My Love My Pain

My Love My Pain
Kesepakatan dan harapan baru



Airin mengira tubuhnya menjadi lebih baik. Tidak hari ini, Airin merasa tubuhnya sangat tidak enak. Bahkan keluar dari dalam selimut saja malas rasanya.


"Bu, ini obat dan air minumnya. Jangan lupa sarapan dulu," kata Ilin.


Sebelum meminum obat. Airin memakan bubur yang sudah dibuatkan oleh Ilin. Cukup enak bagi orang yang sedang sakit.


"Saya kembali ke dapur lagi, Bu."


"Terima kasih, Lin."


Karena kondisi badanya yang tidak enak. Akhirnya Airin memilih untuk istirahah di rumah. Dia sudah mengirim pesan pada Vino. Untung saja Vino mau memberikan Airin ijin sampai dia pulih.


***


Dengan baju hangat. Airin turun dari kamarnya. Ilin mengatakan jika ada tamu yang datang. Seorang pria dengan mobil mewah.


"Kau? kenapa ke sini?"


Vino memberikan senyumanya. Dia bahkan menatap lucu pada Airin yang mengenakan baju hangat. Padahal di luar udara cukup hangat.


"Kau pasti sudah membatalkan semuanya. Lalu, kenapa kau ada di sini?" Airin duduk di sofa single. Sengaja agar tidak terlalu dekat dengan Vino.


"Mau aku panggilkan dokter?" tanya Vino.


"Tidak perlu. Besok aku sudah bisa kerja kok," kata Airin menolak dengan halus.


Vino hanya mampu berdecak kesal.


"Silahkan diminum." Ilin meletakan dua cangkir teh ke meja. Setelah itu dia kembali masuk.


Vino begitu perhatian pada Airin. Membuat Airin merasa tidak enak hati. Bagaimanapun, Airin sadar jika dia adalah wanita yang sudah bersuami. Ingin melarang Vino juga percuma. Dia pria yang tidak mudah menyerah dan keras kepala.


"Apa suamimu di sini?" tanya Vino.


Airin menggeleng dengan pelan, "Dia sedang menemani Maya. Maklum, hamil muda."


Vino kaget mendengar kehamilan Maya itu, "Maya hamil?"


Airin mengangguk dengan pasti. Terlihat jelas jika wajah Vino berubah. Dia tidak senang dan juga gelisah. Entah apa yang membuatnya merasa seperti itu. Mungkin Vino merasa lebih kasihan pada Airin.


"Iya."


"Jadi, Arja tidak tahu jika kamu sakit?"


Airin menggeleng, "Aku tidak mungkin mengabarinya. Dia pasti akan merasa terganggu."


"Tapi kan kamu istrinya."


Airin hanya bisa memberikan sebuah senyuman. Cukup terganggu rasanya mendengar pertanyaan Vino. Airin menjadi ingat kenapa dia bisa sakit. Sampai saat ini, Arja belum juga memberi kabar padanya.


"Mau makan siang di sini?" tanyaku.


Vino menggeleng lalu melihat ke ponselnya. Dia terlihat membaca pesan, lalu berpamitan dengan tiba-tiba.


"Aku harus pergi. Jika aku tidak datang, Cika akan marah."


"Baiklah. Terima kasih sudah menjenggukku."


Perlahan, Vino mulai menerima hubungan itu. Walau masih terlihat jelas jika dia terpaksa. Perlahan, cinta itu pasti akan tumbuh diantara mereka.


"Aku duluan ya. Cepat sehat, aku perlu bantuan kamu."


Sepertinya Vino kewalahan menghadapi wanita cantik itu. Airin hanya melambaikan tangannya pada Vino yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Makan siang sudah siap, Bu." Ilin keluar untuk membenahi cangkir di meja.


"Terima kasih, Lin."


Ilin memasak cukup banyak. Mana mungkin seorang wanita sendiri seperti Airin bisa menghabiskan semua makanan itu. Mustahil rasanya.


"Lin. Dimana Amar?"


"Dia sedang di belakang, Bu."


"Panggil dia. Kita makan sama-sama. Nggak enak makan sendirian."


"Baik, Bu."


Airin berandai-andai jika suaminya ada disini. Dia pasti tidak merasa kesepian, dia juga pasti akan merasa lebih baik. Akhirnya, Airin memilih untuk mengirim pesan lebih dulu pada Arja.


💝💝💝


Malam yang penuh dengan bintang. Ingin rasanya berjalan santai di dekat sini. Akan lebih baik jika ada yang menemani. Namun, Airin malah sendirian di bawah cahaya bulan. Hanya ada sepi diantaranya.


"Malam yang indah bukan?"


Airin langsung menoleh pada wanita yang baru saja berbicara. Wanita dengan make-up tebal dan baju kurang bahan mendekat padanya. Matanya menatap tajam, hanya seringainya saja yang membuat muak.


"Jangan kaget gitu. Aku memang perokok dan peminum." Dia terlihat biasa saja ketika banyak pria yang menatap tubuhnya itu.


"Kenapa kau merokok?" Airin mengambil rokok itu dan langsung membuangnya.


Dia menatapku tidak suka. "Susah payah aku mencari kesempatan ini. Kau malah membuangnya."


Maya duduk di pinggir jalan. Rambutnya yang tergerai terlihat sangat acak-acakan. Dia sepertinya baru saja dari diskotik. Lalu kenapa dia malah datang pada Airin dan bukannya pulang.


"Dari mana kau tahu aku hamil?"


"Siapa lagi. Arja yang mengatakannya, dia bahkan meninggalkan aku demi kamu."


Maya tertawa dengan keras. "Jadi, dia lebih memilih aku?" tunjuk Maya pada dirinya sendiri.


"Itu karena kamu hamil. Jadi, jaga janin kamu."


Tanpa aba-aba. Maya menarik tangan Airin untuk berlari bersamanya. Sampai akhirnya dekat dengan rumah yang aku tinggali. Nafas ini rasanya sangat tersengal.


"Apa maumu?" tanya Airin dengan nafas tergesa.


"Bagaimana jika kita berdua saling sepakat.”


"Sepakat? tentang apa?"


Maya menepuk pipiku pelan. Airin langsung menepis tangan itu. Pasti ada hal lain yang membuatnya seperti ini.


"Biarkan aku merokok dan minum apa yang aku mau. Bagaimana?"


Airin menggeleng dengan keras, "Apa kau gila? aku tidak mau. Aku akan mengatakannya pada Arja."


Maya berdecak, "Baiklah. Jika kamu tidak menerima hal ini. Aku akan mengatakan hubungan kamu dengan Vino. Bos ganteng itu," kata Maya.


"Aku dan Vino tidak ada apa-apa. Untuk apa aku bersepakat."


Airin berniat meninggalkan Maya sendirian. Jika seperti ini, Maya pasti akan menjebaknya. Dia juga akan kehilangan Arja dengan mudah.


"Cinta masa sekolah. Aku akan mengatakan semuanya pada Arja. Oh ya, bagaimana jika aku mengatakan tentang mobil itu. Apa Arja tidak akan marah?"


Mendengar apa yang dikatakan Maya, Airin menghentikan langkah kakinya. Airin berbalik dan menatap Maya. Dia melemparkan sebuah amplop merah pada Airin.


"Lihat."


Entah dari mana Maya mendapatkan semuanya. Mulai dari foto hingga banyak hal mengenai Airin dan Vino. Juga surat mobil atas nama Airin.


"Bagaimana? kalian bahkan hanya berpisah jarak. Bukankah itu bukan akhir hubungan. Dengan kata lain, kau masih kekasih Vino sampai saat ini."


Jika Airin membiarkan Maya mengatakannya pada Arja. Entah apa yang akan terjadi. Arja pasti akan menamparnya lagi, bahkan keluargannya juga akan terkena imbasnya.


"Permintaanku tidak banyak. Kau hanya perlu menutupi semua kesalahanku di depan Arja. Bagaimana?"


"Baiklah. Selama kau menjaga rahasia ini."


Maya tersenyum penuh kemenangan. Dia merebut ampelop di tangan Airin dengan paksa.


"Bagaimanapun ini adalah bukti. Aku harus menyimpanya dengan baik." Maya mengatakan dengan senyuman jahat.


Airin hanya bisa pasrah. Dia akan melakukan permainan ini. Cepat atau lambat, Arja pasti akan tahu segalanya.


"Kalian di sini? aku sudah mencari kalian sejak tadi." Tiba-tiba saja Arja sudah berada di samping kami.


Maya tersenyum dan mendekat padq Arja. Amplop merah yang ditangannya juga sudah dia simpan lagi.


"Kami?" tanya Airin.


"Maya mengatakan jika dia akan menemui kamu,” kata Arja.


Maya sudah merencanakan semua ini. Dapat dari mana semua dokumen itu. Dia juga tahu jika Airin mendapatkan mobil dari Arja. Siapa yang memberi tahunya.


"Kau merokok?" tanya Arja pada Maya, "Kau bau rokok."


"Dia tidak merokok. Kebetulan kami dari taman. Banyak anak muda yang merokok di sana, mungkin kami terkena asapnya."


Airin merasa bodoh. Bagaimana bisa dia malah membela Maya. Seharusnya dia tidak mengatakan hal ini.


"Benar apa yang dikatakan Airin. Sayang, ayo pulang. Aku lelah." Maya langsung memeluk Arja tepat di hadapan Airin.


Airin hanya bisa mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau, jika hatinya kembali hancur. Bahkan luka kemarin saja belum pudar. Kini sudah ada luka baru yang datang.


"Kalian bisa pergi. Aku juga harus istirahat. Permisi."


"Tunggu," Arja menggenggam tangan Airin.


Airin menahan nafas sembari menoleh pada Arja. Tidak ada Maya disana, mungkin Maya sudah pergi ke mobil.


Arja menarik tangan Airin dengan keras, "Aku sangat merindukanmu," bisik Arja ditelinga Airin.


Hanya senyuman yang mengembang. Luka di dalam hatinya perlahan membaik. Walau tidak seutuhnya hilang.


"Aku akan ke sini jika ada waktu. Kali ini aku harus pergi," kata Arja.


Perlahan Arja melelaskan pelukannya. Dia juga berjanji akan datang. Setidaknya Airin masih memiliki harapan untuk pernikahannya itu.


"Aku pergi dulu."


"Hati-hati di jalan. Aku akan merindukan kamu."


***