino.


"Arja. Aku... aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku... aku..."


"Aku akan mengantarkan kamu. Ayo."


Airin merasa aneh. Arja, akan mengantarkanya ke rumah sakit. Padahal, sudah jelas jika dia dan Arja sedang ada masalah. Kenapa Arja kembali seperti ini, Airin mengira jika Arja kembali akan membohonginya.


Mobil sudah siap di depan rumah. Arja masuk ke tempat kemudi. Dia tidak membawa sopir kali ini.


"Kenapa melamun? ayo masuk."


"Ya."


Airin masuk. Sejak tadi pagi, Arja tidak mengungkit masalah mereka. Dia juga tidak terlihat marah pada Airin. Namun semua itu membuat Airin semakin heran. Apa ini sebuah kebohongan lagi? pikir Airin.


"Sebenarnya aku akan mengajakmu keluar malam ini, tapi aku malah mendengar percakapanmu dengan Vino."


"Maaf. Aku tidak..."


Airin mengalihkan pandangannya keluar mobil. Airin tidak ingin tahu hal ini, Airin merasa takut kembali di bohongi lagi. Kebaikan ini pasti ada alasanya.


Tangan Arja perlahan menggenggam tangan Airin dengan erat. Mata Airin masih memperhatikan keluar jendela. Perasaan itu, Airin mencoba mengontrolnya.


"Apa kau mau hamil lagi untukku?"


Airin terbatuk mendengar apa yang dikatakan Arja. Tatapanya kali ini terlihat sangat sungguh-sungguh. Tapi, Airin belum bisa melakukan hal itu lagi. Airin masih takut.


"Arja. Ini sudah sampai, lebih baik aku turun untuk bertemu nenek."


Arja mengangguk dan membiarkan Airin turun. Pikiran Airin melayang, bagaimana bisa Arja begitu berbeda. Dia bahkan meminta Airin hamil lagi. Airin berfikir jika Maya yang sudah membuat drama lagi. Pikiran Airin kembali tertuju pada nenek.


***


Matahari sudah semakin tinggi. Membuat cuaca menjadi cukup panas. Membuat beberapa orang tidak ingin keluar dari rumah. Seperti Airin, tapi Airin harus tetap pergi untuk mengantar Arja ke bandara.


Tok tok tok. Airin bergegas membuka pintu. Seorang pelayan, tentu saja pelayan. Mana mungkin Arja akan memanggil Airin sendiri. Saat ini, Arja masih mengira Airin memiliki hubungan dengan Vino.


"Tuan Arja sudah menunggu."


"Ya."


Airin bergegas melangkahkan kaki untuk menemui Arja. Dia sudah rapi dengan setelan jas yang elegan. Tampak lebih tampan. Dia masih mengira Airin dan Vino ada hubungan karena sebuah alasan. Airin belum ingin hamil lagi.


"Kau sudah mau berangkat?" tanya Airin pada Arja.


"Ya. Tolong urus Maya saat aku pergi."


Mendengar permintaan itu membuat Airin hanya diam. Airin kira dia akan memberikan pelukan atau sebuah ciuman perpisahan. Ternyata dia masih saja mementingkan Maya.


"Kau juga jaga diri. Tidak ada alasan untuk kamu pergi dariku," kata Arja yang melihat Airin hanya diam.


"Tentu saja. Mana mungkin aku menolak perintah suamiku."


Arja mendekat pada Airin dan cup. Sebuah kecupan mendarat di kening Airin. Airin kaget sekaligus merasa aneh. Arja kembali seperti dulu jika akan pergi, dia selalu melakukan hal ini.


"Masuklah. Aku akan berangkat sekarang."


"Aku akan mengantarkan kamu ke bandara," kata Airin dengan senyuman.


Arja menyingkirkan anak rambut di pipi Airin. Matanya menatap tajam padanya.


"Cuaca di luar sangat panas. Lebih baik kau diam di rumah."


Kembali Airin hanya bisa menganggukan kepalanya. Setelah selesai mengantarkan Arja pergi. Airin kembali masuk ke kamarnya. Maya sudah berdiri dengan tangan yang terlipat di dada.


"Apa yang kau katakan pada Arja? dia memarahi diriku habis-habisan semalam."


Maya tiba-tiba marah pada Airin. Padahal, Airin tidak bertemu dengan Arja semalam. Airin kan baru saja dari rumah sakit, menemui nenek.


"Kau mengatakan jika aku merokok dan minum minuman keraskan?"


"Untuk apa aku mengatakannya pada Arja."


"Lalu siapa yang mengatakannya jika bukan dirimu." Teriak Maya pada Airin. Dia bahkan bersiap akan menampar Airin.


Masih dengan sangat tenang, Airin menggenggam tangan Maya dengan kuat. Airin menatap matanya yang tajam itu. Airin mencoba menguatkan dirinya sendiri.


"Bukan hanya aku yang tahu jika kamu merokok dan meminum minuman keras. Bukankah kekasihmu juga tahu? kenapa tidak kau tanyakan saja padanya."


Airin menghempaskan tangan Maya dengan keras. Melihat perutnya yang semakin membuncit membuat Airin merasa terluka. Andai dia tidak keguguran. Janinnya pasti akan tumbuh dengan sangat sehat.


"Lebih baik kau pergi. Aku ingin istirahat dan tidak mau diganggu."


Brak. Airin menutup pintu dengan kasar. Badannya rasanya sangat lelah. Seperti baru saja lari beberapa kilometer.


Entah siapa yang mengadu pada Arja. Tentang Airin dan juga Maya. Bahkan, Airin dan Maya tidak pernah bisa akur. Mereka selalu berkelahi hanya sebuah aduan pada Arja.


***