My Love My Pain

My Love My Pain
Harapan Airin



Jam sudah menunjukan waktunya pulang. Airin masih berdiri sembari menunggu kedatangan Ais. Vino yang mengatakan jika Ais akan menjemputnya. Sampai saat ini, Airin masih tetap menunggu.


Brak. Seseorang menabrak Airin dan mencoba mengambil tas di tangannya. Karena kaget, Airin langsung menarik kembali tasnya. Hanya saja tenaga si pengambil tas lebih kuat darinya.


Pasrah. Airin hanya bisa pasrah melihat tasnya dibawa oleh si penjambret. Karena terjatuh, Airin memilih kembali berdiri dan membersihkan bajunya dari kotoran.


"Ini," kata seorang pria sembari memberikan tas itu pada Airin.


Airin mendongak. Ada Arja disana, dengan tas yang tadi di bawa oleh si penjambret.


"Kenapa kau tidak meminta tolong? kenapa kau hanya diam saja?" tanya Arja.


"Tidak ada yang berharga di dalam sana," jawab Airin.


Arja hanya menghela nafas. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Airin. Bagaimana bisa Airin sesantai itu.


"Ayo, aku akan mengantarmu." Arja langsung menarik tangan Airin.


Airin masih diam. Akhirnya, Arja kembali menoleh pada Airin dan menatapnya dengan tajam.


"Ayo," kata Arja lagi.


"Aku sedang menunggu seseorang menjemputku. Lagi pula, aku tidak tahu dimana rumah yang baru."


Arja hanya bisa berdecak. Kemudian, dia berdiri di samping Airin. Dia berniat untuk menemani Airin sampai orang yang menjemputnya datang.


Diam. Mereka bahkan tidak saling bicara saat menunggu kedatangan Ais. Sampai hampir sepuluh menit, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Airin.


Ais turun dan mendekat pada Airin, "Maaf saya terlambat."


"Tidak masalah," ucap Airin.


Kali ini Arja dan Ais saling pandang. Mereka sama-sama kaget dengan pertemuan tidak terduga itu. Saat Ais membukakan pintu untuk Airin masuk. Arja menahan tangan Airin.


"Apa dia orang yang bekerja untukmu?" tanya Arja.


"Ya."


"Jangan percaya padanya," kata Arja.


Airin tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Arja, "Kau selalu saja seperti ini."


"Aku serius, Rin."


"Aku juga serius Arja. Oh ya, terima kasih sudah mendapatkan tasku lagi."


Setelah mengatakannya Airin masuk ke dalam mobil. Arja hanya bisa melihat mobil yang membawa Airin pergi. Namun, ada sebuah pertanyaan yang muncul di hati Arja. Bagaimana bisa Ais bekerja pada Airin?


***


Sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Airin turun diikuti oleh Ais. Beberapa pelayan menyambut kedatangan Airin. Mereka memberi selamat atas kepindahanya.


Setelah penyambutan itu. Kembali Airin dibuat terkejut. Vino sudah berada disana dengan senyumannya. Airin bergegas mendekat dan memeluk Vino dengan mesra.


"Kenapa bukan kau saja yang menjemputku?" tanya Airin, "aku bahkan hampir saja kecopetan," ujar Airin seraya melepaskan pelukannya.


"Apa? kau kena copet?" tanya Vino.


"Aku bilang hampir. Untung ada Arja disana, akhirnya tasku kembali." Airin menunjukan tasnya pada Vino.


Mendengar nama Arja kembali disebut oleh Airin. Vino merasa tidak senang. Dia menoleh pada Ais dan mengisyaratkan agar membawa Airin masuk ke dalam kamarnya.


"Mari, Non."


Airin tidak mengatakan apapun. Dia masuk ke dalam sebuah kamar yang ditunjuk oleh Ais. Kamar yang sangat luas. Airin bahkan merasa semuanya sangat mewah.


Walaupun begitu, tetap saja Airin merasa kesal. Vino tadi meninggalkanya dan menyuruh Ais mengantarnya ke dalam kamar. Merasa tubuhnya sangat lelah, Airin membiarkan tubuhnya istirahat sebentar.


Nanti malam, dia ingin makan diluar dengan Vino. Berharap jika Vino tidak akan marah karena apa yang dia katakan tentang Arja. Rasa cemburu Vino membuat Airin merasa sedikit terganggu.


"Bagaimana kamu bisa telat menjemputnya?" tanya Vino pada Ais saat Airin berada di dalam kamar.


Ais hanya bisa menundukan kepalanya, "Maaf, Tuan. Tadi mobil ada masalah."


"Bukankah baru saja kebengkel dua hari lalu?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan."


Vino tidak habis fikir. Merasa lelah, Vino memilih untuk pergi ke dalam kamarnya. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamarnya, dia membuka sedikit pintu kamar Airin.


Senyuman Vino mengembang. Airin sedang terlelap dengan wajah cantiknya. Vino melangkahkan kakinya mendekat. Sekedar untuk menyelimuti tubuh Airin. Setelah itu, dia benar kembali ke kamarnya.


***


Bar itu terlihat sangat ramai. Banyak orang yang datang hanya untuk melupakan sejenak masalah yang ada. Seperti Arja, dia duduk sendiri dengan minuman dingin di tangannya.


Dia benar-benar merasa kalah setelah melihat cincin di jari manis Airin. Vino sudah berhasil merebut Airin darinya.


"Hai."


Arja menoleh dan melihat seorang wanita disana.


Tante Mia tidak merespon apa yang dikatakan Arja. Dia duduk dan mengambil minuman yang berada di tangan Arja. Tanpa permisi, Airin meminumnya.


"Untuk apa kau kesini lagi?" tanya Arja.


"Aku kesini untuk melihat calon istrimu. Sela, kemana dia?"


Arja tidak menjawab.


"Apa kau menyembunyikannya dariku?"


"Mana mungkin aku bisa menyembunyikannya darimu."


Tante Mia tertawa. Setidaknya dia tahu jika Sela sudah menyerah. Hanya saja, Arja masih belum menyerah mencintai wanita seperti Airin. Tanpa terasa, Tante Mia mengepalkan tangannya dengan kuat. Bahkan kaleng ditangannya sampai remuk.


Arja hanya tersenyum. Walaupun tante Mia adalah ibu tirinya. Arja tidak pernah menganggap hubungan itu ada. Apa lagi, saat dia tahu jika dalang pembunuhan Airina dan ibunya adalah tante Mia.


"Ayo," kata tante Mia sembari memegang tangan Arja, "kita menari."


Arja langsung ditarik begitu saja masuk ke dalam tempat menari. Banyak orang yang melakukan hal itu. Arja tidak berminat, dia hanya diam dan menatap pada tante Mia.


Tante Mia yang memang masih muda. Dia menari dengan hatinya. Dia meluapkan segala kekesalan dalam hatinya.


Bayangan Airin mulai muncul dalam sosok tante Mia. Perlahan bayangan itu semakin jelas dan membuat Arja terhanyut. Dia mulai ikut menari di samping tante Mia.


Malam itu, mereka pulang dengan langkah gontai. Dengan sekuat tenaga, tante Mia menopang tubuh Arja agar tidak terjatuh. Mereka menggunakan mobil yang dibawa oleh tante Mia. Sementara mobil Arja akan dibawa anak buah tante Mia.


"Kau sangat merepotkan ternyata," ucap tante Mia sembari menepuk pipi Arja, "Sayangnya kau sangat tampan hingga membuat aku gila."


Tante Mia masuk ke dalam mobil. Dengan hati-hati tante Mia membawa mobil itu. Sampai tiba-tiba tangan Arja menyentuh tangannya dengan lembut.


Tante Mia menghentikan mobilnya. Dia menoleh pada Arja yang masih tidak sadarkan diri. Arja mendekat dan menatap wajah tante Mia. Wajah mereka sangat dekat.


"Airin. Kenapa kau malah memilih Vino, apa kurangnya aku?" tanya Arja.


Tante Mia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Rin. Kembalilah padaku, aku sangat mencintaimu."


Wajah Arja kembali mendekat, semakin dekat dan hampir mencium bibir tante Mia. Bukannya senang, tante Mia malah mendorong Arja kembali kekursinya.


"Kau pikir aku apa. Aku bukanlah Airin, aku Mia," kata tante Mia dengan keras.


***


Sementara di rumah Airin dan Vino. Mereka sedang makan malam bersama. Banyak hal yang mereka bicarakan. Sampai mereka membahas tentang pernikahan yang akan terjadi.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Vino.


"Jujur saja. Aku masih takut dalam keraimaian. Apa kita menikah secara diam-diam. Maksudku, bukan di depan media."


Vino tersenyum, "Baiklah. Besok kita akan menikah. Aku tidak mau menunda lagi jika kau mengatakan hal itu."


"Lalu bagaimana dengan mama? apa mama setuju?"


"Aku akan membuatnya setuju. Kau tenang saja," kata Vino.


Airin mengangguk. Mereka kembali makan dengan tenang. Jika mereka sudah menikah, mereka tidak perlu lagi memiliki kamar dua. Mereka akan menghemat ruangan di dalam rumah itu.


Setelah selesai makan. Airin memilih untuk menonton tv bersama Ais. Ya, Airin selalu menganggap Ais sebagai saudara. Walau Ais selalu menolak akan hal itu.


"Rin," panggil Vino.


"Ada apa?" tanya Airin.


Vino mendekat. Dia memberi isyarat pada Ais untuk meninggalkan mereka berdua. Ais mengangguk dan pergi meninggalkan Airin dan Vino.


"Aku ingin menanyakan satu hal."


"Apa?"


"Apa Sela mengatakan sesuatu di suratnya?"


Airin diam.


"Bagaimana?"


Airin menggeleng. "Dia tidak mengatakan siapa. Maka dari itu, aku terus waspada pada setiap orang."


Vino kini tahu kenapa tadi Airin bersikap aneh saat dia akan pergi meeting. Perlahan, Vino melingkarkan tangannya pada pinggang Airin.


"Aku akan selalu ada di sampingmu."


"Aku tahu," ucap Airin lalu memeluk Vino dengan erat.


Dalam pelukan itu. Banyak sekali harapan di dalam hati Airin. Banyak juga do'a yang dia ucapkan. Hanya satu yang selalu dia inginkan, jadikan Vino sebagai cinta terakhir untuknya.


***