My Love My Pain

My Love My Pain
Bukan Rencana Airin



Tangan Airin masih gemetar sembari menabur bunga di pusara nenek. Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menemaninya di saat terakhir hidupnya.


Air mata Airin masih saja menetes. Jika saja kemarin Arja tidak disana. Airin pasti akan ikut pemakaman nenek. Namun, yang terjadi tidak diduga. Airin malah bertengkar hebat dengan Arja dan berujung perginya Airin dari rumah Arja.


Airin teringat dengan masa kecilnya. Dia dan Vino selalu bersama dengan nenek. Walau saat Airin beranjak dewasa mereka harus berpisah. Vino ikut mamanya keluar kota, sedangkan Airin ikut pamannya ke kota saat ini.


"Kau disini?"


"Ya. Maaf kemarin aku tidak bisa ikut," kata Airin pada Vino.


Vino terlihat sehat dan cerah. Mungkin karena dia sedang bahagia.


"Aku tahu. Kebetulan sekali kamu disini. Ini, undangan pernikahanku."


Deg. Kaget rasanya mendengar hal itu dari Vino. Seperti baru kemarin Vino mengejar-ngejar Airin. Kini, Vino sudah memilih jalannya dan meninggalkan Airin dengan perasaan tidak menentu.


Dengan tangan gemetar Airin mengambil undangan itu. Perlahan Airin mulai membacanya. Tidak aku duga jika Vino menerima untuk menikah dengan Cika.


"Kau tahu bukan. Aku tidak mungkin terus menerus mengejarmu. Kau sudah punya suami," kata Vino.


"Ya. Kau benar. Selamat ya," kata Airin dengan sebuah senyuman yang dia paksakan.


Entah dari mana datangnya rasa sakit itu. Airin merasakan sangat sakit hati mendengar hal ini. Ya, Airin sudah tidak memiliki hak untuk Vino. Airin hanya bisa mendo'akanya saja sekarang.


"Sayang. Masih lama?" Cika datang dan langsung menggandeng tangan Vino, "Kau juga disini?" tanya Cika pada Airin.


Airin mengangguk, "Aku permisi dulu. Ini sudah sangat siang."


"Hati-hati, Rin."


Airin hanya tersenyum mendengar kata itu dari Vino.


"Airin." Panggil Cika sebelum Airin benar-benar pergi, "Terima kasih. Jika bukan karena kamu, aku tidak mungkin dekat dengan Vino."


"Sama-sama. Aku pergi dulu."


Airin merasa aneh mendengar ucapan terima kasih dari Cika. Memang dulunya Airin yang mencoba mendekatkan mereka. Tapi kini, Airin sendiri yang merasa terluka. Ada apa dengan hatiku ini? bodohnya aku, pikir Airin.


***


Lelah rasanya harus berjalan kaki cukup jauh dari tempat pemakaman umum. Bukan karena tidak ingin naik taxsi, hanya saja merasa lebih tenang jalan sendiri.


Sampai di rumah Sela Airin langsung masuk. Tidak ada orang, Airin memilih untuk duduk dan mengistirahatkan tubuhnya.


"Sudah pulang?"


"Aku kira kamu nggak di rumah," kata Airin yang kaget melihat Sela keluar dari dapur.


Sela tersenyum dan duduk di samping Airin. Padahal tadi dia mengatakan jika akan lembur. Ternyata dia sudah di rumah sebelum Airin pulang.


"Tadi Arja dari sini. Nyari kamu," kata Sela.


Arja kesini? kenapa dia kesini? dia bisa sajakan mengirim pesan untukku. Pikir Airin.


"Kamu diminta pulang." Sela menatap Airin yang masih hanya diam. "Undangan dari siapa?" Sela langsung merebut undangan di tangan Airin.


"Itu undangan dari..."


"Dengan Cika? kenapa kau tidak melarangnya?" teriak Sela pada Airin.


"Kenapa aku harus melarangnya. Kamu tahu, kami sudah punya jalan masing-masing."


Sela hanya menghela nafas. Dia tidak menyangka jawaban Airin akan seperti ini. Airin masih beruntung karena tidak memilih Vino saat ini. Jika saja dia memilihnya, Airin pasti akan kembali merasakan terluka.


"Aku ke kamar dulu, Sel."


Sela hanya menganggukan kepalanya. Airin mengambil ponsel dari dalam tas. Tidak ada pesan atau panggilan dari Arja. Kenapa dia malah kesini untuk mengajak Airin pulang.


Sikap Arja dan Vino yang bertolak belakang. Membuat Airin merasa berbeda saat di sisi mereka. Airin merasa sangat disakiti saat bersama Arja. Namun, Airin merasa sangat dilindungi oleh Vino.


***


Tok tok tok. Beberapa kali Airin sudah mendengar ketukan pintu itu. Namun tetap tidak ada yang membuka pintu.


Dengan malas Airin membuka pintu kamar dan berjalan menuju pintu keluar. Sela sepertinya tidak di dalam rumah. Entah kemana perginya.


"Selamat sore."


Plak. Bukan sebuah sapaan yang Airin dapat. Melainkan tamparan yang sangat keras. Airin mendongakkan wajahnya dan melihat Maya dengan tatapan tajam.


"Maya. Apa yang kamu lakukan?" tanya Kenzo.


Kenapa mereka bisa tahu Airin disini? begitu mudahnya kah menemukannya di kota ini.


"Silahkan masuk."


"Untuk apa aku masuk ke rumah jelek ini. Aku kesini hanya ingin membuat kamu terluka." Sebuah pisau terhunus di depan mata Airin.


Maya mengacungkan pisau itu pada Airin dengan brutal. Beberapa kali Airin mencoba menghindar. Bahkan Kenzo hanya bisa diam melihat Maya melakukan hal gila itu.


"Kenapa kau melakukan ini? apa salahku? Kenzo hentikan kekasihmu ini. Apa kau juga gila?" teriak Airin dengan hati yang sangat takut.


Jika Airin rerkena pisau itu. Kemungkinan besar Airin akan merasakan sayatan yang mengerikan.


Hap. Akhirnya Kenzo bisa mendapatkan tubuh Maya. Dengan sebuah kesempatan, Kenzo bisa membuang pisau di tangan Maya.


"Airin. Aku sangat minta maaf. Lain kali aku akan jelaskan semuanya," kata Kenzo dengan tatapan yang aneh. Mungkin dia merasa sangat kasihan pada kekasihnya itu.


"Maya. Kita pulang dulu ya, besok kita kesini dan buat pelajaran untuk Airin." Kenzo mengatakan dengan mata melirik pada Airin.


Setelah Kenzo membawa Maya ke dalam mobil. Airin masih termenung di teras. Apa yang sebenarnya terjadi pada Maya, dia tidak seperti biasanya. Dia terlihat sangat kacau. Airin berfikir jika Arja sudah melakukan hal yang mengerikan pada Maya.


"Airin. Ini alamat cafeku. Besok kita bertemu disini. Aku akan jelaskan semuanya."


"Kenapa tidak jelaskan saja sekarang?"


"Tidak mungkin aku meninggalkan Maya yang sedang kacau sendirian. Aku harus pergi."


Dengan berlari kecil, Kenzo kembali ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas. Jika dilihat dari apa yang dilakukan Maya. Kali ini dia sangat membenci Airin. Dia bahkan ingin melukai Airin secara fisik sekarang.


Airin harus hati-hati kali ini. Semuanya menjadi kacau sejak Airin membolehkan Arja menikah lagi. Airin kira, hidupnya akan lebih bebas. Tapi, Airin malah semakin tersiksa.


Melihat ruang tamu yang kacau. Perlahan Airin mulai membersihkanya. Tidak enak jika Sela pulang dan melihat hal ini. Airin akan semakin membebani Sela.


"Permisi."


Kaget. Arja disini, kali ini bukan tatapan tajam yang Airin dapat darinya. Namun, sebuah tatapan yang dulu selalu dia berikan pada Airin.


Tubuh Airin bergetar. Takut jika pria di depannya ini akan kembali ke Arja yang kemarin. Arja yang sering memukulnya dan melukai hatinya.


"Ini. Aku hanya ingin kamu melihat ini, setelah itu, kamu bisa putuskan akan kembali atau tidak."


Arja melemparkan sebuah map pada Airin. Setelah itu dia langsung melangkah pergi. Di luar, Airin melihat ada seseorang yang sedang menemaninya. Pria paruh baya yang terlihat sangat perhatian pada Arja.


Pria itu langsung membukakan pintu dan beberapa kali bicara pada Arja. Arja hanya mengangguk dan sesekali memberikan senyuman pada pria itu.


Mata Airin kembali tertuju pada map biru di meja. Perlahan tangannya menyenyuh map itu, takut jika itu sebuah layang cerai dari Arja. Benar sebuah layang cerai, perlahan Airin membacanya.


Takut, kaget dan tidak percaya. Namun, Airin lebih tidak percaya saat melihat nama yang bercerai dengan Arja. Bukan dia, Maya. Kini, Airin tahu alasan kenapa Maya melakukan hal gila padanya.


Airin kembali menatap keluar. Arja sudah tidak disana lagi. Apa mungkin, Arja melakukan hal ini untuknya. Atau ada alasan lain kenapa dia menceraikan Maya dengan buru-buru. Kini, Airin harus kembali merasa dilema. Dengan pernikahannya dan perasaannya.


***