
Hari pertunangan sudah tiba. Tadi malam Airin menginap di rumah Vino. Tentunya agar Airin tidak terlambat. Airin tidak mengira jika pertunangan ini akan sangat mewah. Melebihi hari pernikahannya dulu dengan Arja.
"Kau terlihat sangat cantik," kata mama Vino begitu masuk ke dalam kamar.
"Terima kasih, tante."
"Kenapa masih memanggil tante. Panggil saja mama, akan lebih akrab."
"Baik, ma."
"Mama akan melihat persiapan Vino dulu. Para tamu sudah menunggu kalian."
Airin hanya bisa tersenyum mendengar perkataan mama Vino. Jujur saja, Airin merasa sangat gugup. Rasa mual itu kembali muncul. Kemarin, Airin belum sempat bertemu dengan Jay. Dia masih belum kembali, mungkin besok baru bisa menemuinya.
Airin kembali menatap dirinya ke dalam cermin rias. Airin terlihat cukup pucat kali ini, perlahan Airin membuka kotak make-up dan mulai memoles wajahnya. Tidak ada alasan lain selain menutupi wajah pucat ini.
Suara ramai tersengar dari ruang utama. Disana tempat yang akan mereka gunakan untuk bertukar cincin sekaligus mengatakan pada para wartawan. Jika Airin dan Vino memang serius dengan hubungan ini.
Perlahan Airin mendengar sebuah langkah kaki masuk ke kamarnya. Dengan senyuman Airin menoleh kearah pintu.
"Kenapa kau kesini?" tanya Airin sembari langsung berdiri.
"Aku hanya ingin melihat kau. Apakah kau benar-benar akan melakukannya?"
"Aku akan melakukannya. Ini pilihanku sendiri," kata Airin.
Arja mendekat dan menarik tangan Airin yang baru saja selesai memolesian lipstick, "Apa kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja? tidak akan."
Dengan sekuat tenaga Airin mencoba melepaskan pelukan Arja darinya. Jika ada yang melihat ini, semua yang Airin lakukan akan percuma saja.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Kau sudah membuat dunia untukku."
"Kau gila. Kau sudah membawa Sela ke dalam pelukanmu. Sekarang kau malah menginginkanku kembali."
Arja tersenyum dengan wajah jahatnya.
"Aku bisa saja membuang Sela kapanpun aku mau."
Airin semakin marah mendengar ucapan Arja. Dia memang berhati iblis. Dengan mudahnya dia mengatakan hal ini. Dia juga tidak memikirkan apa yang diinginkan wanita disampingnya. Arja sangat egois.
Tok tok tok.
"Airin. Apa kau sudah siap?"
Airin menoleh kearah pintu. Untung saja Arja menguncinya. Jika tidak mungkin Vino akan melihat hal menjijikan ini. Airin pun menginjak kaki Arja dengan keras. Hingga Arja melepaskan pelukannya dari Airin.
"Pergi dari sini dan jangan pernah menampakan dirimu di depanku."
Airin berjalan meninggalkan Arja yang masih kesakitan. Perlahan Airin membuka pintu dan melihat Vino sedang berdiri disana. Dia terlihat lebih fresh dengan setelan jasnya. Airin kira, dia akan sangat lucu ketika memakai pakaian resmi.
Dengan sigap Airin kembali menutup pintu kamarku. Vino akan melihat Arja jika dia tidak melakukannya.
"Apa kau sudah siap?" tanya Vino pada Airin.
"Tentu. Apa kau sudah siap dengan semuanya?"
"Maksudmu?" tanya Vino.
"Aku bukanlah wanita yang diimpikan orang lain. Aku juga pernah menikah, walau aku menyesali pernikahan itu. Apa kau sudah siap dengan semua cibiran orang di luar sana?"
Vino mendekat membuat Airin terpojok oleh dinding. Perlahan tangan Vino melingkar di pinggang Airin. Matanya menatap tajam pada Airin, membuat Airin tidak bisa berkata-kata lagi.
"Aku tetap memilihmu," bisik Vino tepat di telinga Airin.
Bahkan tubuhnya dan Vino sangat dekat. Airin sampai bisa mendengar deru nafasnya. Airin hanya bisa berharap, apa yang dia pilih saat ini tidak akan menyakitinya di kemudian hari. Semoga saja, masa lalu tidak terulang kembali.
"Kalian sedang apa? mereka sudah menunggu."
Airin dan Vino saling melepaskan pelukan dan berdiri menghadap mama Vino. Malunya Airin, kenapa bisa dia terlena sampai sejauh ini. Airin hanya bisa menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.
"Jika kalian tidak bisa menahan diri. Kalian harus secepatnya menikah."
"Ma, ayo kita ke depan. Kata mama mereka sudah menunggu."
"Baiklah, ayo."
Setelah acara tukar cincin selesai. Airin dan Vino memilih duduk di ruang yang cukup sepi. Sementara Cika dan mama Vino masih mengurus tamu.
****
Arja POV
Arja merasa kesal dengan apa yang dia lihat. Wanita yang selama ini sudah membuat hatinya luluh sedang di peluk oleh pria lain. Pria yang dulu sangat ingin merebut Airin darinya.
Kali ini, Arja membiarkan semuanya berjalan dengan lancar. Hanya saja, Arja tidak akan melepaskan Airin begitu saja. Dia akan terus mengejar Airin sampai Airin memohon untuk kembali kesisinya.
"Ada apa? kau terlihat tidak senang," kata Sela yang menggunakan gaun tanpa lengan di samping Arja.
"Diam."
"Kau tidak rela? lalu apa gunanya aku disampingmu. Aku lebih cantik dari dia," kata Sela.
"Dia tidak murahan seperti dirimu." Bisik Arja pada Sela.
Sela hanya bisa terdiam dengan apa yang dilakukan Arja. Sekuat apapun Sela menggenggam Arja. Tetap saja pria di sampingnya ini hanya melihat pada Airin.
Semuanya memberikan selamat atas pertunangan Vino dan Airin. Hanya Arja, Sela dan Heila yang tidak memberikan selamat. Tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas Arja hanya bisa memandang Airin dari kejauhan dengan perasaannya.
***
Airin POV
"Airin. Apa kau benar mencintaiku?" tanya Vino.
"Aku tidak tahu."
Vino hanya tersenyum dan menarik Airin agar lebih dekat dengannya. Sejak Airin meminta pertunangan ini. Airin merasa lebih dekat dengan Vino. Tidak ada cinta, hanya saja Airin kesal saat Vino melihat kearah wanita lain.
Pertunangan ini akan menjadi awal bagi Airin. Cepat atau lambat, mama Vino pasti akan meminta mereka menikah. Entah jawaban apa yang akan Airin berikan. Semoga saja cinta itu tumbuh di tengah-tengah mereka. Bukan cinta sebagai sahabat. Cinta yang melebihi apapun, itu yang Airin inginkan.
"Ayo keluar. Ada Heila dan yang lainnya."
Airin langsung menoleh begitu mendengar kata Heila. Terdengar sangat lembut saat Vino mengatakannya.
"Kenapa?"
"Tidak."
"Rin, aku mencintaimu. Jadi, bukalah sedikit hatimu untukku." Vino mengatakannya sembari memegang ke dua tangan Airin, "jangan pernah berfikir jika aku akan memiliki perasaan untuk wanita lain."
Diam. Mata mereka bertemu, perlahan wajah Vino mendekat. Dia akan mencium Airin? tunggu. Kenapa Airin merasa sangat mual kali ini. Tanpa sadar Airin langsung mendorong Vino menjauh.
"Vino. Aku akan istirahat di kamar, saat makan malam nanti aku akan keluar."
Airin langsung meninggalkan Vino begitu saja. Bukan ke kamar, Airin menemui Jay yang sudah menunggunya di taman belakang rumah. Disana tidak ada orang, ini juga usulan dari Cika agar mama Vino dan Vino tidak tahu.
Sampai di taman belakang. Airin lihat Jay sudah duduk di bangku. Dia bermain dengan ponselnya. Mungkin dia bosan karena Airin terlalu lama.
"Jay. Maaf aku terlambat."
"Tidak apa. Kau ingin mengatakan apa?"
"Sebenarnya...."
Airin mengatakan semuanya pada Jay. Dari awal Airin mulai merasakannya. Sampai beberapa kali kambuh. Airin mengira ada yang salah dalam dirinya.
"Maaf, Rin. Aku tidak bisa membantumu kali ini. Lebih baik, kau besok menemuiku di rumah sakit. Kita adakan beberapa tes untuk kamu."
"Baiklah."
"Tenangkan saja dirimu dan nikmati hidupmu. Itu akan lebih membantu," kata Jay.
"Terima kasih."
Setelah percakapan itu. Jay pergi untuk menemui Cika. Sementara Airin hanya duduk sembari memikirkan hal apa yang akan terjadi. Takut, Airin sangat takut jika ada penyakit yang ada di tubuhnya. Airin tidak bisa membayangkannya.
***