My Love My Pain

My Love My Pain
Menepis rasa curiga



Arja sudah siap akan pergi. Tadi pagi dia tidak sarapan karena beberapa insiden. Semuanya memang karena salah Airin. Airin terlalu memikirkan Sela sampai tidak memperhatikan sarapan yang dibuat oleh pelayan.


Airin membawakan tas dan jas kepada Arja. Arja tidak menatap Airin dan dia memilih untuk menatap ponsel di tangannya.


"Arja," panggil Airin pelan. Airin berniat untuk meminta maaf.


"Aku pergi, banyak urusan menungguku."


Airin kembali diam dan memberikan tas pada sopir. Saat ini, akan sulit membuat Arja kembali tenang. Airin memilih diam dan membiarkan Arja.


Airin kembali masuk ke dalan rumah dan melihat keadaan Sela. Dia sudah lebih baik karena sudah bisa duduk sendiri. Walau masih disuapi saat makan.


"Nyonya, Nona Sela ingin menemui anda," kata kepala pelayan saat Airin akan masuk ke dalam kamarku.


"Baik, aku akan kesana."


Seperti ada yang penting. Airin pun masuk ke dalam kamar Sela, dia sedang duduk dengan tatapan kosong. Tidak tahu kenapa, Sela terlihat sangat terpukul dengan apa yang terjadi.


"Kau menginginkanku kesini? ada apa?" Airin duduk di samping Sela.


"Apa aku bisa bertemu dengan Mama?"


"Lebih baik kau sehatkan dulu dirimu. Arja juga belum mengijinkan kamu pergi kemanapun," kata Airin pelan. Airin takut Sela kalap dan memperburuk kondisinya saat ini.


"Baik."


Mereka sama-sama diam. Karena merasa sangat tidak enak dengan suasana ini. Airin memilih untuk pergi dari kamar Sela.


"Airin, tunggu."


Airin menoleh kembali pada Sela, "Ada apa lagi?"


"Aku sangat iri dengan hubunganmu dan Arja saat ini. Kalian terlihat sangat harmonis."


Tawa kecil yang Airin keluarkan karena lucu mendengar apa yang dikatakan Sela.


"Pikirkan kondisimu saat ini."


"Andai saja aku punya pria seperti Arja di sampingku."


Kenapa Airin merasa jika Sela berharap Arja mendekat padanya. Mungkin hanya perasaan Airin saja. Lebih baik Airintidak memikirkan apa yang dikatakan Sela. Tidak mungkin dia membiarkan cemburu ini melukai suami dan saudarinya.


Sudah terlalu lama Airin berada di kamar Sela. Airin memutuskan untuk keluar dan membuat makan siang untuk Arja. Airin juga akan mampir dulu ke rumah tante. Tentunya ke alamat yang baru.


***


Sampai di kantor Arja. Ramai seperti biasanya, untung saja Airin memakai baju yang cukup tipis. Cuaca hari ini sangatlah panas.


Beberapa karyawan terlihat sibuk, walau seperti itu. Mereka menyempatkan untuk menyapa Airin. Entah sejak kapan Airin merasa sangat terkenal di kantor ini. Tentu karena dia adalah istri pemilik perusahaan ini.


Brak. Tidak sengaja Airin bertabrakan dengan sekertaris Sa yang akan keluar dari ruangan Arja. Dia terlihat berantakan dengan dua kancing bajunya terbuka.


Airin mengernyitkan dahi melihat semua itu. Jelas sekali jika sekretaris Sa sangat gelisah dan takut.


"Apa Arja di dalam?" tanya Airin pada Sekretaris Si.


"I..iya. Pak Arja ada di dalam," kata sekretaris Sa dengan tergagap.


"Terima kasih," kata Airin dan langsung melangkah meninggalkan sekretaris Sa.


Langsung Airin edarkan pandangannya begitu Airin masuk ke ruangan Arja. Tidak ada yang salah, sofa terlihat rapi. Buku-buku di rak juga rapi. Meja kerja Arja juga rapi. Airin menatap Arja yang sedang fokus dengan map di tanganya.


Tidak ada yang salah pada Arja. Dia masih memakai baju lengkap tanpa ada kesalahan. Wajahnya juga masih terlihat fresh.


"Sayang, aku datang," kata Airin dan mendapat senyuman dari Arja, "Aku bawakan makan siang. Kita makan sama-sama ya."


"Baiklah." Arja meletakan kembali mapnya dan menghampiri Airin.


Setelah selesai merapikan meja dan menyiapkan makanan. Bukannya makan, Arja malah menarik Airin masuk ke dalam pangkuannya.


"Ini di kantor, jangan berbuat aneh." Airin mencoba mengingatkan Arja.


"Memangnya kenapa? pintu juga terkunci. Kita hanya berdua."


Tidak ingin melakukan hal aneh. Airin pun turun dari pangkuan Arja. Airin menuangkan air minum dan menyiapkan piring.


"Semua itu kan karena kamu," kata Arja dengan nada datar.


Airin menoleh pada Arja. Sebenarnya Airin ingin bertanya tentang sekretaris Sa, tapi dia urungkan. Hubungan mereka baru saja membaik, Airin tidak mau ada masalah lagi.


"Kenapa melamun? apa kau merasa sangat bersalah sekarang?"


"Ya. Aku merasa sangat bersalah, jadi aku siapkan makanan ini untuk kamu. Ayo makan, aku sudah lapar."


Mereka makan diselingi dengan obrolan ringan. Airin juga meminta ijin untuk pergi ke tempat tante setelah ini. Jika Arja tahu, dia tidak akan marah atau curiga padanya saat pulang nanti.


"Mau aku temani?" tawar Arja.


"Tidak perlu, kamu masih banyak pekerjaan. Aku akan pergi sendiri saja."


"Baiklah."


Setelah selesai membersihkan meja dan bekas makanan. Airin bersiap untuk pergi, sampai Arja kembali memeluk Airin dari belakang.


"Arja, aku harus pergi sekarang."


"Sebentar saja. Aku ingin memelukmu dengan erat hari ini."


Airin menghadap wajahnya, "Ada apa masalah? tidak biasanya kau seperti ini."


"Aku sangat merindukan kamu," kata Arja yang berbisik di telinga Airin.


"Setiap hari kita bertemu dan kamu mengatakan rindu?"


"Ya. Beri aku sebuah ciuman dan aku akan melepaskan dirimu."


Airin menghela nafas dan mendorong Arja untuk menjauh. Jika Airin melanjutkan permainan ini dengan Arja. Dia akan telat datang ke rumah tante.


"Ayo sayang."


"Jangan main-main Arja. Aku akan telat nanti."


Arja malah mengerlingkan matanya pada Airin. Mau tidak mau Airin harus mengahiri permainan ini. Cup, sebuah kecupan Airin layangkan ke pipi kiri Arja.


"Cium yang benar, Rin."


"Arja itu sudah benar. Aku harus pergi, sampai bertemu di rumah."


Airin mengambil tas dan keluar dari dalam ruangan Arja. Tidak di sangka saat Airin membuka pintu. Sekretaris Sa sedang berdiri dengan beberapa map di tangannya.


Kembali Airin menemukan ketakutan di wajahnya. Entah karena apa dia mencoba menghindar dari pandanganku.


"Ada apa? apa kau tidak suka aku disini?" tanya Airin kemudian. Aku tidak suka dengan situasi macam ini. Aneh.


"Bu...bukan begitu. Ma...maafkan saya, Bu."


"Maaf untuk apa?"


Sekretaris Sa gelagapan dan langsung pergi tanpa menemui Arja. Dia masuk ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruangan Arja.


Apa ada sesuatu yang salah? pikir Airin. Jika Arja membuat kesalahan, mana mungkin Arja terus menerus menggodanya. Lalu kenapa Sekretaris Sa seperti itu.


"Kau masih disini?" tanya Arja yang mendapati Airin masih di depan pintu ruangannya.


"Iya. Ada apa dengan sekretarismu, dia ketakutan melihatku. Apa ada yang salah denganku?"


"Mungkin karena sakit perutnya dia bertingkah aneh. Dia bahkan bolak balik ke kamar mandi ruanganku karena toilet sedang di perbaiki."


"Begitu ya."


Airin lega dengan apa yang dikatakan Arja. Setidaknya dia tidak perlu lagi curiga. Airin harus menepis semua hal buruk dalam pikirannya.


"Aku pergi dulu. Daaah."


Airin melambaikan tangannya pada Arja dan berjalan memasuki lift.


***